Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Menghindari Seorang Anak Kecil


__ADS_3

Darel mengendarai motor sportnya biru miliknya dengan kecepatan tinggi membelah jalan kota yang saat ini tampak sepi. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang.


Siang ini, Darel ingin pulang ke rumah lebih awal karena tubuhnya benar-benar lelah dan ingin segera istirahat.


Darel mengendarai motor sportnya dengan pikiran melayang ntah kemana sehingga tidak menyadari jika ada seorang anak kecil yang hendak menyebrang jalan di depannya.


[Kamu bukan putra kandung Arvind dan Adelina]


Ucapan seorang yang menghubunginya beberapa menit yang lalu ketika dirinya masih berada di kampus, lebih tepatnya ketika dia di toilet.


Seketika Darel menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan ingatan akan perkataan seseorang itu.


Darel kembali fokus mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedikit melebihi batas. Darel menajamkan tatapan matanya ketik tidak sengaja matanya melihat seorang anak kecil di depannya tengah melintas menyeberang jalan.


Tin..


Tin..


Darel membunyikan klaksonnya berharap anak kecil itu akan segera menyingkir dari jalanan.


Bukannya menyingkir, justru anak kecil itu malah terlihat seperti orang kebingungan.


Darel seketika menginjak rem motornya, namun seketika Darel terkejut karena rem motornya tidak berfungsi.


"Sial. Apa yang terjadi? Dari rumah hendak ke kampus. Rem motorku baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali. Kenapa sekarang malah tidak berfungsi?" batin Darel.


Dikarenakan Darel tidak ingin mengambil resiko lebih. Darel memilih untuk menabrakkan dirinya sendiri kearah tiang listrik di samping trotoar jalan.


Brak..


Motor sport Darel terpental ke tengah jalan. Sementara tubuh Darel terlempar beberapa meter dari motornya. Dan untungnya Darel tidak luka-luka parah. Hanya saja Darel mengalami luka di bagian lengannya yang tidak terlindungi oleh apapun. Lengan Darel mengalami luka goresan aspal.


"Sshhh.."


Darel bangkit secara berlahan. Kakinya melangkah dengan tangan kanannya menyentuh luka di pergelangan tangan kirinya. Tatapan matanya menatap tajam kearah anak kecil itu.


"Apa lo mau mati, hah?! Apa lo nggak dengar dari tadi gua bunyiin klason motor gue! Apa lo tuli?!" Darel berteriak marah.


Mendengar suara teriakan dan juga bentakan dari seseorang membuat anak kecil itu tersentak. Wajah polosnya tampak kebingungan.


"A-aku tadi....,"


"Kenapa lo nggak minggir ketika gue bunyiin klason motor gue?!" bentak Darel kembali.


Darel menatap marah anak kecil itu. Dirinya tidak peduli jika anak kecil akan menangis karena kata-katanya dan juga bentakannya. Saat ini Darel benar-benar marah.


Anak kecil itu menunduk ketakutan sembari memejamkan matanya. "A-aku buta, kak! A-aku... Aku nggak tahu kalau motonya kakak...."


"Tunggu!"


Darel kemudian maju mendekati anak kecil itu. Kemudian Darel menyentuh dagu anak kecil itu lalu mendongakkan keatas agar dia bisa melihatnya.


"Lo bohong kan?"

__ADS_1


Anak kecil itu langsung menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Aku buta sejak lahir."


Seketika tatapan mata Darel kini kembali normal. Tidak lagi tajam seperti tadi. Tatapan mata Darel seketika berubah lembut.


"Maafkan aku, kak!."


Mendengar perkataan dan ucapan maaf dari anak kecil itu membuat Darel merasa bersalah. Darel menarik nafas panjang. Dirinya seakan-akan kehabisan kata-kata untuk mengatakan sesuatu.


"Maafkan kakak. Kakak nggak tahu kalau kamu itu buta. Dan maafkan kata-kata barusan."


"Aku juga minta maaf sama kakak."


Anak kecil itu menghapus air matanya yang mengalir membasahi wajahnya dengan punggung tangannya.


"Aku juga salah. Kakak nggak apa-apa. Apa kakak terluka?"


"Tidak. Kakak tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir. Sebenarnya kamu mau kemana? Biar kakak antar!"


"Tidak usah kak. Aku bisa sendiri."


Kemudian anak kecil itu meraba-raba jalan menggunakan tongkat lipat miliknya yang dia genggam di tangan kirinya.


"Aku pergi dulu, kak! Permisi."


Darel mengangguk-anggukkan kepalanya sembari berkata, "Hati-hati


Darel memilih duduk di trotoar. Setelah itu, Darel mengambil ponselnya yang disimpan di dalam tasnya.


"Hallo, kak Arzan!"


"Hallo, Rel!"


"Kakak bisa jemput aku nggak?"


"Dimana?"


"Nanti aku kirim lokasinya."


"Baiklah."


Setelah selesai berbicara dengan Arzan. Darel pun langsung mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini kepada Arzan.


***


Di kediaman Wilson semua anggota keluarga sudah berkumpul termasuk Evan dan Raffa. Hanya satu orang yang belum kembali. Orang itu adalah Darel Wilson.


"Kenapa Darel belum pulang juga?" tanya Adelina.


"Evan, Raffa! Kalian kan satu kampus dengan Darel. Kalian saja sudah pulang. Kenapa adik kalian belum pulang juga?" tanya Adelina kepada Evan dan Raffa.


Adelina benar-benar mengkhawatirkan putra bungsunya itu. Terlihat jelas dari wajahnya dan tatapan matanya.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Darel yang belum pulang. Sedangkan kedua kakak dan keempat kakak sepupunya sudah pulang, tiba-tiba terdengar klason mobil diluar.

__ADS_1


Mendengar suara klason mobil diluar membuat Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa seketika berdiri dari duduknya dan melangkah kearah jendela yang berada di ruang tengah.


Ketika mereka mengintip di balik jendela, seketika mata mereka masing-masing membelalakkan sempurna ketika melihat adik kesayangannya digendong oleh Arzan.


Dan detik kemudian..


"Darel!" teriak Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa sembari berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Melihat keenam adik-adiknya berlari menuju ruang tamu. Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga bangkit dari duduknya dan ikut berlari menuju ruang tamu. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson lainnya.


"Darel!"


Semuanya berteriak ketika melihat Darel yang digendong oleh Arzan dalam keadaan tidur. Di tambah lagi wajahnya yang sedikit pucat.


"Astaga! Ini... Ini pergelangan kiri Darel terluka!" seru Salma yang melihat kearah pergelangan tangan Darel.


Mereka semua melihat kearah luka tersebut. Dan mereka meyakini bahwa Darel habis kecelakaan motor.


"Ayo, nak Arzan! Langsung bawa Darel ke kamarnya di lantai dua!" ucap Arvind.


"Baik, Tuan."


Arzan pun melangkahkan kakinya memasuki kediaman Wilson untuk membawa Darel ke kamarnya. Dan diikuti oleh para anggota keluarga Wilson di belakang. Mereka semua terlihat khawatir akan kondisi Darel.


^^^


Kini Darel sudah berada di atas tempat tidurnya. Semuanya menatap khawatir Darel. Adelina duduk di pinggir tempat tidur putra bungsunya sembari tangannya mengusap lembut pucuk kepala putranya itu. Tak lupa Adelina memberikan kecupan sayang di kening putih putranya itu.


Arvind melihat kearah Arzan. Dirinya ingin mengetahui apa yang sudah terjadi terhadap putra bungsunya itu.


"Nak Arzan," panggil Arvind.


Arzan langsung melihat kearah Arvind. "Iya, tuan!"


"Apa yang terjadi kepada putraku? Kenapa dia pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Arvind.


"Secara kronologisnya saya tidak tahu tuan. Saya bisa bersama dengan Bos, itu dikarenakan Bos yang menghubungi saya dan meminta saya untuk menjemputnya. Ketika saya tiba di lokasi. Bos dalam keadaan tak baik-baik saja, walau Bos masih mampu duduk di pinggir trotoar sambil menunggu kedatangan saya. Dan saya juga melihat keadaan motor milik Bos rusak parah, terutama bagian kepalanya."


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar Arzan yang mengatakan bahwa motor milik Darel rusak parah. Semuanya menatap kearah Darel yang saat ini masih memejamkan matanya.


"Apa yang terjadi padamu, nak?" batin Arvind menangis.


"Tuhan! Masalah apalagi yang menimpa putra bungsuku," batin Arvind.


"Kalau begitu saya permisi tuan!"


"Ach, iya Arzan. Hati-hati di jalan."


"Baik tuan!"


Setelah itu, Arzan pun pergi meninggalkan kediaman Wilson untuk kembali ke markas Black Sharks.

__ADS_1


__ADS_2