
KEDIAMAN UTAMA WILSON
Keesokkan paginya, semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Sebentar lagi mereka semua akan bersiap untuk sarapan pagi.
"Bagaimana keadaan Darel tadi malam, Davian?" tanya Arvind.
"Darel baik-baik saja, Pa!" jawab Davian.
"Darel juga tidak demam. Hanya saja tidur Darel sedikit gelisah. Bahkan Darel sempat mengigau," kata Daffa.
"Mengigau," ucap para anggota keluarga.
"Darel mengigau apa sayang?" tanya Adelina.
"Darel menyebut nama kakek dan ketujuh sahabatnya," jawab Raffa.
Saat mereka tengah membahas masalah Darel, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki disertai teriakan khasnya.
TAP.. TAP..TAP..
"Kakak!"
Mereka semua melihat kearah Darel. Dan dapat mereka lihat bahwa Darel yang masih memakai baju tidurnya. Mereka berpikir, apakah Darel tidak kuliah hari ini? Apakah Darel lupa? Mereka hanya bisa tersenyum melihatnya.
Darel melangkah menuju ruang tengah. Dirinya melihat anggota keluarganya berkumpul disana.
Davian berdiri dari duduknya, lalu menghampiri sang adik yang kini melangkah menuju kearah mereka semua.
"Ada apa, hum?" tanya Davian lembut.
"Aku kehilangan ponselku. Apa kakak melihatnya?" tanya Darel.
Baik Davian maupun anggota keluarga lainnya tersenyum gemas saat mendengar pertanyaan dari Darel. Disaat Davian ingin berbicara, tiba-tiba Raffa sudah terlebih dahulu berbicara.
"Ponsel Darel ada sama kakak."
"Benarkah, kakak Raffa?" tanya Darel sembari memperlihatkan senyuman manisnya.
"Hm!" Raffa menganggukkan kepalanya.
"Mana? Berikan padaku."
"Tunggu sebentar kakak ambilkan."
Raffa pun melangkah menuju kamarnya sembari memperlihatkan senyuman evil di bibirnya.
"Bakal ada perang saudara nih," batin para kakak-kakaknya dan para kakak sepupunya.
"Bersiap-siaplah. Pertunjukan sebentar lagi akan dimulai," batin para orang tua.
Beberapa detik kemudian, Raffa pun kembali keruang tengah dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Mana, kak!" Darel menampung tangannya kearah Raffa.
"Ini." Raffa memberikan ponsel yang sudah hancur ke tangan adiknya.
Darel menatap lekat ponsel yang ada di tanganya. Darel masih belum mencerna dengan ponsel tersebut. Dirinya membolak-balikkan ponsel itu. Bahkan saat ini kedua tangannya memegang masing-masing ponsel yang sudah terbelah menjadi dua. Sementara anggota keluarganya yang melihat reaksi Darel memekik gemas.
Beberapa menit kemudian...
"Raffaaa.. sialan! Apa yang kau lakukan pada ponselku!" teriak Darel melengking di ruang tengah.
Mereka yang mendengar teriakan Darel langsung menutup telinganya masing-masing.
"Akhirnya," batin para anggota keluarga.
Raffa menatap horor adiknya, begitu juga dengan Darel. Keduanya saling memberikan tatapan maut mereka.
"Kenapa kakak menghancurkan ponselku?"
"Siapa juga yang menghancurkan ponselmu itu?"
"Ini buktinya. Ponselku ada sama kakak. Berarti kakak yang sudah menghancurkannya."
"Memangnya kamu punya bukti kalau kakak yang menghancurkan ponsel jelek itu?"
"Buktinya sudah kelihatan. Ponsel ini ada sama kakak. Berarti kakak pelaku perusakan ponselku ini."
Mereka yang melihat pertengkaran kecil antara Raffa dan Darel hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tidak ada niatan dari mereka untuk melerai pertengkaran tersebut.
Raffa menatap adiknya tajam, seakan-akan ingin memakan adiknya itu hidup-hidup. Begitu juga sebaliknya dengan Darel. Darel juga menatap wajah kakak aliennya itu tajam.
"Kakak tidak merusak ponsel jelek itu."
"Kakak yang telah merusak ponselku."
"Tidak!"
__ADS_1
"Iya!"
"Tidak! Tidak!"
"Iya! Iya!"
TAK..
Raffa menjitak kening adiknya sehingga membuat adiknya meringis.
"Aww." Darel mengelus-elus keningnya dengan bibir yang dimanyunkan
"Kenapa kakak menjitakku?"
"Kenapa kamu menuduh kakak yang telah menghancurkan ponsel jelek itu?"
"Tapi memang kakak kan yang merusaknya. Kalau bukan kakak, kenapa ponselku ada sama kakak?"
"Ponsel itu memang sama kakak. Tapi bukan berarti kakak yang telah menghancurkannya."
Darel menatap sedih ponselnya dengan bibir yang sudah melengkung ke bawah. Mungkin sebentar lagi dirinya akan menangis.
Dan benar saja. Tangisan Darel menggema di ruang tengah.
"Huuuaaa!!" Darel menangis sekencang-kencangnya. "Lihatlah ponselku. Kakak Raffa telah menghancurkan ponselku. Mama.. Papa.. kakak!"
"Hei, Rel! Tenanglah. Bukan kak Raffa yang menghancurkan ponselnya kamu," ucap Davian lembut.
Seketika tangis Darel pun terhenti. Darel menatap wajah Davian dengan mengerjap-ngerjap matanya. Hal itu sukses membuat mereka semua gemas.
"Kalau bukan kak Raffa. Siapa yang sudah tega menghancurkan ponselku, kak?"
"Yang menghancurkan ponsel kamu itu adalah......" Davian berhenti sejenak. Davian menatap wajah Davian sembari memiringkan kepalanya.
"Adalah apa, kak? Jangan digantung gitu ucapannya." Darel mendengus kesal.
Davian tersenyum melihat wajah imut adiknya. "Yang menghancurkan ponsel kamu itu adalah kami sendiri."
"A-aku," jawab Darel dengan wajah polosnya.
"Hm." Davian mengangguk sembari tersenyum.
Darel berpikir sejenak. Apakah benar kalau dirinya sendiri yang sudah menghancurkan ponselnya.
Flashback On
"Hallo."
"Siapa kau?"
"Hahaha. Apa kau benar-benar telah melupakanku, Darel?"
Seketika Darel teringat akan suara orang yang menghubunginya itu. Hal itu sukses membuat Darel marah.
"Lian Jevera."
"Hahahah. Akhirnya kau mengingatku."
Flashback Off
Darel seketika teringat kejadian semalam dimana dirinya menerima telepon dari Lian hingga berakhir dirinya membanting ponselnya hingga hancur.
Seketika Darel tersenyum ketika telah mengingat kejadian semalam yang berakhir ponselnya menjadi korban. Darel hanya menunjukkan cengiran khasnya.
"Hehehehe.. aku lupa, kak!" jawab Darel sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Mendengar jawaban dari Darel, mereka semua hanya bisa menghela nafas. Dan juga geleng-geleng kepala. Sementara Raffa mendengus kesal akan sikap adiknya.
Darel melangkahkan kakinya menghampiri sang Ayah. Setelah berada didekat Ayahnya. Darel pun langsung memeluk tubuh Ayahnya.
GREP..
Arvind yang mendapatkan pelukan dari putra bungsunya menjadi paham.
"Papa. Belikan aku ponsel baru ya. Ponselku sudah rusak. Ini semua gara alien gosong itu," ucap Darel seenaknya.
Darel masih terus mencari masalah dengan kakak aliennya itu. Sementara Raffa menatap kesal kearah adiknya itu.
"Yak, Darel! Kenapa masih menya......?"
"Jangan protes. Jika kakak protes, maka aku akan mogok bicara selama dua bulan. Kakak mau?" ucap dan ancam Darel.
Seketika Raffa mengatub bibirnya rapat-rapat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Darel mengintip disela-sela memeluk Ayahnya.
Darel tersenyum puas saat melihat kakak aliennya serta kakak kesayangannya itu tidak berkutik sama sekali.
"Hahahaha."
__ADS_1
Mereka semua tertawa melihat Raffa yang ciut akan ancaman si kelinci nakal mereka.
"Dasar adik laknat.. siluman kelinci sialan," batin Raffa kesal.
"Untung sayang. Kalau tidak sudah aku ceburkan ke sungai Amazon," batin Raffa.
"Papa," rengek Darel.
Arvind mengelus-elus rambut putra bungsunya dan mencium keningnya. "Baiklah. Papa akan belikan ponsel baru untuk kamu."
Darel tersenyum bahagia saat mendengar jawaban dari Ayahnya. Lalu Darel melepaskan pelukannya dari Ayahnya.
"Mana uangnya." Darel menampung tangannya di depan Ayahnya
Arvind mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan black card kepada putra bungsunya itu.
"Ini."
Darel mengambil kartu itu dari tangan Ayahnya. Darel tersenyum bahagia saat Ayahnya langsung mengabulkan keinginannya. Mereka semua yang melihat raut kebahagiaan Darel juga ikut merasakan kebahagiaan.
Setelah mendapatkan kartu dari Ayahnya, Darel pun kembali menuju kamarnya di lantai dua. Namun langkah terhenti saat melihat Pingkan dan Mirza.
"Bibi Pingkan, Mirza. Kalian kenapa ada disini?"
Dylan yang mendengar ucapan dari Darel hanya bisa menepuk jidatnya. Bagaimana bisa Darel melupakan fakta bahwa dirinya lah yang punya ide untuk membawa Pingkan dan Mirza pulang ke rumah keluarga Wilson.
Pingkan dan Mirza juga ikut tersenyum gemas melihat Darel yang lupa akan rencana dan idenya sendiri.
"Yak, Rel! Bagaimana bisa kau melupakan bahwa kau yang merencanakan untuk membawa Bibi Pingkan dan Mirza kesini!" seru Dylan.
"Benarkah?" tanya Darel sambil menatap wajah Dylan.
"Apa perlu kepalamu kakak pukul dulu baru kau benar-benar ingat," ucap dan tanya Dylan kesal.
"Hehehehe.. maaf," jawab Darel.
"Hah" Dylan hanya bisa menghela nafasnya akan sikap Darel.
"Bibi Pingkan. Bagaimana keadaan Bibi sekarang?"
"Baik, sayang. Keadaan Bibi sudah membaik."
"Ach, syukurlah. Aku senang mendengarnya. Oh, iya. Selama Bibi disini. Bibi dilarang untuk keluar rumah dulu. Begitu juga dengan Mirza. Kalian berdua jangan keluar rumah," ucap Darel.
"Baiklah, sayang!" jawab Pingkan.
"Baiklah, kakak Darel!" jawab Mirza.
Anggota keluarganya yang mendengar penuturan dari Darel dibuat bingung. Kenapa Darel melarang Pingkan dan Mirza untuk keluar rumah? Apa yang terjadi sebenarnya? Itulah yang mereka pikirkan.
"Darel, sayang!" panggil Adelina
"Ya, Ma!"
"Kamu pasti belum tahu siapa bibi Pingkan dan Mirza?"
"Hm."
"Bibi Pingkan ini adalah kakak sepupunya Bibi Kayana!"
Mendengar penuturan dari Ibunya membuat Darel tersenyum bahagia.
"Benarkah, Ma?"
"Hm."
"Dugaanku beberapa hari ini ternyata benar. Jika Bibi Pingkan dan Bibi Kayana ada hubungan saudara. Karena pada saat di rumah sakit, Bibi Pingkan mengatakan bahwa Bibi Pingkan memiliki adik perempuan bernama Kayana. Saat mendengar Bibi Pingkan menyebut nama Bibi Kayana, aku pun langsung mencari bukti!" Darel berucap.
"Jadi itu alasan kamu saat itu pergi ke gudang?" ujar Ghali. Darel mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ketika Raffa ingin bertanya pada adik manisnya, sang adik yang mengetahuinya langsung terlebih dahulu berbicara.
"Pembicaraannya kita tutup sampai disini saja ya. Kalau kita terus berbincang-bincang disini, kapan aku mau mandinya. Dan juga sebentar lagi kita semua mau sarapan."
"Siap, Bos!" ucap mereka semua.
Mendengar ucapan dari sang adik membuat Raffa mendengus kesal.
"Dasar siluman kelinci sialan. Adik laknat," batin Raffa.
Darel tersenyum kemenangan karena pagi ini dirinya sangat puas membully kakak aliennya itu. Setelah itu, Darel pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Adelina yang kebetulan berdiri disamping putra bungsu keduanya tersenyum gemas melihat wajah kesal putranya itu. Lalu Adelina memeluk putranya.
"Sabar. Orang sabar akan makin dijahili oleh adik kelincinya," goda Adelina.
"Mama." Raffa memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Adelina tersenyum gemas melihatnya, begitu juga dengan yang lainnya.
"Ya, sudah. Lebih baik sekarang kita keruang makan saja!" seru William.