
Darel masih di rumah sakit. Dan saat ini yang menemani Darel adalah semua kakak-kakaknya. Baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya, termasuk Rayyan dan keempat adiknya.
Darel saat ini dalam posisi duduk bersandar di dinding tempat tidur dengan tangannya memegang piring kecil berisi potongan buah apel.
Davian yang duduk di samping ranjang adik kesayangannya itu dengan menatap sedih adiknya itu. Hatinya benar-benar hancur melihat kondisi adiknya yang tidak mengingat akan keluarganya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Darel yang sadar akan ditatap langsung melihat kearah orang-orang yang ada di samping dan di hadapannya secara bergantian. Darel dapat melihat bahwa semua menatap dirinya dengan tatapan sedih.
Setelah itu, Darel seketika menundukkan kepalanya. Dan detik kemudian terdengar ucapan dan isakannya.
"Hiks... Maaf."
Deg..
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa terkejut. Begitu juga dengan sepupunya.
Berlahan Davian mengusap lembut kepala adik bungsunya dengan menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan adiknya.
"Kenapa, hum?"
Mendengar pertanyaan dari kakaknya. Darel langsung melihat kearah sang kakak. Setelah itu, Darel kembali menatap ke bawah.
"Hiks... Maafkan aku yang tidak bisa mengingat kalian. Maafkan aku jika di hati... Hiks... dan pikiranku menganggap kalian orang asing."
Mendengar ucapan demi ucapan serta permintaan maaf dari adik bungsunya membuat hati Davian serta yang lainnya sesak. Mereka semua paling tidak suka jika mendengar isak tangis Darel, apalagi ketika mendengar permintaan maaf.
Davian seketika berdiri dari duduknya. Setelah itu, Davian mendekatkan tubuhnya pada adik bungsunya.
Detik kemudian..
Grep..
Davian menarik pelan tubuh adiknya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan detik itu juga, isak tangis Darel pecah.
"Hiks... Hiks...,"
Mendengar isak tangis Darel membuat Davian meneteskan air matanya. Begitu juga dengan Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa serta para sepupunya.
"Tenang, oke! Tak masalah jika kamu tidak bisa mengingat tentang keluarga dan sahabat-sahabat kamu. Kakak yakin semua itu akan kembali secara berlahan-lahan. Jangan dipaksakan," hibur Davian bersamaan dirinya mengeratkan pelukannya.
"Iya, Rel! Kamu tidak usah sedih hanya karena kamu tidak bisa mengingat kita. Apapun yang terjadi. Kakak dan kita semua akan selalu ada untuk kamu. Kamu tidak sendirian," ucap Nevan yang tangannya mengusap-usap lembut kepalanya.
"Bantu aku untuk mengingat lagi."
__ADS_1
"Pasti, Sayang."
"Pasti, Rel!"
Davian kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan adiknya itu. Kemudian Davian mencium kening adiknya itu penuh sayang.
"Sudah. Jangan nangis lagi. Kakak paling tidak suka melihat kamu menangis," ucap Davian sembari menghapus air mata adiknya.
***
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saat ini berada di perjalanan. Mereka menggunakan motor sport masing-masing. Tujuan mereka saat ini adalah untuk ke rumah sakit mengunjungi sahabat kelincinya.
Sebelum mereka menuju rumah sakit, mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah Cafe dan Mini Market untuk membeli makanan serta minuman kesukaan sahabat kelincinya. Dan kebetulan Cafe dan Mini Market berdekatan. Dengan kata lain kedua tempat itu berseberangan.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin menuju Cafe. Sementara Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menuju Mini Market.
^^^
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin sudah berada di dalam Cafe. Sesampainya mereka di dalam, mereka langsung melihat dan memilih-milih beberapa menu makanan.
Ketika mereka sedang memilih-milih beberapa makanan, Gavin tak sengaja mendengar obrolan seorang pria di salah satu meja. Yang membuat Gavin terkejut ketika pria itu menyebut nama sahabat kelincinya.
Dengan rasa penuh penasaran, Gavin berlahan berjalan sedikit mendekat agar dia bisa mendengar pembicaraan pria itu dengan seseorang di telepon.
Gavin dudukdi sebuah kursi dengan memunggungi pria itu. Dengan begitu Gavin bisa dengan jelas mendengarkan apa yang dibicarakan oleh pria itu.
"...."
"Kamu yakin jika pemuda yang bernama Darel Wilson itu tidak melihat wajah kamu ketika kecelakaan itu?"
"...."
"Kamu jangan gegabah. Bisa saja ketika kamu menerima pekerjaan dari Nona Paula untuk membunuhnya. Bisa saja dia melihat kamu ada di sana."
"...."
"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan gegabah. Kamu tidak lupakan bagaimana Nona Paula dan keluarganya tewas. Dan kamu tahu siapa pelakunya?"
"...."
"Apa?! Dari mana kamu mengetahui bahwa pemuda itu Amnesia?"
"...."
__ADS_1
"Jadi ini alasan kamu melakukan hal ini?"
"...."
"Jadi Nona Paula itu sepupu kamu. Dan dia meminta kamu untuk melanjutkan rencananya dan keluarganya jika dia dan keluarganya gagal."
"...."
Gavin seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan terakhir dari pria tersebut yang mana pria tersebut mengatakan bahwa si penelpon tersebut adalah sepupu dari Paula, gadis yang menyukai Ghali kakak ketiga Darel.
Dan membuat Gavin lebih terkejut lagi adalah bahwa masih ada satu anggota keluarga Paula yang masih hidup dan sekarang mengincar sahabat kelincinya.
Gavin seketika berdiri dari duduknya bersamaan dengan tangannya mematikan ponselnya dan memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya.
Gavin melangkah menghampiri sahabat-sahabatnya. Setelah berada di dekat sahabatnya-sahabatnya, Gavin langsung meminta sahabat-sahabatnya itu untuk segera meninggalkan Cafe.
"Ayo, buruan!"
"Lo kenapa, Vin?" tanya Azri.
"Gue nggak apa-apa. Buruan bayar semua pesanan itu. Kita harus segera ke rumah sakit!"
Setelah mengatakan itu, Gavin langsung keluar meninggalkan sahabat-sahabatnya. Tujuan Gavin keluar meninggalkan sahabat-sahabatnya adalah untuk memberitahu sahabat-sahabatnya yang lain yang ada di Mini Market seberang jalan dan meminta sahabat-sahabatnya itu segera menyelesaikan urusannya.
***
"Kak Davian," panggil Raffa.
"Ada apa, hum?"
"Bukankah kakak ada pekerjaan di kantor? Jika tenaga kakak dibutuhkan disana. Kakak pergi saja. Biarkan kami yang menemani Darel," ucap Raffa.
"Iya, kak! Kakak pergi saja. Begitu juga dengan kalian kak. Masalah Darel menjadi tanggung jawab kami," sahut Vano dengan menatap kearah Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga bergantian.
"Ditambah lagi nanti semua sahabat-sahabatnya Darel akan datang. Pasti akan ramai yang menjaga Darel." Alvaro juga ikut bersuara.
"Dan untuk kalian juga!" seru Daffa dengan menatap wajah sepupu-sepupunya. "Jika kalian memiliki pekerjaan masing-masing di kantor. Pergilah!"
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga saling memberikan tatapan. Begitu juga para sepupunya. Setelah itu, mereka semua menatap kearah Darel yang saat ini tertidur lelap setelah makan siang dan minum obat.
"Baiklah!" seru Davian dan yang lainnya.
Sebelum pergi, mereka semua memberikan kecupan sayang di kening Darel secara bergantian.
__ADS_1
Setelah memberikan kecupan sayang di kening Darel, mereka pun pergi meninggalkan ruang rawat Darel. Kini tinggal Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Dylan, Rendra, Melvin dan Aldan.
Beberapa menit kepergian Davian, adik-adiknya dan sepupu-sepupunya, keempat belas sahabat-sahabatnya Darel pun datang dengan membawa beberapa menu makanan dan minuman.