
Di sekolah terlihat murid-murid berlalu lalang. Ada yang menuju kelas dan ada juga yang menuju kantin.
Mindy bersama empat temannya saat ini berada di kantin. Mereka tengah menikmati sarapan paginya sebelum jam pelajaran dimulai.
"Lo tampak bahagia hari ini, Mindy!" tanya Lila.
Mendengar ucapan dari Lila membuat ketiga teman Mindy yang lain melihat kearah Mindy. Dan benar saja, Mindy saat ini tampak bahagia hari ini. Terlihat dari bibirnya yang tersenyum.
"Ada apa, sih?" tanya Nina.
"Kasih tahu dong. Jangan main rahasia gini sama kita," ucap Desy.
"Jangan buat kita penasaran," ucap Rina.
Mindy seketika menatap wajah keempat temannya sembari tersenyum. Dapat Mindy lihat bahwa keempat temannya itu benar-benar penasaran akan dirinya.
"Apa kalian yakin ingin tahu kenapa aku bahagia sekarang ini?" tanya Mindy.
Lila, Nina, Desy dan Rina langsung menganggukkan kepalanya antusias. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang membuat Mindy tampak bahagia hari ini.
"Baiklah. Aku akan kasih tahu kalian. Aku hari ini bahagia karena....."
"Mindy!"
Tiba-tiba seorang murid perempuan datang memanggil Mindy sehingga membuat Mindy tidak jadi untuk mengatakan kenapa dia bahagia hari ini dengan keempat temannya. Murid perempuan itu tak lain teman sekelasnya Mindy dan keempat temannya.
"Iya."
"Kamu dipanggil sama kepala sekolah di ruangannya."
"Kenapa ya?" tanya Mindy bingung.
"Aku tidak tahu. Kepala sekolah memintaku untuk mencari kamu lalu menyuruh kamu untuk datang menemuinya di ruangannya."
"Baiklah."
Setelah itu, Mindy berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan kantin untuk menuju ruang kepala sekolah. Dan diikuti oleh keempat temannya di belakang.
***
Bugh...
Duagh..
__ADS_1
Bruukk..
"Aakkhhh!" teriak Rolland akibat mendapatkan pukulan dan tendangan dari Davian. Tubuhnya tersungkur di lantai.
Davian bersama kelima adiknya yang Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga di Markas Black Shark.
"Laki-laki bajingan! Lo udah buat adek gue celaka dan koma beberapa hari di rumah sakit. Dan sekarang lo ingin membunuh karena ingin membalas dendam atas kematian semua anggota keluarga Rocio!" bentak Nevan.
"Seharusnya lo mikir. Kita semua tidak akan melakukan itu terhadap keluarga Rocio jika keluarga Rocio tida terlebih dahulu mengusik kami!" bentak Ghali.
"Sejak awal mereka telah mengincar kekayaan keluarga Wilson. Mereka melakukan dengan segala cara dan dari segala arah, salah satunya adalah mendekatkan putrinya/keponakannya yaitu Paula Rocio untuk mendapatkan hati kakakku, Ghali Wilson! Jika wanita murahan itu berhasil mendapatkan hati kakakku dan berhasil menaklukkan kakakku, maka dengan begitu wanita itu akan dengan mudah menjalankan rencananya!" bentak Elvan.
"Dasar menjijikan!" bentak Andre.
"Sudah untung hanya keluar Rocio saja yang kami kirim ke neraka. Kami tidak mengusik bahkan tidak menyentuh keluarga Ramendra yang tak lain adalah keluarga besar ibu dari wanita murahan itu sekaligus keluarga besarmu juga!" bentak Arga.
Bugh..
Davian kembali memberikan pukulan terhadap Rolland sehingga membuat Rolland kembali memuntahkan darah.
"Aku sudah menyelidiki latar belakang, identitas dan pekerjaan dari semua anggota keluarga Ramendra. Bahkan dari semua anggota keluarga Ramendra, ada beberapa yang hanya sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar di kota ini. Bagaimana nasib mereka jika aku melakukan sesuatu terhadap mereka!" ucap sekaligus pertanyaan dari Davian dengan nada tinggi.
Deg..
Rolland terkejut ketika mendengar ucapan dari putra sulung Arvind Wilson. Di dalam hatinya, dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keluarga Ramendra. Satu anggota keluarganya telah pergi untuk selamanya. Orang itu adalah Bibinya yang tak lain ibu dari Paula Rocio, sepupunya.
Ketika Ghali hendak memberikan tendangan kepada Rolland, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara adik bungsunya.
"Kakak, cukup!"
Detik itu juga Ghali melangkah mundur dan berdiri sejajar dengan saudara-saudaranya.
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga bersamaan melihat kearah Darel yang berjalan menghampirinya bersama dengan semua sahabat-sahabatnya.
Yah! Darel memutuskan untuk pergi mengunjungi Marka Black Shark untuk melihat sepupu dari Paula Rocio sekaligus orang yang sudah membuat dirinya celaka. Setelah dari sana, Darel akan ke rumah Andrean untuk membahas masalah Alisha.
Sementara untuk semua sahabat-sahabatnya langsung meminta ikut dengannya ke Markas Black Shark dan ke rumah Andrean. Alasannya adalah mereka ingin membantu Darel. Mereka tidak ingin Darel bekerja sendirian.
"Darel!" Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga memanggil adik bungsunya bersamaan.
Kini Darel telah berdiri bersama dengan kakak-kakaknya. Sementara sahabat-sahabatnya berdiri bersama tangan kanannya. Mereka semua menatap kearah Rolland Ramendra.
"Kita bertemu kembali. Ini adalah pertemuan kedua kita," ucap Darel dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan ucapan dari Darel membuat Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga langsung melihat kearah Darel. Mereka penasaran akan ucapan adiknya itu. Begitu juga dengan semua sahabat-sahabatnya dan ketiga tangan kanannya yaitu Arzan dan Zayan.
"Aku tidak menyangka jika kau berniat ingin membunuhku lagi? Apa kecelakaan itu belum puas sehingga kau melakukannya lagi?"
Deg..
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga terkejut ketika mendengar ucapan Darel. Dan akhirnya mereka paham dan mengetahui satu hal. Kecelakaan yang menimpa Darel beberapa hari yang lalu adalah Rolland Ramendra.
Sementara Rolland hanya diam ketika mendengar ucapan pemuda yang beberapa hari yang lalu dia celakai.
"Kenapa? Apa alasan kamu melakukan hal itu? Apa ini permintaan dari sepupu kamu yang bernama Paula itu?" tanya Darel.
"Kau tahu tidak kenapa aku sudah bisa pulang ke rumah, padahal kesembuhanku belum seratus persen?"
Darel bertanya sembari tatapan matanya menatap lekat tepat di manik hitam Rolland. Dari tatapan mata Rolland terlihat bahwa dia terpaksa melakukan hal itu padanya.
"Aku yang meminta pulang karena untuk menghindari pertumpahan darah. Aku tidak ingin apa yang menimpa keluarga Rocio terjadi juga dengan keluarga Ramendra."
"Jika aku masih di rumah sakit lalu kau berhasil dengan rencanamu, maka keluargaku akan menuntut balas padamu. Bahkan akan berimbas terhadap keluarga Ramendra. Sementara hanya keluarga itu yang tersisa. Mereka adalah keluargamu. Aku tidak ingin mereka bernasib seperti keluarga Rocio."
Deg..
Rolland seketika terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel.
"Ada dua pilihan untukmu. Berhenti atau maju."
"Jika kau memilih berhenti, maka kau harus merubah pola hidupmu. Jadilah orang baik. Setidaknya, pikirkan keluargamu terutama kedua orang tuamu, satu kakak laki-lakimu, satu kakak perempuan dan satu adik perempuanmu. Aku sudah mengetahui tentang mereka. Dan aku juga tahu bagaimana hubunganmu dengan mereka. Ibumu adalah kakak perempuan dari Paula Rocio."
Darel masih menatap wajah Rolland sembari terus berbicara. Dia berharap jika Rolland akan sadar akan kesalahannya dan berujung berhenti melakukan kejahatan.
"Bagaimana hubunganku dengan kedua orang tuaku dan kakak-kakakku, begitu juga hubunganmu dengan kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu. Aku mendapatkan informasi dari salah satu orang-orangku mengenai ibumu. Apa kau ingin tahu?"
"A-apa?" akhirnya Rolland pun berbicara dengan menatap wajah Darel.
Darel seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Rolland.
"Ibumu sudah tahu apa yang dilakukan oleh adiknya beserta keluarga Rocio. Dia begitu marah atas apa yang dilakukan oleh adiknya bersama keluarga suaminya. Bahkan ibumu pernah menegur dan memberikan nasehat, namun adiknya itu tidak mau mendengarkan nasehatnya. Sejak itulah, ibumu memutuskan untuk tidak mau peduli dan tidak mau tahu apa yang dilakukan oleh adiknya itu termasuk keluarga Rocio. Terbukti, ketika mendengar kabar tewasnya semua anggota keluarga Rocio termasuk adiknya, ibumu sama sekali tidak menangis dan tidak berduka. Yang dia pikirkan saat itu adalah keluarganya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu tersebut keluarganya hanya karena kesalahan salah satu anggota keluarganya."
Deg..
Rolland benar-benar terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel yang mengatakan tentang hubungan ibunya dan bibinya. Dan dia juga tak menyangka jika ibunya telah mengetahui niat jahat bibinya dan keluarga Rocio.
"Semua keputusan ada ditanganmu. Berhentilah sebelum terlambat. Pikirkan keluargamu, terutama ibumu. Jangan buat ibumu menangis ketika mendengar terjadi sesuatu padamu. Ibumu begitu menyayangimu. Begitu dengan ayahmu kedua kakakmu dan adik perempuanmu."
__ADS_1
"Aku beri waktu satu Minggu untuk kau berpikir. Jika kau benar-benar ingin berhenti dan ingin pulang ke rumah bertemu dengan keluargamu, hari itu juga kau bebas."
Setelah mengatakan itu, Darel pergi meninggalkan ruang penyiksaan, diikuti oleh keenam kakak-kakaknya dan semua sahabat-sahabatnya.