
Di Kampus dimana Kenzo, Gavin dan sahabat-sahabatnya kini berada di lapangan. Pikiran mereka tertuju kepada Darel dan juga perkataannya. Kenzo dan Gavin benar-benar bingung saat ini.
FLASHBACK ON
"Rel," ucap Kenzo lembut sembari menyentuh bahu Darel.
Darel menatap wajah Kenzo dengan air matanya yang masih mengalir. "Hiks... Zo. Mereka masih hidup. Kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel masih hidup. Mereka koma selama dua bulan di rumah sakit Amerika... Hiks," isak Darel.
"Kamu yakin, Rel? tanya Gavin.
Baik Kenzo maupun Gavin sangat bahagia ketika mendengar perkataan Darel yang mengatakan bahwa kelima sahabatnya itu masih hidup.
Darel mengalihkan perhatiannya untuk melihat wajah Gavin. "Apa selama aku bersahabat denganmu aku pernah membohongimu, membohongi kalian berdua dan yang lainnya?" tanya Darel.
Gavin hanya diam ketika Darel balik memberikan pertanyaan kepadanya. Begitu juga Kenzo. Selama 12 tahun mereka bersahabat, Darel tidak pernah membohongi mereka. Darel selalu berbicara apa adanya tanpa ditambah-tambah maupun dikurang-kurangi.
FLASHBACK OFF
"Kenzo," panggil Gavin.
"Iya, Vin!"
"Apa yang harus kita lakukan? Aku benar-benar nggak tega liat Darel kayak tadi. Kamu tahu kan Zo bagaimana sifat Darel? Darel paling sayang banget sama kita. Bahkan sama kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel."
"Ketika kita kecelakaan gara-gara Lian Jevera bajingan itu. Kita harus dipisahkan dengan sahabat-sahabat kita. Dan yang paling terpukul disini adalah Darel. Darel kehilangan kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel untuk selamanya dan berpisah dengan kita berdua. Darel melewati hari-harinya tanpa kita. Dan sekarang, setelah kita melewati semua termasuk Darel. Justru sebuah fakta terungkap. Dan fakta tersebut membuat Darel kembali terluka dan tersakiti. Darel itu paling tidak suka dibohongi. Selama ini Darel berusaha untuk berkata jujur kepada kita maupun kepada anggota keluarganya."
Mendengar ucapan dari Gavin membuat Kenzo terdiam. Di dalam hatinya, Kenzo membenarkan apa yang diucapkan oleh Gavin.
"Kita ke rumah Darel!" seru Kenzo.
"Kamu yakin kalau Darel pulang?" tanya Gavin.
"Aku yakin. Bukankah Darel sendiri yang bilang kalau dia akan pulang," jawab Kenzo.
"Bagaimana jika kali ini Darel berbohong? Siapa tahu Darel tidak benar-benar pulang?" tanya Gavin.
"Kalau memang Darel tidak pulang. Lalu Darel pergi kemana?" tanya Kenzo.
"Vin, Zo! Kalian tenanglah. Kita berdoa saja semoga Darel baik-baik saja," ucap Charlie.
"Aku akan coba menghubungi Darel!"
Juan mengambil ponselnya, lalu menekan nama nomor Darel di layar ponselnya. Setelah itu, Juan meredialnya.
Beberapa detik kemudian...
"Ponselnya Darel tidak aktif," sahut Juan.
"Kalau begitu kita bolos saja hari ini. Kita cari Darel," usul Samuel.
"Hm." semuanya mengangguk setuju.
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan kelas untuk pergi mencari Darel.
^^^
Evan dan Raffa dan keempat sepupunya kini tengah melangkahkan kakinya menyusuri koridor Kampus untuk menuju Kantin. Tapi sebelum mereka ke Kantin. Evan dan Raffa ingin menemui adik kesayangan mereka di kelas. Sekalian mereka ingin mengajak adiknya dan juga sahabat-sahabat adiknya untuk makan bersama.
Ketika Evan dan Raffa dan keempat sepupunya melangkah menuju kelas Darel, tiba-tiba Aldan melihat para sahabatnya Darel pergi dengan membawa tas menuju parkiran.
__ADS_1
"Hei, lihatlah disana! Bukannya itu sahabat-sahabatnya Darel!" seru Aldan sembari menunjuk kearah sahabat-sahabatnya Darel.
Evan, Raffa, Dylan, Rendra dan Melvin langsung melihat kearah tunjuk Aldan. Mereka melihat bahwa sahabat-sahabatnya Darel berniat untuk membolos.
"Tapi Darel tidak bersama mereka," sahut Raffa.
"Eh, iya! Darel tidak bersama mereka," ucap Rendra dan Melvin bersamaan.
"Kita kesana!" seru Evan.
Evan langsung pergi dan diikuti oleh Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Mereka semua menghampiri sahabat-sahabatnya Darel.
"Kenzo, Gavin." Evan memanggil kedua sahabat adiknya.
Mendengar panggilan dari salah satu kakaknya Darel. Seketika mereka semua terkejut. Mereka benar-benar bingung dan juga takut.
"Kalian mau kemana bawa-bawa tas segala?" tanya Raffa.
"Kalian berniat membolos ya?" tanya Melvin.
"Darel mana? Kenapa Darel gak bersama kalian?" tanya Evan.
Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon saling memberikan tatapan. Mereka saling memberikan kode untuk menjelaskan kepada kakak-kakaknya Darel.
"Yak! Malah diem nih bocah. Mana Darel? Kenapa Darel tidak bersama kalian?" tanya Evan lagi.
"Kalian berantem?" tanya Rendra.
Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon langsung menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa?" tanya Raffa.
"Darel nya mana?"tanya Dylan.
Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon menundukkan kepalanya.
Melihat Kenzo, Gavin dan yang lainnya yang menundukkan kepalanya membuat Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan menjadi tidak tega.
"Hei, jangan seperti itu. Kita nggak marah kok. Kita hanya nanya. Darel mana?" Evan berbicara lembut kepada Kenzo dan yang lainnya.
"Pasti ada sesuatu dengan kalian. Kalian tidak pernah seperti ini apalagi Darel," ucap Raffa.
"Katakan pada kami," sela Aldan.
Kenzo menatap wajah kedua kakaknya Darel. "Kak Evan, kak Raffa. Boleh aku bertanya sesuatu kepada kalian berdua. Dan aku mohon kalian mau menjawabnya dengan jujur."
"Kalian mau nanya apa?" tanya Raffa.
"Janji dulu, kak!"
"Baiklah. Aku dan Evan akan menjawab pertanyaan kalian dengan jujur."
"Kak Evan, kak Raffa. Kalian pasti ada di rumah sakit saat kecelakaan yang menimpa kami beberapa bulan yang lalu. Dan kalian juga pasti sudah tahu mengenai kelima sahabat kami yaitu kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel?" tanya Gavin.
"Apa benar mereka sudah meninggal?" tanya Kenzo.
DEG!
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Gavin dan Kenzo membuat Evan dan Raffa terkejut. Begitu juga dengan keempat sepupunya.
__ADS_1
Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon yang melihat keterdiaman Evan dan Raffa akhirnya mengerti. Ternyata benar apa yang dikatakan Darel mengenai kelima sahabat/kakaknya masih hidup.
"Kami sudah bisa menebaknya bahwa kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel masih hidup!" seru Kenzo.
"Dan mereka saat ini berada di rumah sakit Amerika dalam keadaan koma. Benar begitu kak Evan, kak Raffa?!" Gavin menatap wajah Evan dan Raffa.
"Jawab kak!" itu Samuel yang bertanya.
"Iya. Mereka masih hidup dan memang benar. Mereka koma dan dirawat di rumah sakit Amerika," jawab Evan.
Pecah sudah tangis mereka ketika mendengar jawaban dari Evan. Mereka tidak menyangka jika orang-orang terdekat mereka membohongi mereka semua.
Baik Kenzo, Gavin maupun Samuel, Juan, Razig, Lucas dan Zelig. Mereka sama-sama merasakan kekecewaan atas sikap keluarganya.
Evan, Raffa, Melvin, Dylan, Rendra dan Aldan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig dan Lucas. Bagaimana pun mereka adalah sahabat dan juga adik sepupu dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.
"Kakak harap Darel jangan tahu dulu. Kami punya alasan merahasiakan ini semua darinya," sahut Raffa.
"Sudah terlambat," jawab Zelig.
"Apa maksudmu, Zelig?" tanya Evan.
"Justru orang pertama kali mengetahui masalah ini adalah Darel," jawab Zelig.
"Kami semua tahu dari Darel. Darel marah besar kepadaku, Juan, Razig, Lucas dan Zelig. Bahkan Darel menyebut kami pembohong." Samuel berbicara dengan nada sendunya.
"A-apa? Jadi Darel sudah tahu masalah ini?" tanya Raffa.
"Iya," jawab Gavin.
"Tapi siapa yang memberitahu Darel?" tanya Dylan.
"Kita semuanya tidak tahu. Tapi sebelum Darel pergi meninggalkan kita. Darel bilang pada kami. Jika kami tidak percaya padanya. Darel meminta kami untuk bertanya langsung kepada ayah kami," ucap Kenzo.
"Terus kalian mau kemana?" tanya Melvin.
"Kami mau mencari Darel. Darel sempat bilang pada kami kalau dia akan pulang. Tapi kami tidak percaya jika Darel benar-benar pulang. Secara Darel saat ini benar-benar kecewa dengan keluarganya. Jadi kami yakin jika Darel pergi ke suatu tempat." Kenzo berbicara sembari menatap wajah Evan dan Raffa.
"Ya, sudah kak! Kalau begitu kami pergi dulu. Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah markas RED BULL," sahut Kenzo.
"Semoga Darel ada disana," ucap Gavin.
Setelah mengatakan hal itu. Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon pun pergi meninggalkan Kampus.
"Aku akan hubungi Darel!" seru Evan.
Evan mengambil ponselnya, lalu menekan nomor kontak adiknya. Setelah itu meredialnya. Selang beberapa detik terdengar nada dari sang operator.
"Aish. Ponsel Darel tidak aktif," kesal Evan.
"Apa Darel sengaja mematikan teleponnya? Dengan Darel mematikan teleponnya kita tidak akan bisa menghubunginya dan tidak bisa melacaknya," ucap Evan.
"Bisa jadi," jawab Aldan.
"Lalu kita harus bagaimana? Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darel, Van!"
"Kita berdoa saja semoga Darel baik-baik saja."
"Lebih baik kita pulang saja," usul Melvin.
__ADS_1
"Itu lebih baik," jawab Evan, Raffa, Aldan, Rendra dan Dylan.
Setelah itu, mereka kembali ke kelas untuk mengambil tas mereka. Mereka memutuskan untuk pulang.