
Davian, Arjuna, Nevan dan Ghali beserta para anggota mereka dan para anggota kelompok Darel berhasil mengalahkan para anggota dari kelompok LOS ZETAS.
Semua anggota dari kelompok LOS ZETAS mati dengan cara mengenaskan. Tidak ada satupun anggota dari kelompok LOS ZETAS selamat atau pun hidup. Begitu pula dengan dua kakak adik tersebut yang berstatus sebagai pemimpin.
Semuanya mati dan untuk markas mereka yang ada di kota Hamburg sudah hangus terbakar dan untuk markas besar mereka di kota Munich juga sudah hancur rata bersatu menjadi tanah.
Sementara anggota yang diutus oleh Davian untuk melindungi Kampus tempat adik-adiknya kuliah kini sudah kembali bergabung dengan Davian, Arjuna, Nevan dan Ghali. Mereka sudah melaporkan kepada mereka bahwa semua dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka.
Mendengar kabar tersebut sudah pasti membuat Davian, Nevan dan Ghali tersenyum bahagia. Mereka bahagia bahwa adik-adik mereka baik-baik saja, terutama sibungsu.
Darel dan sahabatnya beserta beberapa anggota dari BLACK SHARK dan BLACK EUGLE kini berada di ruang kesehatan.
Mereka membawa Darel ke ruangan kesehatan hanya untuk memastikan keadaan Darel. Walaupun Darel sudah menggunakan pelindung di tubuhnya, namun tetap saja membuat mereka khawatir.
Ketika Darel diperiksa dan benar saja. Ada sedikit lebam di bagian dada kanannya akibat peluru yang mengenainya.
Dari hasil pengamatan dari salah satu anggota dari BLACK EUGLE bahwa senjata dan juga peluru yang digunakan oleh Lian Jevera jenis senjata dan peluru yang cara kerjanya sangat cepat. Dengan satu kali tembakan bisa menembus tubuh seseorang walaupun orang tersebut sudah menggunakan pelindung seperti yang dialami oleh Darel.
Ketika mereka semua tengah menatap khawatir Darel, tiba-tiba pintu ruang kesehatan di buka paksa oleh seseorang.
Mereka yang ada di dalam terkejut ketika mendengar suara pintu yang di buka paksa.
"Darel."
Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan berlari menghampiri Darel yang sedang diperiksa dan diikuti oleh Arzan, Zayan dan Mikko di belakang. Sementara tangan kanan Darel yang lainnya tengah memeriksa sekelilingnya.
"Bos. Anda tidak apa-apa?" tanya Zayan yang melihat Darel yang diperiksa oleh Dokter.
Darel tersenyum kearah Zayan. "Aku Baik-baik saja Zayan. Kau tidak perlu khawatir. Kalian juga," jawab Darel.
"Kamu yakin?" tanya Evan yang saat ini benar-benar khawatir akan adiknya.
"Iya, kak. Aku baik-baik saja. Ini lihatlah. Cuma memar saja," jawab Darel sambil memperlihatkan memar yang ada di dada kanannya.
Seketika Raffa tak sengaja melihat kearah Kenzo dan Gavin. Raffa pun tersenyum bahagia.
"Kenzo, Gavin!" seru Raffa.
"Apa kabar kakak Raffa?" tanya Kenzo dan Gavin bersamaan.
Raffa makin tersenyum bahagia ketika mendengar sapaan dari kedua sahabat adiknya. "Kabar baik. Kakak senang kalian kembali. Dan kakak juga senang kalau kalian telah sembuh dari ingatannya."
"Hei, kakak Raffa! Diralat sedikit, boleh? Yang gila itu sitiang listrik ini bukan aku. Dan selama sitiang listrik ini gila. Aku kewalahan mengurusnya." Gavin berbicara seenaknya tanpa mempedulikan tatapan tajam dari Kenzo.
__ADS_1
"Dasar kurus sialan, bodoh. Gua nggak gila monyet. Hanya saja gua melupakan elu dan si kelinci bongsor ini." Kenzo menatap tajam Gavin.
"Kenapa bawa-bawa namaku tiang listrik sialan, psikopat kelas teri, jangkung sialan, dodol, gila, sinting, tengil, bau, kudisan...." Evan langsung membekap mulut adiknya agar berhenti mengeluarkan semua jurus umpatannya. Jika dibiarkan bisa memakan waktu sampai malam di Kampus.
Darel yang mendapatkan perlakuan buruk dari kakaknya membelalakkan kedua matanya. Lalu detik kemudian, Darel menekan tapak tangan Evan dan...
"Aakkhh!" Evan berteriak kesakitan ketika tangannya digigit oleh adiknya.
Mereka yang melihatnya langsung tertawa keras. Dan yang paling keras tertawa adalah Rendra.
"Hahahaha."
"Rel. Sejak kapan kau doyan memakan daging manusia, hah?!" tanya Kenzo sembari meledek Darel.
Darel menatap tajam kearah Kenzo. "Apa? Kau mau juga? Kebetulan aku sekarang ini benar-benar ingin memakan daging manusia," sungut Darel.
Mereka semua hanya tersenyum melihat wajah kesal Darel akan ulah Evan yang awalnya ulah Kenzo.
***
Ke esokkan harinya di kediaman keluarga Wilson terlihat seluruh anggota keluarga telah bangun dari tidurnya. Dan mereka semua pun sudah dalam keadaan rapi, termasuk Darel.
Kini mereka semua berada di ruang tengah. Setelah seharian kemarin Davian, Nevan, Ghali, Darel, Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan menghadapi para musuh-musuhnya.
Mereka semua menatap bahagia wajah tampan dan manis Darel yang tak lepas dari senyumannya. Mereka semua tahu apa penyebabnya.
"Cieee... yang lagi bahagia nih." Dirga menggoda adik sepupunya.
"Yang lagi bahagia karena kedua sahabatnya telah balik," ucap Naufal.
"Bagi-bagi dong kebahagiaannya." Farraz juga ikut menggoda adik sepupunya itu.
Darel yang mendengarkan ucapan serta godaan dari kakak-kakak sepupunya hanya bisa tersipu malu sambil tangannya mengeratkan pelukannya di pinggang ibunya.
Adelina yang melihat putra bungsu yang sedang malu saat ini mengecup pucuk kepala putranya itu sayang.
"Apa kamu bahagia, hum?" tanya Adelina.
"Sangat," jawab Darel. "Mereka kembali lagi padaku. Dan sekarang aku kembali memiliki tujuh sahabat. Bahkan ada tambahan dua orang lagi."
"Siapa sayang?" tanya Arvind.
"Sepupunya Kenzo dan Gavin," jawab Darel.
__ADS_1
"Kok bisa? Kamu bertemu dengan mereka dimana?" tanya Axel.
"Di Kampus. Mereka datang bersamaan dengan Gavin, Samuel, Lucas, Zelig, Razig dan Juan. Mereka lah yang membunuh Lian dengan tembakan ketika Lian berusaha untuk menembak Kenzo."
"Apa bajingan itu juga yang menembak kamu?" tanya Evan.
"Hm." Darel mengangguk.
"Oh iya! Kapan kamu memakai pelindung di tubuh kamu? Padahal yang kakak tahu kamu tidak memakai pelindung apapun ketika berangkat dari rumah," ucap dan tanya Davian penasaran.
"Aku memakai pelindung itu ketika di Kampus. Sekitar pukul 9 pagi. Sementara jam istirahat pertama pukul setengah sebelas." Darel menjawabnya.
"Siapa yang memberikannya pelindung itu padamu?" tanya Nevan.
"Kakak Arzan," jawab Darel.
"Arzan?" mereka kembali mengulangi perkataan Darel.
"Iya. Kakak Arzan menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di belakang Kampus. Setibanya aku di sana. Kakak Arzan langsung memberikan pelindung itu dan menyuruhku untuk memakainya di tubuhku. Kakak Arzan bilang kepadaku bahwa saat penyerangan itu terjadi, Lian akan datang secara diam-diam untuk membunuhku, Kenzo, dan Gavin."
"Rencana pertama Lian adalah untuk membunuh Kenzo dan Gavin. Setelah itu baru aku. Ketika aku dan Kenzo sedang bertarung, aku bisa melihat bahwa Kenzo saat itu berusaha untuk mengingat tentangku. Dan ketika Lian datang. Lian langsung mengarahkan senjatanya kearah Kenzo. Dan otomatis aku berlari dan menjadikan tubuhku tameng untuk Kenzo. Dan seketika itu Kenzo berhasil mengingatku."
"Awalnya Lian berpikir bahwa dia sudah berhasil melukaiku. Begitu juga dengan Kenzo. Bahkan aku berusaha menahan tawaku ketika mendengar rentetan ucapan dan juga ketakutan dari Kenzo. Bahkan Kenzo memelukku begitu kencang sangking takutnya kehilanganku. Ditambah lagi ketika datang Gavin dan yang lainnya. Bahkan Gavin bilang padaku agar aku tidak balas dendam kepada mereka."
"Balas dendam?" tanya Dhafin dan Deon bersamaan.
"Balas dendam yang dimaksud Darel itu adalah Darel pergi meninggalkan mereka selamanya. Pertama Kenzo dan Gavin yang pergi meninggalkan Darel akibat kecelakaan itu. Dan sekarang mereka telah kembali. Nah, kebalikannya! Mereka mengira kalau Darel benar-benar tertembak. Jadi mereka takut kalau Darel menyerah dan pergi meninggalkan mereka berdua. Berarti sama saja bohongkan? Mereka kembali justru Darel yang pergi." Nevan menjelaskan kepada Dhafin dan Deon maksud dari perkataan Darel.
"Oh, begitu!" seru Dhafin dan Deon bersamaan.
"Ma," panggil Darel.
"Ada apa, hum?"
"Aku mau undang semua sahabatku kesini, boleh?" tanya Darel.
Mendengar permintaan sederhana putra bungsunya. Adelina tersenyum bahagia dan tangannya mengacak-acak rambut putranya.
"Kalau Mama tidak mengizinkannya, bagaimana?" tanya Adelina sembari menjahili putranya itu.
"Aku akan nangis sepanjang malam dan mogok bicara dengan Mama," jawab Darel.
Mendengar nada ancaman dari putranya membuat Adelina membelalakkan kedua matanya. Dirinya tidak menyangka jika putranya langsung menyerangnya di titik kelemahannya.
__ADS_1
Sementara anggota keluarganya yang melihat wajah terkejut Adelina hanya tersenyum.