Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Menolong Sang Bibi Dan Adik Sepupu


__ADS_3

Ghali saat ini bersama dengan Paula di sebuah Cafe. Keduanya ada disana karena sedang membicarakan tentang proyek yang sedang mereka kerjakan. Baik Ghali maupun Paula sama-sama menjelaskan tentang kondisi dan perkembangan proyek tersebut.


Setelah dua jam Ghali dan Paula membahas masalah proyek yang mereka kerjakan. Kini Ghali dan Paula tengah menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


Paula sesekali menatap wajah tampan Ghali. Dia benar-benar menyukai Ghali dan menjadikan Ghali miliknya seutuhnya tanpa ada orang lain memilikinya, termasuk keluarganya.


Ghali yang sadar akan ditatap oleh Paula berpura-pura tidak mengetahuinya. Dirinya hanya membiarkan saja Paula menatap dirinya. Dia tidak peduli akan hal itu. Jika dia meladeni wanita di hadapannya itu, maka wanita tersebut akan menjadi-jadi dan banyak permintaan ini itu.


Beberapa detik kemudian..


"Aku sudah selesai!" seru Ghali bersamaan tatapan matanya menatap kearah jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. "Dikarenakan urusan kita hari sudah selesai, maka aku putuskan untuk pamit ingin segera ke kantor!"


Setelah mengatakan itu, Ghali langsung berdiri dari duduknya, namun seketika Paula memberanikan dirinya memegang tangan Ghali.


Seketika Ghali membelalakkan matanya ketika Paula yang berani memegang tangannya. Tatapan matanya langsung melihat wajah Paula begitu juga dengan Paula.


"Aku mohon, tetaplah disini." Paula berucap dengan memperlihatkan wajah sedih dan wajah memohonnya.


Ghali menatap kearah tangannya yang dipegang oleh Paula. Setelah itu, Ghali melihat wajah Paula yang masih menatap wajahnya.


"Lepaskan tanganku. Aku harus segera pergi. Ingat batasanmu, nona Paula!"


Ghali menarik tangannya dari pegangan tangan Paula. Setelah itu, Ghali pergi meninggalkan Paula sendirian di Cafe tersebut.


"Sialan. Berani sekali dia menolakku. Tak apa. Hari ini anggap saja pemanasan. Lain kali aku pastikan kau akan bertekuk lutut di hadapanku," batin Paula dengan menatap kepergian Ghali.


***


Darel saat ini dalam perjalanan pulang ke rumah. Dirinya menggunakan motor sport mewahnya. Motor sport tersebut hadiah dari kakak tertuanya yaitu Davian.


Darel mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedang. Dengan tatapan matanya fokus ke depan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan.


Ketika Darel mengendarai motor sportnya, tatapan matanya tak sengaja melihat sosok wanita yang dia yakini adalah sang Bibi.


Seketika Darel membelalakkan matanya bersamaan dengan tangannya merem mendadak. Setelah itu, Darel melepaskan helm nya.


Darel turun dari motornya, lalu berlari menghampiri sosok wanita yang dia kenali sebagai bibinya.


^^^


"Lepaskan! Siapa kalian. Jangan ganggu saya dan putri saya!" teriak wanita itu.


"Jangan melawan. Serahkan semua harta anda kepada kami!" bentak salah satu laki-laki berpakaian hitam dengan mengarahkan pisau kearah wanita tersebut dan anak perempuannya.


"Pergi kalian!" bentak wanita itu sembari memeluk tubuh putrinya.


"Mami, aku takut."


"Tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja," ucap wanita itu sembari menenangkan putrinya yang ada di pelukannya.

__ADS_1


"Tuhan, tolong lindungi kami." wanita itu berdoa di dalam hatinya.


"Hei, wanita sialan! Kau dengar kami tidak, hah?!" bentak laki-laki kedua.


"Jika ingin selamat. Serahkan semua harta milik anda!" bentak laki-laki ketiga.


"Jika anda bersikeras untuk mempertahankan milik anda. Jangan salahkan kami jika kami melukai anda atau anak anda!" bentak laki-laki keempat.


"Tidak akan. Apapun yang terjadi aku tidak akan memberikan apapun kepada kalian," jawab wanita itu dengan menatap tajam kearah keempat laki-laki berpakaian hitam di hadapannya.


Mendengar jawaban sekaligus perlawanan dari wanita di hadapannya membuat keempat pria itu menatap marah kearah wanita tersebut sembari salah satunya makin mengarahkan pisau ke hadapan wanita tersebut.


Melihat salah satu pria tersebut mengarahkan pisau kepadanya membuat wanita itu memejamkan matanya sembari mengeratkan pelukannya pada anak perempuannya.


Ketika salah satunya hendak menyentuh wanita tersebut, seseorang datang dan langsung memberikan tendangan kuat kearah orang tersebut.


Duagh..


"Aakkhhh!" teriak pria itu dengan tubuhnya tersungkur ke samping.


"Menjauhlah dari mereka!" seru seseorang yang datang memberikan tendangan kepada salah satu temannya.


Ketiga pria itu melihat kearah seorang pemuda yang tatapan matanya menatap tajam kearah mereka.


"Siapa kau?! Kenapa kau mengganggu pekerjaan kami?!" bentak pria pertama.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang aku mau kalian pergi dari sini dan tinggalkan wanita itu dan anak perempuannya!" bentak pemuda itu.


Sementara wanita yang saat ini ketakutan sembari memeluk tubuh putrinya berlahan melihat kearah pemuda tersebut. Dirinya sangat mengenal suara itu. Dia meyakini bahwa suara itu adalah suara milik keponakan manisnya.


Ketika tatapan matanya melihat dengan jelas kearah pemuda itu, seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Darel," ucap wanita itu pelan.


Yah! Pemuda yang datang mengganggu keempat laki-laki itu adalah Darel Wilson.


Mendengar ibunya menyebut nama kakak sepupu kesayangannya, seketika dia mengangkat kepalanya dan melihat kearah pemuda itu.


"Kakak Darel," ucap gadis itu.


"Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak Darel.


"Hahahaha." keempat laki-laki itu tertawa keras. "Enak saja kau menyuruh kami pergi dari sini!" bentak laki-laki ketiga.


"Seharusnya kau yang pergi dari sini!" bentak laki-laki kedua.


"Jika aku tidak mau bagaimana?" tanya Darel dengan wajah menantangnya.


Mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan dari pemuda yang ada di hadapannya itu membuat keempat laki-laki tersebut marah.

__ADS_1


Keempat laki-laki itu saling memberikan tatapan matanya, keempatnya tersenyum. Kemudian keempat langsung menyerang Darel secara bersamaan.


"Serang!"


Dan pada akhirnya terjadilah pertarungan tak seimbang antara Darel melawan keempat laki-laki yang bisa dibilang memiliki tubuh besar.


Bagh.. Bugh..


Duagh


Darel memberikan pukulan dan tendangan kuat kepada wajah, punggung, pinggang dan perut keempat laki-laki itu secara bergantian sehingga membuat keempat laki-laki itu tersungkur di aspal.


Brukk..


Brukk..


Darel tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat keempat laki-laki itu tersungkur di aspal sembari merintih kesakitan dengan tangan memegang anggota tubuh yang kesakitan.


"Bagaimana? Apa masih bisa melawanku?" tanya Darel dengan nada mengejeknya. "Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum aku hubungi polisi."


Mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Darel membuat keempat laki-laki itu seketika ketakutan. Berlahan mereka berdiri, walau merasakan kesakitan di tubuhnya.


Ketika keempat laki-laki itu berdiri, mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Darel dan dia korbannya.


Setelah dipastikan keempat laki-laki itu pergi, Darel langsung melihat kearah dimana Bibi dan adik sepupunya berada.


Darel menghampiri keduanya yang mana keduanya tengah menatap dirinya dengan senyuman.


"Darel!"


"Kakak Darel!"


Darel seketika tersenyum ketika mendapatkan sapaan dari kedua wanita cantik di hadapannya itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Darel.


"Kami baik-baik saja, Rel!"


"Yakin?"


"Iya, sayang!"


"Iya, kakak Darel!"


Darel menatap lekat wajah Bibinya. Dirinya menatap penuh pertanyaan dan penasaran akan bibinya dan adik sepupunya itu.


Melihat tatapan penuh pertanyaan sekaligus penasaran yang diberikan oleh keponakannya itu, seketika wanita tersebut tersenyum.


"Bibi akan ceritakan semuanya asal kamu ikut dengan bibi pulang ke rumah Bibi! Bagaimana?"

__ADS_1


"Baiklah."


Setelah itu, Darel bersama bibi dan adik sepupunya langsung pergi meninggalkan lokasi tersebut.


__ADS_2