
Davian yang melihat wajah sedih adiknya itu menjadi tidak tega. Kemudian Davian mendekati Raffa. Begitu juga yang lainnya.
"Hei, Kakak cuma bercanda kok. Kakak tidak serius tadi. Kau, Evan dan Darel adalah adik bungsu kami. Kami sangat menyayangi kalian. Kalian bertiga selalu dalam pengawasan kami."
"Hm! Apa yang dikatakan Kak Davian benar. Kau, Evan dan Darel adalah kesayangan kami," ucap Nevan sembari mengelus lembut rambut Raffa.
"Maafkan aku, Kak. Aku juga tidak ingin menjadi bungsu dikeluarga Wilson. Hanya Darel putra bungsunya Papa dan Mama. Aku juga tidak berniat untuk menjadi sibungsu karena aku tidak ingin menyakiti Darel. Aku menyayangi Darel. Sangat menyayanginya. Kalau boleh memilih. Biarkan aku saja yang terbaring di sana. Bukan Darel!"
Mereka tersenyum hangat saat mendengar penuturan dari Raffa. Terutama Adelina dan Arvind.
Adelina mencium pipi Raffa. "Mama bangga padamu, sayang. Kalau Darel mendengar apa yang kamu katakan barusan. Mama yakin, Darel juga akan memberikan kecupan sayang kepadamu."
***
Zayan dan Arzan berada di markas BLACK SHARK. Mereka telah selesai melakukan semua tugas-tugas yang diperintahkan oleh Darel. Mereka berdua tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit untuk membesuk Bos mereka. Sudah dua hari Bos mereka tak sadarkan diri. Dan hari ini adalah hari ketiga.
"Kau sudah menyiapkan berkasnya, Zayan?"
"Sudah. Ini berkasnya." Zayan memperlihatkan berkas-berkas itu pada Arzan.
"Bos kan masih belum sadar. Jadi berkas-berkas ini kita serahkan pada tuan Arvind. Bagaimana pun tuan Arvind adalah Ayahnya Bos. Kita harus memberikan semua informasi padanya," tutur Arzan.
"Hm. Aku mengerti." Zayan mengangguk.
"Ya, sudah. Ayo, kita berangkat."
"Ayo!"
Zayan dan Arzan pun pergi meninggalkan markas mereka untuk menuju rumah sakit.
***
Dua puluh menit yang lalu, mereka semua telah selesai makan bersama. Dan saat ini mereka tengah berkumpul dan bersenda gurau. Dan untuk para sahabatnya Darel, setelah selesai makan. Mereka duduk mengerubungi ranjang Darel. Mereka terus mengajak Darel bicara berharap mata itu terbuka.
"Oh, iya. Kenzo," panggil Davian.
Kenzo yang dipanggil oleh Davian pun melihat. "Iya, Kak."
"Beberapa menit yang lalu kau mengatakan bahwa Papamu bersahabat dengan Papanya Kakak. Memangnya siapa nama Papamu?" tanya Davian.
"Aku tidak mengatakan Papaku bersahabat dengan Papanya Kakak. Tapi aku mengatakan Papaku bersahabat dengan Papanya Darel," jawab Kenzo.
"Hahahahaha." semuanya tertawa mendengar penuturan dari Kenzo.
"Yak, Kenzo! Sudah berani sekarang ya. Aku ini putra pertama dari Papa sahabatmu itu. Dan aku adalah kakaknya. Asal kau tahu," kesal Davian.
"Kalau Kakak adalah Kakaknya Darel. Selama ini aku tidak pernah melihat Kakak antar jemput Darel ke sekolah," sahut Kenzo.
"Hahahahaha." lagi-lagi mereka tertawa mendengar penuturan dari Kenzo.
"Kena kau, Kak Davian." Axel mengejek Kakaknya.
Davian menggeram kesal dan menatap horor Axel. Axel yang ditatap oleh Kakak tertuanya itu langsung ciut.
"Kenzooooo." Davian menatap horor Kenzo.
"Baiklah.. Baiklah." Kenzo pun akhirnya pasrah.
"Nama Papaku Fayyadh Alberto. Sering dipanggil Dok..." ucapan Kenzo terpotong.
__ADS_1
"Dokter Fayyadh," sela Arvind.
Mereka semua melihat kearah Arvind, termasuk Kenzo. Kenzo tersenyum kearah Arvind.
"Paman benar. Dokter Fayyadh adalah Papaku. Dokter yang selama ini menjadi Dokter pribadi keluarga Wilson dan juga Dokter yang selalu memeriksa kondisi Darel sahabatku."
Mereka yang mendengar penuturan dari Kenzo benar-benar terkejut. Mereka selama ini tidak mengetahui tentang hal ini.
"Dunia ini benar-benar sempit. Kak Arvind bersahabat dengan Dokter Fayyadh. Darel bersahabat dengan Kenzo. Wah! Benar-benar kabar membahagiakan," tutur Sandy.
"Tapi kenapa Papamu tidak pernah menceritakannya pada Paman?" tanya Arvind.
"Papa awalnya tidak tahu, Paman. Papa tahu saat aku mengajak Darel bermain ke rumahku. Selama aku bersahabat dengan Darel. Aku belum pernah mengajaknya main ke rumah. Papa hanya tahu aku memiliki enam sahabat. Dan Papa tidak tahu soal Darel. Makanya saat aku ada kesempatan bisa mengajak Darel ke rumah. Tapi malah Papa yang pulang terlambat. Lima menit sahabat-sahabatku pulang, barulah Papa pulang dari rumah sakit. Dari situlah Papa tahu kalau Darel adalah putra bungsu Paman. Papa juga terkejut saat itu." Kenzo menjelaskan.
Saat mereka tengah asyik dengan dunia mereka. Terdengar suara ketukan pintu, lalu detik kemudian pintu itu terbuka.
TOK!
TOK!
CKLEK!
"Selamat sore, tuan Arvind."
***
Rayyan dan keempat adiknya saat ini berada di rumah milik Mathew, Ayah kandung mereka. Rumah itu memang mewah dan besar. Tapi tidak semewah dan sebesar rumah keluarga Wilson. Mereka bisa berada di sana karena permintaan dari Mathew dan Agatha, terutama Agatha sebelum dibawa pergi ke kantor polisi. Agatha ingin putra-putranya hidup bahagia di rumah tersebut dan tidak ingin hidup mereka menjadi susah.
Awalnya, Rayyan dan keempat adiknya sedih dan juga menangis. Bahkan mereka memeluk erat tubuh Agatha. Mereka tidak ingin ibu mereka dibawa ke kantor polisi. Tapi mereka akhirnya sadar bahwa kesalahan kedua orang tua mereka sudah melewati batas dan mereka harus mendapatkan hukumannya. Di rumah itu ada dua pelayan yang sudah lama dipekerjakan oleh Mathew.
Rayyan dan keempat adiknya sedang duduk di ruang tengah. Pikiran mereka kini sedang tertuju saat mereka masih tinggal dikeluarga Wilson.
"Ya. Kau benar Aldan. Bahkan aku akan membuat Papa William bangga padaku dengan kebaikanku," sela Kevin.
"Seandainya Mama mendidik kita dengan baik. Seandainya saja Mama tidak menanamkan kebenciannya, rasa irinya, rasa sombongnya pada kita sedari kecil. Mungkin kita tidak akan seperti ini. Dan kita juga tidak akan pernah berbuat jahat pada Darel," ucap Dzaky.
"Selama ini Mama selalu mengajarkan kita hal-hal buruk. Bahkan Mama juga mengatakan pada kita kalau keluarga Paman Arvind itu serakah dan ingin menguasai seluruh kekayaan Kakek Antony. Bahkan Mama juga melarang kita untuk jangan berteman dengan putra-putra Paman Arvind," pungkas Caleb.
Rayyan hanya diam dan setia mendengar keluh kesah adik-adiknya. Dalam hatinya, Rayyan membenarkan semua ucapan adik-adiknya itu. Semua perlakuan buruk mereka didapat dari Ibu mereka.
"Ini semuanya salah Mama. Mama sudah menghancurkan kehidupan kami, kebahagiaan kami. Karena keserakahan Mama, kebencian Mama, kami harus kehilangan sosok Papa yang baik dan sempurna di mata kami selama ini. Dialah yang selama ini menjaga dan merawat kami. Bukan Mathew. Walau dia adalah Papa kandung kami. Tapi dia bukan Papa kami lagi. Hanya ada satu Papa bagi kami. Dia adalah William Wilson. Walau pun Papa William membenci kami. Tapi kami tetap menyayanginya dan menghormatinya." Rayyan berbicara di dalam hatinya.
Saat ini, Rayyan berusaha menahan tangisnya. Dirinya tidak ingin menangis di depan adik-adiknya.
***
Anggota keluarga masih setia menemani sikelinci nakal kesayangan mereka semua. Sedangkan sahabat-sahabatnya, sejam yang lalu sudah pamit pulang ke rumah masing-masing.
Keadaan Darel masih sama seperti sebelumnya. Sikelinci kesayangan mereka belum mau untuk membuka kedua matanya. Tapi mereka semua masih bersabar dan berdoa agar mata bulat itu segera terbuka.
Kini di dalam ruangan itu semua anggota keluarga berkumpul. Ditambah dengan dua anak buahnya yaitu Zayan dan Arzan. Keduanya tengah berdiri tepat di hadapan Darel.
"Bos. Kami sudah selesai melakukan semua tugas yang Bos berikan. Satu minggu lagi kedua iblis itu akan disidang. Aku dan Zayan berharap agar Bos segera bangun, biar Bos bisa lihat keduanya diberi hukuman mati oleh-oleh pihak pengadilan." Arzan berucap.
Anggota keluarganya yang mendengar penuturan dari salah satu anak buah sikelinci kesayangan mereka menjadi bangga. Keduanya benar-benar setia pada sikelinci manis mereka.
Setelah puas melihat dan berbicara dengan Bos mereka. Zayan dan Arzan menduduki pantat mereka di sofa.
"Tujuan kedatangan kami pertama ingin melihat Bos. Dan kedua ingin memberikan berkas-berkas ini pada Tuan Arvind." Zayan berbicara sembari menyerah map berwarna biru pada Arvind.
__ADS_1
"Seharusnya berkas kami serahkan pada Bos, dikarenakan Bos belum sadar. Jadi kami berikan pada Tuan Arvind untuk mewakilinya," tutur Arzan.
Arvind menerima berkas itu lalu membuka dan melihatnya. Isi berkas itu adalah jadwal persidangan.
"Jadi persidangan akan dilakukan 3 kali?" tanya Arvind.
"Iya, Tuan." Sayang menjawab pertanyaan Arvind.
"Oh, iya. Bagaimana keadaan Rayyan dan adik-adiknya? Dimana mereka tinggal sekarang?" tanya William.
Sejujurnya William masih menyayangi kelima putranya itu. Bagaimana pun dialah yang sudah merawat, menjaga dan membesarkan mereka. Sebenci apapun William pada kedua orang tua mereka. Mereka sebagai anak tidak bersalah.
"Keadaan Tuan muda Rayyan dan adik-adiknya baik-baik saja, Tuan. Mereka tinggal di rumah Mathew, Ayah mereka. Awalnya mereka tidak mau tinggal di sana. Tapi perempuan itu memohon pada kami agar kami tidak menyakiti putra-putranya dan membiarkan mereka tinggal di sana." Sayang menjelaskan kepada William.
"Pa," panggil Dirga.
William melihat kearah Dirga, putra sulungnya itu. "Iya, sayang."
"Kenapa Papa masih memikirkan mereka? Biarkan saja mereka mau hidup susah ataupun kelaparan di luar sana. Jangan pedulikan mereka lagi. Mereka bukan putra kandung Papa."
"Dirga. Papa tahu hal itu, Nak! Mereka memang bukan putra kandung Papa dan mereka juga bukan adik kandungmu dan Marcel. Tapi jangan kau lupakan satu hal. Papalah yang merawat mereka, Papalah yang menjaga mereka, Papalah yang telah menafkahi mereka serta Papalah yang sudah membesarkan mereka. Jadi mereka juga putra-putra Papa. Kau dan Marcel juga ikut menjaga, merawat dan memberikan kasih sayang pada mereka. Pasti di hati kecilmu dan juga kau Marcel masih menyayangi mereka kan?" William berbicara lembut kepada kedua putra tertuanya sembari menatap wajah keduanya.
Dirga terdiam seketika, begitu juga Marcel. Lalu kilasan-kilasan tentang kedekatan mereka waktu mereka masih kecil hingga mereka tumbuh menjadi pemuda yang tampan.
William dan anggota keluarganya yang melihat wajah Dirga dan Marcel yang berubah sedih tampak mengerti. Mereka sangat yakin saat ini mereka tengah memikirkan Rayyan dan adik-adiknya.
"Oh, iya. Zayan, Arzan. Apa boleh aku bertanya sesuatu pada kalian?" tiba-tiba Davian membuka suara. Tujuan Davian hanya ingin mencairkan suasana.
"Tuan muda Davian mau bertanya apa?" tanya Arzan.
"Soal adikku yang mengetahui Mathew yang sudah menyuap dua karyawan CJ GRUP sehingga adikku berada di Perusahaan itu."
"Saat itu aku dan dua orang-orangku datang menjemput Bos saat pulang sekolah. Sebelumnya aku sudah memberitahu Bos. Dan kebetulan saat itu Tuan muda Ghali yang akan menjemput Bos dari sekolahnya," jawab Arzan.
Dan seketika Ghali mengingat sang adik yang menghubunginya.
"Hallo, Kak Ghali."
"Hallo, Darel. Ada apa? Kenapa menelpon Kakak? Bukannya masih ada satu setengah jam lagi waktu kamu pulang sekolah. Dan Kakak tidak lupa hal itu."
"Aish, Kakak. Kau bawel sekali. Aku baru bicara tiga kata. Kakak sudah beribu kata."
"Hehehe. Oke, oke. Maafkan Kakak. Katakan pada Kakak. Ada apa?"
"Begini, Kak. Kakak tidak usah menjemputku hari ini. Nanti ada dua orang kepercayaan Kakek akan datang menjemputku. Sekalian aku memang ingin ke Perusahaan CJ GRUP."
"Apa kamu yakin yang datang itu mereka? Kalau bukan mereka bagaimana?"
"Yakin, Kak. Yang datang itu mereka. Kakak tidak perlu khawatir. Doakan saja aku agar baik-baik saja. Bagaimana Kak? Boleh?"
"Baiklah. Tapi ingat. Kamu harus hati-hati. Ponsel kamu harus hidup. Baterainya jangan sampai lowbet. Mengerti!"
"Baik, Kak. Kalau gitu udah dulu ya, Kak. Aku menghubungi Kakak diam-diam tanpa sepengetahuan guruku. Aku lagi di toilet.. hehehehe."
"Aish. Kau ini. Ya, sudah. Sana masuk kelas sekarang."
"Baik, Kak."
PIP!
__ADS_1