
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di ruang makan, kecuali Darel.
"Aku akan ke kamar Darel!" seru Daffa.
Daffa berdiri dari duduknya dan langsung melangkah menuju kamar adik bungsunya.
"Daffa usahakan bujuk adikmu untuk ikut sarapan. Semalam adikmu tidak ikut makan malam!" seru Arvind.
"Baik, Papa."
Arvind menghela nafas kasarnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi putra bungsunya. Beberapa hari ini putra bungsunya itu susah sekali disuruh makan. Jika makan pun selalu sedikit dan tersisa.
"Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisi Darel," ucap Arvind dengan suara lirihnya.
Mendengar ucapan dan lirihan dari Arvind membuat William, Sandy dan Evita selaku adik-adiknya menatap iba. Mereka sedih, hati mereka sakit jika melihat kakak yang begitu mereka sayangi dan hormati terlihat begitu ketakutan akan kondisi putra bungsunya.
Bukan hanya Arvind saja yang merasakan ketakutan. Adelina, Salma, Daksa dan para anak-anaknya juga merasakan ketakutan yang sama. Mereka semua tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kesayangannya itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Disisi lain aku bersedia menukar perusahaanku dengan penawar itu. Tapi disisi lain aku tidak mau membuat Darel kecewa dan marah padaku. Kalian tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Darel dan juga wataknya Darel. Jika dia bilang 'tidak' hasilnya tetap 'tidak'. Jika dia bilang 'iya' maka hasilnya juga 'iya'."
"Bagaimana dengan anak buah kakak? Apa sudah dapat kabar?" tanya Sandy.
"Belum. Sampai detik ini belum ada hasil apapun dari mereka," jawab Arvind.
"Lalu bagaimana dengan Papa?" tanya Naufal.
"Sama seperti Pamanmu. Anak buah Papa juga belum mengetahui identitas asli dari pemilik dua perusahaan itu. Kabar terakhir yang Papa dapatkan adalah bahwa orang yang mengaku sebagai pemilik perusahaan STATE GRID dan perusahaan SINOPEC GRUP sebenarnya berstatus sebagai tangan kanan. Sementara si pemilik aslinya bermain di belakang."
Deg!
Arvind dan yang lainnya terkejut mendengar perkataan dari Daksa. Mereka semua tidak menyangka jika orang-orang itu sangat licik.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Papa?" tanya Vano.
Ketika mereka tengah membahas kondisi Darel dan juga membahas cara mendapatkan penawar itu. Seketika mereka semua terkejut mendengar teriakan dari kamar Darel.
"Papa, Mama!" teriak Daffa.
Mereka yang mendengar teriakan dari Daffa langsung berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamar Darel yang ada di lantai dua.
^^^
"Tidak, Rel! Bangun sayang. Buka matamu... Hiks," ucap Daffa terisak sambil tangannya menepuk pelan pipi Darel.
"Darel, kakak mohon. Bangunlah," mohon Daffa.
Daffa memeluk erat tubuh adiknya yang terasa dingin. "Darel... Hiks," isak Daffa.
Brak!
Pintu kamar Darel dibuka paksa oleh Nevan. Setelah itu, semuanya pun masuk ke dalam kamar Darel denganĀ wajah penuh ketakutan.
"Daffa," panggil Arvind
__ADS_1
"Oh, Tuhan! Darel!" teriak mereka semua.
Mereka semua berhamburan mendekati Daffa yang sedang memeluk tubuh Darel.
"Daffa," panggil Arvind sambil menepuk bahu putra ketujuhnya itu.
"Darel... Hiks," isak Daffa.
Arvind mengambil alih tubuh putra bungsunya dari pelukan Daffa. Sementara Adelina berusaha menenangkan putranya itu.
"Darel sayang, bangun sayang. Ini Papa, Nak!"
Arvind sudah menangis melihat kondisi putranya. Wajahnya yang sudah pucat, tubuhnya yang sudah terasa dingin.
"Kak Arvind. Lebih baik kita bawa Darel ke rumah sakit sekarang. Lihatlah wajah Darel sudah pucat seperti mayat," ucap Sandy yang menatap khawatir keponakannya.
Arvind langsung menggendong tubuh putra bungsunya. Dan segera membawanya ke rumah sakit.
Awalnya Davian yang akan menggendong adik bungsunya, namun Arvind menolaknya.
***
Di Kampus Kenzo dan sahabat-sahabat yang lainnya sedang berada di kelas. Hari ini jadwal mereka masuk sekitar pukul 8 pagi, karena Dosen yang mengajar di kelasnya ada kesibukan lain dari pukul 11 siang. Kesibukan itu selama 4 hari.
Kenzo saat ini tengah melamun. Pikiran saat ini tertuju kepada Darel. Entah kenapa sedari tadi dia memikirkan Darel.
Gavin yang menyadari Kenzo yang melamun langsung mengalihkan perhatiannya kearah Kenzo.
Seketika Kenzo tersadar dari lamunannya dan langsung menatap wajah Gavin.
"Ada apa? Sedari tadi kamu diam dan melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Gavin.
Mendengar pertanyaan dari Gavin. Lucas, Juan, Razig, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon melihat kearah Kenzo.
"Aku mikirin Darel. Perasaanku mengatakan bahwa Darel sedang tak baik-baik saja saat ini," sahut Kenzo.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, Zo?" tanya Rzaig.
"Aku juga nggak tahu. Tapi saat ini hati dan pikiran aku benar-benar tak nyaman. Sedari tadi aku mikirin Darel," jawab Kenzo.
"Ya, sudah! Aku akan menghubungi Darel," ucap Gavin.
Gavin yang kebetulan memegang ponsel langsung mencari nama Darel.
Setelah menemukan nama Darel. Gavin pun meredial nomor tersebut.
"Hallo."
Seketika Gavin terkejut ketika mendengar suara perempuan yang menjawab panggilannya. Gavin meyakini jika yang menjawab panggilan darinya itu bukan ibunya Darel atau pun Bibinya.
"Ini siapa ya? Kenapa ponselnya Darel ada pada anda?"
"Ach, maafkan saya tuan Gavin. Saya ini pelayan disini. Saya kebetulan ada di kamarnya tuan muda Darel. Tuan muda Darel lagi tidak ada."
__ADS_1
"Memangnya Darel kemana Bi?"
"Begini tuan Gavin. Tuan muda Darel dilarikan ke rumah sakit oleh anggota keluarganya beberapa menit yang lalu."
Deg!
Bambam seketika berdiri dari duduknya ketika pelayan tersebut mengatakan bahwa Darel dilarikan ke rumah sakit.
Melihat Gavin yang tiba-tiba berdiri membuat Kenzo, Lucas, Juan, Razig, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon ikutan berdiri. Mereka dapat melihat wajah tegang Gavin.
"Apa yang terjadi Bibi? Kenapa dengan Darel?"
"Bibi juga tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Bibi sempat dengar kalau detak jantung dan denyut nadi tuan muda Darel sudah tidak ada. Semua anggota keluarga panik dan menangis. Mereka langsung membawa tuan muda Darel ke rumah sakit."
"Tidak, Darel!"
Seketika air mata Gavin jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar penjelasan dari pelayan di rumah Darel.
Kenzo, Lucas, Juan, Razig, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon melihat Gavin yang tiba-tiba menangis seketika ketakutan. Terutama Kenzo.
"Vin, ada apa? Katakan padaku kenapa dengan Darel?"
"Baiklah, Bi! Terima kasih informasinya."
Setelah itu. Gavin langsung mematikan panggilannya.
"Vin, jawab!"
Setelah itu, Gavin menatap wajah Lucas, Juan, Razig, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon. Setelah itu, Bambam menatap wajah Kenzo.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Darel dilarikan ke rumah sakit beberapa menit yang lalu. Pelayan yang ada di rumah Darel mengatakan bahwa detak jantung dan denyut nadi Darel tidak ada."
Seketika air mata Kenzo jatuh membasahi wajahnya. Perasaannya benar tentang Darel yang tidak baik-baik saja.
"Rel... Hiks," isak Kenzo.
"Vin... Gue... Hiks."
Puk!
Gavin menepuk pelan bahu Kenzo. Dia mengerti ketakutan Kenzo. Apa yang dirasakan KenO, itu juga yang dirasakan olehnya.
"Kita doakan yang terbaik untuk Darel. Darel itu pemuda yang kuat. Darel tidak akan menyerah hanya karena obat sialan itu," ucap Gavin yang berusaha menenangkan Kenzo, walau dirinya sendiri juga sangat ketakutan.
"Darel pasti kuat. Dia pasti bisa melewati semuanya," ucap Lucas.
"Hm." Juan, Razig, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon bergumam sembari mengangguk.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Masalah izin, aku akan langsung hubungi Papa!" seru Samuel.
Setelah mengatakan itu, Kenzo, Gavin, Lucas, Juan, Razig, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon pun pergi meninggalkan kelas. Mereka pun bergegas untuk ke rumah sakit.
Di dalam perjalanan Samuel menghubungi ayahnya dan meminta izin untuk tidak mengikuti kelas sampai jam pulang. Samuel juga menceritakan kondisi Darel kepada ayahnya.
__ADS_1