
Bugh.. Bugh..
Duagh.. Duagh..
Bruukk..
Di jalanan terjadi perkelahian besar dimana ada beberapa kelompok yang tiba-tiba menyerang mobil yang dikendarai oleh empat pemuda tampan. Mereka adalah Elvan, Andre dan Arga. Ketiganya baru dari perusahaan ARV CORP dan hendak pulang ke rumah.
Elvan, Andre dan Arga bersamaan memberikan pukulan demi pukulan serta tendangan kepada orang-orang yang sejak tadi tak berhenti menyerangnya.
"Sebenarnya siapa mereka? Kenapa menghadang mobil kita lalu tiba-tiba menyerang kita?" tanya Arga sembari fokus menyerang para kelompok tersebut.
"Kakak juga tidak tahu. Tapi sepertinya mereka dibayar oleh seseorang. Ntah itu orang yang tak menyukai kita atau orang suruhan dari saingan bisnis kita," sahut Andre.
"Fokuslah!" seru Elvan.
"Baik, kak!" jawab Andre dan Arga bersamaan.
***
Darel saat ini berada di sebuah cafe. Dia tidak sendirian, melainkan bersama tiga sahabatnya yaitu Devon, Razig dan Farrel. Sementara untuk sahabat-sahabatnya yang lain sedang melakukan sesuatu yang sudah mereka rencanakan kemarin.
Darel, Farrel, Devon dan Razig sedang menikmati makan siangnya sembari membahas apa yang mereka lakukan untuk menghadapi orang-orang itu.
"Kapan mereka akan datang, Rel?" tanya Farrel sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku belum tahu. Kita tunggu kabar dari Niko tangan kananku," jawab Darel.
"Baiklah."
Disaat Darel, Devon, Razig dan Farrel tengah menikmati makan siangnya sembari membahas mengenai orang-orang yang akan mengaku pemilik gedung tempat anak-anak Panti tinggal, tiba-tiba mereka mendengar obrolan beberapa gadis yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Yang membuat Darel dan Devon, Razig dan Farrel terkejut adalah salah satu gadis itu menyebut nama Ghali.
Mendengar nama kakak ketiganya disebut-sebut oleh para gadis itu membuat Darel menghentikan acara makannya. Begitu juga dengan Devon, Razig dan Farrel.
Devon, Razig dan Farrel melihat kearah para gadis tersebut. Sementara Darel tidak, karena posisi duduk Darel memunggungi para gadis itu.
"Bagaimana Paula? Apa kau sudah berhasil menaklukkan hati Ghali?" tanya Mutia
"Sedikit lagi," jawab Paula.
"Kenapa?" tanya Zoelie.
"Ghali itu beda dengan cowok-cowok yang sudah pernah aku dekati. Dia ini laki-laki yang tidak gampang untuk digoda atau pun dirayu. Bahkan dia juga paling tidak suka ada gadis yang kecentilan di hadapannya," jawab Paula.
__ADS_1
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar ucapan dari gadis itu mengenai sifat kakak ketiganya itu.
"Walau pun begitu tidak membuatku menyerah. Aku terus bersikap manis dan perhatian padanya untuk sekedar mendapatkan perhatian darinya," ucap Paula.
"Apa kau berhasil?"tanya Lucia.
"Tentu. Langkah pertama aku berhasil membuat Ghali menuruti keinginanku, salah satunya adalah ketika aku mengajaknya jalan-jalan. Sudah dua minggu ini aku dan Ghali sering keluar berdua, walau alasan kami keluar tengah membahas sebuah proyek yang kami kerjakan bersama."
"Wah, bagus itu!" seru Silva semangat.
"Terus apa rencana kamu selanjutnya, Paula?" tanya Velly.
"Apa kamu akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan pada korban-korban kamu sebelumnya?" tanya Zoelie.
"Tentu dong. Kamu pikir apa tujuanku menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan ARV CORP kalau bukan untuk mengincar kekayaannya. Aku dengar Ghali memiliki kekayaan pribadi yang cukup besar. Jika aku tidak bisa menguasai kekayaan keluarga besarnya, setidaknya aku harus bisa merebut kekayaan pribadinya." Paula menjawab pertanyaan dari Zoelie.
Mendengar ucapan dari Paula membuat Darel mengepal kedua tangannya. Dia tidak terima kakaknya ditipu dan dijahati, apalagi sama perempuan.
"Rel, apa lo nggak penasaran seperti apa wajah dari perempuan yang berbuat jahat sama kakak Ghali?" tanya Razig.
"Nggak perlu. Dengar suaranya saja aku sudah bisa menebak bahwa wajah gadis itu sangat jelek," tolak Darel sembari menyeruput jus jeruknya.
Mendengar jawaban dari Darel membuat Farrel, Devon dan Razig tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka membenarkan apa yang dijawab oleh Darel.
"Hahahaha."
Sahabat-sahabatnya Paula seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari Paula, ditambah lagi ekspresi wajah Paula yang berakting menjadi Ghali.
"Bukan itu saja, aku juga akan membuat Ghali memihak padaku dan membelaku jika aku ribut dengan anggota keluarganya. Aku akan buat Ghali bersikap kasar terhadap keluarganya. Dan aku juga akan buat hubungan Ghali dengan semua saudara-saudaranya berantakan."
"Ide yang bagus tuh. Jika lo ingin mengincar harta pribadi Ghali, maka kamu harus membuat si pemilik bertekuk lutut padamu." Velly berucap sembari tersenyum mendengar ide jahat Paula.
Darel seketika mengepal kuat kedua tangannya ketika mendengar ucapan serta niat jahat dari Paula. Darel membalikkan badannya untuk melihat wajah dari gadis yang bernama Paula itu.
Tatapan mata Darel menajam ketika melihat wajah dari gadis bernama Paula itu yang saat sedang tertawa bersama dengan kelima sahabat-sahabatnya.
Darel seketika berdiri dari duduknya. Dirinya hendak menghampiri keenam gadis tersebut.
Melihat Darel yang tiba-tiba berdiri membuat Devon, Razig dan Farrel khawatir. Mereka takut jika Darel sampai kelepasan.
"Rel," panggil Farrel.
Darel melihat sekilas kearah Farrel. Terlihat wajah khawatir Farrel. Melihat itu, Darel seketika tersenyum.
__ADS_1
"Kakak Farrel tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin memberikan sedikit peringatan kepada gadis yang bernama Paula itu."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di ruang tengah minus Darel, Elvan, Andre dan Arga. Mereka berkumpul disana hanya untuk sekedar melepaskan rasa lelah dan berkumpul bersama anggota keluarganya.
"Ini kenapa Elvan, Andre, Arga dan Darel belum kembali juga. Ini sudah pukul 5 sore loh," sahut Adelina.
"Eh, iya ya! Ini sudah pukul 5 sore. Seharusnya mereka sudah kembali," sela Evita.
"Aku akan menghubungi Elvan!" seru Davian.
Mendengar seruan dari Davian. Nevan, Ghali dan Vano dengan kompak mengeluarkan ponselnya masing-masing untuk menghubungi Darel, Andre dan Arga.
Namun nomor yang mereka hubungi tidak tersambung alias nomor yang mereka tuju tidak aktif.
"Aish! Ponsel Darel tidak aktif!" seru Ghali.
"Ponsel milik Elvan juga tidak aktif," ucap Davian.
"Ponsel Andre juga!" seru Nevan.
"Apalagi kak Arga," ucap Vano.
Mendengar jawaban demi jawaban dari Davian, Nevan, Ghali dan Vano yang menyebutkan nomor ponsel milik Elvan, Andre, Arga dan Darel tidak aktif membuat Adelina langsung khawatir. Ibu mana yang tidak khawatir jika anak-anak belum pulang. Ditambah lagi ponselnya tidak aktif.
"Elvan, Andre, Arga, Darel! Kalian dimana? Semoga kalian baik-baik saja," batin Adelina.
Disaat mereka sedang memikirkan Elvan, Andre, Arga dan Darel. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara klakson mobil diluar rumah.
Mendengar suara klakson mobil diluar, Alvaro berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju jendela. Setibanya disana, Alvaro membuka sedikit tirai gorden untuk mengintip keluar.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Alvaro ketika melihat ketiga kakaknya pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Beberapa detik kemudian, tatapan matanya melihat kepulangan adik bungsunya dengan menggunakan motor sportnya.
Setelah puas mengintip, Alvaro kembali ke ruang tengah dan kembali duduk disana.
"Siapa, sayang?" tanya Arvind.
"Keempat putra Mama yang sedang Mama tunggu kepulangannya," jawab Alvaro.
Mendengar jawaban dari Alvaro membuat Adelina tersenyum. Dirinya berucap syukur kepada Tuhan karena karena keempat putranya pulang dengan selamat. Begitu juga dengan Arvind, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya.
__ADS_1