
Semua anggota keluarga sudah berada di rumah sakit. Saat ini semuanya sudah berada di ruang rawat Darel. Mereka semua menangis karena harus kembali melihat kesayangannya terbaring di rumah sakit.
"Papa maafkan aku. Aku gagal melindungi Darel. Alasanku ikut bersama Darel untuk melindungi dia. Tapi justru aku kecolongan," adu Davian kepada ayahnya.
Arvind langsung menarik tubuh putra sulungnya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Kemudian tangannya mengusap lembut punggung putranya itu.
"Jangan menyalahkan atas apa yang terjadi terhadap Darel. Jika Darel dengar, maka Darel akan marah sama kamu. Apa kamu mau dimarahi sama adik manis kamu itu, hum?" ucap dan tanya Arvind sembari menghibur putra sulungnya.
"Tidak, Pa! Aku tidak mau Darel marah padaku,"; jawab Davian.
"Kalau begitu, jangan pernah menyalahkan diri kamu atas apa yang terjadi sama Darel," ucap Arvind.
Arvind dan Davian menatap kearah dimana Darel yang terbaring di tempat tidur dengan wajahnya di pasang masker oksigen, tangannya di pasang infus dan kepalanya di perban.
Davian mengusap lembut kepala adiknya yang di perban lalu kemudian menciumnya penuh sayang.
"Maafkan kakak, Rel!"
"K-kakak ng-gak sa-salah."
Tiba-tiba Darel membuka kedua matanya dan langsung menjawab perkataan dari kakak tertuanya itu.
"Rel," ucap Davian menatap wajah sedikit pucat adiknya.
"Sayang," ucap Arvind dan Adelina bersamaan.
"Darel," ucap kakak-kakaknya yang lain.
Mereka semua tersenyum bahagia ketika melihat Darel yang sudah membuka kedua matanya.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Arvind dengan mengusap lembut kepala putra bungsunya.
"Ti-tidak, Papa. Hanya ngilu sedikit. Tapi tidak apa-apa," jawab Darel.
"Putra bungsu Papa paling hebat. Papa bangga sama kamu."
Darel melihat kearah semua sahabat-sahabatnya yang juga tengah menatap dirinya sembari tersenyum hangat.
"Kalian disini?" tanya Darel.
"Iya, Rel!" jawab Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Bagaimana dengan ketiga orang itu?"
"Sudah mampus," jawab Gavin asal.
Mendengar jawaban asal dari Gavin membuat semua yang ada di ruang rawat Darel tersenyum.
"Mampus bagaimana?" tanya Darel bingung.
__ADS_1
"Matilah. Masa lo yang udah kuliah nggak tahu arti dari kata mampus," ucap Gavin lagi.
Mendengar ucapan serta jawaban dari Gavin seketika Darel langsung melihat kearah kakaknya. Dia ingin bertanya langsung pada kakaknya itu. Jika dia bertanya kepada Gavin, yang ada pertanyaan darinya tidak akan mendapatkan jawaban yang akurat.
"Kakak."
Davian tersenyum ketika melihat wajah memohon adiknya itu. Dia tahu bahwa adiknya itu ingin bertanya tentang ketiga laki-laki yang sudah menyerang dirinya.
"Anggota kakak membawa mereka ke kantor polisi," ucap Davian.
"Benarkah?"
"Iya, itu benar."
Darel kembali menatap wajah Gavin, sahabatnya yang menyebalkan menurutnya dengan tatapan matanya yang melotot.
"Dasar kurus kering. Mampus saja kau."
"Hahahaha."
Seketika semuanya tertawa nista ketika mendengar ucapan sarkas dari Darel yang ditujukan untuk Gavin. Sedangkan Gavin mendengus mendengar ucapan dari Darel dengan tatapan kesalnya.
"Papa," panggil Darel.
"Iya, sayang. Ada apa, hum?"
"Lepaskan ini." Darel menunjuk kearah masker oksigennya.
"Ngapain Papa repot-repot. Tuh anaknya ada. Suruh saja anaknya yang manggil ayahnya untuk datang kesini."
Arvind seketika langsung menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari putra bungsunya itu. Begitu juga dengan Adelina, kakak-kakaknya dan anggota keluarga yang lainnya.
Darel langsung melihat kearah Kenzo. "Hei, tiang listrik! Pergi panggil ayahmu. Suruh dia kesini."
Kenzo seketika mendengus ketika mendengar ucapan dari Darel. Tatapan matanya menatap tajam kearah Darel seakan-akan ingin memakan sahabatnya itu hidup-hidup.
"Gue bakal bilang sama Papa kalau lo mau disuntik mati," ucap Kenzo dengan wajah kesalnya.
Setelah itu, Kenzo pergi meninggalkan ruang rawat Darel untuk memanggil ayahnya.
Sementara Darel seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Kenzo yang mengatakan bahwa sahabatnya itu akan mengatakan kepada ayahnya bahwa dia ingin disuntik mati.
Sementara anggota keluarganya dan sahabat-sahabatnya tersenyum gemas ketika melihat wajah syok Darel ketika mendengar perkataan dari Kenzo.
"Satu sama Rel. Hahahahaha!" sahut Gavin dengan wajah bahagianya.
***
Braakk..
__ADS_1
Tiba-tiba pintu rumah kediaman keluarga Panduan dibuka secara kasar oleh seorang pria paruh baya. Setelah pintu rumah tersebut terbuka dan rusak. Pria itu dan beberapa anak buahnya melangkah masuk ke dalam rumah tersebut dengan wajah penuh amarah.
Kediaman Pandya adalah kediaman keluarga dari Andhara mantan istri pertama dari Davi Ramero sekaligus ibu kandung dari Sammy Ramero dan Samuel Ramero.
Sementara anggota keluarga Pandya yang mendengar suara keributan di ruang tamu memutuskan untuk pergi melihat.
Ketika anggota keluarga Pandya hendak melangkah menuju ruang tamu, seketika mereka semua dikejutkan dengan suara seorang pria yang mereka kenal.
"Andhara, keluar kau!" teriak Davi.
"Davi, apa-apaan kau! Apa begini cara kau bertamu. Tidak ada sopan santunnya sama sekali!" bentak kakak laki-laki tertua Andhara.
"Sopan santunku dan rasa hormatku sudah hilang sejak mengetahui kelakuan busuk kalian semua, terutama kau!" bentak Davi sembari menunjuk kearah kakak laki-laki tertua Andhara.
"Jaga bicaramu, Davi! Apa.....?!"
"Aku datang kesini ingin buat perhitungan dengan kalian semua atas persekongkolan kalian yang menipuku selama ini. Jangan buat aku membuka kembali permasalahan yang telah berlalu sehingga kalian semua berakhir membusuk di dalam penjara."
Seketika semua anggota keluarga Pandya terdiam ketika mendengar ucapan serta ancaman dari Davi.
"Aku sudah mengetahui semua tentang kalian. Dan aku juga tahu alasan dibalik perusahaanku dulu bangkrut. Semua yang terjadi padaku dan perusahaanku itu semua ulah kalian dan perempuan busuk itu. Kalian berbagi tugas. Perempuan itu berperan sebagai istriku, sedangkan kalian bermain di belakang panggung dengan cara menghancurkan perusahaanku."
"Sekarang, panggil perempuan itu sebelum kesabaranku habis!" bentak Davi.
Sementara anggota keluarga Pandya sama sekali tidak mengindahkan perintah dari Davi. Justru mereka menatap Davi dengan tatapan penuh kebencian.
Melihat anggota keluarga Pandya yang tetap berdiri di posisinya dan sama sekali tidak mau mematuhi perintahnya membuat Dav akhirnya memakai cara kekerasan.
"Baiklah kalau itu mau kalian. Hanya ada satu cara buat aku mendapatkan perempuan itu," ucap Davi.
Davi mengambil ponselnya, setelah itu Davi menghubungi tangan kanannya. Dia akan meminta tangan kanannya untuk masuk dengan membawa beberapa anggotanya.
"Hallo, Bos."
"Masuklah dan bawa anggotamu dan sisakan sekitar 15 orang untuk berjaga-jaga diluar."
"Baik, Bos!"
Anggota keluarga Pandya seketika terkejut ketika mendengar Davi menyebut anggota. Mereka berpikir jika Davi datang tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang.
"Bos!"
Tangan kanannya Davi sudah berada di dalam rumah dan langsung menyapa sang Bos.
"Periksa semua ruangan yang ada di rumah ini. Cari perempuan itu, lalu seret ke hadapanku."
"Baik, Bos!"
"Kalian periksa setiap ruangan. Cari perempuan ini!" perintah tangan kanannya dengan memperlihatkan foto Andhara kepada para anggotanya.
__ADS_1
"Baik."
Setelah itu, para anggotanya langsung berpencar untuk mencari keberadaan Andhara di setiap ruangan yang ada di dalam rumah mewah itu.