Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kabar Bahagia Dari Kenzo


__ADS_3

Keesokkan paginya semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan lengkap dengan Darel.


Baik Darel maupun anggota keluarga lainnya, mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan.


DRTT!


DRTT!


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang menandakan panggilan masuk.


"Itu ponselnya siapa yang bunyi?" tanya Daksa.


"Ponselku Paman Daksa," jawab Darel.


Darel langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya berada di tangannya, Darel melihat nama 'Kenzo' di layar ponselnya itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Darel pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Zo."


"Hallo, Rel. Apa aku mengganggumu?"


Darel mentautkan keningnya ketika mendengar pertanyaan dari Kenzo. Biasanya setiap kali Kenzo menghubunginya. Kenzo selalu membuatnya kesal. Tapi hari ini sedikit berbeda. Apalagi ketika mendengar nada bicaranya.


Sementara anggota keluarganya terus mendengar pembicaraannya dengan Kenzo di telepon dan melihat wajahnya yang terlihat khawatir


"Kenapa Zo? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa ada masalah?"


"Aku baik-baik saja, Rel! Tidak ada masalah apapun."


"Kamu yakin? Kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu kan dari aku?"


"Percayalah! Aku baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun. Aku ingin..."


"Aku ingin apa Kenzo? Jangan buat aku penasaran."


"Baiklah, maafkan aku. Aku ada kabar baik untukmu, Rel!"


"Kabar baik? Kabar baik apa Kenzo?"


Darel terlihat penasaran kabar yang akan disampaikan oleh Kenzo padanya. Terlihat jelas dari wajahnya.


"Ini... Ini tentang kelima sahabat kita."


"Maksud kamu kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel?"


"Iya, Rel."


"Kenapa mereka? Katakan padaku Zo."


Darel menangis ketika menanyakan tentang kelima sahabatnya itu. Air matanya jatuh begitu deras membasahi wajah tampannya.


"Sayang," ucap Adelina ketika melihat putra bungsunya tiba-tiba menangis.


Evan dan Raffa yang duduk di sampingnya langsung mengusap-ngusap punggung dan bahunya.


"Mereka telah sadar dari koma nya, Rel!"


TES!


Air mata Darek makin deras mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar penuturan dari Kenzo.


"Apa ini benar? Kau lagi tidak bercanda kan Kenzo? Atau kau hanya sekedar menjahiliku sajakan?"


"Tidak Rel. Aku serius. Kelima sahabat kita telah sadar dari koma. Kondisi mereka saat dalam masa pemulihan."


"Hiks... Hiks..."


Darel menangis terisak ketika mendengar kabar bahagia mengenai kelima sahabatnya itu.


"Kau tahu dari mana?"


"Aku diberitahu oleh Papa. Papa tahu dari Papanya kak Damian yang masih di Amerika."


"Bagaimana yang lainnya. Terus Gavin?"


"Gavin pasti sudah tahu dari Papanya. Kamu kan tahu sendiri bahwa para ayah-ayah kita saling berkomunikasi."


Mendengar ucapan dari Kenzo. Darel langsung menatap wajah ayahnya. Darel menatap ayahnya itu penuh selidik.


Arvind yang ditatap intens oleh putra bungsunya seketika menelan ludahnya kasar. Dirinya tahu maksud dari tatapan mata putra bungsunya itu.


"Mampus kau Arvind. Terimalah amukan dari putra bungsumu itu," batin Arvind.


Sementara anggota keluarga tersenyum geli ketika melihat wajah Arvind ketika sedang ditatap oleh Darel.


Sandy yang kebetulan duduk di samping kakaknya itu pun membisikkan sesuatu di telinganya sehingga membuat Arvind makin frustrasi.


"Siap-siap mendapatkan amukan dari putra bungsumu, kak." Sandy tersenyum jahil menatap wajah kakaknya itu.


"Baiklah, Kenzo. Terima kasih informasinya."

__ADS_1


"Sama-sama Rel. Oh iya! Apa kau kuliah hari ini?"


"Eemm. Seperti tidak. Izinkan aku ya."


"Baiklah."


"Oh iya, Kenzo."


" Iya, Rel. Ada apa?"


"Nanti pulang dari kampus. Main ke rumahku ya."


"Siap."


"Terima kasih."


"Sama-sama. Ya, sudah! Aku tutup teleponnya."


TUTT!


TUTT!


Setelah berbicara dengan Kenzo. Darel pun memasukkan kembali ponselnya di dalam saku celananya.


Darel kembali menatap wajah ayahnya. Dan kali ini tatapannya itu menandakan sebuah pengharapan.


"Papa tega padaku."


Setelah itu, Darel pergi meninggalkan meja makan menuju ruang tengah.


Melihat kepergian Darel dengan wajah yang super super kesal membuat mereka bingung dan juga khawatir.


"Sayang, tugas kamu tuh! Kan kamu yang punya ide gila itu," ucap Adelina pada suaminya.


"Iya, iya! Aku mengerti." Arvind menjawab perkataan Adelina istrinya.


"Bersiap-siaplah kak Arvind," ejek Sandy sembari terkekeh melihat wajah frustasi kakaknya.


"Diamlah kau Sandy," kesal Arvind yang sedari tadi dijahili oleh adiknya itu.


"Hahahahaha." tawa Sandy pun pecah.


Sementara yang lainnya menatap heran Sandy, Arvind dan Adelina. Mereka tidak tahu apa yang tengah mereka bahas. Ditambah lagi Darel yang tiba-tiba kesal terhadap ayahnya.


"Ma! Ada apa sih?" tanya Raffa.


"Terus kenapa tadi Darel sepet banget wajahnya ketika melihat Papa? Apalagi kata-katanya itu tadi," ucap dan tanya Axel.


"Nanti kalian juga bakal tahu," jawab Adelina tersenyum.


^^^


Arvind dan anggota keluarga lainnya sudah berada di ruang tengah. Baik Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya melihat Darel yang masih kesal terhadap ayahnya. Terlihat dari wajahnya yang tak mengenakkan.


Arvind duduk di samping putra bungsunya. Tangannya terangkat untuk mengusap lembut kepala belakangnya.


"Sayang," panggil Arvind.


Darel yang mendengar ayahnya memanggilnya hanya diam saja. Tidak ada niatan dirinya untuk menjawab panggilan dari ayahnya itu.


"Ayolah, sayang." Arvind berusaha membujuk putra bungsunya dengan tangannya yang masih bermain-main di kepala belakangnya.


Darel mengalihkan perhatiannya dari ponselnya dan melihat ke arah ayahnya.


"Kenapa Papa bohongin aku lagi?" tanya Darel memanyunkan bibirnya.


"Bohong? Maksudnya?" Arvind pura-pura tidak mengerti pertanyaan dari putra bungsunya.


"Papa jangan seperti kura-kura dalam perahu. Papa pasti sudah tahu mengenai kelima sahabatku di Amerika!"


Mendengar perkataan dari putra bungsunya, Arvind hanya memperlihatkan wajah polosnya kepada putranya.


"Oh, kelima sahabatnya kamu itu. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa mereka sudah sadar dari komanya, hum?"


"Papaaa." Darel menggeram kesal mendengar perkataan ayahnya.


"Hahahahaha."


Arvind tertawa kencang ketika mendengar geraman putranya. Ditambah lagi wajah super kesal putranya itu.


"Baiklah... Baiklah! Maafkan Papa. Papa mendapatkan kabar dari ayahnya Brian. Katanya Brian dan yang lainnya sudah sadar dari koma. Dan kondisi mereka semua jauh menunjukkan perubahan. Sekarang mereka tinggal dalam proses pemulihan."


Mendengar cerita dari ayahnya, seketika air mata Darel jatuh membasahi wajahnya. Darel menangis karena bahagia. Dirinya bahagia kelima sahabatnya mau berjuang untuk bertahan.


GREP!


Arvind menarik tubuh putranya dan membawanya ke dalam pelukannya. Dirinya paling lemah jika sudah melihat putranya menangis.


"Kenapa Papa nggak langsung mengatakannya padaku? Kenapa aku harus tahu dari Kenzo?"


"Papa sengaja tidak memberitahumu karena Papa ingin memberikanmu kejutan. Bahkan Papa sudah meminta kepada ayahnya Brian untuk mengambil video kelima sahabat kamu itu. Dan dari video itulah akan Papa perlihatkan pada kamu."

__ADS_1


Arvind menjelaskan alasan dirinya tidak langsung memberitahu putra bungsunya mengenai kelima sahabat putra bungsunya itu yang telah sadar dari koma.


"Disini bukan Papa saja yang merahasiakan hal ini. Ayahnya Kenzo dan ayahnya Gavin juga ikut dalam merahasiakan hal ini dari kamu. Mungkin Kenzo sangking senangnya mendengar kabar sahabat kalian sudah sadar dari koma. Dan pada akhirnya sahabat kamu yang sitiang listrik itu membeberkannya kekamu."


"Dan kemungkinan juga saat ini pasti sahabat kamu sitiang listrik itu sedang merutuki kebodohannya karena sudah membeberkan rahasia ini padamu."


Darel seketika tersenyum lepas kala mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya. Apalagi ayahnya yang menyebut nama julukan dari sahabatnya itu.


Arvind, Adelina, para kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya ikut tersenyum ketika melihat senyuman lepas Darel. Hati mereka menghangat ketika melihat senyuman Darel.


"Bagaimana? Masih marah sama Papa, hum?" tanya Arvind sembari mengecup pucuk kepala putranya sayang.


"Masih. Aku masih marah sama Papa," sahut Darel.


"Terus apa yang harus Papa lakukan biar putra tampan Papa ini mau memaafkan Papa?"


Darel langsung melepaskan pelukan ayahnya, lalu menatap wajah tampan ayahnya.


"Papa harus mengabulkan dua permintaanku."


"Apa? Katakan pada Papa."


"Papa yakin?"


"1000 kali yakin. Sekarang katakan!"


"Aku mau beli motor sport baru. Kemarin saat pulang kuliah bareng Kenzo dan Gavin. Kita singgah dulu ke dealer. Di sana ada motor sport keluaran terbaru. Aku bahkan sudah bayar dp nya agar motor itu tidak dijualĀ  kepada orang lain."


"Yak, Rel! Kamu berani bayar dp untuk motor itu. Kalau orang itu nipu bagaimana?" ucap Arga.


"Ya, nggak mungkinlah kak. Dealer yang aku maksud itu Dealer langganan keluarga kita."


"Jadi maksud kamu. Kamu beli motornya di DEALER ASTRA BIZ?"


"Iya, kak Daffa."


"Ach, syukurlah kalau begitu." para kakak-kakaknya berucap bersamaan.


Darel kembali menatap wajah ayahnya. "Bagaimana Pa? Motornya keren dan cocok buat anak muda seperti aku."


Mereka semua tersenyum ketika mendengar perkataan Darel. Apalagi ketika melihat wajah bahagia Darel.


"Aku juga sempat mengambil gambarnya."


Darel mengambil ponselnya, lalu membuka galeri foto. Setelah itu, Darel menekan satu foto yang menjadi tujuannya.


"Ini motornya, Pa!"


Darel memperlihatkan gambar motor yang sudah diincarnya dua hari yang lalu.


Arvind yang melihat gambar motor yang diperlihatkan oleh putra bungsunya tersenyum. Kalau masalah milih-milih. Putra bungsunya ini sangat pintar.


"Baiklah."


Arvind mengeluarkan dompetnya. Setelah itu, Arvind membuka dompetnya, lalu mengeluarkan black card miliknya.


"Ini." Arvind meletakkan kartu itu di tangan putra bungsunya.


Darel tersenyum ketika ayahnya memberikan kartunya di tangannya.


"Terima kasih, Papa! Eemmuuaahh!!"


Darel berucap dengan penuh kebahagiaan sembari memberikan ciuman di kedua pipi ayahnya.


"Lalu permintaan keduanya apa?" tanya Arvind.


"Eeemmm. Nanti sahabat-sahabat aku akan datang setelah selesai mereka kuliah. Aku mau beli makanan dan minuman banyak-banyak. Uangnya pake uang Papa. Boleh?"


Baik Arvind, Adelina, para kakak-kakaknya nya maupun anggota keluarganya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang tercetak di wajah Darel. Mereka senang melihat Darel yang saat ini dari pada Darel beberapa hari yang lalu.


"Tentu saja boleh."


"Terima kasih, Pa."


"Sama-sama sayang."


"Ya, sudah. Kalau begitu aku bersiap-siap dulu."


"Hm." mereka semua mengangguk.


Darel melihat ke arah Raffa, kakak aliennya itu.


"Kakak Raffa."


"Ya, Rel."


"Mau tidak kakak pergi denganku?"


Mendengar ajakan dari adik manisnya, tentu itu membuat Raffa bahagia. Kapan lagi adiknya mau mengajaknya untuk pergi berdua saja tanpa dikawal oleh saudara-saudaranya yang lain. Raffa tidak akan menolaknya.


"Tentu. Dengan senang hati. Kalau begitu kakak juga akan bersiap-siap."

__ADS_1


Darel dan Raffa pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar masing-masing yang ada di lantai dua.


Keduanya akan pergi menggunakan mobil milik Raffa. Nanti ketika pulang Raffa membawa mobil dan Darel membawa motor barunya. Dan dari dealer, barulah mereka akan singgah ke super market untuk membeli makanan dan minuman. Serta membeli yang lainnya untuk keluarga.


__ADS_2