Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Penawar


__ADS_3

Darel sudah berada di IGD. Ketika tiba di rumah sakit, beberapa perawat langsung berlari dengan membawa brankas menghampiri Arvind yang menggendong Darel.


Arvind, Adelina, ke 12 putranya dan anggota keluarga yang lainnya menunggu dengan perasaan takut.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu ruang IGD dibuka. Arvind, Adelina, ke 12 putranya dan anggota keluarga lainnya langsung mengalihkan perhatiannya kearah pintu itu.


Mereka semua melihat seorang Dokter yang tak lain adalah sahabat dari Arvind yaitu Fayyadh Roberto berjalan menghampiri Arvind dan keluarga.


"Bagaimana Fayyadh?" tanya Arvind dengan mata sembabnya.


Fayyadh menatap satu persatu wajah anggota keluarga Wilson. Setelah itu, Fayyadh kembali menatap wajah Arvind.


Fayyadh ingin menjelaskan tentang kondisi Darel kepada Arvind. Ketika Fayyadh ingin menjelaskannya, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara teriakan dan panggilan dari seseorang.


"Papa!"


Fayyadh melihat keasal suara. Begitu juga dengan Arvind dan anggota keluarga Wilson.


"Kenzo!" seru mereka semua


Kenzo datang bersama kedelapan sahabatnya. Mereka berlari menghampiri Fayyadh dan keluarga Wilson yang berdiri di depan ruang IGD.


"Bagaimana dengan Darel, Pa?" tanya Kenzo langsung.


Mendengar pertanyaan dari Kenzo membuat Arvind dan anggota keluarga Wilson lainnya terkejut. Di dalam hati mereka masing-masing berkata 'Dari mana Kenzo dan yang lainnya tahu jika Darel masuk rumah sakit'


"Kenapa kamu ada disini, sayang?" tanya Fayyadh.


"Jawab pertanyaanku, Papa!" Kenzo berbicara dengan penuh penekanan.


Mendengar perkataan dari putra bungsunya membuat Fayyadh menghela nafas panjangnya.


Fayyadh menatap wajah Arvind, sahabatnya. "Minki, maafkan aku. Aku terpaksa mengatakan hal buruk ini kepadamu." Fayyadh berbicara dengan wajah seriusnya dan juga wajah sedihnya.


Mendengar perkataan dari Fayyadh, seketika membuat Adelina, ke 12 putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya was-was dan ketakutan.


"Katakan Fayyadh," ucap Arvind dengan suara bergetarnya.


Fayyadh menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara pelan-pelan.


"Kondisi Darel memburuk. Racun di dalam tubuh Darel sudah menyerang jantungnya. Kemungkinan besar Darel tidak akan bisa bertahan lama. Jika pun Darel bisa bertahan, itu pun hanya sampai besok."


Deg..


Seperti dihantam palu besar di kepala mereka masing-masing, mereka semua terkejut dan juga syok ketika mendengar penjelasan dari Fayyadh yang mengatakan bahwa Darel hanya bisa bertahan sampai besok.

__ADS_1


Mereka semua menangis tersedu-sedu mendengar kabar mengenai kesayangannya.


Tubu Arvind dan Adelina seketika merosot ke lantai. Hati mereka benar-benar hancur mendengar kabar mengenai putranya bungsunya.


Melihat kedua kakaknya dalam keadaan tak baik, Sandy dan Salma menghampiri keduanya dan memeluknya.


Sedangkan Evita, Daksa, William dan putra-putranya menghampiri 12 keponakan-keponakannya/sepupu-sepupunya dan memberikan ketenangan kepada mereka.


"Papa. Katakan kalau semua itu tidak benar! Sahabat aku baik-baik sajakan, Papa?!" tanya Kenzo yang sudah menangis.


"Paman... Hiks. Itu tidak benarkan? Darel punya banyak waktukan?" tanya Gavin disela isakannya.


Terdengar suara beberapa orang yang berlari menghampiri keluarga Wilson dan yang lainnya.


"Dimana ruangan Bos?!" tanya seorang pemuda.


Arvind dan yang lainnya melihat kearah beberapa orang yang sudah berada di hadapan mereka semua.


"Siapa kalian?" tanya Elvan.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang katakan pada kami dimana ruangan Bos?!"


"Itu disana!" Fayyadh langsung menunjuk kearah ruang IGD.


Kedua pemuda itu langsung berlari menuju ruang IGD. Salah satunya membuka pintu itu secara kasar, lalu kedua berlari masuk ke dalam.


Davian berlari menyusul kedua pemuda itu. Dia benar-benar takut jika kedua pemuda itu akan mencelakai adik bungsunya.


Melihat Davian yang pergi menyusul kedua pemuda itu, Nevan beserta saudara-saudaranya yang lain juga ikut menyusul Davian.


Sementara yang lainnya tetap berad di luar. Mereka menunggu dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Apa kedua pemuda itu tangan kanannya Papa yang sekarang bekerja untuk Darel?" tanya Evita.


Mendengar pertanyaan dari Evita membuat mereka semua menatap wajah Evita.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, Evita?" tanya Sandy.


"Apa kakak tidak dengar jika mereka menyebut kata Bos? Mereka terlihat panik ketika menanyakan ruangan Darel," jawab Evita.


"Jika memang kedua pemuda itu tangan kanannya Papa yang bekerja untuk Darel. Kita selama ini tidak pernah bertemu dengan mereka berdua," sahut William.


"Apa kakak lupa kalau Darel pernah bilang jika Papa memiliki banyak tangan kanan. Dan semuanya punya tugas masing-masing. Dan bisa saja kan, ketiga tangan kanan Darel yang sudah kita kenal kebetulan memang bertugas untuk menjalankan semua perintah dari Darel. Sementara yang lainnya akan muncul jika keadaan mendesak dan terancam."


Mendengar jawaban dan penjelasan dari Evita membuat mereka menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dan mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Evita barusan.

__ADS_1


^^^


Di ruang IGD terlihat dua pemuda sudah berdiri masing-masing di sisi kiri dan kanan brangkar Darel. Dan di tangan keduanya juga sudah memegang satu jarum suntik.


"Aku akan menghubungi Zayan," sahut Kenzi.


Leo menganggukkan kepalanya, lalu matanya menatap wajah pucat Darel.


"Hallo, Zayan. Aku dan Leo sudah berada di ruangan Bos. Kondisi Bos benar-benar buruk."


Leo mendengar suara tendangan dari seberang telepon. Bahkan dia juga mendengar suara keributan.


"Katakan padaku apa yang harus dilakukan dengan dua jarum suntik itu!" bentak Zayan.


"Jika kau tidak memberitahuku dengan benar, maka aku dan kelompokku akan menghabisi semua keluargamu!"


"Baik, aku akan katakan. Tapi jangan bunuh keluargaku."


"Semua keputusan ada di tanganmu!"


"Racun yang disuntikkan ke tubuh korban adalah dua jenis racun yang telah disatukan. Jadi penawarnya juga ada dua. Suntikkan dua penawar itu sekaligus masing-masing di leher kiri dan kanan. Harus bersamaan agar penawar itu bekerja bersama-sama di dalam tubuh korban."


"Brengsek!" umpat Leo ketika mendengar pengakuan dan penjelasan dari si pemilik racun dan juga penawarnya.


"Kenzi, apa kau sudah mendengarnya?" tanya Zayan di seberang telepon.


"Sudah. Aku sudah mendengarnya."


"Baiklah. Beritahu Leo."


"Baiklah."


Setelah selesai berbicara dengan Zayan. Leo langsung mematikan panggilannya.


Zayan menatap wajah Leo. "Penawar ini harus disuntikkan secara bersamaan di leher kiri dan di leher kanan Bos," ucap Kenzi.


Davian dan ke 11 adik-adiknya yang sedari tadi melihat dan mendengar seketika tersenyum.


Awalnya mereka semua khawatir dan takut jika kedua pemuda itu akan mencelakai kesayangannya. Ternyata dugaan mereka salah.


Kedua pemuda itu adalah tangan kanan adik bungsunya yang datang untuk menyelamatkan nyawanya.


"Terima kasih, Tuhan!"


Davian dan ke 11 adik-adiknya berucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan.

__ADS_1


Setelah mengetahui identitas dari kedua pemuda itu. Davian dan ke 11 adik-adiknya memutuskan untuk keluar dari ruangan IGD dan membiarkan kedua pemuda itu melakukan tugasnya.


__ADS_2