
KAMAR DAREL
Darek masih menatap foto Kakeknya dan juga foto ketujuh sahabatnya. Posisinya juga masih duduk di lantai yang dingin dengan menyandar di samping tempat tidur.
Keadaan Darel tampak kacau saat ini. Mata yang sembab, hidung yang memerah dan wajah juga masih terlihat pucat.
CKLEK
Pintu dibuka oleh seseorang. Lalu kemudian orang itu memasuki kamarnya. Disusul beberapa orang lainnya dibelakang.
Mereka memasuki kamar Darel dan melihat keadaan kamar yang tampak kosong. Bagaimana tidak? Mereka tidak melihat keberadaan Darel. Tempat tidurnya terlihat rapi.
Namun beberapa detik kemudian, mereka dikejutkan dengan suara isakan.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Mendengar suara isakan tersebut, mereka pun langsung menghadapi suara tersebut.
"Astaga, sayang!" teriak Adelina saat melihat putra bungsunya yang sedang duduk di lantai di samping tempat tidurnya
Mereka semua menghampiri Darel dengan wajah khawatir terpampang jelas di wajah masing-masing, terutama Arvind dan semua putra-putranya.
Adelina membelai lembut rambut putra bungsunya lalu kemudian mencium keningnya.
"Sayang. Ada apa, nak? Katakan pada Mama. Kenapa kamu seperti ini? Jangan buat Mama tambah khawatir sayang."
Adelina menarik tubuh putra bungsunya ke dalam pelukannya. Adelina menangis melihat kondisi putra bungsunya. Dirinya benar-benar tidak tega melihatnya.
Darel masih diam di dalam pelukan ibunya. Dirinya sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. Hal itu benar-benar membuat mereka semua benar-benar khawatir.
Davian menarik tubuh adiknya yang berada di pelukan ibunya. Dirinya dari kemarin sudah tidak tahan melihat kondisi adiknya yang hanya diam, menangis dan berakhir pingsan.
Setelah adiknya berada di pelukannya, Davian memeluk erat tubuh adiknya itu. Dan tak lupa kecupan-kecupan sayang di keningnya.
"Kalau kamu sayang sama kakak. Tolong jangan seperti ini. Bicaralah! Katakan sesuatu pada kakak. Setidaknya, berbagilah dengan kakak kesedihan kamu itu." Davian berusaha membujuk adiknya agar adiknya mau bicara.
"Ayolah, sayang. Kakak mohon." Nevan berucap dengan suara lirihnya sembari tangannya membelai rambut adiknya.
"Darel," lirih Evan dan Raffa.
"Darel," lirih para kakak-kakak sepupunya.
"Darek, sayang." Paman dan Bibinya sudah menangis melihat kondisinya.
"Hiks.. hiks.. ka-kakak.. hiks," isak Darel di dalam pelukan kakak tertuanya.
Mendengar isakan adiknya disertai panggilan dari adiknya membuat hati Davian dan yang lainnya sesak. Davian makin mengeratkan pelukannya.
"Katakanlah sayang. Apa yang terjadi? Jangan hukum kakak seperti ini." Davian kembali mengecup pucuk kepala adiknya.
__ADS_1
"Hiks.. Ke-kenzo.. Ga-gavin.. hiks."
Mereka yang mendengar Darel yang menyebut nama Kenzo dan Gavin membuat mereka semua terkejut.
Ghali menggenggam tangan Darel sembari mengusap-usap telapak tangan adiknya itu.
"Kenapa dengan Kenzo dan Gavin? Apa Darel sudah bertemu dengan mereka, hum?" tanya Ghali.
"Hiks.. hiks.. hiks." Darel makin terisak di dalam pelukan Davian.
Davian melepaskan pelukannya dari adiknya. Dirinya ingin melihat wajah adiknya dengan jelas.
Davian memegang dagu Darel kemudian mengangkatnya keatas agar dirinya bisa melihat wajah adiknya itu.
Mereka semua terkejut ketika melihat wajah Darel yang pucat, mata yang sembab dan hidung yang memerah.
Davian menghapus air mata adiknya dengan lembut. Sementara Nevan membelai lembut rambutnya.
"Katakan pada kakak. Kenapa dengan Kenzo dan Gavin?" tanya Davian.
Darel kembali menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal kuat. Mereka semua dapat melihat saat Darel yang mengepalkan kedua tangannya.
"Darel. Kami mohon bicaralah. Jangan diam saja." Nevan berbicara sembari tangannya masih bermain-main di kepalanya.
"Aku.. aku sudah bertemu dengan Kenzo dan Gavin." Darel akhirnya mau mengatakan tentang Kenzo dan Gavin.
Mereka yang mendengar ucapan dari Darel tersenyum. Akhirnya kesayangan mereka mau bicara.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Darel kembali terisak. Dan kembali teringat saat bertemu dengan Kenzo dan Gavin.
Darel mendongakkan wajahnya dan menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya. Mereka yang melihat tatapan mata Darel membuat hati mereka benar-benar sakit dan juga hancur.
"Ke-ken-zo dan Ga-gavin tidak mengenaliku. Me-mereka bukan Kenzo dan Gavin yang aku kenal. Kenzo dan Gavin yang aku lihat kemarin benar-benar berbeda. Mereka berubah menjadi penjahat. Mereka menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Bah-bahkan mereka tega menyakiti orang itu sampai mati." Darel berbicara dengan air matanya yang masih mengalir membasahi wajah tampannya dan kedua tangannya yang masih mengepal.
Mendengar penuturan dari Darel membuat mereka semua terkejut. Di dalam hati mereka, apa benar yang ditemui oleh Darel itu adalah Kenzo dan Gavin. Jika benar mereka adalah Kenzo dan Gavin. Kenapa mereka melakukan hal-hal buruk itu?
"Apa kamu yakin jika mereka Kenzo dan Gavin?" tanya Minki
"Mungkin kamu salah lihat kali," ucap Raffa.
Darel menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak akan pernah salah saat melihat wajah sahabat-sahabatku. Aku sudah cukup lama bersahabat dengan mereka. 12 tahun itu adalah waktu yang cukup lama aku dan sahabat-sahabatku menjalin hubungan persahabatan."
"Kalau kakak boleh tahu. Di mana kamu bertemu dengan Kenzo dan Gavin?" tanya Elvan.
"Di jalan saat aku hendak pergi membeli ponsel baru. Aku melihat ada seorang Paman yang dijegat beberapa orang. Bahkan Paman itu hampir dilukai oleh salah satu orang-orang itu. Melihat kejadian itu aku menghentikan motorku dan berlari kearah orang Paman itu. Setiba di sana aku langsung menendang orang itu dengan kuat sehingga orang itu terhuyung ke belakang. Detik kemudian orang itu berteriak padaku. Mendengar suaranya seketika tubuhku bergetar. Aku membalikkan badanku dan melihat kearah orang itu. Ternyata.. ternyata orang itu adalah.. hiks.. hiks."
GREP..
__ADS_1
Davian menarik tubuh adiknya ke pelukannya. Dirinya sudah tidak kuat mendengarkan cerita adiknya. Davian menangis, begitu juga dengan yang lainnya.
"Kakak.. hiks."
"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Kita akan membawa pulang mereka berdua." Davian berusaha menghibur adiknya.
"Bagaimana caranya kak Davian? Mereka saja tidak mengenaliku. Bahkan mereka berubah menjadi monster. Mereka menyakiti orang-orang yang tidak bersalah."
Mendengar ucapan dari Darel, mereka semua hanya tersenyum. Tapi setidaknya rasa khawatir mereka sudah hilang karena kesayangan mereka sudah mau bicara dan bercerita.
"Itu tugasnya kamu untuk membuat mereka ingat lagi dengan kamu. Mereka sekarang ini sedang sakit. Mereka mengalami amnesia gara-gara kecelakaan itu." Daffa berbicara dengan lembut
Darel melepaskan pelukannya lalu menundukkan kepalanya. Jangan lupa bibir yang sudah di manyunkan.
"Amnesia? Aneh! Kenapa mereka pada kompak amnesianya?"
Lagi-lagi mereka tersenyum saat mendengar ucapan dari Darel. Ditambah lagi melihat bibir yang dimanyun-manyunkan.
"Bukan kompak sayang. Siapa tahu saat mereka terjatuh dari mobil sebelum kecelakaan itu, kepala mereka membentur sesuatu dan mengakibatkan mereka amnesia." Adelina berbicara sembari mengecup pipi putra bungsunya.
"Bagaimana? Apa sudah tenang sekarang? Apa sudah tidak nangis lagi?" tanya Arvind sama sembari menggoda putra bungsunya.
"Ih, papa. Siapa yang nangis? Siapa yang sedih? Aku baik-baik saja kok."
Mereka hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Darel. Tapi mereka tetap bersyukur akhirnya kesayangan mereka kembali tersenyum.
Darel bangkit dari duduknya. Namun ketika Darel ingin berdiri, tiba-tiba Darel merasakan sakit di kepalanya.
"Aakkkhhhh." Darel memegang kepalanya
"Darel!" teriak mereka semua.
Davian dan Nevan memapah adiknya untuk ke tempat tidur.
"Apa kepalanya sakit lagi?" tanya Nevan khawatir.
"I-ya, kak."
"Itu karena kamu kebanyakan nangis, makanya kepalanya sakit!" seru Vano.
"Apa sih enaknya nangis berjam-jam," ucap Alvaro yang menjahili adik bungsunya.
"Yak, kak Alvaro! Siapa juga yang nangis sampai berjam-jam." Darel menatap horor kakaknya itu.
"Kalau tidak nangis. Kenapa mata kamu sembab gitu, hum?" Alvaro masih terus menjahili adik bungsunya.
"Kakak Davian," rengek Darel.
"Alvaro, berhentilah mengganggu Darel." Davian menatap tajam kearah Alvaro.
__ADS_1
"Wleeee." Darel menjulurkan lidahnya kearah Alvaro.
Mereka semua tersenyum melihat Darel yang mengejek Alvaro. Sedangkan Alvaro sama sekali tidak marah. Justru dirinya senang dan juga bahagia melihat adiknya yang saat ini.