Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kiriman Video Dari Kenzi


__ADS_3

Plak..


"Aakkhhh!" teriak seorang perempuan merasakan sakit dan panas di pipinya.


"Tora, apa yang....."


Plak..


Pria yang dipanggil Tora kembali melayangkan tamparan kedua kepada wanita yang ada di hadapannya itu. Tamparan keduanya lebih keras dari pada tamparan pertama.


"Kau benar-benar perempuan tak tahu diri, Rania! Aku tidak menyangka kau tega melakukan semua itu di belakangku!" bentak Tora dengan tatapan amarahnya.


Yah! Perempuan yang ditampar oleh Tora bernama Rania yang tak lain adalah istri kedua dari Tora alasan ibu tirinya Zehra Neylan Lunara.


"Apa maksud kamu, Tora? Aku tidak mengerti!' Rania masih belum sadar bahwa Tora suaminya sudah mengetahui tentang perbuatannya selama ini terhadap Neylan, putri tirinya.


Tora seketika tersenyum meremehkan menatap wajah Rania. Dirinya tidak menyangka jika istrinya itu justru berpura-pura tidak mengetahui kesalahannya.


"Tidak usah bersandiwara lagi di hadapanku, Rania! Jangan perlihatkan wajah menjijikkanmu itu di hadapanku seolah-olah kau adalah ibu yang baik untuk putriku. Aku sudah tahu apa yang telah kau lakukan terhadap putriku Neylan selama ini!" bentak Tora.


Seketika Rania terkejut ketika mendengar ucapan dari Tora. Di dalam hatinya berkata, apakah suaminya itu sudah mengetahui tentang sikap buruknya terhadap Neylan?


"Aku tidak menyangka padamu, Rania! Aku mempercayakan Neylan padamu. Tapi apa yang kau lakukan. Kau tega menyakiti Neylan. Setiap hari kau menyakitinya, memakinya dan membentaknya. Aku ayah kandungnya belum pernah sekali pun menyakitinya, menghinanya dan juga membentaknya. Dan kau......!"


Tora menatap penuh amarah kearah Rania sembari menunjuk wajah Rania. Dia benar-benar marah terhadap Rania atau sikapnya menyakiti putri kesayangannya.


"To-tora. Aku tidak pernah menyakiti Neylan. Aku benar-benar menyayangi Neylan. Siapa yang mengatakan hal tersebut kepada kamu? Apa Neylan? Neylan mengatakan apa padamu? Tora, aku mohon jangan terlalu mempercayai Neylan. Kau tahu sendiri bahwa Neylan tidak pernah menyukaiku menggantikan ibunya."


Mendengar perkataan Rania sembari menjelek-jelekkan putrinya membuat Tora tersenyum menyeringai.


"Apa kau berpikir bahwa aku mengetahui semua ini dari Neylan, hah?! Kalau iya! Kau salah besar Rania. Neylan tidak pernah mengatakan apapun padaku. Neylan tidak pernah mengadu padaku akan sikap burukmu padanya." Tora benar-benar marah akan perkataan Rania.


"Dan apa tadi yang kau bilang? Neylan tidak menyukaimu. Kau salah lagi Rania. Neylan putriku menyukaimu. Dia menerimamu menjadi Mama barunya. Dia selalu membelamu ketika ada orang yang memandang kamu rendah. Dia tidak mempercayai setiap perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa ibu tiri itu jahat. Justru dia mempercayaimu kalau kau adalah ibu tiri yang baik."


Deg..


Rania seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Tora.


"Putriku begitu menyukaimu. Dia berusaha menjadi anak yang baik untukmu. Tapi kau membalasnya dengan cara menyakitinya, menghinanya dan membentaknya."


Rania memberanikan diri menatap wajah Tora yang saat ini benar-benar menakutkan.


"Tora, kau salah menuduhku seperti itu. Aku tidak pernah menyakiti Neylan."


"Apa kau masih mau mengelak? Apa kau tidak ingin berkata jujur padaku, hum? Baiklah kalau itu maumu!"


Tora mengeluarkan ponselnya. Setelah itu, Tora membuka galeri foto. Kemudian Tora mencari sebuah video yang durasi selama 5 menit.


"Kau lihatlah video ini. Apa kau masih bisa mengelak setelah melihat video ini?"


Tora mengarahkan layar ponselnya kearah Rania agar Rania bisa melihatnya dan menyaksikan setiap adegan di dalam ponsel tersebut.


Seketika Rania membelalakkan matanya ketika melihat adegan demi adegan yang dia lakukan di dalam video tersebut. Di dalam video itu terlihat jelas bagaimana sikap buruknya yang menyakiti Neylan selama ini di belakang Tora.


"Bagaimana?" tanya Tora setelah mematikan ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya.


Seketika Rania ketakutan ketika mendengar ucapan dari Tora. Apalagi ketika melihat tatapan matanya Tora.


"Aku tidak menyangka kau melakukan semua itu Rania. Aku menikahimu bukan semata-mata untuk putriku saja. Aku benar-benar tulus menikahimu. Dan aku mencintaimu seperti aku mencintai mendiang istriku." Tora menangis ketika mengatakan itu kepada Rania.


"Yang membuat aku tak habis pikir adalah kau tega membunuh lili, kucing kesayangan putriku. Kau membunuh lili tepat di hadapannya. Kau tahu Rania. Lili itu adalah pemberian dari ibu kandungnya ketika dia berulang tahun yang ke 10 tahun. Dan nama lili itu juga ibunya yang memberikan namanya."


"Lili itu adalah satu-satu kenangannya akan ibunya, namun kau dengan kejinya membunuh lili!" bentak Tora.


***


Di kediaman Wilson dimana semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Lengkap dengan Darel dan Neylan.


Mereka mengobrol sembari bersenda gurau. Dan yang menjadi bahan obrolannya adalah Darel. Buktinya saat ini Darel dibuat kesal akan kelakuan para kakak-kakaknya yang selalu saja menjodohkan dirinya dengan Neylan.

__ADS_1


Sementara Neylan hanya diam karena malu akan kelakuan semua kakak-kakaknya Darel.


"Bisa tidak kalian diam?!" teriak kesal Darel.


"Tidak!" semua kakak-kakaknya, baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya menjawab dengan kompak.


Seketika Darel membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban kompak dari semua kakak-kakaknya termasuk kakak-kakak sepupunya.


"Paman juga setuju apa yang dikatakan oleh kakak-kakak kamu, Rel!" Sandy juga ikut menjahili keponakannya itu.


"Apa?! Paman juga bilang kalau aku dan Neylan cocok menjadi sepasang kekasih?" tanya Darel.


"Iya." Sandy langsung menjawab pertanyaan dari keponakannya itu.


"Menyebalkan."


Mendengar perkataan kesal dari Darel membuat Sandy dan yang lainnya tersenyum gemas. Apalagi ketika melihat wajah lucu Darel. Persis seperti anak kecil berusia 4 tahun.


Ketika Darel tengah kesal akan kelakuan anggota keluarganya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Mendengar bunyi ponselnya Darel seketika membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya seketika menatap khawatir Darel. Mereka takut jika orang itu kembali yang menghubungi Darel.


Darel mengambil ponselnya yang kebetulan terletak di atas meja. Tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Terlihat disana nama 'Kenzi' tangan kanannya.


Tanpa membuang-buang waktu lama, Darel langsung menjawab panggilan dari Kenzi. Dirinya meyakini Kenzi ingin memberikan informasi tentang perkembangan masalah Neylan.


Sementara Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson memperhatikan Darel sembari memasang telinganya untuk mendengar obrolan Darel di telepon.


"Hallo Kenzi."


Seketika rasa takut Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya mereda ketika mendengar Darel yang menyebut nama Kenzi.


"Ach, syukurlah! Ternyata Kenzi yang menghubungi Darel!"


"Hallo, Bos. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Bos."


"Katakanlah."


"Benarkah?"


"Benar, Bos! Apa Bos ingin tahu apa yang terjadi?"


"Ya, katakan! Apa yang terjadi?"


"Saya tidak bisa menjelaskan secara detailnya. Saya akan langsung mengirimi Bos videonya."


"Baiklah. Kirimkan sekarang."


Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilan dari Kenzi.


Darel seketika tersenyum manis sembari tatapan matanya menatap wajah cantik Neylan yang duduk di samping Salam sang Bibi.


Melihat senyuman manis di bibir Darel membuat mereka semua ikut tersenyum. Bahkan mereka meyakini bahwa Darel menyukai Neylan. Padahal Darel tersenyum karena usahanya membantu Neylan membuahkan hasil.


Ting..


Terdengar suara notifikasi masuk ke dalam ponselnya sehingga membuat Darel langsung mengalihkan perhatiannya menatap kearah layar ponselnya.


Darel membuka pesan tersebut lalu melihatnya. Terlihat oleh Darel sebuah video disana.


Ketika video itu sudah terbuka. Adegan pertama yang Darel lihat adalah kemarahan seorang pria terhadap seorang wanita. Darel meyakini bahwa kedua orang itu adalah ayah kandungnya Neylan bersama ibu tirinya.


"Neylan," panggil Darel.


Neylan langsung melihat kearah Darel ketika namanya dipanggil.


"Iya, Rel!"


"Kemarilah. Dan lihatlah ini!" sahut Darel sembari memperlihatkan layar ponselnya kearah Neylan.

__ADS_1


Neylan langsung beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping Darel. Kemudian Neylan mengambil ponselnya Darel yang diberikan kepadanya.


"Lihatlah video itu."


Setelah itu, Neylan langsung melihat kearah layar ponsel milik Darel. Dan dapat Neylan lihat di dalam video itu terlihat ayahnya sedang marah besar kepada ibu tirinya.


Tes..


Seketika air mata Neylan jatuh membasahi wajah cantiknya.


"Jadi Papi sudah mengetahui semua perlakuan buruk Mama Rania terhadap aku."


Melihat Neylan yang menangis ketika melihat ke layar ponselnya Darel membuat semua anggota keluarga Wilson meyakini bahwa tangan kanannya Darel yaitu Kenzi sudah memberikan kabar bahagia untuk Darel, terutama untuk Neylan.


"Papi," ucap Neylan.


Neylan mengembalikan ponsel tersebut kepada Darel. Lalu tatapan matanya menatap wajah Darel.


"Rel, apa ini benar?"


"Iya. Seperti yang kamu lihat di dalam video itu."


"Jadi Papi...."


"Iya. Ayah kamu sudah kembali. Sekarang ayah kamu sedang membasmi hama yang ada di rumah kamu itu biar kamu terbebas dari penyakit."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Darel membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson tersenyum serta geleng-geleng kepala.


"Rel, boleh aku pulang?"


"Jangan dulu."


"Kenapa? Bukannya Papi sudah kembali?"


"Iya, aku tahu."


"Terus?"


"Buat jaga-jaga jika ibu tiri kamu itu memiliki senjata buat melawan ayah kamu. Kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh ibu tiri kamu saat ini. Dan aku sangat yakin jika ibu tiri kamu itu nggak akan tinggal diam menerima hinaan dan bentakan dari ayah kamu."


Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Darel membuat Neylan seketika menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel. Jika dia pulang, bisa saja ibu tirinya menggunakan dirinya untuk membalas ayahnya.


Sementara untuk ibu tirinya itu tidak tahu keberadaan dirinya sejak ibu tirinya itu menyakiti dan memaksa dirinya untuk pergi ke luar negeri.


"Aku mengikuti kamu."


"Memangnya aku mau kemana sampai kamu mau mengikuti aku?"


Mendengar jawaban dari Darel membuat semua anggota keluarganya menepuk jidatnya masing-masing. Begitu juga Neylan. Neylan dengan kejamnya langsung memukul kening Darel.


"Dasar bodoh. Udah kuliah, tapi otak cetek."


Darel membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan seenaknya dari Neylan.


"Udah berani sekarang?"


"Memangnya sejak kapan aku takut sama kamu."


"Eh, nantangin!"


"Lah, memangnya kenapa?"


"Pulang saja sana."


"Yakin? Ntar kamu nyesal lagi jika aku pulang. Kalau tikus perempuan itu nyakitin aku, bagaimana?"


Darel seketika mendengus ketika mendengar ucapan dari Neylan. Apalagi ketika melihat wajah Neylan yang menurutnya benar-benar menyebalkan.


"Ach, bodo!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Darel langsung berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah menuju kamarnya di lantai dua.


Melihat kepergian Darel dengan wajah kesalnya, seketika Neylan tertawa. Tawanya benar-benar lepas. Bahkan Neylan sampai lupa bahwa dirinya tidak sendirian di ruang tengah itu, ada anggota keluarga Wilson yang kini menatap dirinya dengan tersenyum.


__ADS_2