Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Di Hadang Tiga Mobil


__ADS_3

"Ghali, pleasee! Jangan marah ya. Oke, aku ngaku salah karena sudah buat adik kamu tidak dilayani bahkan komputer incarannya aku rebut," ucap Paula kepada Ghali sembari memohon.


Saat ini Ghali bersama dengan Paula di sebuah cafe di dekat perusahaan milik Paula.


Kenapa Ghali ada disana dikarenakan perusahaan milik Paula sedang menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan milik Ghali.


Tanpa Paula ketahui bahwa Ghali menggunakan perusahaan palsu yang mana Ghali telah menyewa sebuah gedung yang besar dan dia jadikan perusahaan. Sementara yang menjadi karyawan dan karyawatinya adalah anggota-anggotanya sendiri.


Ghali tidak menjawab bahkan memberikan respon apapun. Dia hanya fokus pada ponselnya. Dia tidak peduli ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Paula.


Sementara Paula mengumpat kesal melihat Ghali yang hanya fokus pada ponselnya tanpa mau menjawab perkataan darinya.


"Ghali, ayolah! Katakan sesuatu," ucap Paula.


Ghali langsung melihat kearah Paula, lalu dirinya mengatakan sesuatu yang membuat Paula terkejut.


"Sekali pun kamu minta maaf padaku lalu aku membahas tentang kamu yang minta maaf padaku pada adikku. Semua itu tidak berguna sama sekali. Adikku itu orangnya keras. Dan adikku itu tidak akan mudah menerima orang yang sudah bersikap buruk padanya dihari pertama bertemu," sahut Ghali.


"Bagaimana kalau aku ke rumah kamu untuk bertemu dengan adik kamu itu. Setelah itu, aku akan minta padanya."


"Kalau kamu gagal, bagaimana? Seperti yang aku katakan barusan. Adikku itu orangnya keras. Dan dia juga tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain apalagi orang itu orang yang berusaha mendekati kakaknya."


"Kan ada kamu. Kalau seandainya aku gagal. Kamu bisa bantu dengan cara membantu untuk bicara dengan adik kamu," ucap Paula.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Tap aku tidak akan memaksa adikku jika adikku tetap pada keputusannya."


"Baiklah."


"Ya, sudah! Nanti kamu ikut aku pulang ke rumah."


"Hm." Paula berdehem sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Yees!" batin Paula.


"Jangan senang dulu kamu, Paula. Ketika kamu bertemu dengan adikku. Kamu akan mendengar kata-kata manis dari adikku," batin Ghali yang menatap wajah senang Paula.


***


Darel saat ini dalam perjalanan pulang ke rumah dengan menggunakan mobil. Setelah selesai dengan urusan tugasnya bersama dengan kelima sahabatnya yaitu Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel dan juga selesai mengisi perut di Cafe. Darel dan kelima sahabatnya itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dengan Darel yang terlebih dahulu mengantarkan Alisha pulang.

__ADS_1


Hati Darel masih belum membaik. Dengan kata lain, suasananya masih dalam keadaan buruk.


Bagaimana tidak buruk? Hari ini sudah dua kali dia menyaksikan orang yang dia kenal dan orang yang dia sayangi layaknya saudari sendiri disakiti dan dibully.


Pertama Amelia yang berstatus sepupunya. Sepupunya itu diganggu dan dibully oleh si Ratu bully di Kampus. Yang lebih parahnya lagi, si Ratu bully itu menyukai kakak bantetnya dan kakak bantetnya itu menerimanya.


Kedua Alisha yang berstatus adiknya, walau bukan adik kandungnya. Tapi Darel sudah menganggap Alisha adik kandungnya sendiri seperti Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan yang sudah anggap dirinya sebagai adik kandungnya. Bahkan kelimanya begitu menyayangi dirinya.


Darel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan dengan tatapan fokus ke depan. Namun ketika Darel fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba berhenti tiga mobil di hadapannya. Tiga mobil itu langsung menyalip dan berhenti di depan mobilnya sehingga membuat Darel refleks menginjak rem mobilnya.


Skiittt..


Darel berhasil menghentikan mobilnya tanpa menabrak salah satu mobil di hadapannya itu.


"Sial! Siapa mereka? Kenapa mereka berhenti begitu saja di depan mobilku?" tanya Darel pada dirinya sendiri dengan tatapan matanya menatap ke depan.


Detik kemudian, keluarlah seseorang dari mobil berbeda. Dengan kata lain, seseorang keluar dari tiga mobil tersebut.


"Siapa mereka?" tanya Darel dengan menatap tiga pria paruh baya yang keluar dari tiga mobil tersebut.


Darel mengeratkan pegangannya di setir mobil dan kedua kakinya sudah berada di rem dan pedal gas serta tangan kiri berada kopling (maaf kalau salah).


Darel kemudian kembali menghidupkan mesin mobilnya, namun tidak langsung pergi. Darel hanya menghidupkan mesin mobilnya terlebih dahulu sembari melihat situasi diluar.


Sementara ketiga pria tersebut sudah memerintahkan anak buahnya untuk berdiri di belakang mobil Darel agar Darel tidak pergi begitu saja. Dan Darel melihat hal itu.


Darel melihat kearah belakang mobilnya melalui kaca spionnya. Dapat dilihat oleh Darel ada sekitar sepuluh orang yang sudah berdiri rapi di belakang mobilnya. Seketika Darel menyeringai.


"Keluar!" teriak salah satu pria yang berdiri di tengah.


Namun hal itu tidak membuat Darel gentar dan takut. Justru tatapan matanya menatap nyalang kearah tiga pria dengan kedua tangannya memegang setir mobil dan kedua kakinya berada di pedal gas dan rem secara bersamaan.


"Hei, bocah! Keluar kau!" kini pria yang kedua yang berteriak memintanya untuk keluar.


Melihat tidak ada tanda-tanda orang yang ada di dalam mobil akan keluar membuat ketiga pria itu mengepalkan kuat tangannya.


Berlahan ketiga pria itu melangkahkan kakinya mendekati mobil Darel, namun seketika ketiga terkejut ketika sang pemilik mobil menginjak gak dengan berulang kali membuat asap knalpot keluar begitu banyak sehingga membuat orang-orang yang berdiri di belakang mobilnya terbatuk-batuk.


Setelah itu, Darel menginjak gas dan menarik kopling secara bersamaan dan kemudian mobilnya berlahan mundur dengan kecepatan cepat sehingga membuat orang-orang yang ada di belakang berlari ketepi menyelamatkan diri.

__ADS_1


Melihat apa yang dilakukan oleh sang pemilik mobil membuat ketiga pria paruh baya itu terkejut. Ketiganya tidak menyangka jika si pemilik mobil akan melakukan hal itu.


Setelah mobilnya sudah menjauh dari tiga pria itu, Darel kemudian berlahan tapi pasti melajukan mobilnya langsung dengan kecepatan tinggi sehingga membuat tiga pria itu dan beberapa anak buahnya berlari menghindar.


Gedebug..


Gedebug..


Bunyi tiga mobil yang menghalangi jalannya sehingga membuat ketiga mobil itu rusak dan hancur sekelilingnya.


Posisi tiga mobil yang menghalangi mobil Darel adalah melintang. Jadi dengan begitu Darel dengan mudah melintasi tiga mobil tersebut dengan cara menabraknya.


Setelah beberapa meter, Darel menghentikan laju mobilnya. Darel melirik kearah kaca spionnya. Dan dapat Darel lihat bahwa ketiga pria itu bersama para anak buahnya dalam keadaan tak baik-baik saja. Bahkan ketiga pria itu itu tampak marah.


Darel seketika tersenyum menyeringai melihat hal itu. Kemudian Darel mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Noah untuk memberikan tugas padanya.


Setelah mendapatkan nomor ponsel Noah. Darel pun langsung menghubungi sang pemilik nomor.


"Hallo, Bos!"


"Hallo, Noah. Kamu sibuk tidak?"


"Tidak. Kenapa Bos?"


"Aku punya pekerjaan untukmu."


"Apa itu Bos. Katakan."


"Aku mau kau membuat celaka anak perempuan dari keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin. Cukup kecelakaan kecil saja. Setidaknya buat ketiganya dirawat di rumah sakit selama dua hari. Setelah itu, kau kirimkan sebuah pesan misterius untuk para ayahnya yang isinya jangan mengusik dan menyakiti anggota keluarga Wilson."


"Baik, Bos! Saya mengerti. Saya akan melakukan sesuai keinginan Bos!"


"Terima kasih, Noah!"


"Sama-sama, Bos."


Setelah selesai berbicara dengan Noah. Darel pun langsung mematikan panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya.


"Tunggu kejutan dariku," ucap Darel dengan tatapan matanya menatap kearah kaca spionnya.

__ADS_1


Darel tersenyum menyeringai bersamaan dengan dirinya kembali melanjutkan perjalanannya. Darel memutuskan meninggalkan lokasi untuk pulang ke rumah.


__ADS_2