Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Kemarahan Arvind dan Adik-adiknya


__ADS_3

Arvind menatap wajah putra bungsunya.


"Katakan pada Papa. Siapa yang sudah membunuh Kakek? Apa yang terjadi sesuatu saat Papa menyuruhmu dan juga Kakekmu untuk melompat keluar dari dalam mobil?" tanya Arvind penuh penekanan.


"Di-dia... di-dia yang sudah membunuh Kakek... Hiks! Dia membunuh Kakek dengan cara menginjak lehernya Kakek... Hiks." Darel menjawab dengan suara bergetar dan juga terbata. Dan jangan lupakan air matanya yang terus mengalir.


"Brengsek!"


William, Sandy dan para putra-putranya menggeram penuh amarah saat mendengar penuturan dari Darel.


"Apa dia! Apa Mathew yang melakukannya?" tanya Arvind.


Darel makin terisak dan tubuhnya bergetar hebat. Bayangan-bayangan kecelakaan itu pun muncul di pikirannya.


FLASBACK ON


Darel berusaha untuk bangkit dan ingin menghampiri sang Kakek. Tapi saat Darel ingin berdiri, Darel melihat seorang pria paruh baya datang menghampiri kakeknya.


"Hallo, Paman Antony. Akhirnya kita bertemu lagi."


"Ka-kau," ucap Antony terbata.


"Kenapa? Kau kaget melihatku Paman?"


"Kenapa kau lakukan ini padaku, Mathew? Apa salahku padamu?"


"Mathew! Jadi dia orangnya. Suami dari perempuan murahan itu." Darel menatap tajam kearah Mathew.


"Kau masih berani bertanya apa kesalahanmu? CUIH! Kau itu sudah membunuh Papaku, tua bangka!" teriak Mathew.


"Aku tidak pernah membunuhnya. Papamu meninggal karena kesalahannya sendiri. Manusia yang terlalu tamak dengan kekayaan sampai merebut hak orang lain."


DUAGH!


"Aaakkkhhh!"


Mathew menendang perut Antony dengan kuatnya.


"Ka-kek... Hiks." Darel menangis sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Berani sekali kau menghina Papaku tua bangka sialan," amuk Mathew.


"Kenapa? Kau tidak terima? Tapi kenyataannya memang seperti itu. Papamu itu laki-laki brengsek. Bahkan nenekmu juga seorang perempuan murahan yang tidak tahu diri dan juga serakah."


"Brengsek!" Mathew menginjak leher Antony dengan sangat kuat. "Pergilah kau ke neraka tua bangka sialan."


Setelah melihat Antony tak bergerak. Mathew tersenyum bahagia melihatnya. Setelah itu, Mathew pun pergi meninggalkan Antony yang tergeletak di pinggir jalan.


Disisi lain, Darel yang menyaksikan kejadian itu. Setelah setengah jam memastikan kepergian Mathew, Darel pun berlari sambil berteriak memanggil kakeknya.


FLASBACK OFF


"Darel, jawab Papa. Apa dia, Mathew? Apa Mathew Wilson yang telah membunuh Kakekmu?" tanya Arvind dengan nada bicaranya sedikit tinggi.


"Iya! Dia adalah Mathew. Suami dari perempuan murahan itu. Dia yang telah membunuh Kakek. Kalau dia tidak membunuh Kakek saat itu, Kakek masih hidup sampai sekarang. Dan Kakek memintaku untuk membalaskan kematiannya. Dan perempuan itu." Darel menunjuk kearah Agatha. "Perempuan murahan itu juga sudah berani menyakiti Mama. Perempuan itu ingin membunuh Mama. Dia mencekik lehernya Mama karena Mama memergokinya sedang berciuman dengan Mathew." Darel mengadukan semuanya kepada Ayahnya. Dan jangan lupa air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya.


Arvind kembali memeluk tubuh putra bungsunya itu. Dirinya tidak tega melihat kondisi putranya saat ini.


"Maafkan Papa, sayang. Maafkan Papa. Papa tidak bermaksud membentakmu barusan. Maafkan Papa." Arvind berbicara sembari mencium pucuk kepala putranya. Dirinya menyesal karena telah berbicara dengan suara keras.


"Evan, Raffa."

__ADS_1


"Ya, Pa."


"Bawa Darel ke kamarnya. Dan kalian temani Darel sampai Darel tertidur."


"Baik, Pa!" Evan dan Raffa pun mengambil alih tubuh Darel dari pelukan Ayahnya dan membawanya ke kamar.


Arvind menatap tajam kearah Agatha lalu berjalan menghampirinya.


SREEKK!


"Aaakkkhhh!"


Arvind menarik kasar rambut Agatha. Dirinya tak peduli rasa sakit yang dirasakan oleh perempuan itu.


"Aku sudah cukup sabar melihat kelakuanmu selama ini Agatha. Kau bersikap kasar pada Papaku, kau tidak pernah menghormatinya. Kau selalu memaki dan menghina putra bungsuku. Dan sekarang kau sudah berani menyakiti Adelina, istriku. Kau seharusnya sadar di rumah ini. Kau bisa menikah dengan William, itu semua berkat diriku."


"Asalkan kau tahu Agatha. Papaku, Sandy dan Evita tidak menginginkan William menikah denganmu, dikarenakan aku sayang dan peduli pada adikku, maka aku merestui pernikahan kalian sehingga pada akhirnya Papaku, Sandy dan Evita juga merestui kau menikah dengan adikku William."


Arvind menatap wajah Agatha dengan tatapan marahnya. Dirinya benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh Agatha.


"Apa kau tahu alasanku merestuimu menikah dengan adikku, hum? Alasanku merestui kau menikah dengan William karena aku pikir kau wanita yang baik. Kau bisa menjadi istri yang baik untuk William dan ibu yang baik untuk ketujuh putra-putranya. Tapi ternyata semua itu hanya kebohongan dan kepalsuan belaka yang kau perlihatkan. Dengan kejinya kau menukar lima putra William dengan kelima putramu dengan Mathew sehingga putramu lah yang diasuh dan dirawat oleh William. Pantas saja selama ini kau selalu melarang kami tinggal di rumah ini. Dan kau selalu memaki, menghina putra bungsuku disaat Papaku menyerahkan semua kekayaannya padanya. Jadi ini alasanmu menikah dengan William, hah!" teriak Arvind.


Arvind menarik kuat rambut Agatha, sehingga membuat kepalanya terangkat.


"Aaakkkhhhhh!" Agatha menjerit kesakitan.


"Paman. Lepaskan Mama. Jangan sakiti Mama kami!" teriak Kevin dan Rayyan. Mereka berdua berusaha melepaskan tangan Arvind dari rambut Agatha.


Arvind menatap tajam Rayyan dan Kevin lalu detik kemudian, Arvind mendorong keduanya dengan kuat.


"Jangan ikut campur atau aku akan membunuh kalian berdua. Kalian juga ikut andil dalam menyakiti putra bungsuku. Bahkan putra bungsuku hampir mati ditangan kalian berdua!" bentak Arvind.


Kevin dan Rayyan terkejut, lalu mereka pun memilih diam. Mereka benar-benar takut melihat Arvind yang saat ini.


Adelina yang melihat sifat asli suaminya keluar menjadi sedikit khawatir. Kemudian Adelina bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri suaminya.


Adelina menyentuh pelan bahu Arvind, suaminya. "Sayang. Aku mohon lepaskan Agatha. Bukankah kau selalu mengajarkan putra-putramu untuk tidak bersikap kasar pada perempuan. Apalagi menyakitinya. Jangan perlihatkan hal ini pada putra-putramu." Adelina berusaha membujuk suaminya.


Arvind melihat wajah cantik istrinya. "Tapi dia sudah menyakitimu, sayang!"


"Aku tahu. Tapi putra bungsumu sudah membalasnya. Bahkan putra bungsumu itu membalasnya dengan sangat kejam," jawab Adelina lembut.


"Itu benar, Pa. Darel sudah membalasnya. Apa yang dilakukan perempuan itu pada Mama, seperti itu juga yang dilakukan oleh Darel padanya," sahut Alvaro.


"Bahkan Kak Dirga dan Paman William juga sudah melakukan tugas mereka pada perempuan itu." Vano menambahkan


"Tapi kami belum Paman, Vano!" Steven menyela dan diangguki oleh adik-adiknya.


Mereka semua melihat kearah Steven, Dario, Erick, Dhafin dan Rendra.


"Perempuan itu juga menyakiti Mama kami, Paman!" seru Erick.


"Perempuan itu sudah mendorong Mama sampai membuat Mama pingsan," sahut Dhafin.


"Jadi kami ingin memberikan ganjaran pada perempuan iblis itu Paman." Dario berbicara dengan menatap tajam Agatha.


Salma menatap satu persatu wajah-wajah putra-putranya. "Sayang. Mama tidak apa-apa. Kalian tidak perlu membalas perempuan gila itu lagi. Perempuan itu sudah mendapatkan balasanya dari Darel, adik kalian. Jadi biarkan itu menjadi urusan para orang tua, oke!" Salma berusaha menenangkan kemarahan putra-putranya.


"Tapi, Ma." Rendra menyela


"Sayang," mohon Salma.

__ADS_1


"Baiklah, Ma. Kalau itu yang Mama inginkan," jawab Steven selaku yang tertua.


"Baik, Ma." Dario, Erick, Dhafin dan Rendra menjawabnya secara bersamaan.


Salma dan Sandy tersenyum bangga karena putra-putra mereka mau mendengar dan menurut.


Arvind melihat kearah keponakannya. Sedangkan tangannya masih menarik rambut Agatha, lalu terukir senyuman di bibirnya. Lebih tepatnya senyuman jahatnya.


"Steven," panggil Arvind.


"Ya, Paman." Steven menjawabnya.


"Kemarilah." Steven pun mendekati Arvin, sang Paman.


"Ada apa, Paman?" tanya Steven yang kini sudah berada didekat Arvind.


Arvind mendekati wajahnya di telinga Steven, lalu membisikkan sesuatu di telinga Steven. "Kurung kelima putra-putranya Agatha ke dalam gudang. Ajaklah adik-adikmu dan sepupumu bersamamu untuk membantumu."


Steven tersenyum sinis sembari menatap wajah tampan Pamannya itu. Arvind yang mengerti arti dari senyuman itu pun ikut tersenyum.


"Dengan senang hati, Paman. Ini yang aku tunggu," jawab Steven, lalu menatap Rayyan dan keempat saudaranya.


"Dario, Erick, Dhafin, Rendra, kemarilah kalian." Steven memanggil adik-adiknya. Keempat adik-adiknya pun menghampiri kakaknya.


"Naufal. Aku butuh bantuanmu dan adik-adikmu!" seru Steven.


"Dengan senang hati," jawab Naufal. Lalu Naufal dan adik-adiknya menghampiri Steven.


"Bantuan apa yang kau butuhkan, Kak Steven?" tanya Naufal


"Bantu aku untuk membawa para sampah-sampah ini ke gudang. Mulai sekarang kamar mereka berada di sana." Steven berbicara sembari menatap tajam kearah Rayyan dan adik-adiknya.


"Hm. Baiklah," jawab Naufal dan adik-adiknya. Mereka pun membawa paksa Rayyan dan adik-adiknya ke gudang.


Melihat para keponakan-keponakannya membawa putra-putranya Agatha ke gudang. Arvind menatap tajam kearah Agatha. Arvind kemudian melepaskan tangannya dari rambut Agatha.


"Kalau kau ingin putramu dalam keadaan baik-baik saja. Lakukan apa yang aku perintahkan. Mengerti!" bentak Arvind.


Tidak ada jawaban dari Agatha. "Nyawa kelima putramu ada ditanganmu. Kau pikir aku hanya bercanda dalam hal ini. Jawabannya tidak. Aku benar-benar akan menghabisi putra-putramu itu jika kau tidak menuruti perintahku."


"A-apa yang kau inginkan?" tanya Agatha gugup.


"Kau hubungi Mathew. Katakan padanya bahwa rencanamu menguasai Perusahaan CJ GRUP sudah berhasil." Arvind berbicara dengan menatap nyalang Agatha.


"Jangan lupa kau loundspeaker panggilan itu biar kami semua dapat mendengarnya!" bentak Sandy dengan menatap jijik Agatha.


"Lakukan sekarang, sialan!" bentak William.


"Ba-baik." Agatha langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi suaminya, Mathew.


Panggilan tersambung..


"Hallo, sayang. Bagaimana? Apa kau sudah menyingkirkan perempuan pengganggu itu? Aku tidak mau suami keduamu itu mengetahui apa yang sudah kita lakukan di belakang kolam renang itu."


"Menjijikkan," batin mereka semua saat mendengar suara Mathew.


"Sudah sayang. Aku sudah memberikan pelajaran pada Adelina. Bahkan rencana kita telah berhasil. CJ GRUP sudah resmi menjadi milik kita."


"Ach, baguslah. Aku senang mendengarnya. Sekarang giliranku. Besok aku akan datang menemui mereka semua. Aku akan membawakan sesuatu untuk kutunjukkan pada keluarga sialan itu. Sebentar lagi seluruh kekayaan situa bangka itu akan menjadi milik kita. Dan anak sialan itu tidak akan menjadi ahli waris lagi."


"Ya, sayang. Aku juga sudah tidak sabaran lagi. Segeralah kau datang. Kita selesaikan secepatnya masalah ini. Aku tidak mau berlama-lama."

__ADS_1


"Baliklah, sayang. Tunggu aku."


PIP!


__ADS_2