Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ancaman Evan


__ADS_3

Setelah mengetahui dalang dibalik penyerangan Elvan, Andre dan Arga dari Darel. Kini Arvind bersama dengan putra sulungnya dan kedua adik laki-lakinya serta adik iparnya tengah mempersiapkan pembalasan terhadap orang-orang itu.


Arvind memberikan perintah kepada ketiga adik-adiknya itu untuk menghancurkan perusahaan milik keluarga Santino dan perusahaan keluarga Alvarez dengan cara mensabotase data-data perusahaan dan merusak sistem keamanan di perusahaan tersebut.


Sementara untuk Arvind dan Davian akan menculik dua anggota keluarga dari dua keluarga tersebut. Jika Arvind akan menculik dua anggota keluarga dari keluarga Santino, sedangkan untuk Davian akan menculik dua anggota keluarga dari keluarga Alvarez.


Alasan Davian dan Arvind melakukan itu adalah untuk menjadi tekanan dua keluarga tersebut jika menuju endingnya. Dengan menculik dua anggota keluarga yang berharga di keluarga Santino dan keluarga Alvarez. Arvind, Davian serta anggota keluarga Wilson bisa sedikit santai dalam mengikuti permainan dari dua keluarga itu.


Bagaimana dengan Ghali? Ghali akan bermain cantik dengan Paula dengan membuat perusahaan pribadi milik Paula dan perusahaan milik keluarganya, baik keluarga dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya ada di dalam genggamannya. Dengan kata lain, Ghali memindahkan semua kepemilikan perusahaan-perusahaan tersebut menjadi miliknya. Hal tersebut sama sekali tidak diketahui oleh Paula karena Paula terlalu fokus untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari Ghali.


Semua itu akan Ghali bongkar ketika Paula menunjukkan sifat aslinya di hadapannya dan di hadapan semua anggota keluarganya.


"Bagaimana? Kalian siap untuk memulai pembalasan ini?" tanya Arvind kepada putra sulungnya dan ketiga adiknya.


"Sudah siap sejak kemarin, kak!" Sandy, William dan Daksa menjawab bersamaan.


"Aku juga sudah siap sejak Darel memberitahu dalang yang sudah menyerang Elvan, Andre dan Arga!" Davian menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Baiklah. Sekarang kita berangkat!" seru Arvind.


"Hm!" Davian, Sandy, William dan Daksa berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kediaman utama Wilson untuk menuju lokasi mereka masing-masing.


***


Darel sudah berada di kampus. Dia datang bersama kedua kakaknya yaitu Evan dan Raffa.


Sesampainya di kampus, baik Darel maupun kedua kakaknya itu langsung menuju kelasnya masing-masing.


Ketika Darel melangkahkan kakinya menuju kelasnya, tiba-tiba dirinya dihadang beberapa orang dan salah satunya adalah seorang wanita paruh baya yang mana wanita itu adalah ibu dari salah satu teman kampusnya.


Wanita itu datang ke kampus dengan membawa sekitar 10 anak buahnya menemui rektor dan dekan. Tujuan kedatangannya adalah untuk meminta pertanggung jawaban dari pihak kampus atas anaknya yang difitnah oleh salah satu mahasiswa sehingga membuat anaknya mendekam di jeruji besi.


Namun sayangnya, pihak kampus tidak mengabulkan keinginannya untuk memberikan hukuman kepada mahasiswa yang sudah memenjarakan putranya dan meminta pihak kampus untuk membebaskan putranya dari penjara.


Baik Rektor, wakil rektor, Dekan, wakil Dekan dan semua profesor-profesor maupun Dosen-dosen sudah mengetahui permasalahan tersebut karena Darel dan semua anggotanya sudah menunjukkan sebuah bukti yang mana bukti itu terlihat bahwa mahasiswanya itu telah mencuri uang untuk keperluan semua jenis kegiatan yang ada di kampus.


"Siapa anda dan kenapa menghalangi jalan saya?" tanya Darel dengan lembut dan sopan.


Mendengar pertanyaan dari pemuda di hadapannya itu membuat wanita marah dan menatap tajam kearah Darel.


"Jadi kamu yang sudah memasukkan putra saya ke penjara, hah?!" bentak wanita itu di hadapan Darel.


Mendengar perkataan dari wanita paruh baya di hadapannya itu membuat Darel seketika mengerti.


"Jadi wanita ini ibu dari si pencuri itu ternyata," batin Darel.

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


Mendengar jawaban yang seenaknya dari pemuda di hadapannya itu membuat wanita itu menatap marah dengan kedua tangannya mengepal kuat.


"Bebaskan putraku dari penjara! Apa hakmu memenjarakan putraku?!"


"Apa saya tidak salah dengar? Anda meminta saya untuk membebaskan putra anda itu dari penjara? Yang benar saja. Kalau saya bebaskan putra anda dari penjara, lalu bagaimana dengan semua uang yang sudah dicuri oleh putra anda itu?" tanya Darel dengan menatap nyalang wanita tersebut.


Seketika wanita itu terkejut ketika mendengar ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya. Pemuda itu mengatakan bahwa putranya sudah mencuri uangnya.


"Jangan mengarang cerita kamu. Tidak mungkin putraku mencuri uang kamu. Aku dan suamiku selalu memberikan uang lebih kepada putraku!" bentak wanita itu.


"Hahahaha. Jika anda dan suami anda selalu memberikan uang lebih kepada putra anda, kenapa putra anda berani mencuri uang milik saya dan milik organisasi kampus ini?" tanya Darel yang tak kalah menatap tajam wanita tersebut.


Ketika wanita itu hendak membalas perkataan Darel, namun Darel sudah terlebih dulu bersuara.


"Jika saya perlihatkan bukti tentang pencurian yang dilakukan oleh putra anda itu. Apa yang akan saya dapatkan sebagai jaminannya?" tanya Darel dengan tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap remeh wanita itu.


Mendapatkan pertanyaan yang tak menyenangkan dari pemuda di hadapannya membuat wanita itu marah. Kemudian wanita itu melayangkan tangannya hendak menampar Darel.


Namun seketika seseorang langsung menahan tangannya ketika tangannya itu hendak menampar wajah Darel.


Sreekk..


"Aakkhh!" wanita itu meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Kakak Evan," ucap Darel.


Evan bisa datang menghampiri dan menahan tangan wanita itu karena Evan langsung berbalik untuk menemui adik bungsunya. Evan lupa memberikan tablet yang dia pinjam dari adiknya itu. Dan Evan tahu bahwa hari ini adiknya butuh tablet tersebut.


Evan kemudian menghempaskan kuat tangan wanita itu hingga wanita itu kembali merasakan kesakitan di pergelangan tangannya.


"Dia tidak nyakitin kamu kan?" tanya Evan.


"Tidak kak," jawab Darel.


Setelah mendapatkan jawaban dari adiknya, Evan kembali menatap wajah wanita itu dengan tatapan amarahnya.


"Siapa anda? Berani sekali anda ingin menampar adik saya! Orang tua saya saja belum pernah sekali pun menampar adik saya!" bentak Evan.


"Oh, jadi kau kakaknya?!"


"Iya, kenapa?"


"Bagus kalau begitu. Sekarang bilang sama adik kamu ini untuk membebaskan putra saya dari dalam penjara."


Mendengar ucapan dari wanita tersebut, Evan langsung melihat kearah Darel. Dia ingin meminta penjelasan dari ucapan wanita tersebut.

__ADS_1


"Rel!"


"Dia ibu dari Bisma, anggota tim organisasi dibawah pimpinan Devon."


Evan langsung mengerti setelah mendengar jawaban dari adiknya. Kemudian Evan menatap kembali wajah wanita itu.


"Anda lucu sekali, nyonya! Jelas-jelas putra anda bersalah, tapi anda dengan lancangnya mendatangi kampus lalu marah-marah kepada pihak kampus untuk meminta kebebasan untuk putra anda. Wah! Anda benar-benar menjijikan!"


Mendengar ucapan dari Evan membuat wanita itu menatap penuh amarah. Dia tidak terima putranya di penjara dan dirinya dihina.


Wanita itu melihat kearah anak buahnya, lalu memberikan perintah kepada anak buahnya itu menyerang Evan dan Darel.


"Kalian! Hajar mereka hingga babak belur!"


Setelah itu, kesepuluh anak buahnya itu langsung menyerang Darel dan Evan. Sementara wanita itu tersenyum ketika melihat Evan dan Darel dikeroyok oleh anak buahnya.


Bagh.. Bugh..


Duagh..


Bugh.. Duagh..


Evan dan Darel memberikan pukulan dan tendangan yang tak main-main ke dada, perut dan wajah anak buah wanita itu sehingga membuat anak buah wanita itu berteriak kesakitan. Tiga dari sepuluh anak buahnya jatuh terkapar di tanah dengan memuntahkan cairan segar dari mulutnya.


Evan dan Darel makin brutal memberikan tendangan dan pukulan kearah anak buah wanita itu yang tersisa. Jika Evan melawan empat sekaligus, maka Darel melawan tiga orang.


Bagh.. Duagh


Dengan tiga kali pukulan dan satu tendangan kuat di perutnya membuat ketujuh anak buah dari wanita itu tersungkur dengan punggung dan perut menghantam tanah dengan keras.


Evan dan Darel menatap dengan tersenyum di sudut bibirnya. Setelah itu tatapan matanya menatap kearah wanita tersebut yang mana wanita itu menatap syok kesepuluh anak buahnya yang terkapar tak berdaya di tanah.


"Lebih baik anda pergi dari sini sebelum saya menghabisi nyawa anda. Jangan ada pikir saya tidak berani untuk membunuh anda. Saya akan benar-benar melakukannya," ucap Evan.


Mendengar ucapan serta ancaman dari Evan membuat wanita itu seketika terkejut dan juga ketakutan. Wanita itu menatap kearah dua pemuda yang juga tengah menatap dirinya dengan tatapan tajam.


Dan pada akhirnya, wanita itu pun pergi meninggalkan kampus untuk. Dirinya tidak mati di tangan salah satu pemuda tersebut.


"Kakak Evan kenapa kembali lagi?"


"Kakak ingin mengembalikan tablet kamu. Kakak ingat bahwa kamu hari ini butuh tablet kamu itu." Evan berucap sambil mengeluarkan tablet milik adiknya itu dari dalam tasnya.


Setelah itu, Evan memberikan tablet tersebut kepada adiknya itu.


"Ini."


"Ya, sudah! Lebih baik kamu ke kelas sekarang."

__ADS_1


"Baiklah."


Setelah itu, Darel pun melangkahkan kakinya meninggalkan kakaknya untuk menuju kelasnya. Sementara Evan masih melihat adiknya. Dia ingin memastikan adiknya itu selamat sampai ke kelasnya.


__ADS_2