
Keesokkan paginya semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Mereka semua tampak bahagia saat ini. Kebahagiaan mereka itu adalah si bungsu nakal kesayangan mereka.
"Aku senang lihat Darel udah nggak sedih lagi, Paman Arvind," ucap Melvin.
"Apalagi aku. Aku bahagia sekali saat ngeliat Paman Arvind dan Bibi Adelina menghibur dan membujuk Darel. Darel nya langsung nurut dan dengerin semua yang diucapkan oleh Paman dan Bibi," sahut Dylan.
"Darel sifatnya memang seperti itu, Lan! Darel tidak pernah mengabaikan setiap perkataan Papa dan Mama. Darel selalu mendengarkan dan nurut apa yang dikatakan oleh orang tuanya," ujar Evan.
"Kecuali kami," sela Raffa.
"Kalau Darel lagi kesal, marah dan ngambek. Darel nggak bakal mau dengerin kita," tutur Alvaro.
"Dan membujuknya pun susah sekali," ucap Axel menambahkan.
"Udah menggunakan berbagai cara, tetap saja gagal!" Vano juga ikut bersuara.
"Kami semua berhasil dibuatnya frustasi dan stres. Darel mengabaikan kami bahkan sampai 1 minggu," kata Daffa.
"Ternyata kalian tidak bisa jauh-jauh dari kelinci nakal itu ya," goda Rendra.
"Hahahaha." Mereka semua tertawa
"Aish! Apaan sih kalian," ucap Raffa kesal.
Saat mereka lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
TAP!!
TAP!!
Lalu mereka semua melihat ke asal suara langkah tersebut. Mereka semua tersenyum saat melihat kesayangan mereka yang menuruni anak tangga.
"Hei, itu Darel kok udah rapi. Memangnya Darel mau kemana?" seru Arga.
"Iya, ya. Darel mau kemana pagi-pagi begini," ucap Andre.
"Kalau kuliah nggak mungkin. Darel belum masuk kuliah saat setelah kejadian yang menimpa sahabat-sahabatnya," sela Elvan.
Mereka semua masih terus memperhatikan Darel sehingga Darel pun telah berada di hadapan mereka.
"Kenapa kalian semua memperhatikanku seperti itu? Apa penampilanku jelek?" tanya Darel.
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat mereka semua tersadar. Davian beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang adik.
"Tidak. Siapa bilang jelek. Darel kelihatan tampan pagi ini," puji Davian sembari mengelus lembut rambut adiknya. Darel tersenyum manis pada Davian.
Davian kemudian membawa adiknya itu untuk duduk di sofa. Mereka sengaja berkumpul di ruang tengah sembari menunggu sarapan pagi disiapkan.
"Memangnya Darel mau kemana?" tanya Ghali.
"Aku mau pergi keluar sebentar, kak Ghali!" jawab Darel.
"Mau pergi kemana? Kakak antar ya," kata Nevan.
"Aku.. aku mau ketempat dimana aku ingin melepaskan semua rasa rindu aku pada mereka," lirih Darel.
Mereka yang mendengar penuturan dari Darel langsung berpikiran negatif. Mereka takut kalau kesayangan mereka akan melakukan tindakan bodoh.
Darel yang melihat gerak gerik aneh anggota keluarganya mentautkan alisnya. Darel paham apa yang sedang dipikirkan oleh anggota keluarganya itu.
"Aish! Jangan perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu. Kalian pikir aku akan melakukan hal-hal bodoh diluar sana," ucap Darel kesal sembari mempoutkan bibirnya.
Mendengar ucapan dari Darel membuat hati mereka menjadi lega dan juga mereka semua tersenyum gemas melihat wajah manyun Darel. Davian yang duduk disampingnya mengacak-acak rambut adiknya itu.
"Memangnya adik kakak yang tampan ini mau pergi kemana?" tanya Davian.
__ADS_1
"Kan aku sudah katakan tadi. Jadi tidak ada siaran ulang," jawab Darel.
"Yaaahhh!!" seru para kakaknya (baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya)
"Kakak antar ya," tawar Vano.
"Boleh tidak aku pergi sendiri?" tanya Darel pelan.
Baik Arvind maupun para kakaknya tidak memberikan jawaban apapun. Mereka saling lirik satu sama lain. Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari Papanya dan para kakaknya. Darel pun mengerti.
"Baiklah. Aku mengerti! Kak Vano. Ayo, antar aku!" seru Darel.
Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung bangkit dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju pintu utama.
Mereka yang melihat kepergian Darel hanya bisa memperlihatkan wajah sedih dan rasa bersalah mereka.
Lalu detik kemudian...
"Astaga!" seru Evan dan Raffa bersamaan.
Mereka semua melihat kearah Evan dan Raffa.
"Evan, Raff. Ada apa?" tanya Arvind.
"Pa. Darel kan belum sarapan. Kenapa kita membiarkan Darel pergi tanpa sarapan dulu?" ucap dan tanya Raffa.
Mereka yang mendengar ucapan dari Raffa terkejut sehingga membuat mereka frustasi, terutama Arvind dan putra-putra nya yang lain.
"Aish, tuh bocah! Kalau sudah ngambek gitu tuh. Jadi lupa yang lainnya," gerutu Davian.
"Aku akan hubungi Vano. Dan aku akan nyuruh Vano untuk mengajak Darel sarapan diluar," usul Elvan.
"Iya. Ide bagus tuh," ucap Erick.
"Jangan lupa di loundspeaker panggilannya, Elvan!" kata Nevan. Elvan mengangguk.
"Hallo, kak Elvan."
"Hallo, Vano. Sebelum kau membawa Darel ketempat tujuannya. Lebih baik kau dan Darel sarapan dulu. Kalian kan tidak sempat sarapan tadi."
***
[DI DALAM MOBIL]
Vano sedang berbicara dengan Elvan di telepon. Sedangkan Darel duduk dengan melihat keluar jendela.
"Salahkan saja si kelinci nakal ini. Siapa suruh main pergi gitu saja," jawab Vano sembari melirik kearah adiknya.
Darel yang mendengar ucapan dari kakak pucat nya itu membelalakkan matanya. Dirinya tidak terima disebut kelinci.
"Aish! Apaan sih, kak Vano. Ngejek orang nomor satu. Giliran diejek marah-marah. Dasar beruang kutub idiot," balas Darel tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
Vano mendengus kesal mendengar ejekan dari adiknya itu. Sedangkan anggota keluarganya tersenyum mendengar penuturan dari Darel.
"Ya, sudah! Kalian hati-hati. Jangan lupa untuk sarapan. Pastikan si kelinci nakal itu juga sarapan."
"Baik, kak!"
TUTT.. TUTT..
Setelah selesai berbicara dengan Elvan. Vano mematikan ponselnya, lalu memasukkan kembali ponselnya itu ke dalam saku celananya.
"Darel," panggil Vano.
"Apa?" jawab Darel ketus.
__ADS_1
"Hei.. gitu amat jawabnya," protes Vano.
"Terus kakak mau apa?" tanya Darel yang pandangan tetap keluar jendela.
"Lihat kakak dong," pinta Vano.
"Malas," jawab Darel santai.
"Aish! Dasar adik kurang ajar," batin Vano mendongkol.
"Kita sarapan dulu ya. Kakak lapar nih," bujuk Vano.
"Kalau kakak mau sarapan, sarapan aja. Tapi kakak antar aku dulu," jawab Darel.
"Heeiii.. mana bisa begitu. Kalau kakak sarapan, berarti kamu juga ikut sarapan bersama kakak," balas Vano.
"Yak! Mana ada kayak gitu. Yang ingin sarapan kakak. Yang lapar itu perut kakak. Kenapa bawa-bawa aku?" ucap dan tanya Darel.
"Ini bocah. Pinter banget ya ngejawabnya. Untung sayang. Kalau gak, udah tak tendang dari dalam mobil ini. Dasar siluman kelinci egois." Vano membatin sembari bibirnya yang digerak-gerakin mengumpati adiknya.
Tanpa Vano sadari, Darel melirik kearah nya. "Kenapa tuh bibir? Ngumpatin aku ya?"
Vano yang mendengar ucapan Darel langsung mengatup bibirnya. Dirinya benar-benar kelabakan sekarang. Vano kemudian melihat kearah adik manisnya itu.
"Hehehehe! Nggak kok. Siapa juga yang tega ngumpatin adik yang paling manis, paling tampan, paling imut dan menggemaskan seperti adik kakak ini," kata Vano sembari tangannya mencubit pelan dagu adiknya.
Darel menepis tangan kakaknya itu. "Apaan sih, kak."
Darel hari ini benar-benar kesal akan ulah kakak pucat nya itu. Darel pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Sedangkan Vano bernafas lega karena adiknya percaya jika dirinya tidak mengumpatinya.
"Kita sarapan dulu ya. Bagaimana pun kamu harus sarapan. Nanti kalau kamu sakit, terus masuk rumah sakit lagi. Apa kamu mau??" bujuk Vano. Kali ini Vano serius
Tidak ada jawaban dari Darel. Darel memang tidak berniat untuk menjawab apa yang dikatakan oleh kakak pucat nya itu.
"Ayolah, Rel!" mohon Vano.
Karena Darel tidak juga mengiyakan ajakannya. Maka Vano pun terpaksa menghentikan mobilnya.
Darel yang merasakan mobilnya berhenti, lalu menolehkan wajahnya melihat kakak pucat nya itu.
"Kenapa berhenti kakak?" tanya Darel.
"Ingin saja," jawab Vano.
"Tapi aku ingin cepat sampai disana," ucap Darel.
"Kakak tidak peduli," jawab Vano.
"Kakak," lirih Darel.
Vano melihat kearah adiknya. Dapat dilihat raut wajah adiknya itu sudah berubah menjadi sedih. Mungkin sebentar lagi bakal menangis.
"Apa kamu ingin kesana?" tanya Vano.
"Iya," jawab Darel pelan.
"Kalau begitu kita sarapan dulu. Setelah itu baru Kakak akan antar kamu ketempat yang kamu inginkan. Bagaimana?" ucap dan tanya Vano.
"Baiklah. Aku mau sarapan bersama kakak," jawab Darel terpaksa.
"Akhirnya! Dari tadi kek. Apa harus berdebat dulu dan diancam dulu baru mau makan? Susah amat kalau disuruh makan. Tinggal makan doang apa susahnya sih," gerutu Vano dalam hati.
Setelah berhasil membujuk adiknya untuk sarapan, Vano pun kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju sebuah cafe.
Selama dalam perjalanan, tidak ada yang bersuara. Lebih tepatnya Darel. Dirinya enggan untuk membuka suara. Vano yang melihat itu pun mengerti. Dirinya tidak ingin memaksa adiknya untuk berbicara.
__ADS_1
"Kakak rindu sifat cerewet kamu yang dulu, Rel! Bukan sifat kamu yang sekarang," batin Vano.