Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kakak Sayang Kamu


__ADS_3

Darel sudah berada di ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Begitu juga dengan Evan, Raffa, Melvin dan Rendra. Kelimanya seketika menangis saat melihat kakaknya yang tertidur dengan banyak alat medis di tubuhnya.


"Kakak," lirih Darel dengan linangan air mata.


"Kakak Daffa," lirih Evan dan Raffa bersamaan.


"Kakak Dario," lirih Rendra.


"Kakak Aditya," lirih Melvin.


Mendengar lirihan dan isakan dari Darel, Evan, Raffa, Melvin dan Rendra membuat hati mereka semua sesak dan sakit.


Arvind memeluk putra bungsunya karena dia tahu bahwa putra bungsunya itu yang paling terpukul dibandingkan Evan dan Raffa. Adelina langsung memeluk kedua putranya yaitu Evan dan Raffa. Sementara Sandy dan Daksa memeluk Rendra dan Melvin.


Mendapatkan pelukan dari orang tuanya, seketika tangis Darel, Evan, Raffa, Melvin dan Rendra pecah. Tangis mereka semakin kuat sembari menyebut nama kakaknya.


"Hiks... Kakak Daffa."


"Kakak Dario... Hiks."


"Hiks.. Kakak Aditya... Hiks."


Arvind, Adelina, Daksa dan Sandy makin mengeratkan pelukannya pada putranya. Sesekali mereka memberikan kecupan sayang di pucuk kepalanya.


^^^


Lelah karena menangis, tiba-tiba tubuh Darel lemas dan jatuh pingsan. Untung Arvind dengan sigap menahan bobot tubuh putra bungsunya dan dibantu oleh William dan Daksa yang memang kebetulan berdiri diantara Arvind dan Sandy.


Darel kini terbaring di sofa panjang yang ada di ruang rawat tersebut. Wajahnya nampak sedikit pucat. Mereka semua menangis ketika menatap wajah Darel yang pucat, terutama Evan dan Raffa.


Secara bergantian Arvind, Adelina dan putra-putranya memberikan usap-usapan di kepalanya dan mencium keningnya.


"Tidak!"


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan igauan dari Darel sehingga membuat mereka makin menatap panik kearah Darel.


"Darel!" panggil mereka.


"Tidak, kakak! Tidak!" teriak Darel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan disertai air matanya mengalir di sudut matanya.


"Darel sayang, hei! Ini Papa, nak!" Arvind mengusap lembut kepala putranya dan pipinya secara bergantian.


Plak..

__ADS_1


"Aakkhh!" Darel merasakan sakit di pipinya.


Yah! Evan dan Raffa memberikan tamparan keras di pipi Darel disertai tatapan matanya yang begitu tajam menusuk hati.


"Dasar anak pembawa sial! Kau yang menyebabkan kakak Daffa kecelakaan!" bentak Raffa.


"Kau biang keroknya!" bentak Evan.


"Kau penjahat besar!" bentak Rendra.


"Pergi kau dari keluarga Wilson. Kami tidak sudi memiliki adik sepertimu!" bentak Evan dan Raffa bersamaan sembari mendorong kuat tubuh Darel hingga tersungkur di lantai.


Brukk..


"Hiks..."


Evan, Raffa dan Rendra menatap penuh amarah dan kebencian terhadap Darel.


"Darel, ini Mama! Kamu kenapa sayang?" Adelina sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Air matanya mengalir sangat deras membasahi pipinya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari putra bungsunya yang dalam keadaan mata terpejam.


"Kakak Evan, kakak Raffa, kakak Rendra! Tidak! Ini bukan salahku. Tidak!" Darel makin brutal menggelengkan kepalanya.


"Kakak, jangan benci aku. Aku tidak salah. Bukan aku... Bukan aku yang menyebabkan kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya kecelakaan. Kakak... Hiks." Darel berteriak sekencang-kencangnya dan air matanya mengalir dari sudut matanya dengan derasnya.


"Sayang, Papa mohon. Buka matamu."


"Tidak! Kakak!" teriak Darel bersamaan dengan matanya yang terbuka.


Nafas Darel memburu, keringat bercucuran dan air mata makin deras mengalir.


Arvind menarik pelan kedua tangan putra bungsunya itu, lalu membawa ke pelukannya. Hatinya benar-benar hancur melihat kondisi putra bungsunya.


Tak jauh beda dengan Arvind, putra-putranya yang lain dan anggota keluarganya. Mereka semua menangis melihat kondisi Darel. Apalagi ketika melihat Darel yang berteriak ketakutan sembari menyebut nama Evan, Raffa dan Rendra.


"Hiks... Hiks... Hiks," isak tangis Darel pecah di pelukan ayahnya.


Mendengar isak tangis putra bungsunya, Arvind makin mengeratkan pelukannya pada putranya itu.


"Papa... Hiks... Bukan aku... Bukan aku yang buat kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya kecelakaan. Aku nggak salah... Aku nggak salah Papa... Hiks."


Deg..


Arvind, Adelina, putra-putranya dan yang lainnya seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel. Justru mereka bingung, kenapa Darel berbicara seperti itu. Tanpa Darel berbicara seperti itu, mereka juga tidak akan menyalahkan Darel. Hanya orang gila yang menyalahkan putranya/adiknya/keponakannya demi membela putranya/adiknya/keponakannya yang lain.

__ADS_1


Arvind berlahan melepaskan pelukannya agar dia bisa melihat wajah putranya itu dengan jelas.


Setelah pelukannya terlepas, tangan kanannya menghapus air mata putranya itu dan memberikan kecupan di keningnya.


"Papa... Hiks... Jangan benci aku. Aku nggak salah... Aku nggak salah," ucap Darel sembari menggelengkan kepalanya dengan tatapan matanya menatap sendu wajah ayahnya.


Arvind sudah tidak bisa membendung kesedihannya sejak tadi. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi pipinya.


"Kamu memang tidak salah. Sama sekali kamu tidak salah. Kamu putra Papa yang sangat baik. Kamu tidak pernah berbuat jahat kepada siapa pun. Justru orang-orang diluar sana yang berbuat jahat padamu." Arvind berbicara sembari tangannya menghapus air mata putranya.


"Tapi kakak Evan, kakak Raffa dan kakak Rendra bilang padaku bahwa kecelakaan yang menimpa kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya adalah kesalahanku. D-dan... D-dan kakak Evan mengatakan padaku kalau aku penyebabnya, kakak Raffa bilang aku anak pembawa sial dan kakak Rendra bilang aku... Aku seorang pen-penjahat!"


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar aduan dari Darel kepada ayahnya sehingga membuat Evan, Raffa dan Rendra bersamaan menutup mulutnya karena terkejut dan syok mendengar untaian ketakutan Darel.


"Papa... Hiks," isak Darel dengan menggelengkan kepalanya brutal.


Berlahan Evan, Raffa dan Rendra melangkah mendekati Darel yang saat ini masih ketakutan dengan tatapan matanya menatap wajah Ayahnya.


Setelah sampai di dekat Darel. Bersamaan Evan, Raffa dan Rendra berjongkok dengan kedua lututnya sebagai tumpuannya menatap kearah Darel. Mereka sudah menangis sejadi tadi akibat mendengar ucapan demi ucapan dari Darel.


"Darel sayang," panggil Evan dengan nada bergetarnya. Dan air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Lihat kakak, sayang!" tak jauh beda dengan Evan. Raffa juga berbicara dengan suara bergetarnya.


Berlahan Darel melihat kearah samping dimana dapat dia lihat kedua kakak kesayangannya dan satu kakak sepupunya kini tengah menatap dirinya dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, hum? Kamu adik laki-laki kesayangannya kakak. Mana mungkin kakak tega memarahi kamu, sekali pun kamu bersalah. Sampai kapan pun, kakak nggak akan pernah menyalahkan kamu dan juga memarahi kamu." Evan berucap dengan bibir bergetar dengan tangannya menggenggam erat tangan kiri adiknya.


"Dengar kakak ya. Kakak nggak ada niat nyalahin kamu. Sampai kapan pun kakak nggak akan pernah nyalahin kamu apalagi marahin kamu. Seperti yang Evan bilang barusan ke kamu bahwa kamu adalah adik laki-laki kesayangannya, kamu juga adik laki-laki kesayangannya kakak. Ngapain juga kakak nyalahin kamu yang nggak ada salahnya sama sekali. Jika pun nanti ada orang yang mengatakan kepada kakak bahwa kamu melakukan kesalahan. Kakak nggak akan memarahi kamu. Bahkan kakak nggak ikut menyalahkan kamu. Justru kakak yang akan bela kamu karena kamu adik kandung kakak."


Raffa menangis ketika mengatakan kata-kata itu di hadapan adiknya. Sulit bagi Raffa untuk bisa merangkai kata-kata tersebut disaat kondisi lagi tak baik-baik saja. Apalagi ketika melihat adik kesayangannya yang tampak rapuh.


Tangan Raffa terangkat mengusap lembut kepala adiknya dan berpindah ke pipi putihnya.


"Dan kamu bukan seorang penjahat. Kamu pantas disebut sebagai pahlawannya keluarga Wilson. Kakak sayang kamu. Jangan pernah kamu lupakan itu," sahut Rendra dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Hiks... Hiks."


Grep..


Evan dan Raffa langsung memeluk tubuh adiknya. Hatinya benar-benar hancur melihat betapa terpuruk adik kesayangannya akibat kecelakaan yang menimpa ketiga kakaknya hingga berujung adiknya terbawa mimpi yang mana dalam mimpinya itu dirinya dan Rendra menyalahkan adiknya.

__ADS_1


"Kakak sayang kamu. Selamanya!" seru Evan dan Raffa.


__ADS_2