
Seperti yang sudah dipercayakan oleh Darel. Hari ini Dirga menjabat sebagai Direktur di Perusahaan CJ GRUP. Sedangkan William sebagai Presiden Direkturnya, sementara Marcel sebagai wakil Direktur.
"Ayo, Dirga! Semangat! Lakukan tugasmu dengan baik. Buat adikmu bangga padamu." monolog Dirga.
Akhirnya Dirga memutuskan untuk mulai melakukan tugasnya.
Saat Dirga melihat satu persatu berkas-berkas yang ada di atas meja dan membukanya untuk dibacanya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
TOK!
TOK!
"Masuk."
CKLEK!
Pintu di buka oleh seorang pemuda tampan, lalu pemuda itu melangkah masuk ke dalam ruangan Dirga.
"Maaf, Bos. Ini ada berkas yang harus Bos tanda tangani," ucap pemuda itu.
Dirga menatap pemuda itu tersenyum sembari tangannya meraih map yang ada di tangan pemuda tersebut.
"Siapa namamu?" tanya Dirga.
"Farraz, Bos."
Pemuda tersebut adalah Farraz. Farraz bekerja di CJ GRUP menjabat sebagai MANAGER KEUANGAN.
"Hanya Farraz saja? Apakah tidak ada nama marga atau nama keluarga?" tanya Dirga.
"Tidak, Bos. Nama Farraz itu sudah lama melekat pada diri saya sejak saya masih kecil. Saya tidak tahu nama marga dari kedua orang tua saya," jawab Farraz.
"Kenapa begitu? Memangnya kedua orang tuamu tidak memberitahumu?" tanya Dirga.
"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Mereka meninggal saat aku dan keempat adik-adikku masih kecil." Farraz menjawab dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
DEG!
Dirga terkejut mendengar penuturan dari Farraz.
"Maafkan saya."
"Tidak masalah, Bos."
"Selama ini kau dan adik-adikmu tinggal dimana?"
"Kami dibesarkan di Panti Asuhan KASIH IBU. Setelah lulus kuliah. Aku memutuskan membawa adik-adikku pergi meninggalkan panti tersebut tersebut. Dan sekarang kami tinggal di sebuah Apartemen."
"Panti Asuhan Kasih Ibu," batin Dirga
FLASBACK ON
Dirga saat ini berada di dapur sedang mengambil minuman. Setelah selesai mengambil minuman, Dirga ingin kamar. Saat melewati kamar Darel, Dirha tak sengaja mendengar suara orang berbicara. Dengan rasa penasarannya. Dirga pun menguping.
"Hallo, bagaimana? Apa kau sudah menemukan keberadaan mereka?"
"Jadi selama ini mereka berada di Panti Asuhan Kasih Ibu? Apa kau yakin mereka tinggal disana?"
"Baguslah kalau begitu. Cari mereka sampai ketemu."
FLASBACK OFF
"Apa pemuda ini salah satu orang yang dicari oleh Darel? Apakah pemuda ini adikku?" batin Dirga yang menatap wajah tampan Farraz.
Farraz yang menyadari ditatap oleh Dirga, akhirnya bersuara. "Maaf, Bos. Kenapa menatapku seperti itu?"
"Ach, maaf." Dirga lalu memberikan map tersebut pada Farraz.
"Kalau begitu saya permisi, Bos." Farraz pun pergi meninggalkan ruang kerja Dirga.
__ADS_1
***
Darel sudah diperbolehkan masuk sekolah oleh para kakaknya, terutama Davian dan Nevan selaku kakak tertua.
Saat ini Darel sudah berada di dalam kelasnya. Dirinya duduk sendiri di kursinya dan tak ada satu pun sahabatnya yang datang. Bisa dikatakan belum satupun yang datang. Hal itu sukses membuat Darel kesal sembari mengomel tak jelas.
"Aish. Dasar sahabat-sahabat laknat. Jam segini mereka belum datang. Apa mereka pada kompak untuk bolos? Atau jangan-jangan mereka kompak lagi tidak masuk?"
Tanpa Darel sadari, para sahabatnya sudah berdiri di depan pintu sembari menatap kearahnya. Mereka tersenyum gemas mendengar omelan-emelan dari Darel.
Setelah puas melihat Darel yang mengomel tak jelas untuk mereka. Akhirnya mereka pun menghampiri Darel.
"Wooii. Kenapa tuh muka ditekuk begitu? Lagi dapet ya!" teriak Kenzo sambil menduduki pantatnya di samping Darel.
Mendengar teriakan dari Kenzo, hal itu sukses membuat Darel terkejut. Dan Darel tanpa periberperasaan langsung mencubit pinggang Kenzo kuat.
"Ssshhhh, Rel." Kenzo meringis merasakan perih di pingganggnya
Sedangkan Darel memperlihatkan wajah tanpa dosanya di depan Kenzo.
"Kenapa, hum??" tanya Azri.
"Kalian tega dan kejam sekali padaku," jawab Darel dengan memperlihatkan wajah sedihnya.
Mereka saling lirik, lalu kembali menatap wajah Darel.
"Tega? Kejam?" ucap mereka bersamaan.
"Maksud kamu apa, Rel? Kami nggak ngerti." Farrel balik bertanya kepada Darel.
"Aish. Kalian ini benar-benar keterlaluan ya. Udah jelas salah. Masih aja nanya." Darel berucap kesal sambil menatap horor ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Memangnya salah kami apa padamu kelinci nakal?" tanya Gavin.
Darel menatap tak suka pada Gavin. "Dasar jangkung sialan. Mati saja kau."
"Kau benar, Evano. Coba lihat bibirnya sedari tadi dimanyun-manyunkan begitu. Sepertinya tuh bibir ingin minta dicium." Damian juga ikut menggoda Darel.
Mendengar perkataan Damian. Reflek Darel menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan matanya yang membelalak sempurna.
"Hahahahaha." Ketujuh sahabatnya tertawa puas melihat wajah memerah Darel.
Darel menatap tajam kearah sahabat-sahabatnya itu. "Kalian benar-benar menyebalkan."
"Oke... Oke! Kami minta maaf. Ada apa sebenarnya, hum?" tanya Brian lembut.
Mereka menatap Darel dengan wajah bersalah mereka.
"Kalian semua tega padaku. Aku sudah beberapa hari tidak masuk sekolah karena kecelakaan. Tapi tidak ada satu pun dari kalian yang datang menjengukku," tutur Darel dan air matanya mengalir begitu saja.
Mereka yang melihat Darel menangis menjadi tidak tega. Mereka merasa bersalah. Tapi itu bukan kemauan mereka.
"Rel! Soal kami tidak datang menjengukmu di rumah sakit. Kami semua minta maaf. Bukan kemauan kami. Tapi kami terpaksa tidak datang. Karena saat itukan sekolah kita memang sedang ada perlombaan melawan sekolah-sekolah lain. Dikarenakan kau sebagai ketua OSIS sedang sakit, makanya Kenzo sebagai wakilnya menggantikanmu melanjutkannya acaranya." Brian menjelaskan alasan mereka tidak bisa datang menjenguknya ketika dirawat di rumah sakit.
"Setelah selesai perlombaan itu. Kami sepakat untuk menjengukmu di rumah sembari ngumpul bareng dan memperlihatkan video-video tentang perlombaan tersebut padamu." Gavin menambahkan.
"Tapi buktinya kalian tidak datang!" lirih Darel.
"Kami semua datang, Rel!" Farrel menjawabnya.
Darel menatap Farrel. Dapat dilihat oleh Darel dari tatapan mata Farrel, kalau Farrel tidak berbohong.
"Lalu?" tanya Darel.
"Kami diusir," jawab Azri.
"Apa? Ka-kalian diusir? Siapa yang mengusir kalian?"
"Siapa lagi kalau bukan tikus-tikus yang ada di rumahmu itu," jawab Damian.
__ADS_1
FLASBACK ON
Saat ini Kenzo, Gavin, Damian, Brian, Evano, Farrel berada di rumah Azri. Mereka akan pergi bersama-sama ke rumah Darel.
"Wooi, buruan! Kenapa lama sekali, sih?!" teriak Kenzo dari lantai bawah.
"Yak! Tiang listrik. Bisa diam tidak. Ini di rumah bukan di hutan!" teriak Brian tak kalah melengking dari lantai dua rumah Azri.
"Nah! Kak Brian sendiri kenapa malah berteriak. Kalah mau berteriak di luar sana!" teriak Kenzo dari lantai bawah.
Brian dan Azri berada di lantai dua. Mereka tengah sibuk mempersiapkan bingkisan untuk Darel.
Sepuluh menit kemudian, Azri dan Brian pun turun.
"Kenapa lama sekali sih?" tanya Gavin.
"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar?" tanya Damian penasaran.
"Apa kalian sedang bercinta di dalam kamar ya?" goda Evano
"Ayoo, ngakuu! Iyakaann?" Farrel juga ikut menggoda Brian dan Azri.
TAK!
TAK!
"Aww!" ringis keduanya.
Brian dan Azri memberikan masing-masing satu jitakan di kening Farrel dan Evano.
"Dasar otak karatan," kesal Brian.
"Dan otak tumpul," Azri menambahkan.
Setelah mengatakan hal itu, Brian dan Azri pergi meninggalkan kelima makhluk-makhluk gila di hadapan mereka.
"Yak! Kita ditinggal," sahut Kenzo. Lalu mereka pun menyusul Brian dan Azri.
***
Mereka telah sampai di depan gerbang rumah mewah keluarga Wilson. Saat pintu gerbang telah di buka. Dan disaat mereka melangkah masuk, tiba-tiba kelima putra-putra Agatha datang.
"Hei, siapa kalian?" teriak Caleb.
"Kalian mau maling ya?!" teriak Rayyan.
Kelima putra Agatha sudah berdiri di hadapan ketujuh sahabatnya Darel.
"Maaf. Kami kesini bukan ingin menjadi maling. Tapi kami kesini ingin menjenguk sahabat kami, Darel!" Brian menjawab perkataan Rayyan.
"Alah, alasan saja. Kalian itu hanya modus saja," ejek Dzaky.
"Gak usah bohong dech. Bilang aja kalau kalian mau malingkan? Karena ketahuan dengan kami, makanya kalian membawa-bawa anak sialan itu," ucap Aldan.
Brian dan yang lainnya mengepalkan tangan mereka kuat. Mereka menatap tajam kearah Rayyan bersaudara.
"Sudah. Pergi sana. Rumah kami bukan tempat penampungan orang gembel seperti kalian," ejek Kevin.
"Dan kau..." tunjuk Kevin pada satpam. "Usir mereka dari sini. Dan jangan biarkan mereka datang lagi kemari. Mengerti!" bentak Kevin dengan penuh penekanan.
"Ba-baik, tuan muda."
Setelah puas beradu mulut dengan sahabat-sahabat Darel. Kevin dan saudara-saudaranya masuk ke dalam rumah.
"Brengsek!" umpat Kenzo penuh amarah.
Akhirnya mereka pun pasrah dan pergi meninggalkan rumah Darel.
FLASBACK OFF
__ADS_1