Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kekesalan Darel Terhadap Lima Sahabatnya


__ADS_3

Darel dan semua sahabat-sahabatnya saat ini berada di kantin. Setelah selesai mengikuti dua materi kuliah. Mereka memutuskan untuk mengisi perutnya di kantin. Begitu juga dengan para kakak-kakaknya.


"Yak! Kenapa kalian memasukkan banyak sayuran di piringku!" teriak Darel melengking ketika melihat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan memasukkan sayuran ke piring Darel.


Mendengar teriak dari Darel seketika mereka semua menutup telinganya masing-masing. Bahkan mereka tidak peduli wajah kesal dan tatapan melotot Darel.


Darel seketika mengeluarkan satu persatu sayur-sayuran itu dari piringnya dan meletakkan di meja.


Ketika Darel hendak meletakkan sayur pertama di atas meja. Terdengar suara yang membuat seorang Darel langsung meletakkannya kembali ke dalam piringnya.


"Berani lo buang tuh sayur. Maka lo akan menandatangani kontrak pemutusan hubungan persahabatan dengan gue," ucap Azri yang berusaha untuk tidak tertawa.


Azri sangat tahu bahwa Darel paling anti dengan namanya sayur-sayuran. Sahabatnya itu tidak ingin menyentuh apalagi memakannya. Begitu juga dengan yang lainnya yang tahu mana yang disukai dan mana yang tidak disukai oleh Darel.


Mendengar perkataan dari Azri seketika Darel membulatkan matanya yang sudah bulat itu. Setelah itu, Darel menatap tajam kearah Azri yang saat ini tengah asyik menikmati makan siangnya.


"Jika lo nggak habiskan sayur-sayuran itu, maka lo bukan sahabat gue lagi." Brian juga ikut menjahili Darel. Bahkan Brian juga sama seperti Azri yang berusaha menahan tawanya.


Setidaknya dengan seperti ini, si anak kelinci mau memakan sayur-sayuran itu. Tujuannya agar Darel tetap sehat.


"Lo nggak akan mati hanya memakan sayur-sayuran itu Darel Wilson!" seru Damian ketika melihat Darel yang masih enggan untuk menyentuh apalagi memakannya. Darel hanya memakan nasi dan lauk pauk yang ada di piringnya plus nugget dan spaghetti.


"Habiskan!" seru Evano.


"Jika tidak! Kami akan gantung lo di depan gerbang kampus buat pajangan," ucap Farrel.


Sedangkan Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tersenyum geli ketika mendengar ucapan demi ucapan dari kelima sahabatnya/kakak-kakaknya dan melihat wajah super kesal Darel akibat ulah dari kelima sahabatnya itu.


"Sabar, Rel! Orang sabar disayang setan," ucap Lucas dengan tatapan matanya menatap kearah Gavin.


"Ngomong setannya jangan lihat ke gue juga sialan," kesal Gavin.


"Hehehehe... Sorry mas bro!" jawab Lucas cengengesan.


"Lo pasti kuat, Rel!" sahut Razig.


"Sayuran itu manis loh. Semanis diriku," sahut Zelig sembari memperlihatkan puppy eyes nya.


"Najis!" seru Kenzo, Samuel, Juan, Razig, Charlie dan Devon bersamaan.


"Ayo, Rel! Lo bisa menghabiskan semua sayur-sayuran itu!" seru Kenzo dan Gavin bersamaan.


"Aku padamu Darel Wilson," pungkas Juan.


Mendengar kebacotan sahabat-sahabatnya membuat Darel kesal.


"Diem kalian! Berisik!" teriak Darel.


"Hahahahaha."


Mereka semua tertawa keras ketika melihat wajah kesal Darel. Inilah yang mereka inginkan. Melihat wajah kesal Darel adalah satu kebahagiaan tersendiri bagi mereka semua.


Darel menatap satu persatu wajah kelima sahabatnya itu dengan tatapan tajamnya. Dan jangan lupa dengan bibirnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah mematikan untuk kelima sahabatnya itu.


Sementara Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel berusaha sekuat tenaganya untuk tidak tertawa ketika melihat wajah kesal Darel. Apalagi melihat bibirnya yang tak henti-hentinya bergerak-gerak


Dan pada akhirnya, mau tidak mau Darel berlahan-lahan memakan sayur-sayuran itu. Sesekali Darel terasa mual ketika sayur-sayuran itu masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Awas aja kalian. Ntar gue balas," batin Darel sambil berusaha mati-matian mengunyah sayuran di dalam mulutnya.


Mereka semua yang melihat wajah tak nyaman bahkan wajah terpaksa ketika memakan sayur-sayuran itu membuat hati mereka antara senang, bahagia dan juga tak tega. Terutama Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


Darel yang saat ini tengah berjuang menghabiskan sayur-sayuran itu sadar bahwa semua sahabatnya tengah menatap dirinya.


"Ngapain lihat-lihat gue. Mau gue colok tuh mata. Biar buta sekalian. Makan noh!"


Darel berucap dengan nada ketus serta ngegas. Dirinya saat ini benar-benar kesal akan ulah kelima sahabatnya itu.


***


Daksa sekarang berada di pertokoan elektronik. Dirinya saat ini tengah membeli sesuatu disana.


Daksa melihat-lihat serta memilih beberapa barang yang hendak dirinya beli.


Daksa ingin membeli tiga laptop. Satu untuknya dan duanya untuk putranya Satya dan Melvin karena keduanya meminta dibelikan laptop baru.


Ketika Daksa tengah sibuk melihat model dan merek laptop, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya sehingga membuat Daksa terkejut.


Daksa langsung melihat kearah orang yang memukul pundaknya itu. Dan seketika Daksa terkejut melihatnya.


"Radika. Kamu kenapa ada disini?" tanya Daksa.


"Apa ada yang melarang untuk datang kesini? Bukannya ini memang tetap untuk para pembeli membeli berbagai macam ponsel dan laptop bermerek, hum?"


"Ach, iya! Aku lupa itu," sahut Daksa.


"Ada waktu sebentar?" tanya Radika.


"Kenapa?" tanya Daksa balik.


"Baiklah," balas Daksa.


"Aku tunggu di ujung cafe di depan jalan," ucap Radika sambil tangannya menunjuk ke arah seberang jalan.


"Baiklah."


Setelah itu, Radika pergi menuju cafe yang dimaksud. Sementara Daksa langsung ke kasir untuk membayar tiga laptop yang sudah dia dapatkan.


^^^


Daksa sudah berada di cafe tersebut bersama dengan Radika sahabatnya. Radika terlebih dahulu mengajak Daksa untuk menikmati makan siangnya. Setelah itu, barulah Radika akan ke topiknya.


Beberapa menit kemudian, Daksa dan Radika selesai menikmati makan siangnya bersama. Dan setelah itu, Radika pun memulai pembicaraan. Lebih tepatnya, Daksa yang bertanya.


"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Daksa.


"Eemm! Ini masalah Mathew dan Agatha!" Radiak menjawab pertanyaan dari Daksa.


"Kenapa? Bukannya mere...."


"Tidak, Daksa! Mereka berdua masih hidup. Dan mereka menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara." Radika langsung memotong perkataan Daksa dengan langsung memberitahu kebenaran tentang Mathew dan Agatha.


"K-kau serius Radika? Mathew dan Agatha menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara?" tanya Daksa dengan menatap wajah Radika.


Daksa benar-benar terkejut akan apa yang disampaikan oleh Radika mengenai Mathew dan Agatha. Sejujurnya, Daksa tak masalah akan hukuman yang dijalani oleh Mathew dan Agatha. Hanya saja Daksa terlalu terkejut akan berita ini. Daksa berpikir bahwa Mathew dan Agatha sudah meninggal karena hukuman mati dari pengadilan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa mereka bisa mendapatkan perubahan hukuman?" tanya Daksa.


"Putra bungsu tuan Arvind yang tak lain kakak iparmu," jawab Radika.


"Da-darel."


"Iya."


"Bagaimana caranya?" tanya Daksa.


Flashback On.


"Maafkan Jendral!"


"Iya, ada apa?"


"Diluar ada yang ingin menemui Jendral."


"Siapa?"


"Dia mengatakan bahwa namanya adalah Darel Wilson."


Deg..


Seketika Radika terkejut ketika anak buahnya mengatakan nama Darel Wilson.


"Mau ngapain putra bungsunya tuan Arvind ke kantor polisi?" batin Radika.


"Ya, sudah! Antar dia kesini."


"Baik Jendral."


Setelah itu, laki-laki itu pun pergi meninggalkan ruangan sang Jendral untuk menemui Darel yang sedang menunggu di ruang tunggu.


Beberapa detik kemudian, Darel pun datang bersama anak buah sang Jendral.


"Maaf mengganggu tuan!"


"Tidak apa-apa. Silahkan masuk."


Darel langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan seorang Jendral polisi. Setelah itu, Darel langsung menduduki pantatnya di kursi yang ada di depan meja kerja sang Jendral.


"Apa yang membuat anda datang kesini?" tanya Radika.


"Begini tuan....."


"Panggil Paman saja."


"Ach, baiklah. Begini Paman. Maksud kedatanganku kesini adalah untuk merubah hukuman mati untuk Paman Mathew dan Bibi Agatha menjadi hukuman seumur hidup. Apa itu bisa Paman?"


Mendengar pertanyaan sekaligus ucapan permohonan dari Darel membuat Radika seketika diam. Radika tidak langsung menjawab pertanyaan Darel tersebut.


"Apa alasan kamu ingin merubahnya?" tanya Radika.


"Simple saja. Pertama, Papa dan kedua Pamanku sudah memaafkan kesalahan Paman Mathew dan Bibi Agatha, terutama Paman Mathew. Bahkan Papa, Paman Sandy dan Paman William dengan hati yang lapang langsung memberikan pelukan untuk Paman Mathew. Bagaimana mereka masih memiliki hubungan saudara. Ditambah lagi Paman Mathew sudah benar-benar berubah."


"Kedua, aku melakukan ini demi kelima kakak-kakak sepupuku yaitu kak Rayyan, kak Kevin, kak Caleb, kak Dzaky dan kak Aldan. Mereka tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Begitu juga dengan Paman Mathew. Jadi dengan aku merubah hukuman tersebut. Setidaknya mereka masih bisa saling bertemu, bertatap muka, saling berpelukan dan saling mengobrol banyak hal antara ayah, ibu dan anak."

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat Radika terdiam tanpa kata-kata. Di dalam hatinya, Radika menatap kagum dan bangga akan jiwa besar Darel yang mau memaafkan kesalahan orang-orang yang sudah menyakitinya.


__ADS_2