
Duagh..
Duagh..
Duagh..
"Aakkhh!"
Xavier, Stephen dan Richard berteriak kencang secara bersamaan merasakan sakit yang luar biasa di perutnya akibat tendangan tak main-main dari Davian dan Nevan, Steven dan Dario, Dirga dan Marcel.
Davian dan Nevan menghajar Stephan Martin, Steven dan Dario menghajar Richard Dawson, sementara Dirga dan Marcel menghajar Xavier Bailey.
Davian dan Nevan, Steven dan Dario, Dirga dan Marcel menatap penuh amarah kearah Xavier, Stephen dan Richard. Begitu juga dengan yang lainnya.
Arvind, Sandy, William dan Daksa melangkah tiga langkah ke depan dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Xavier, Stephen dan Richard.
Sementara untuk anggota keluarga mereka saat ini dalam penjagaan ketat anggota BLACK SHARK dengan senjata mengarah kearah mereka. Lebih tepatnya kearah kepala mereka.
Bergerak maka mati!
"Sejak awal kalian mengirim putri-putri kalian untuk mendekati putra keduaku dan kedua keponakanku Steven dan Marcel, aku dan semua anggota keluargaku sudah mengetahuinya," sahut Arvind.
"Perusahaan milik kalian sudah menjadi milik kami. Kalian sudah memiliki hak atas perusahaan-perusahaan itu!" seru Daksa.
Mendengar ucapan dari Daksa membuat Xavier, Stephen dan Richard terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarganya.
"Tidak!" Xavier, Stephen dan Richard berteriak kencang dengan menatap tajam kearah Daksa.
"Jangan asal kau!" bentak Xavier.
"Perusahaan itu milikku. Hanya milikku!" bentak Stephen.
"Jangan coba-coba kau menyentuhnya!" bentak Richard.
Arvind melihat kearah Sandy, William dan Daksa. Begitu juga dengan Sandy, William dan Daksa yang juga melihat kearah Arvind. Kemudian mereka tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai.
Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Xavier, Stephen dan Richard.
"Tapi sayangnya semuanya sudah terjadi. Perusahaan kalian sudah menjadi milik keluarga Wilson dan keluarga Jecolyn." Sandy berucap dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Tidak!" teriak Xavier, Stephen dan Richard lagi.
"Itu akibat dari kalian yang berani mengusik keluarga Wilson. Bahkan kalian juga berani mengusik keluarga dari sahabat-sahabatnya keponakan bungsuku yaitu Darel Wilson!" William berucap dengan penuh amarah.
"Dan ini juga balasan untuk kalian yang sudah berani merebut milik kami. Jadi apa yang kami lakukan terhadap kalian sekarang ini adalah hasil dari perbuatan kalian sendiri," ucap Arvind.
__ADS_1
Arvind, Sandy, William dan Daksa menatap tajam kearah Xavier, Stephen dan Richard. Mereka benar-benar marah akan perbuatan ketiganya. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson lainnya. Mereka semua tak kalah tajam menatap semua anggota keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin.
Evan melangkahkan kakinya mendekati Xavier, Stephen dan Richard dengan tatapan matanya yang memerah. Evan menangis. Nangisnya Evan karena merindukan adiknya yang saat ini di rumah sakit. Dia sudah tidak sabar untuk menemui adiknya itu.
"Satu hal yang aku ingat. Dan hal itu yang ingin aku sampaikan kepada kalian, termasuk anggota keluarga kalian!" teriak Evan. "Sampai kapan pun semua kekayaan keluarga Wilson tidak akan pernah jatuh ke tangan siapa pun. Sekali pun adik kesayanganku Darel Wilson sudah tidak ada lagi di dunia ini. Adikku Darel Wilson sudah melakukan pengamanan terhadap semua kekayaan yang ditinggalkan oleh Antoni Wilson yang tak lain adalah kakekku yang saat ini sudah menjadi miliknya kepada pihak hukum!"
"Jadi dengan kata lain, semua kekayaan keluarga Wilson sudah dilindungi oleh hukum. Jika misalkan kalian berhasil merebut perusahaan serta rumah mewah milik keluarga Wilson. Bahkan kalian berhasil mengusir semua penghuni, itu tidak berlangsung lama. Dua hari kami terusir dari rumah ini, dua hari kami kehilangan segalanya. Maka pihak hukum yang melindungi semua kekayaan milik keluarga Wilson atau milik Darel Wilson akan langsung bertindak. Mereka akan merebut kembali apa yang sudah kalian rebut dari kami."
"Jadi.....!" Evan menghentikan ucapannya dengan tatapan matanya menatap nyalang kearah Xavier, Stephen dan Richard bergantian.
"Jadi jika kalian mengusik kami dengan cara merebut milik kami, maka pihak hukum akan merebut kembali milik kami dan mengembalikannya kepada kami semua. Setelah itu, kalian semua akan berakhir di dalam penjara. Hukuman yang akan kalian dapatkan adalah seumur hidup." Raffa melanjutkan perkataan saudara kembarnya bersamaan kakinya melangkah mendekati saudara kembarnya itu.
"Itu jika Darel Wilson sebagai pewaris tunggal keluarga Wilson sudah tidak ada lagi di dunia ini. Beda lagi jika adikku itu ada disini bersama kami." Raffa berucap dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Jika adikku ada disini, maka dia akan mengatakan bahwa semua kekayaan keluarga Wilson belum resmi menjadi milik kalian. Tidak semudah itu kalian merebut semua milik keluarga Wilson, baik milik bersama maupun milik pribadi! Itulah yang akan adikku katakan kepada kalian semua."
"Kalian mengatakan bahwa adikku hanya bocah ingusan. Seorang bocah ingusan tidak bisa melakukan apapun selain kuliah dan belajar. Kalian sudah salah beranggapan seperti itu." Evan kembali bersuara. Namun kali terdengar bergetar.
Daffa dan Vano melangkah mendekati Evan dan Raffa. Setelah itu, keduanya menarik pelan tubuh kedua adiknya itu dan membawanya kembali ke tempat semula.
Daffa dan Vano pun langsung memeluk tubuh kedua adiknya itu. Mereka tahu bahwa kedua adiknya itu berusaha menahan tangisnya.
"Hiks... Hiks... Hiks."
"Hiks... aku merindukan Darel... Hiks." Evan dan Raffa berucap bersamaan.
Arvind menatap kearah Arzan, Zayan dan Lucky. Dia ingin mengakhiri sekarang juga. Dia tidak ingin berlama-lama berurusan dengan keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin. Masih ada urusan lain yang lebih penting dari pada urusan sekarang ini.
"Arzan, Zayan, Lucky!
"Iya, Tuan! Arzan, Zayan dan Lucky menjawab bersamaan.
"Saya tidak ingin berlama-lama berurusan dengan mereka semua. Ada hal yang lebih penting yang ingin kami lakukan."
"Apa itu tuan? Bolehkah kami mengetahuinya Tuan?" tanya Zayan.
"Ini masalah Darel," sahut Sandy.
"Bos!" seru Arzan, Zayan dan Lucky bersamaan.
"Kenapa dengan Bos, tuan?" tanya Lucky.
"Darel berada di rumah sakit. Tapi kami tidak tahu rumah sakit mana," jawab Sandy.
"Tuan Arvind, apa itu benar?" tanya Arzan yang menatap kearah Arvind.
__ADS_1
"Iya, Arzan!"
"Dari mana kalian mengetahui hal itu? Siapa yang memberitahu kalian? Dan apa yang terjadi? tanya Zayan bertubi-tubi.
Baik Arzan, Zayan dan Lucky tidak mengetahui perihal ada orang yang ingin mencelakai Darel.
"Jadi kalian tidak tahu?" tanya Daksa menatap kearah Arzan, Zayan dan Lucky bergantian.
"Tidak!" Arzan, Zayan dan Lucky bersamaan.
"Ada yang mencelakai Darel ketika dalam perjalanan. Darel menggunakan mobil ketika kejadian itu. Dua mobil datang menghadang mobil Darel dari belakang dan depan. Kemudian secara berlahan-lahan, kedua mobil itu mendorong dengan cara menabrak mobil Darel menuju pembatas jalan. Kedua mobil itu hendak......" seketika perkataan William terhenti.
"Cukup! Kami sudah mengerti!" Lucky langsung memotong ucapan dari William.
"Apa mereka yang membayar orang itu untuk mencelakai Bos?" tanya Arzan dengan menatap kearah Xavier, Stephen dan Richard bergantian.
"Bukan! Yang membayar orang untuk mencelakai Darel adalah dari keluarga Rosio. Dan kelompok yang melakukan pekerjaan itu adalah MUNGIKI!"
"Bagaimana dengan keluarga itu sekarang?" tanya Zayan.
"Mereka semua sudah menghadap Tuhan. Begitu juga dengan kelompok tersebut!"
Ghali menjawab pertanyaan dari Zayan dengan wajahnya yang tampak marah saat ini ketika kembali mengingat perbuatan Paula terhadap adik kesayangannya.
"Siapa yang telah melakukan pekerjaan tersebut, tuan Arvind?" tanya Lucky.
"Kami sendiri yang melakukan pekerjaan tersebut. Kami tidak bisa diam saja dimana keluarga Rosio telah berani mengusik dan menyakiti kesayangan kami!" itu Davian yang menjawab pertanyaan dari Lucky.
"Baguslah kalau begitu. Pembalasan pertama selesai. Sekarang tinggal kita selesaikan pembalasan kedua ini," sahut Lucky.
"Disini bukan keluarga Wilson saja yang menjadi korban, melainkan semua anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya Bos juga ikut menjadi korban. Tanyakan kepada semua sahabat-sahabatnya Bos, mereka akan melakukan apa terhadap orang-orang yang sudah mengusik keluarganya!" ucap Arzan.
Arvind dan yang lainnya melihat kearah Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bergantian.
"Kami ingin segera menyelesaikan masalah ini, Paman Arvind!" seru Kenzo.
"Jika masalah ini cepat selesai, maka kami bisa bertemu dengan Darel," ucap Gavin.
"Bukankah orang yang telah menyelamatkan Darel akan memberitahu kita di rumah sakit mana Darel dirawat jika semua musuh-musuh kita mati," sahut Samuel.
"Jadi lebih baik kita selesaikan sekarang juga. Kami tidak sabar untuk bertemu dengan Darel. Kami ingin mengetahui keadaannya seperti apa!" seru Farrel.
Mendengar ucapan dari Kenzo, Gavin, Samuel dan Farrel membuka Arvind serta yang lainnya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Kita selesaikan sekarang juga!" seru Arvind.
__ADS_1