
[Di Rumah Sakit]
Di ruang rawat seorang pemuda tampan sedang menatap seorang gadis cantik yang terbaring di tempat tidur dengan kondisi tubuh tangan diinfus, kepala di perban dan wajah di pasang masker oksigen.
Pemuda itu mendapatkan informasi bahwa gadis tersebut ditemukan di pinggir pantai. Diduga gadis itu terjatuh dari kapal yang ditumpanginya.
Pemuda yang menatap gadis tersebut adalah Davian Wilson, putra sulung dari Arvind Wilson. Beberapa anggota Darkness yang telah menolongnya ketika sedang bertugas di sekitar pantai dekat kota Hamburg perbatasan kota Munich (anggap saja seperti itu).
Cklek..
Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Davian yang berada di dalam langsung melihat orang itu.
"Bos!"
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai gadis ini?" tanya Davian dengan tatapan matanya menatap kearah gadis yang terbaring di tempat tidur.
"Hanya sedikit, Bos!"
"Tidak masalah. Sekarang katakan!"
"Gadis ini bernama Axella Kelyn. Dia berasal dari keluarga Kelyn. Dia dikhianati dan ditipu oleh pacarnya dan saudari tirinya. Bukan hanya kekasih, saudari tirinya saja mengkhianatinya dan menipunya. Ayahnya juga melakukan hal yang sama padanya dan mendiang ibunya."
"Apa? Jadi...?"
"Iya, Bos! Ibunya telah meninggal karena dibunuh oleh ayahnya sendiri demi mempertahankan selingkuhannya. Ach, lebih tepatnya kekasihnya!"
"Sebelum menikah dengan ibunya. Ayahnya sudah memiliki kekasih. Bahkan kekasihnya itu sedang mengandung anak dari ayahnya itu. Lalu ayahnya dijodohkan dengan ibunya dan berakhir keduanya menikah."
"Selama pernikahan, ibunya tidak bahagia. Dengan kata lain ayahnya selalu menyiksa ibunya. Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Nona Axella tumbuh besar. Di rumah besar itu, kekasih dari ayahnya dan anak perempuannya juga tinggal disana. Ayahnya membawa keduanya untuk tinggal bersama dan memperkenalkan kepadanya dan kepada ibunya bahwa wanita dan anak perempuan yang dia bawa adalah istri dan anak perempuannya."
"Dan sejak itulah penderitaan nona Axella dan ibunya semakin bertambah dan mengerikan. Nona Axella dijadikan bahan untuk melakukan semua apa yang mereka inginkan. Jika nona Axella menolak atau melawan, maka ibunya akan dibunuh."
Mendengar cerita serta penjelasan dari anggotanya membuat Davian benar-benar terkejut dan tak percaya. Dia tak menyangka jika ada seorang ayah yang tega melakukan hal sekeji itu terhadap anak kandungnya sendiri.
"Oh iya, Bos! Ada informasi lain lagi!"
"Informasi apa?" tanya Davian penasaran.
__ADS_1
"Ini mengenai adik bungsunya Bos!"
Mendengar nama adiknya disebut, Davian langsung melihat kearah anggotanya itu. Davian langsung memfokuskan perhatiannya dan pikirannya jika sudah menyangkut anggota keluarganya.
"Katakan!"
"Ini mengenai tiga Panti Asuhan yang akan dikunjungi oleh tuan Darel dan para sahabat-sahabatnya beserta para anggotanya dalam bahaya."
"Dalam bahaya, maksudnya?" tanya Davian.
"Ada beberapa orang mengklaim bahwa gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu miliknya. Dan mereka akan merebut gedung tersebut. Sementara dari pengakuan pengurus Panti Asuhan itu mengatakan bahwa gedung itu milik mereka masing-masing. Bukan milik orang lain, apalagi sampai menyewa."
"Apa yang akan dilakukan oleh para bajingan itu?" Davian benar-benar marah jika ada orang yang merusak pekerjaan mulia adiknya.
"Orang-orang itu akan mendatangi ketiga Panti Asuhan itu dan meminta kepada pengurus Panti Asuhan untuk menyerahkan semua uang kepada mereka jika tuan Darel dan orang-orangnya memberikan sumbangan berupa uang untuk anak-anak Panti."
"Brengsek!" Davian seketika marah mendengar hal itu.
"Apa yang terjadi jika pengurus Panti Asuhan itu tidak memberikan uang itu?"
"Orang-orang itu akan mengusir anak-anak Panti itu, Bos!"
"Baik, Bos!"
Setelah itu, anggotanya itu pergi meninggalkan Davian sendirian dan kembali ke Markas Darkness
Davian menatap wajah gadis itu sembari bergumam, "Aku akan membantumu membalas orang-orang yang telah menyakitimu."
Setelah mengatakan itu, Davian keluar meninggalkan ruang rawat Axella untuk pulang ke rumah. Dia ingin bertanya langsung kepada adik bungsu itu tentang permasalahannya. Davian tidak akan membiarkan adiknya itu menyelesaikannya sendiri.
Cklek..
Pintu dibuka oleh Davian. Setelah tiba diluar, Davian melihat empat anggotanya sedang berjaga-jaga.
"Jaga gadis itu. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali Dokter. Dan Dokter hanya satu yang masuk dan memeriksanya. Jika dia pakai Masker. Terlebih dahulu buka maskernya."
"Baik, Bos."
__ADS_1
"Satu lagi. Kalian berjaga-jaga tidak hanya diluar saja. Sebagian harus ada di dalam. Ruangan rawat gadis itu setidaknya harus ada lima orang yang berjaga-jaga."
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Davian benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali pulang ke rumahnya.
***
Daffa, Dario dan Aditya sudah diizinkan untuk pulang. Kondisi ketiganya sudah membaik setelah mendapatkan perawatan selama lima hari di rumah sakit.
Daffa, Dario dan Aditya saat ini berada di dalam kamarnya untuk istirahat. Para kakaknya meminta ketiganya untuk istirahat agar tubuhnya benar-benar pulih dari pasca kecelakaan. Begitu juga dengan Darel.
Darel diminta untuk istirahat juga oleh keenam kakak tertuanya, terutama Davian dan Nevan. Keduanya tidak ingin Darel tumbang karena kelelahan. Bukan kelelahan tubuh, tapi lelah pikiran juga.
Darel saat ini berada di dalam kamarnya. Setelah mengistirahatkan tubuhnya selama 2 jam. Darel memutuskan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dengan kepintaran yang dia miliki, Darel sudah selesai menyelesaikan semua tugas-tugas kuliahnya dan beberapa tugas keanggotaannya di kampus, salah satunya sebagai sebagai ketua. Begitu juga dengan semua sahabat-sahabatnya yang berada di rumah masing-masing.
Saat ini Darel sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Dia tengah memikirkan siapa orang yang mengaku sebagai pemilik dari tiga Panti Asuhan itu? Dan Darel juga memikirkan kenapa orang itu keluar disaat dirinya dan anggota Organisasi Kampusnya akan memberikan bantuan kesana?
"Siapa mereka? Dari mana mereka tahu kalau aku dan sahabat-sahabat aku mau ke Panti Asuhan untuk memberikan bantuan?"
^^^
Di ruang tengah terlihat anggota keluarga berkumpul, termasuk Davian. Davian sudah menceritakan masalah Darel karena ketika di rumah sakit saat Darel mendapatkan telepon dari Arzan dan mengatakan masalah Panti Asuhan. Sejak itu, Darel belum menceritakan hal itu kepada anggota keluarganya.
Dan sekarang ini mereka tengah membicarakan masalah yang dihadapi oleh Darel tentang tiga Panti Asuhan yang akan dikunjungi oleh Darel dan sahabat-sahabatnya.
"Pa, Kak! Kita harus bantu Darel. Kasihan Darel dan juga sahabat-sahabatnya jika gagal dalam kegiatan amalnya itu. Darel beserta sahabat-sahabatnya dan para anggotanya sudah bekerja beberapa hari ini untuk mengumpulkan data dan semua keperluan untuk tiga Panti Asuhan itu. Masa iya harus gagal," ucap Harsha.
"Iya, Pa! Kita harus segera bertindak sebelum Darel bertindak duluan dengan memerintahkan para tangan kanannya. Aku kasihan dengan tangan kanannya Darel. Bagaimana pun mereka butuh istirahat," ucap Evan menambahkan.
Arvind tersenyum ketika mendengar ucapan dari Evan dan Raffa. "Kalian tidak perlu khawatir. Tanpa kalian mengatakan hal itu, Papa akan melakukannya."
"Sekarang Darel nya mana?" tanya William yang tidak melihat keberadaan keponakannya itu.
"Darel di kamarnya Paman!" seru Axel.
"Kita menyuruhnya istirahat setelah selesai makan siang tadi," ucap Alvaro.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Paman kasihan sama Darel yang terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya beberapa hari ini," sahut William.
Baik Arvind maupun anggota keluarganya begitu sangat mengkhawatirkan Darel. Mereka takut jika sewaktu-waktu Darel tumbang akibat memforsir tenaganya.