Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Rasa Bangga Arvind Terhadap Putra Bungsunya


__ADS_3

Plak..


Plak..


"Aakkhh!" teriak seorang wanita yang mendapatkan tamparan keras dari seorang pria.


Wanita yang ditampar tersebut adalah Andhara Pandya. Dan yang menjadi tersangka penamparan tersebut adalah Davi Ramero.


Andhara menatap marah kearah mantan suaminya. Dia tidak terima dirinya ditampar, apalagi mereka tidak memiliki hubungan apapun.


"Kenapa kau menamparku, hah?!" bentak Andhara.


Plak..


Bukan jawaban yang didapat oleh Andhara melainkan tamparan ketiga yang dia dapatkan dari mantan suaminya itu.


"Dasar perempuan sialan, perempuan menjijikan dan perempuan tidak tahu diri. Kau yang mengkhianatiku, kau yang pergi meninggalkanku dan kedua anak-anakku. Dan dengan seenaknya kau menyalahkan Celina dan menyebut Celina sebagai pelakor!" bentak Davi dengan menatap nyalang Andhara.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Dia adalah....."


Plak..


"Jangan pernah kau menghina istriku. Di mataku dia perempuan sempurna dan perempuan baik-baik. Dia perempuan yang tulus mencintaiku dan kedua anak-anakku. Dan dia juga bukan perempuan yang haus kekuasaan dan harta!"


"Aku sudah cukup bersabar selama ini, Andhara! Sudah cukup aku berdiam diri melihat kelakuanmu dan membiarkanmu melakukan sesuka hatimu di masa lalu. Sekarang di masa depan, aku akan membalas setiap perlakuan burukmu terhadap istriku dan anak-anakku."


"Entahlah kau dalam kehidupan anak-anakku. Jangan coba-coba kau mengusik mereka. Mereka hanya memiliki satu ibu di dunia ini. Ibu mereka adalah Celina."


Davi menatap satu persatu anggota keluarga Pandya dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.


"Aku sudah memegang banyak bukti tentang kelakuan busuk kalian, terutama ketika kalian melakukan bisnis dengan perusahaan lain. Dan aku juga sudah mendapatkan kelemahan perusahaan kalian masing-masing. Dengan satu kali jentikan jariku maka habislah kalian. Kalian semua akan kehilangan perusahaan kalian itu."


"Jika kalian ingin aman dan hidup damai. Hanya ada satu caranya, menjauhlah dari keluargaku, anak-anakku, orang-orang terdekatku, orang-orang terdekat dari anak-anakku dan istriku. Jangan ganggu mereka apalagi ingin menyakiti mereka. Sedikit saja kalian menyentuh mereka, maka habislah kalian semua!"


"Ingat baik-baik semua kata-kataku barusan."


Setelah mengatakan itu, Davi pun pergi meninggalkan keluarga Pandya. Sedangkan Andhara dan anggota keluarganya terdiam di tempat ketika melihat kemarahan dan dendam dalam tatapan mata seorang Davi. Mereka semua syok, terutama Andhara ketika mengetahui sifat asli dari Davi Ramero. Selama ini mereka berpikir bahwa Davi itu adalah laki-laki lemah dan bodoh. Ternyata dugaan mereka salah.


***


Darel sudah di rumah. Keadaannya juga sudah membaik dan tidak ada cedera yang parah di kepalanya.

__ADS_1


Saat ini Darel berada di ruang tengah bersama dengan sahabat-sahabatnya. Mereka mengobrol bersama sembari kembali membahas untuk mengunjungi tiga Panti Asuhan tersebut.


"Lo benaran udah nggak apa-apa, Rel?" tanya Kenzo.


"Seperti yang lo lihat, Nzo. Gue baik-baik saja," jawab Darel.


Mereka semua menatap intens Darel. Mereka benar-benar. Mereka belum sepenuhnya percaya akan jawaban yang diberikan oleh Darel barusan.


Darel yang merasa bahwa semua sahabat-sahabatnya tengah menatap dirinya balik memberikan tatapannya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa dengan kalian menatapku seperti itu pekerjaan kita untuk membahas kunjungan kita ke Panti Asuhan itu akan selesai?"


"Kepalaku memang sakit, tapi otakku, tanganku serta anggota tubuhku yang lainnya dalam keadaan baik-baik saja," ucap Darel dengan menatap kesal sahabat-sahabatnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika menghela nafas pasrahnya.


Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk memulai pekerjaan mereka untuk menata kembali jadwal kunjungan mereka ke tiga Panti Asuhan itu.


^^^


Di ruang tengah lainnya dimana Arvind bersama dengan kedua adik laki-laki yaitu Sandy dan William, adik iparnya yaitu Daksa dan putra-putranya. Mereka saat ini tengah membahas masalah dalang penyerangan yang menimpa Elvan, Andre dan Arga.


"Bagaimana Sandy, William, Daksa! Apakah kalian sudah mendapatkan dalang penyerangan terhadap Elvan, Andre dan Arga?" tanya Arvind.


"Bagaimana dengan kamu, Davian?" tanya Arvind kepada putra sulungnya.


"Aku dan Juna hanya mendapatkan sedikit ciri-ciri orang itu. Tapi untuk melacaknya terlalu sulit. Sepertinya musuh kita kali ini bermain bersih dan rapi tanpa meninggalkan jejak sama sekali," ucap Davian.


"Siapa mereka sebenarnya? Dan apa motif mereka mengusik kita?" sahut Daksa.


"Oh iya, kak Arvind! Kenapa kita tidak minta bantuan kepada tangan kanannya Darel. Siapa tahu dengan kita meminta bantuan dengan tangan kanannya Darel kita bisa mengetahui dalang tersebut," usul Sandy.


"Aku setuju dengan usulannya Paman Sandy. Lebih baik kita minta bantuan sama tangan kanannya Darel saja untuk mencari tahu dalang penyerangan itu," ucap Vano.


"Baiklah. Kita akan minta bantuan dengan dengan tangan kanannya Darel," ucap Arvind.


***


Keesokan harinya semua anggota keluarga Wilson sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian dinas masing-masing.


Kini semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama.

__ADS_1


"Bagaimana tidurnya, sayang?" tanya Arvind pada putra bungsunya.


"Nyenyak, Papa!" jawab Darel.


"Apa kepala kamu sakit ketika tidur?" tanya Elvan.


"Nggak kak Elvan."


Mendengar jawaban yang diberikan Darel membuat mereka tersenyum lega. Mereka bahagia kesayangannya tidur dengan nyenyak tanpa merasakan sakit akibat luka di kepalanya itu.


"Rel," panggil Arvind.


Darel langsung melihat kearah ayahnya itu sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Iya, Pa!"


"Eeemmm... Begini, sayang! Papa mau meminta bantuan sama tangan kanan kamu untuk menyelidiki dalang penyerangan ketiga kakak kamu beberapa hari yang lalu. Anak buah Papa, anak buah Paman Sandy, anak buah Paman William, anak buah Paman Daksa dan anggota kakak kamu belum berhasil menemukan dalang itu."


Mendengar penuturan dari ayahnya seketika membuat Darel tersenyum. Darel tahu bahwa ayahnya, kakak sulungnya dan Paman-pamannya sedang menyelidiki dalang penyerangan terhadap ketiga kakak laki-lakinya yang lain.


"Papa tidak perlu khawatir, oke! Sebentar lagi kita akan mengetahui siapa dalangnya."


"Maksud kamu?" tanya Arvind bingung dan juga penasaran.


"Apa Papa berpikir aku akan diam saja setelah apa yang dialami oleh kakak Elvan, kakak Andre dan kakak Arga?" tanya Darel dengan menatap wajah tampan ayahnya itu.


Mendapatkan pertanyaan dari putra bungsunya seketika membuat Arvind tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Jadi kamu sudah meminta tangan kanan kamu untuk mencari tahu dalang dari penyerangan yang dialami oleh Elvan, Andre dan Arga?" tanya Nevan.


"Hm!" Darel menjawab pertanyaan dari kakak keduanya itu dengan deheman sembari menganggukkan kepalanya.


Mereka semua kembali tersenyum ketika mendapatkan jawaban dari Darel. Mereka benar-benar bangga atas apa yang dilakukan oleh Darel untuk keluarganya.


"Terima kasih ya sayang!"


"Untuk apa?"


"Karena kamu sudah bertindak untuk mencari tahu dalang dari yang sudah menyerang ketiga kakak-kakak kamu."


"Itu udah tugas aku sebagai seorang adik untuk kakak-kakaknya. Apapun akan aku lakukan untuk melindungi keluargaku," balas Darel.

__ADS_1


Arvind tersenyum bangga akan putra bungsunya itu. Dirinya benar-benar bahagia dan bersyukur Tuhan memberikan dirinya putra seperti putra bungsunya itu.


__ADS_2