
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon sudah berada di rumah sakit. Mereka saat ini bersama dengan keenam kakak-kakaknya Darel yaitu Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa.
Jika Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon duduk di sofa bersama keenam kakak-kakaknya Darel.
Namun beda dengan Gavin. Gavin duduk di samping ranjang Darel dengan tatapan matanya menatap wajah lelap Darel.
Sejak para sahabat-sahabatnya Darel datang mengunjungi Darel, Gavin langsung menghampiri ranjang Darel lalu duduk di kursi di samping ranjang Darel.
"Gue nggak akan biarkan orang itu nyakitin lo, Rel! Gue bakal disini nemanin lo sekali pun ada Dokter atau perawat yang akan memeriksa kondisi lo," batin Gavin.
Melihat sikap, Gavin, melihat keterdiaman Gavin dengan tatapan matanya menatap lekat Darel, melihat Gavin yang sejak kedatangannya langsung duduk di samping ranjang Darel membuat Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa menatap Gavin dengan banyak pertanyaan dan juga mereka mencurigai bahwa ada sesuatu yang dipikirkan oleh Gavin.
Bukan hanya Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa yang menatap Gavin. Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel dan Kenzo juga menatap Gavin. Mereka menatap Gavin dengan penuh penasaran.
"Ada apa dengan lo, Vin?" batin Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon.
Brian berdiri dari duduknya, lalu kakinya melangkah menghampiri Gavin yang saat ini masih terus menatap kearah Darel yang terlelap.
Puk..
Brian menepuk pelan bahu Gavin sehingga membuat Gavin terkejut.
Gavin melihat sekilas kearah Brian. Setelah itu, Gavin kembali menatap kearah Darel.
"Ada apa, hum?" tanya Brian dengan tatapan matanya menatap Gavin lalu beralih menatap kearah Darel.
Gavin tidak langsung menjawab pertanyaan dari Brian. Tatapan matanya masih fokus menatap wajah Darel.
"Sikap kamu aneh sejak kita meninggalkan Cafe. Sebenarnya ada apa?" ucap dan tanya Brian, namun tatapan matanya menatap wajah Darel.
Sementara Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon hanya melihat sembari mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Brian dan Gavin.
Tidak mendapatkan jawaban dari Gavin sehingga membuat Brian mengalihkan pandangannya menatap kearah Gavin. Dan dapat dirinya lihat bahwa Gavin juga menatap dirinya.
"Ada apa?" tanya Brian lagi.
Ketika Gavin hendak menjawab pertanyaan dari Brian, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang rawat Darel dibuka dari luar.
Cklek..
Mendengar suara pintu dibuka membuat semua penghuni di dalam termasuk Brian dan Gavin melihat kearah pintu. Mereka semua melihat dua orang perawat yang berbeda jenis kelamin melangkah masuk. Kedua perawat tersebut menggunakan masker.
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon.
"Kenapa ya?" tanya Daffa kepada dua perawat itu.
"Kami ingin memeriksa pasien," jawab perawat laki-laki.
"Tapi adik kami sedang tidur," ucap Vano.
"Itu tidak masalah, Tuan! Kami hanya mengecek kondisi pasien saja tanpa mengganggu tidurnya," jawab perawat perempuan.
__ADS_1
"Jadi kami semua harus keluar?" tanya Evan.
"Jika tuan-tuan tidak keberatan," jawab perawat laki-laki itu.
"Pemeriksaan ini tidak akan memakan waktu lama. Hanya sepuluh menit saja," ucap perawat perempuan.
"Ach, baiklah!" seru Daffa dan adik-adiknya bersamaan.
Setelah mengatakan itu, Daffa dan adik-adiknya pun melangkah menuju pintu untuk keluar dan diikuti oleh sahabat-sahabat Darel.
Namun tidak dengan Gavin. Gavin tetap masih di posisinya, duduk di kursi di samping ranjang Darel.
Tatapan mata Gavin menatap curiga kearah dua perawat itu. Dia berpikir bahwa kedua perawat itu adalah suruhan dari laki-laki yang dia lihat di Cafe beberapa jam yang lalu.
"Vin!" panggil Razig saat melihat Gavin yang tidak beranjak dari duduknya.
Semuanya sahabatnya melihat kearah Gavin. Mereka kembali dibuat bingung akan sikap Gavin hari ini.
"Maaf, Tuan! Bisa keluar sebentar?" ucap dan tanya perawat laki-laki itu lembut.
"Kenapa memangnya kalau saya masih disini? Saya tidak akan menggangu kalian ketika memeriksa sahabat saya," ucap Gavin dengan menatap dingin kedua perawat itu.
Mendengar ucapan dari Gavin membuat kedua perawat itu saling memberikan tatapan. Setelah itu, kedua perawat itu kembali menatap Gavin.
"Tapi maaf, Tuan! Jika tuan tetap disini itu akan membuat konsentrasi kami terganggu. Bagaimana pun kami harus hati-hati ketika memeriksa pasien," ucap perawat perempuan.
"Kalian tidak perlu melihatku. Kalian fokus saja pada pasien kalian, mudahkan?" ucap dan tanya Gavin dengan tatapan dinginnya.
"Tuan, kamu mohon jangan halangi tugas kami!"
"Siapa yang menghalangi tugas kalian? Apa kalian tidak lihat bahwa aku sejak tadi duduk disini. Aku tidak beranjak sama sekali," sahut Gavin. "Aku bahkan menyuruh kalian fokus dengan pasien kalian," ucap Gavin lagi.
Brian kembali menghampiri Gavin. Tujuannya adalah untuk membawa Gavin keluar bersama dengan dirinya dan yang lainnya.
"Vin, ayo!"
"Nggak! Aku akan tetap disini. Aku tidak akan meninggalkan Darel dengan kedua perawat itu," elak Gavin dengan tatapan matanya menatap kedua perawat tersebut.
"Vin, mereka hanya....." perkataan Kenzo terpotong karena Gavin langsung bersuara.
"Sekali tidak tetap tidak. Aku akan tetap disini." Gavin menjawab dengan penuh penekanan.
Gavin menatap kearah Kenzo lalu berkata, "Nzo! Bukankah yang menangani Darel adalah Papa kamu? Sekarang kamu hubungi Papa kamu dan suruh dia kesini."
"Tapi Papaku hari ini tidak masuk, Vin! Dia masuk nanti pukul 8 malam."
"Kalau begitu, tanyakan sama Papa kamu tentang dua perawat ini. Yang aku dengar kemarin ketika Darel sadar bahwa Papa kamu mengatakan akan ada satu perawat perempuan yang akan datang memeriksa kondisi Darel. Dan yang aku ingat dari ucapan Papa kamu bahwa perawat perempuannya itu adalah asistennya."
Deg..
Mendengar ucapan dari Gavin tentang perawat yang akan memeriksa Darel membuat Kenzo seketika terkejut. Begitu juga dengan Daffa dan adik-adiknya serta sahabat-sahabatnya. Bahkan mereka sempat mengingat kembali tentang pembicaraan keluarga Wilson dengan Dokter Fayyadh Roberto ketika Darel sadar. Sedangkan Kenzo mengingat ketika Ayahnya menyebut nama asistennya ketika sedang bekerja di rumah sakit.
__ADS_1
Sementara kedua perawat tersebut sudah ketakutan saat ini ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Gavin. Keduanya saling memberikan tatapan masing-masing.
Namun keduanya berusaha bersikap tenang agar tidak ketahuan oleh orang-orang yang ada di hadapannya, terutama orang yang sejak tadi memperhatikannya.
Gavin kembali menatap kearah kedua perawat itu. Tatapan matanya kali ini sangat tajam. Begitu juga dengan Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon. Mereka menatap curiga kedua perawat itu.
Gavin berdiri dari duduknya dengan menatap tajam kedua perawat tersebut. "Buka masker kalian!" bentak Gavin seketika.
Mendapatkan bentakan dari laki-laki di hadapannya membuat kedua perawat itu berusaha bersikap tenang, walau nyatanya saat ini tubuhnya bergetar.
"Maaf, Tuan! Kami tidak bisa melepaskan masker kami," jawab perawat perempuan.
"Kami tidak ingin membuat pasien kami makin bertambah sakitnya jika kami melepaskan masker kami," ucap perawat laki-laki itu.
"Kami disini tidak ada yang memakai masker. Bahkan Dokter yang menangani pasien tidak keberatan dengan hal tersebut," ucap Gavin.
Gavin menatap makin tajam kearah kedua perawat tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya. Tatapan mereka tak kalah tajamnya dengan Gavin setelah melihat kedua perawat itu tidak mau melepaskan maskernya.
"Kalian lepas sendiri atau aku yang melepaskannya." kini Vano yang bersuara.
Vano sejak tadi hanya diam. Begitu juga dengan saudara-saudaranya. Begitu juga dengan Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Razig, Zelig, Charlie dan Devon.
Kedua perawat itu masih tetap di posisinya. Keduanya sama sekali tidak menuruti apa yang diminta oleh Gavin dan Vano.
Melihat keterdiaman dan ketidakpatuhan dari kedua perawat itu membuat Gavin menggeram marah.
Seketika Gavin berjalan menghampiri kedua perawat tersebut dengan wajah marah dan diikuti oleh Vano.
Sreeekkk..
Setelah berdiri di hadapan kedua perawat itu, Gavin langsung melepaskan masker kedua perawat itu dengan sangat kasar sehingga memperlihatkan wajah keduanya.
Vano menatap tanda pengenal kedua perawat itu yang tergantung di leher masing-masing.
"Morris, Widiya!" Vano berucap sembari menyebutkan nama kedua perawat itu.
Kenzo melangkahkan kakinya menghampiri Vano dan Gavin. Setelah berada di samping Vano. Kenzo melihat kearah nama perawat perempuan itu.
Detik kemudian..
"Siapa kalian?! Kenapa kalian menyamar jadi perawat?!" bentak Kenzo.
Kedua perawat itu tidak menjawab pertanyaan dari Kenzo, namun tatapan matanya menatap Kenzo.
"Dan lo!" Kenzo menatap kearah perawat perempuan. "Nama lo berbeda dengan nama asisten Papa gue. Papa gue adalah seorang Dokter. Dia yang menangani sahabat gue!" bentak Kenzo.
Semuanya menatap tajam kearah dua perawat tersebut. Mereka benar-benar marah saat ini dikarenakan mereka telah berbohong dengan menyamar sebagai perawat, terutama Daffa dan adik-adiknya.
"Berapa kalian dibayar oleh laki-laki itu?" tanya Gavin tiba-tiba.
Deg..
__ADS_1