Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Pendekatan Lima Sahabat Baru


__ADS_3

Keesokkan paginya dimana seluruh anggota keluarga Wilson, termasuk Pingkan dan Mirza telah berkumpul di meja makan. Mereka semua akan sarapan pagi bersama.


"Eh, tunggu!" seru Rendra.


Mereka semua pun melihat kearah Rendra dengan tatapan bingung.


"Ada apa, Rendra?" tanya Steven.


"Darel nya belum bersama kita. Masa kita sarapannya tanpa Darel!" ucap Rendra.


Setelah mendengar ucapan dari Rendra. Mereka semua pun mengalihkan tatapan mereka untuk mencari kelinci kesayanganya.


Dan benar, kelinci kesayangannya belum bersama mereka semua.


"Pasti masih tidur tuh kelinci bongsor," celetuk Raffa.


Tanpa disadari oleh Raffa dan anggota keluarga lainnya, tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring menghampiri mereka semua.


"Aku bukan kelinci bongsor, alien tengil.. bodoh!!"


Mendengar suara yang amat nyaring dari Darel, mereka semua menutup telinganya. Sementara Raffa melototkan kedua matanya ketika mendengar umpatan yang begitu indah dari adiknya.


Darel melangkahkan kakinya menghampiri anggota keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan tanpa memperdulikan wajah kesal dan tatapan mata kakak aliennya itu. Namun justru Darel makin membuat sang kakak sukses kesal.


"Jangan menatapku seperti itu, Raffa Wilson! Aku tahu wajahku ini sangat tampan. Bahkan ketampananku ini mengalahkan ketampanan kakak."


Darel berucap sembari menduduki pantatnya di kursi di sebelah Andre. Pagi ini Darel menjauh duduknya dari Evan dan Raffa. Karena bisa saja dirinya diamuk oleh Raffa jika duduk bersama Raffa. Apalagi posisinya berada diantara Evan dan Raffa.


Sementara anggota keluarga lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darel. Mereka tidak menyangka jika kesayangannya bisa sebangga itu membanggakan ketampanannya.


"Aish. Dasar siluman kelinci sialan." Raffa menatap horor adiknya


"Terima kasih pujiannya, kakak Raffa jelek!" jawab Darel sembari memasukkan satu potong nugget ke dalam mulutnya


"Itu bukan pujian dodol," saut Raffa


"Tapi aku tetap anggap itu pujian," jawab Darel.


"Hah." Raffa hanya bisa menghela nafasnya akan sikap adiknya itu


Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum melihat dan mendengar pertengkaran kecik kedua kakak adik tersebut.


"Bisa kita mulai sarapan paginya?" tanya Arvind.


"Hehehehe." Darel dan Raffa terkekeh. "Iya, pa." Darel dan Raffa menjawab bersamaan.


Setelah itu, mereka semua pun memulai sarapan paginya dengan tenang.


Namun beberapa menit kemudian, ponsel milik Arvind berbunyi. Mendengar ponselnya berdering, Arvind mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Ketika ponsel itu sudah di tangannya, Arvind melihat nama 'Zayan' di layar ponselnya.


"Zayan," batin Arvind.


Tanpa berpikir panjang lagi, Minki pun menjawab panggilan dari Zayan.


"Hallo, Zayan."


Mendengar Arvind menyebut nama Zayan. Darel langsung menghentikan acara makannya dan melihat kearah ayahnya. Bukan Darel saja, melainkan anggota keluarga lainnya juga melihat kearah Arvind.


"Hallo, tuan. Apa saya bisa berbicara dengan Bos? Dari kemarin saya tidak bisa menghubungi Bos."


"Kau mau bicara dengan Darel. Tunggu sebentar."


Arvind langsung memberikan ponselnya kepada putra bungsunya.


"Sayang. Ini Zayan mau bicara denganmu."


Darel mengambil ponsel ayahnya, lalu langsung menjawab panggilan tersebut.


"Kau menghubungiku ingin mengatakan bahwa kau sudah bertemu dengan Kenzo dan Gavin kan?"


Baik anggota keluarganya maupun Zayan terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel akan berbicara langsung ke pokok permasalahannya. Mereka juga dapat melihat raut wajah Darel yang berubah seketika.


"Be-benar.. Bos. A-aku.. aku sudah berhasil menemukan keberadaan tuan Kenzo dan tuan Gavin. Tapi..."


Zayan menghentikan perkataannya. Dirinya tidak tahu harus mengatakan apa pada bosnya itu.

__ADS_1


Darel yang mendengar suara memelan Zayan menjadi tidak tega. Darel tahu jika Zayan bingung harus mengatakan apa padanya.


"Kenzo dan Gavin amnesia. Apa itu yang ingin kau sampaikan?"


DEG..


Zayan yang di seberang telepon terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel. Dirinya tidak menyangka jika bosnya sudah mengetahuinya.


"Bos,"


"Katakan padaku. Sejak kapan kau mengetahui bahwa kedua sahabatku itu amnesia?"


"Maafkan aku, Bos. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakan semua ini darimu."


"Jawab saja pertanyaanku."


"Darel." Andre mengusap lembut lengan adiknya. Andre tidak ingin adiknya kelepasan saat berbicara dengan tangan kanannya.


"Sejak seminggu yang lalu, Bos. Awalnya aku ingin memberitahumu, tapi aku tidak tega. Aku tidak ingin membuatmu bersedih ketika mengetahui tuan Kenzo dan tuan Gavin tidak mengenalimu, Bos."


"Lalu apa yang kau lakukan selama satu minggu itu?"


Nada bicara Darel sudah melembut. Darel sadar, tidak seharusnya dirinya marah dan emosi pada Zayan. Zayan sudah bekerja keras selama ini hanya untuk dirinya.


Bukan Zayan saja. Arzan, Mikko dan tujuh tangan kanannya yang lainnya juga sudah bekerja keras selama ini. Mereka melakukan tugas mereka dengan sangat baik.


"Selama satu minggu itu aku selalu mengawasi dan memata-matai tuan Kenzo dan tuan Gavin. Bahkan aku juga sudah tahu dari kelompok mana yang telah menyelamatkan tuan Kenzo dan tuan Gavin."


"Kelompok? Apa maksudmu, Zayan?"


"Yang telah menyelamatkan tuan Kenzo dan tuan Gavin adalah adik dari ketua kelompok yang sangat ditakuti di kota Munich. Kelompok itu dikenal kejam di kota tersebut. Nama kelompok itu adalah Los Zetas. Dan..."


"Dan apa, Zayan? Jangan buat aku penasaran dan juga takut. Katakan semuanya padaku." Darel berteriak.


"Darel!!" mereka semua menatap khawatir Darel.


"Mereka memaksa tuan Kenzo dan tuan Gavin untuk melakukan kejahatan seperti mereka. Lebih tepatnya mereka mengarah kepada tuan Gavin."


"Gavin? Kenapa?"


"Maafkan aku, Bos. Sebenarnya hanya tuan Kenzo saja yang mengalami amnesia. Sementara tuan Gavin tidak. Tuan Gavin baik-baik saja.


Melihat Darel yang tiba-tiba berdiri dan menangis, anggota keluarganya menjadi panik.


"Darel," lirih mereka


"Katakan Zayan. Katakan apa yang terjadi?"


"Tuan Kenzo dan tuan Gavin tidak sadar selama satu bulan. Ketika mereka sadar, mereka tidak saling mengenal. Lebih tepatnya, tuan Kenzo yang tidak mengenali tuan Gavin. Hal itu sukses membuat tuan Gavin sedih terluka. Tuan Gavin sudah berulang kali meyakinkan tuan Kenzo, tapi usaha tuan Gavin tidak membuahkan hasil. Bahkan tuan Gavin pernah tak sengaja memergoki dan mendengar pembicaraan ketua kelompok Los Zetas. Pembicaraan itu adalah bahwa ketua Los Zetas akan memperluas kekuasaannya sampai ke kota Hamburg dan akan menaklukkan kota Hamburg dibawah kekuasaannya. Dan ketua kelompok itu akan menjadikan tuan Kenzo dan tuan Gavin sebagai pemimpin dalam aksi tersebut."


"Mendengar hal itu, tuan Gavin langsung memberitahu tuan Kenzo, walau tuan Gavin sangat tahu hal itu tidak akan berhasil mengingat kondisi tuan Kenzo yang amnesia."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Tuan Gavin berniat untuk kabur dengan membawa tuan Kenzo. Namun niatnya gagal karena ketahuan oleh adik dari ketua kelompok tersebut. Mereka mengancam tuan Gavin. Jika tuan Gavin nekat untuk kabur, maka mereka akan menyakiti tuan Kenzo."


Lagi-lagi air mata Darel jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar cerita dari Zayan. Darel tidak menyangka jika kehidupan kedua sahabatnya sangat menyedihkan. Bahkan bisa saja kedua sahabatnya itu kehilangan nyawanya kapan pun dan dimana pun.


"Bos. Kau tidak perlu khawatir. Aku berjanji akan menyelamatkan tuan Kenzo dan tuan Gavin. Aku berjanji padamu untuk membawa mereka kembali padamu, Bos."


"Tapi kau juga harus berjanji padaku. Kau harus baik-baik saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


Mendengar perkataan dari Darel. Zayan tersenyum bahagia. Dirinya merasa beruntung memiliki tuan seperti Darel.


"Pasti, Bos. Kalau begitu aku tutup teleponnya, Bos."


"Baiklah. Kau berhati-hatilah. Jika kau kesulitan. Hubungi saja yang lainnya. Minta bantuan Mereka."


"Baik, Bos."


Setelah mengatakan hal itu, baik Darel maupun Zayan sama-sama mematikan teleponnya, lalu Darel mengembalikan ponsel tersebut pada ayahnya.


"Aku berharap kalian baik-baik saja. Kembalilah dengan selamat," batin Darel.


PUK..


Andre menepuk pelan bahu adiknya. Dan hal itu sukses membuat Darel terkejut.

__ADS_1


Darel menatap wajah anggota keluarganya satu persatu. Dapat dilihat olehnya tersirat raut khawatir di wajah masing-masing anggota keluarganya.


Darel merutuki kebodohannya. Lagi-lagi dirinya membuat anggota keluarganya mengkhawatirkan dirinya.


"Maafkan aku. Pasti kalian semua khawatir kepadaku ketika berbicara dengan Zayan," lirih Darel.


GREP


Andre menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya, lalu mengusap-ngusap lembut punggungnya.


Setelah beberapa detik memeluk adilnya, Andre pun melepaskan pelukannya itu.


"Kita selesaikan dulu sarapan paginya. Setelah itu, jika kamu ingin cerita. Kita semua siap mendengarkannya."


"Baik, kak."


Setelah mengucapkan kata itu. Mereka semua pun kembali melanjutkan sarapannya yang tertunda.


 


{KAMPUS}


Kini Darel sudah berada di Kampus. Dirinya diantar oleh kakak kesayangannya nomor satu yaitu Davian. Sebelum ke Kampus, Darel meminta untuk diantar ke toko ponsel untuk membeli ponsel baru. Dan dengan senang hati, kakaknya itu mengantarnya ke toko ponsel. Setelah dari sana, barulah kakaknya mengantarnya ke Kampus.


Darel juga sudah menceritakan apa yang dibicarakan olehnya dan Zayan di telepon kepada anggota keluarganya.


Ketika Darel bercerita, seluruh anggota keluarganya tampak khawatir dan juga takut. Khawatir akan kesehatan Darel dan takut akan keselamatan Kenzo, Gavin, Zayan dan yang lainnya.


Darel saat ini sedang duduk di salah satu bangku yang ada di halamam Kampus sembari fokus dengan ponsel barunya.


Ketika Darel tengah asyik dengan ponselnya, tiba-tiba Samuel, Juan, Zelig, Lucas dan Razig datang menghampirinya.


"Hai, Rel." Samuel terlebih dahulu menyapa Darel.


Darel mengalihkan pandangan dari ponsel melihat kearah Samuel, Juan, Zelig, Lucas dan Razig. Darel menatap satu persatu wajah kelima pemuda yang ada di hadapannya.


Samuel, Juan dan Lucas duduk di samping Darren. Sementara Zelig dan Razig duduk di depan Darel.


"Kalau kalian tidak punya kepentingan denganku. Lebih baik pergi dari sini." Darel berbicara dengan nada ketus dan ekspresi wajah dingin


"Rel. Mau sampai kapan kau menghindari kami?" tanya Juan.


"Kami semua tulus ingin bersahabat denganmu," saut Razig.


"Kami ingin dekat denganmu seperti dekat ketika kita bermain game," ucap Zelig.


"Dekat bukan digame saja. Tapi dekat di dunia nyata," ujar Lucas.


"Tapi aku tidak berniat untuk menjalin hubungan apapun dengan kalian." Darel menjawab dengan nada ketus.


"Tapi kami ingin, Rel!" seru Samuel, Juan, Zelig, Lucas dan Razig.


"Aku tidak peduli," ucap Darel.


Setelah itu, Darel mematikan ponselnya lalu memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya.


Darel kemudian berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja. Namun seketika langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan dari Samuel.


"Apa segitu susahnya menjadi sahabamu, Rel? Apa sesulit itukah kami bisa meluluhkan hatimu untuk menerima kami menjadi sahabatmu? Apa beginilah awal mula ketika kau menjalin hubungan persahabatan dengan kak Azri?" Samuel tanpa sadar mengingatkan tentang awal mula hubungannya dengan ketujuh sahabat-sahabatnya


DEG..


Darel terkejut ketika mendengar Samuel menyebut salah satu nama sahabatnya. Seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Dan ingatan-ingatan tentang pertemuannya dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu terlintas di pikirannya.


Darel membalikkan badannya, setelah itu Darel menatap tepat di manik Samuel.


Juan, Zelig, Lucas dan Razig menjadi tidak tega ketika melihat wajah sedih Darel. Apalagi ketika Samuel menyebut salah satu nama sahabatnya.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa tahu nama sahabatku?" tanya Darel.


"Aku Samuel Ramero. Aku adik sepupu dari Azri Ramero," jawab Samuel.


"Jangan mengarang cerita. Aku tidak akan pernah percaya," ucap Jungkook


"Jika kau tidak percaya. Silahkan kau tanyakan sendiri dengan paman Ditto Ramero dan bibi Carola Ramero." Samuel menjawab dengan lantang.


Mendengar perkataan Samuel yang menyebut nama kedua orang tua Azri dengan lantangnya, membuat Darel reflek memundurkan langkahnya. Darel benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Tidak. Kau pasti bohong. Kalau pun itu benar. Sampai kapan pun aku tidak akan mau berteman dengan kalian. Lebih baik kalian menjauh dariku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian jika kalian berdekatan denganku. Aku tidak ingin kalian bernasib sama seperti sahabat-sahabatku!" teriak Darel.


Setelah itu, Darel langsung pergi meninggalkan Samuel, Juan, Zelig, Lucas dan Razig.


__ADS_2