
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Darel sudah berada di rumah. Dia pulang dari Kampus sekitar pukul setengah tiga sore.
Sekarang ini Darel sedang tidur di kamarnya karena lelah. Sementara para anggota keluarganya berada di ruang tengah.
Arvind menatap wajah putra bungsu keduanya dan juga Evan. Dirinya penasaran akan lebam di pipi kiri putranya itu.
"Raffa," panggil Arvind.
"Iya, Pa!" jawab Raffa.
"Sekarang katakan kepada Papa. Apa yang terjadi? Kenapa pipi kamu bisa lebam begitu?" tanya Arvind.
"Dan kamu Evan. Bukannya kamu sama Raffa pergi barengan. Sekarang katakan pada Mama. Apa yang terjadi kepada kalian?"
Raffa melihat kearah Evan. Begitu juga dengan Evan. Mereka saling memberikan tatapan satu sama lainnya.
Setelah itu, Raffa dan Evan menatap wajah satu persatu anggota keluarganya.
"Kita habis nolongin Paman Andrean dan Alisha," jawab Evan.
Mendengar jawaban dari Evan membuat Arvind, Adelina, ke 10 putranya dan anggota keluarganya terkejut.
"Apa yang terjadi?" tanya Arvind.
"Ada sekitar 8 motor dengan jumlah sekitar 16 orang. Mereka membawa senjata tajam di tangannya," ucap Evan.
"Kita ingin nolong, tapi kita nggak mau mati sia-sia karena nggak punya senjata sama sekali," ucap Raffa.
"Lalu apa yang terjadi Raffa, Evan?" tanya William.
"Aku menghubungi Arzan dan meminta untuk mengirimkan beberapa anggotanya," jawab Evan.
"Mereka ngincar Paman Andrean. Mereka marah ketika Paman Andrean tidak mematuhi mereka," sahut Raffa.
"Perintah? Apa yang mereka inginkan dari Andrean?" tanya Sandy.
"Mereka ingin Paman Andrean ikut bersama mereka," jawab Evan.
"Ketika perintah mereka tidak dipatuhi. Sang pemimpin tersebut memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kami."
"Ketika mereka hendak menyerang aku, Evan dan Paman Andrean. Arzan dan kelompoknya datang dan langsung membunuh semuanya dan hanya menyisakan satu yaitu pemimpinnya," pungkas Raffa.
"Sekarang pemimpin tersebut ada di markas Black Sharks," sahut Evan.
"Raffa mendapatkan pukulan ketika sedang lengah," sahut Evan lagi.
Mendengar cerita dari Evan dan Raffa membuat mereka semua terkejut dan juga khawatir. Mereka semua mengkhawatirkan Evan dan Raffa jika orang-orang itu kembali mencari Andrean sekaligus mencari Evan dan Raffa.
Ketika mereka semua tengah memikirkan keselamatan Evan dan Raffa, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan dari Darel.
"Aakkhhh!"
Mendengar suara teriakan dari Darel di lantai dua. Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarga Wilson berlari menuju kamar Darel di lantai dua.
^^^
Brak..
Pintu dibuka paksa oleh Davian dan Ghali. Setelah pintu kamar terbuka, mereka langsung melangkah masuk ke dalam kamar.
Ketika tiba di dalam kamar Darel, merea semua terkejut ketika melihat Darel yang duduk di lantai sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Darel!" teriak Arvind, Adelina dan putra-putranya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit? Katakan pada Papa." Arvind menatap putra bungsunya khawatir.
"Pa-papa... Sa-sakit," Darel berucap terbata-bata sembari meremat perutnya.
Arvind seketika langsung menangis ketika mendengar keluhan dari putra bungsunya. Hatinya saat ini benar-benar tersayat-sayat ketika mendengar keluhan dari putra bungsunya itu.
Arvind kemudian menarik pelan tubuh putranya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Katakan pada Papa apa yang sakit? Apa perut kamu?"
"I-iya! Pe-perutku sa-sakit. Aku benar-benar nggak kuat. Sa-sakit banget Papa."
Mendengar Darel yang mengatakan bahwa perutnya sakit membuat mereka semua berpikir apakah ginjal Darel ada masalah.
"Lebih baik bawa Darel ke rumah sakit sekarang kak Arvind! Takutnya terjadi sesuatu terhadap ginjalnya. Ingat! Darel hanya memiliki satu ginjal saat ini!" seru Sandy.
Mendengar perkataan dari Sandy. Davian langsung mengambil alih tubuh adik bungsunya lalu kemudian menggendongnya.
"Ka-kakak, aku nggak mau ke rumah sakit." Darel langsung menolak untuk dibawa ke rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit hanya untuk ngecek saja ya." Davian berucap lembut. Dirinya tahu bahwa adiknya takut jika harus dirawat lagi.
Setelah itu, Darel langsung menjatuhkan kepalanya di dada bidang kakaknya itu.
"A-aku nggak mau dirawat. Aku nggak mau dirawat." Darel berucap lirih sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher kakaknya.
"Kamu nggak dirawat, oke! Kita hanya ngecek tentang perut kamu saja ya."
Nevan berucap sembari tangannya mengusap lembut kepala adiknya. Nevan menangis karena kembali melihat adiknya kesakitan.
Bukan hanya Nevan yang menangis. Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa juga menangis karena mereka harus kembali melihat kesayangannya merasakan kesakitan.
***
Semuanya sudah berada di rumah sakit. Dan Darel sudah ditangani oleh Fayyadh. Sekarang ini Darel berada di ruang UGD. Sementara Arvind, Adelina, para putra-putranya dan semua anggota keluarga Wilson menunggu dengan hati yang berdebar-debar di depan ruang UGD.
"Tuhan, aku mohon tidak terjadi sesuatu terhadap putra bungsuku. Putraku hanya memiliki satu ginjal. Semoga ginjal putraku baik-baik saja. Aku mohon padamu, Tuha!"
Arvind menangis ketika meminta dan memohon kepada sang Pencipta untuk kesembuhan dan kesehatan untuk putra bungsunya.
"Jangan berikan rasa sakit lagi kepada putra bungsuku, Tuhan! Sudah cukup putraku merasakan kesakitannya selama ini. Sudah waktunya putraku bahagia," batin Adelina berdosa. Adelina menangis.
Semuanya menangis ketika melihat Darel yang mengeluh sakit di perutnya. Mereka semua khawatir dan takut jika terjadi sesuatu terhadap ginjal Darel yang hanya tinggal satu. Mereka tidak ingin Darel kenapa-kenapa.
Mereka semua berharap terutama Arvind, Adelina dan putra-putranya jika sakit perut yang dirasakan oleh Darel hanya sakit penyebab yang lain, bukan sakit ginjalnya. Dan juga sakit yang dirasakan oleh Darel hanya sakit biasa dan tidak parah atau membahayakan.
Ketika mereka semua tengah memikirkan keadaan Darel, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara pintu ruang UGD dibuka.
Mendengar itu, mereka semua langsung melihat kearah pintu dengan tatapan khawatir dan takut.
Keluarlah seorang dokter yang tak lain sahabat dari Arvind Wilson dan ayah dari Kenzo sahabatnya Darel.
"Fayyadh, bagaimana? Apa yang terjadi? Apa penyebab sakit perut putra bungsuku? Putra bungsuku baik-baik saja kan? Ginjal putra bungsuku baik-baik saja kan?" Arvind menyerang Fayyadh dengan banyak pertanyaan sehingga membuat Fayyadh pusing mendengarnya.
"Hei, tenanglah Arvind! Pertanyaanmu banyak sekali. Aku bingung mau menjawab yang mana?"
Fayyadh membalas pertanyaan dari Arvind sembari tersenyum menatap wajah cemas Arvind. Dirinya tahu bahwa sahabatnya itu begitu mengkhawatirkan putra bungsunya.
"Maafkan aku Fayyadh. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi putra bungsuku selama ini. Dan bagaimana sikapku jika melihat putra bungsuku kesakitan," ucap Arvind yang berlinang air mata.
__ADS_1
Puk..
Fayyadh menepuk bahu Arvind lalu mengusap-usapnya lembut. Dirinya paham akan ketakutan Arvind terhadap putra bungsunya itu.
"Kau tidak perlu khawatir atau pun takut. Semuanya baik-baik saja. Darel tidak apa-apa. Sakit perut yang dirasakan oleh Darel itu karena asam lambungnya naik. Kemungkinan itu terjadi Darel yang telat makan."
Mendengar perkataan dari Fayyadh membuat semua anggota keluarga Wilson menghela nafas lega, terutama Arvind dan Adelina selaku orang tua.
"Apa itu benar Fayyadh? Kau sedang tidak membohongiku kan?" tanya Arvind dengan menatap wajah Fayyadh. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Apa wajahku terlihat sedang berbohong atau sedang bercanda. Ini menyangkut pasienku. Jika dia sakit ini atau itu, maka aku akan katakan yang sebenarnya. Aku tidak akan merahasiakan apapun dari anggota keluarganya. Termasuk jika pasien itu dalam keadaan baik-baik saja."
Mendengar perkataan dari Fayyadh membuat mereka semua menganggukkan kepalanya masing-masing.
"Bagaimana dengan Ginjal Darel, Paman?" tanya Raffa.
Fayyadh tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Raffa. Terlihat gurat ketakutan di tatapan mata Raffa.
"Adik kelinci kamu itu baik-baik saja. Begitu juga dengan ginjalnya. Justru ginjalnya sangat bagus. Tak ada masalah sama sekali," jawab Fayyadh jujur.
Mendengar jawaban dari Fayyadh lagi-lagi mereka semua menghela nafas leganya. Mereka semua benar-benar bahagia dengan apa yang disampaikan oleh Fayyadh tentang kondisi Darel.
"Apa Darel perlu dirawat Paman?" tanya Axel.
"Tidak perlu. Cukup istirahat di rumah saja. Nanti aku akan berikan beberapa obat ditambah dengan vitamin untuk Darel."
"Baiklah Paman."
"Baiklah Fayyadh."
"Ya, sudah kalau begitu. Aku kembali ke ruanganku. Kalian pergilah masuk ke dalam. Darel membutuhkan kalian."
"Baiklah!"
Setelah itu, Fayyadh pergi meninggalkan anggota keluarga Wilson untuk menuju ruang pribadinya. Sedangkan Arvind beserta anggota keluarganya masuk ke dalam ruang UGD.
Setibanya di dalam, mereka melihat Darel yang tertidur. Mereka semua menatap Darel dengan senyuman kebahagiaan.
Adelina membelai lembut kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putih putranya.
Mendapatkan sentuhan di kepalanya membuat Darel seketika membuka kedua matanya.
"Mama."
Adelina tersenyum mendengar putranya memanggil dirinya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Mama pulang. Aku nggak mau dirawat."
Adelina kembali tersenyum ketika mendengar ucapan dari putranya itu. Tangannya bermain-main di pipi putih putranya lalu memberikan ciuman di pipi itu.
"Pulang ya Ma? Kakak Davian sama kakak Nevan bilang cuma pergi cek doang ke rumah sakit. Kan udah selesai ceknya? Berarti boleh pulang kan?"
Mereka semua tersenyum gemas ketika mendengar ucapan serta permintaan dari Darel kepada ibunya. Apalagi ketika melihat wajah yang menatap wajah sang ibu, benar-benar menggemaskan seperti anak kecil yang berusia 4 tahun.
"Mau pulang?" tanya Adelina sembari mengusap lembut kepalanya.
Darel langsung menganggukkan kepalanya secara brutal ketika mendengar pertanyaan dari ibunya itu.
Sedangkan Adelina seketika tertawa sambil mencubit pelan hidung mancung putranya itu.
"Baiklah kita pulang."
__ADS_1
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar ucapan dari ibunya. Di dalam hatinya berucap syukur karena tidak dirawat.
Melihat senyuman manis Darel membuat hati mereka menghangat terutama Arvind, Adelina dan putra-putranya.