
"Sekarang ceritakan sama kakak. Kenapa kamu bisa ada di Jerman?" tanya Adelina kepada adik perempuan keduanya yaitu Chiara.
Mendapatkan pertanyaan dari kakak sulungnya, Chiara tidak langsung menjawabnya. Justru Chiara melihat kearah keponakan manisnya yang saat ini tengah fokus menatap kearah layar ponselnya.
Adelina yang melihat tatapan mata adik perempuannya itu tertuju pada putra bungsunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dirinya berpikir dan meyakini bahwa adik perempuannya itu akan berulah lagi untuk menjahili putra bungsunya itu.
Bukan hanya Adelina saja yang tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tatapan mata Chiara yang tertuju pada Darel. Arvind dan putra-putranya, Salma, Sandy dan putra-putranya, Evita, Daksa dan putra-putranya serta William dan putra-putranya juga ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya. Mereka semua juga sudah bisa menebak kalau Chiara akan kembali menjahili Darel.
Darel yang tadinya fokus menatap layar ponselnya, kini menatap kearah anggota keluarganya. Seketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata bibinya yang menurutnya menyebalkan.
"Kenapa bibi menatapku seperti itu?" tanya Darel yang langsung paham akan tatapan mata bibinya itu.
Mendengar pertanyaan dari keponakan manisnya itu membuat Chiara hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
"Jangan mencari masalah lagi Bibi Chiara. Aku sudah tahu kalau bibi akan berulah lagi dengan menjahiliku," ucap Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat Chiara seketika membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka jika keponakan manisnya itu mengetahui niatnya tersebut.
"Wah! Keponakan bibi yang tampan ini pintar sekali menebak isi pikiran bibi. Salut deh," ucap Chiara.
"Bukannya pintar, tapi aku sudah tahu siapa bibi yang sebenarnya dari dulu." Darel langsung menjawab perkataan dari bibinya itu.
"Hahahaha."
Evan dan Raffa seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Darel. Keduanya tidak menyangka jika adik kesayangannya itu akan mengatakan hal itu di hadapan bibinya.
Sementara Adelina, Salma serta anggota keluarga lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darel.
"Sudahlah Chiara. Kamu tidak akan bisa melanjutkan aksi jahilmu terhadap keponakan manismu itu. Menyerah saja dan katakan sekarang kenapa kamu, suami kamu dan anak-anak kamu ada di Jerman?" ucap dan tanya Salma menatap adik perempuannya itu dengan tatapan seolah-olah dirinya sedang marah.
Mendengar ucapan serta melihat tatapan mata kakak keduanya itu membuat Chiara seketika mempoutkan bibirnya.
"Chiara!" seru Adelina.
"Sudahlah sayang. Hentikan aksi jahilmu itu. Kasihan kakak Adelina dan kakak Salma." Gilbran akhirnya bersuara.
Mendengar teguran dari suaminya membuat Chiara seketika tersenyum. Dan pada akhirnya Chiara pun menghentikan aksinya.
"Oke, Oke! Maafkan aku. Aku, Gilbran dan anak-anakku pindah kesini karena aku tidak ingin berjauhan lagi dengan kakak Adelina dan kakak Salma. Hanya kalian berdua yang aku miliki di dunia. Dan hanya kalian berdua keluargaku."
Mendengar penuturan dari Chiara membuat Adelina dan Salma tersenyum dan juga bahagia. Inilah yang diinginkan oleh keduanya selama ini. Baik Adelina maupun Salma menginginkan adiknya itu tinggal di negara yang sama yaitu Jerman.
"Aku selalu bermimpi tentang Mama. Dalam mimpi tersebut Mama menginginkan aku untuk tinggal di negara yang sama dengan kak Adelina dan kak Salma," ucap Chiara.
"Kemarilah," ucap Adelina sembari merentangkan kedua tangannya bermaksud adik keduanya itu datang memeluknya.
Melihat kakak sulungnya itu merentangkan kedua tangannya membuat Chiara langsung berdiri. Dan kemudian Chiara langsung menghampiri kakak sulungnya itu.
__ADS_1
Grep..
Chiara langsung masuk ke dalam pelukan kakaknya. Dan seketika isak tangis Chiara pun pecah.
"Hiks... kakak. Maafkan aku yang selama ini tidak mendengarkan perkataanmu."
Adelina mengusap-usap lembut punggung adiknya. Dia juga dapat merasakan tubuh adiknya bergetar.
"Kakak memang sejak dulu menginginkan kamu, Gilbran dan anak-anak untuk tinggal di Jerman. Walau beda kota, itu tak masalah. Selama masih di Jerman, kita bisa saling bertemu kapan pun kita mau. Jika keluar kota, kadang-kadang kita butuh waktu untuk bisa keluar kota."
Setelah puas memeluk tubuh kakak sulungnya, Chiara pun melepaskan pelukannya itu. Kemudian Chiara melihat wajah cantik kakaknya yang sudah seperti ibu baginya.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan Gilbran di Singapura?" tanya Salma.
"Kakak Salma tidak perlu khawatir. Perusahaanku di Singapura sudah aku percayakan kepada tiga orang kepercayaanku. Di tambah lagi nanti aku dan Nico secara bergantian akan kesana untuk mengeceknya," jawab Gilbran.
Mendengar jawaban dari Gilbran membuat Adelina dan Salma tersenyum lega. Keduanya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap perusahaan adik iparnya itu.
"Baguslah kalau begitu. Kakak senang mendengarnya," sahut Adelina.
"Dan kamu Amelia! Kamu mau melanjutkan kuliah dimana?" tanya Salma.
"Belum tahu bibi. Aku sudah mencari Universitas yang bagus disini. Tapi belum berhasil," jawab Amelia.
"Kebetulan kalau begitu. Kamu langsung masukkan lamaran kamu melalui Darel!" seru Evan tiba-tiba.
Mendengar seruan dari Evan membuat Amelia langsung melihat kearah Evan, kemudian beralih menatap kearah Darel. Begitu juga dengan Chiara, Gilbran, Dominico, Radeo, Recky dan Cherry.
Evan tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Amelia. Begitu juga dengan Raffa, Melvin, Dylan dan Rendra.
"Darel itu ketua SENAT di kampus. Dia dipercayai oleh pemilik Kampus untuk semua jenis kegiatan di Kampus, termasuk ketika penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru," ucap Evan.
"Bahkan Darel juga bisa memberikan hukuman kepada mahasiswa dan mahasiswi yang melanggar aturan di Kampus," sela Raffa.
"Bukan hanya Darel yang diberikan kepercayaan sama pemilik Kampus, melainkan semua sahabat-sahabatnya Darel juga mendapat hak istimewa itu. Bahkan salah satu sahabatnya Darel adalah putra pemilik kampus tersebut," sahut Dylan.
Mendengar ucapan dari Evan, Raffa dan Dylan membuat Amelia menatap kearah Darel dengan tatapan bangga. Begitu juga dengan Chiara, Gilbran, Dominico, Radeo, Recky dan Cherry.
Ketika Amelia hendak mengeluarkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel milik Darel.
Darel yang mendengar suara ponselnya langsung melihat kearah layar ponsel. Terlihat disana nama 'Paman Arkan' disana.
Sementara anggota keluarganya terutama Arvind, Adelina dan putra-putranya menatap kearah Darel dengan memasang telinganya masing-masing.
Darel pun segera menjawab panggilan dari salah satu orang kepercayaan kakeknya yang sekarang menjadi orang kepercayaannya.
"Hallo Paman Arkan!"
__ADS_1
"Hallo tuan muda. Tuan muda ada dimana?"
"Saya sekarang ini berada di rumah bibi Chiara. Kenapa Paman?"
"Paman hanya ingin memberitahu kepada tuan muda bahwa besok akan ada yang datang ke perusahaan milik tuan Arvind. Orang itu membawa berkas kerjasama. Katakan kepada tuan Arvind untuk tidak langsung menandatangani berkas tersebut."
Mendengar ucapan dari Arkan membuat Darel langsung paham akan kejadian selanjutnya.
"Apa kejadian tersebut sama seperti yang dialami oleh Paman Rainard dan Paman Lucio?"
"Benar tuan muda."
"Kira-kira pukul berapa orang itu akan datang? Apa dia sendirian atau justru membawa beberapa orang?"
"Informasi yang Paman ketahui, orang itu akan datang berdua dengan orang kepercayaannya."
"Baiklah Paman. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama tuan muda. Kalau begitu Paman tutup teleponnya."
"Baiklah Paman!"
Tuttt.. Tuttt..
Setelah selesai berbicara dengan salah satu kepercayaan kakeknya, Darel langsung melihat kearah ayahnya yang juga tengah menatap dirinya. Begitu juga semua anggota keluarganya.
"Papa."
"Iya, sayang."
"Besok akan ada orang yang datang untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Papa. Papa masih ingatkan kejadian yang dialami oleh Paman Rainard dan Paman Lucio?"
"Iya, sayang. Papa ingat. Apa orang itu akan melakukan hal yang menjijikan dengan memberikan berkas palsu?"
"Iya, Pa! Paman Arkan mengatakan padaku bahwa orang itu datang bersama dengan orang kepercayaannya dengan membawa berkas palsu. Jadi Papa harus hati-hati. Jangan langsung menandatangani berkas tersebut."
"Baik, sayang. Papa mengerti."
"Rel," panggil Amelia.
Darel langsung melihat kearah Amelia. Seketika Darel tersenyum menatap wajah cantik sepupunya itu.
"Iya."
"Aku mau mendaftar masuk ke Universitas kamu. Bisa bantu nggak?"
"Minta aja formulirnya sama kakak Evan. Isi semua yang ada disana. Setelah itu, kasih ke aku." Darel langsung menjawab perkataan dari Amelia.
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah itu, mereka semua kembali mengobrol dan bersenda gurau bersama. Dan yang menjadi korbannya adalah Darel.