
Darel sudah di Kampusnya. Dirinya datang bersama kedua kakaknya Evan dan Raffa. Ketika Darel sampai di Kampus. Darel disambut dengan hangat oleh kelima sahabatnya. Sahabat barunya. Melihat kebahagiaan Darel dan juga kekompakan dan ketulusan serta lima sahabat baru Darel membuat Evan, Raffa, Melvin, Dylan, Rendra dan Aldan ikut merasakan kebahagiaan.
Kini Darel bersama kelima sahabat barunya sedang berada di lapangan. Mereka saling mengobrol, bercanda dan jangan lupa saling memberikan umpatan serta ejekan. Yang jadi korbannya adalah Lucas.
"Sialan kamu Rel. Baru satu minggu kita bersahabat kamu udah ngasih nama baru untukku. Kalau namanya bagus nggak apa-apa. Nah, ini! Nama hitam. Apa bagusnya?" kesal Lucas.
Mendengar keluhan dan protes dari Lucas. Mereka semua tertawa. Sementara Darel tersenyum manis menatap wajah kesal Lucas.
"Udah, ach! Ke kantin yuk," ajak Juan.
Juan langsung menarik tangan Darel dan pergi meninggalkan Samuel, Razig, Lucas dan Zelig. Melihat Juan yang pergi begitu saja sambil menarik tangannya Darel membuat mereka mendengus kesal. Dan mereka semua pun menyusul keduanya.
"Yak! Juab sialan!" teriak Samuel, Lucas, Zelig dan Razig bersamaan.
Ketika Darel, Samuel, Lucas, Zelig dan Razig sedang berjalan menuju Kantin. Mereka berpapasan dengan beberapa orang. Jumlah orang-orang itu sekitar 10 orang.
Baik Darel, Samuel, Lucas, Zelig dan Razig maupun sepuluh orang tersebut saling berhadapan dan saling memberikan tatapan. Tatapan matanya Darel tertuju ke dua pemuda yang begitu dirindukannya.
"Kenzo, Gavin." Darel berucap lirih.
Samuel, Lucas, Zelig dan Razig dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Darel. Mereka melihat bahwa Darel menatap tepat kedua pemuda yang berdiri di depan.
"Apa dua pemuda itu sahabatnya kakak?" batin Samuel, Lucas, Zelig dan Razig.
"Kita bertemu lagi," ucap Kendrick dengan menatap tajam Darel.
Baik Darel maupun Kendrick saling memberikan tatapan. Tatapan yang berbeda. Darel menatap pemuda di depannya dengan tatapan sedih dan juga kerinduan. Sementara pemuda itu menatap penuh amarah.
Ketika Kendrick mengangkat tangannya hendak menyakiti Darel. Gerald langsung menyentuh bahunya dan berbicara.
"Ini belum waktunya, Kendrick! Bersabarlah," ucap Gerald. Mendengar perkataan dari Gerald. Kendrick pun kembali menurunkan tangannya.
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan Darel dan kelima sahabat barunya untuk menuju kantin.
Ketika baru beberapa langkah. Darel berteriak memanggil salah satu sahabatnya yang begitu dirindukannya.
"Gavin," panggil Darel.
"Kalian pergilah dulu ke Kantin dan bawa Kendrick bersama kalian!" seru Gerald.
"Baik."
Mereka semua pun pergi meninggalkan Gerald untuk menuju kantin bersama Kendrick.
Gerald membalikkan badannya untuk melihat kearah Darel. Gerald dapat melihat dari tatapan mata Darel banyak kesedihan disana.
Gerald berlahan berjalan mendekati Darel dan kelima sahabat barunya. Kini Gerald sudah berdiri tepat di hadapan Darel.
"Gavin," lirih Darel.
"Maaf. Aku tidak mengenalmu. Aku Gerald bukan Gavin." Gerald berucap dengan tegasnya.
Seketika air mata Darel mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar jawaban dari Gerald. Hatinya begitu sakit ketika sahabatnya tidak mengingatnya.
Setelah mengatakan itu, Gerald pergi meninggalkan Darel, Samuel, Lucas, Zelig dan Razig.
__ADS_1
"Aku tahu kau pura-pura lupa ingatan Gavin!" teriak Darel.
Mendengar teriakan Darel. Gerald langsung menghentikan langkahnya.
"Aku tahu kau ingat denganku. Aku tahu kau melakukan ini semua hanya semata-mata untuk melindungi Kenzo. Hanya Kenzo yang lupa ingatan. Kenzo melupakanmu dan Kenzo juga melupakanku. Aku juga tahu kalian berdua diselamatkan oleh sebuah kelompok. Dan kelompok itu ingin menguasai kota Hamburg. Kelompok itu menggunakan kalian!" teriak Darel dengan berurai air mata. Samuel dan Razig mengusap lembut punggung dan bahu Darel.
Sementara Gerald sudah menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Darel. Dan beberapa detik kemudian, Gerald membalikkan badannya untuk melihat kearah Darel.
Gerald melangkah mendekati Darel. Baik Gerald maupun Darel keduanya dalam keadaan menangis dan keduanya saling memberikan tatapan kerinduan.
"Kau Gavin, sahabatku! Kau ingat denganku. Kau tidak melupakanku begitu juga dengan Kenzo. Aku selama ini mencarimu dan juga Kenzo. Aku meminta Zayan untuk mencari kalian berdua. Bahkan aku juga meminta kak Arzan untuk mencari keberadaan Lian dan teman-temannya."
GREP!
Gavin langsung memeluk tubuh Darel. Gavin memeluk begitu erat tubuh sahabatnya. Dan seketika tangisan Gerald pun pecah. Begitu juga dengan Darel.
"Hiks... Rel. Maafkan aku. Maafkan aku yang pura-pura tidak mengingatmu ketika pertemuan pertama kita. Saat itu aku benar-benar takut... Hiks... Rel," isak Gavin.
"Hiks... Vin... Hiks. Aku bahagia bisa melihatmu lagi. Aku bahagia kau kembali... Hisk," isak Darel.
Baik Gavin maupun Darel sama-sama melepaskan pelukan mereka. Dan memberikan tatapan kerinduan satu sama lainnya. Gavin menatap Darel inten mulai dari atas sampai bawah.
"Kau keliatan kurus, Rel! Apa selama aku dan yang lainnya tidak bersamamu kau baik-baik saja? Kau tidak pernah jatuh sakitkan? Kau selama ini hidup dengan baik kan, Rel?" tanya Gavin bertubi-tubi.
Gavin melihat sekelilingnya. Bahkan Gavin menatap wajah dari kelima pemuda yang berdiri di samping sahabatnya ini.
"Rel. Mereka siapa? Dimana kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel? Kenapa mereka tidak bersamamu? Apa mereka sengaja ninggalin kamu agar bisa mengusili kamu?" tanya Gavin lagi.
Mendengar Gavin yang bertanya tentang kelima sahabatnya membuat Darel harus kembali mengingat dimana dirinya melihat kelima sahabatnya meninggalkannya untuk selamanya.
"Rel, jawab! Dimana mereka? Kenapa kau tidak bersama dengan mereka? Apa kalian bertengkar? Tapi tidak mungkin kalian bertengkar. Selama kita bersama. Tidak ada sedikit pun pertengkaran diantara kita."
"Hiks... Hiks...," isak Darel.
"Rel, katakan padaku. Apa yang terjadi? Yang aku ingat saat kecelakaan itu aku dan Kenzo terjatuh dari dalam mobil."
Darel menatap wajah Gavin dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi wajahnya. "Mereka... Mereka sudah pergi! Mereka pergi meninggalkanku. Meninggalkan kita semua, Vin! Mereka sudah bahagia di atas sana."
Seketika Gavin melepaskan tangannya dari bahu Darel. Air matanya mengalir deras membasahi wajah tampannya ketika mendengar ucapan dari Darel.
Sementara Samuel, Lucas, Zelig dan Razig yang melihat kesedihan dan kerinduan antara Darel dan Gavin juga ikut menangis. Mereka semua dapat melihat bagaimana rasa sayang, rasa sedih dan rasa rindu keduanya terhadap kakak-kakak mereka.
"Hiks... Kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel... Hiks," isak Gavin.
Gavin menatap wajah Darel. Dirinya tahu bahwa Darel yang paling terluka dan juga terpukul akan kepergiannya, kepergian Kenzo dan ditambah lagi kepergian kelima sahabatnya. Pasti saat kejadian itu Darel sendirian tanpa dirinya, tanpa Kenzo dan tanpa kelima sahabatnya disisinya. Gavin sangat tahu bagaimana sifat, kondisi dan kesehatan Darel. Pasti Darel mengalami masa-masa sulit tanpa kehadirannya, tanpa kehadiran Kenzo dan tanpa kehadiran kelima sahabatnya.
GREP!
Gavin kembali memberikan pelukan kepada Darel. Bahkan pelukan Gavin saat ini benar-benar membuat semua beban terlepas. Baik bagi Darel sendiri maupun bagi Darel.
"Aku merindukanmu, Vin!"
"Aku juga merindukanmu, Rel!
Gavin melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah Darel. "Kita akan bawa pulang Kenzo," ucap Gavin.
__ADS_1
"Tapi bagaimana caranya?"
"Untuk masalah Kenzo. Aku serahkan padamu. Terserah kau mau pake cara apa untuk menyadarkan anak itu. Dan untuk masalah lain aku yang akan mengurusnya. Tinggal beberapa jam lagi. Ketika jam istirahat nanti akan ada penyerangan di Kampus. Kita harus menggagalkan rencana mereka."
"Aku mengerti. Masalah itu kau tidak perlu khawatir. Kau urus saja kelompok yang kau dan Kenzo bawa itu. Masalah kelompok yang akan menyerang Kampus ini sudah aku urus. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"
"Aku percaya padamu. Oh iya! Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa lima pemuda jelek yang ada di sampingmu ini?" tanya Gavin seenak udelnya.
Mendengar pertanyaan sarkas dari Gavin membuat Samuel, Lucas, Zelig dan Razig mendengus kesal.
"Sialan nih bocah. Ngatain orang jelek," batin Samuel dan Zelig.
"Sok ketampanan," batin Juan dan Razig.
"Tak tonjok juga tuh bibir," batin Lucas.
Sementara Darel tertawa ketika mendengar ucapan kejam dari Gavin.
"Mereka sahabat-sahabat baruku. Dan..." perkataan Darel terpotong karena Gavin sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Apa? Sahabat-sahabat barumu. Oh, jadi kau ingin melupakanku, melupakan Kenzo dan juga melupakan kelima sahabat-sahabat kita yang sudah pergi, hah!" teriak Gavin.
"Nggak usah pake teriak-teriak juga sialan. Baru aja ketemu sudah ajak ribut. Aku sebenarnya nggak ada niatan untuk mencari sahabat baru. Tapi merekanya aja yang selalu mengejar-ngejarku. Sehari saja tidak bertemu denganku. Mereka sudah seperti anak ayam yang kehilangan iduknya. Bahkan rela ngelakuin apapun agar aku mau menerima mereka."
Tidak jauh beda dengan Gavin ketika berbicara. Darel juga sangat kejam ketika berbicara dengan para sahabatnya.
Samuel, Lucas, Zelig dan Razig membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Darel. Mereka semua menatap tajam Darel.
Sementara Darel dan Gavin tertawa di dalam hati ketika melihat wajah kesal Samuel, Lucas, Zelig dan Razig.
"Dasar. Tidak jauh beda sifat kalian berdua," sahut Lucas.
"Sama-sama suka berbicara sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain," kesal Zelig.
"Itulah kami," jawab Darel dan Gavin bersamaan.
"Bahkan kakak-kakak kalian tidak kalah kejam kalau berbicara. Aku sama Gavin mah masih mending," sahut Darel.
"Kakak-kakak kalian? Apa maksudmu, Rel?" ucap dan tanya Gavin dengan menatap wajah Darel.
"Mereka adalah adik-adik sepupunya kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel." Darel menjawab pertanyaan dari Gavin.
"Benarkah?" tanya Gavin.
"Hm!" Darel berdeham.
Gavin menatap kelima pemuda tersebut. Begitu juga dengan kelima pemuda itu. Dan detik kemudian, mereka pun saling berkenalan.
"Terima kasih kalian sudah mau bersedia menjadi sahabatnya Darel. Dan terima kasih juga kalian telah mengembalikan senyumannya. Aku sangat yakin selama ini pasti sahabatku ini selalu bersedih. Dan tidak ada senyuman sama sekali. Dan aku juga yakin sahabatku ini selama ini selalu menutup diri dan menolak untuk memiliki sahabat lagi."
Gavin berbicara sembari menatap wajah Darel, lebih tepatnya menatap di manik coklat Darel. Gavin bisa melihat dari manik coklat Darel, ada sedikit perubahan di sana. Dan yang membuat perubahan itu adalah kehadiran dirinya.
"Oh iya. Aku hampir lupa. Lebih baik aku pergi sekarang. Dan kau Darel jangan sampai lupa. Ingat! Saat jam istirahat!"
"Hm!" Darel mengangguk.
__ADS_1
Gavin berlari menuju kantin dimana Kenzo dan kelompoknya berada.