
Mendengar teriakan Alvaro dan Axel, tiba-tiba Agatha datang mengampiri Alvaro, Axel dan Darel di ruang tengah.
"Alvaro, Axel. Kenapa kalian teriak-teriak seperti itu, hah?! Kalian pikir ini di hutan?!" bentak Agatha.
Mendengar bentakkan dari Agatha membuat Alvaro, Axel dan Darel terkejut. Alvaro dan Axel melihat kearah Agatha, tapi tidak dengan Darel. Darel fokus pada cemilan yang ada di tangannya.
"Dasar anak-anak tidak tahu diri. Kalau mau berteriak-teriak diluar sana. Jangan di dalam rumah. Apa begini cara Adelina mendidik kalian, hah?!" bentak Agatha lagi.
Alvaro dan Axel sudah mengepalkan tangan mereka kuat. Mereka ingin sekali menonjok mulut perempuan iblis di depan mereka ini. Saat Alvaro dan Axel ingin membalas perkataan Agatha, Darel sudah terlebih dahulu bersuara.
"Hei, Nyonya Agatha. Anda tidak punya hak atas rumah ini. Jadi, anda tidak usah sok berlagak seperti tuan rumah. Lagian anda tidak punya hak melarang kedua kakakku untuk berteriak-teriak di dalam rumah. Anda itu harusnya sadar diri status anda di rumah ini apa? Anda itu hanya benalu di rumah ini." Darel berbicara tanpa mengalihkan pandangannya melihat kearah Agatha.
Alvaro dan Axel mendengar penuturan Darel tersenyum mengejek kearah Agatha.
Agatha menatap kearah Darel "Kau..." tunjuk Agatha "Beraninya kau bicara seperti itu padaku, hah?!"
Darel bangkit dari duduknya. Dan saat ini Darel telah berdiri di samping Axel. "Memangnya anda itu siapa? Kenapa aku harus takut pada anda? Anda bukan siapa-siapa di rumah ini. Jadi aku tidak perlu bersikap sopan pada anda."
"Sudahlah, Rel! Ngapain juga kita ladeni mak lampir ini. Lebih baik kita ke kamar saja. Lagian kamu juga harus istirahat," ucap Axel.
"Itu benar sekali. Kalau kita terlalu lama melayani nenek lampir ini, lama-lama kita bisa jadi gila," sela Alvaro.
"Hahahahaha." tawa Alvaro dan Axel.
Sedangkan Darel hanya memperlihatkan senyuman mengejeknya. Setelah itu, mereka bertiga pun pergi meninggalkan Agatha menuju kamar Darel.
Agatha yang tidak terima atas penghinaan yang diberikan oleh ketiga putra Adelina menjadi marah.
Lalu Agatha...
BUGH!
"Aaakkkhhhh!" teriak Darel saat merasakan pukulan di kepalanya. Agatha memukul kepala Darel dengan vas bunga.
"Darel!" teriak Alvaro dan Axel. Alvaro dan Axel melihat kearah Agatha dengan tatapan membunuh.
Lalu detik kemudian...
Alvaro dan Axel secara bersamaan mencekik leher Agatha dengan kuat sehingga membuat Agatha kesulitan bernafas.
"Brengsek! Dasar wanita murahan. Beraninya kau menyakiti adikku, hah!" teriak Alvaro.
"Apa kau bosan hidup, hah?!" teriak Axel.
Alvaro dan Axel makin menguatkan cekikikan tangan mereka di leher Agatha, serta mendorong tubuh Agatha kearah lemari kaca yang ada di belakangnya.
"Le-pas-kan," lirih Agatha.
__ADS_1
"Hahahaha. Lepaskan katamu. Kami tidak akan melepaskanmu. Kau harus mati ditangan kami," ucap Alvaro dengan tatapan membunuhnya.
"Aaakkkhhh!" teriak kesakitan Agatha.
Sementara Alavaro dan Axel tak peduli dengan teriakan kesakitan dari Agatha.
"Ka-kakak," lirih Darel.
BRUUKKK!
Alvaro dan Axel melihat ke belakang. Dan mereka terkejut ketika melihat Darel yang sudah tak sadarkan diri.
"Darel!" teriak Alvaro dan Axel.
Alvaro dan Axel mendorong dengan kuat tubuh Agatha. Setelah itu keduanya menghampiri Darel yang sudah tak sadarkan diri. Axel mengangkat tubuh Darel, lalu mereka membawa Darel ke rumah sakit. Mereka benar-benar khawatir akan kesayangan mereka.
Sedangkan tubuh Agatha yang di dorong kuat oleh Alvaro dan Axel terhempas ke lemari kaca dan mengakibatkan lemari kaca itu pecah.
GEDEBUK!
PRANG!
BRUUKK!
Agatha jatuh tersungkur di lantai dengan bekas cekikan di lehernya dan luka di bagian punggungnya. Agatha tak sadarkan diri di lantai tersebut.
Setengah jam setelah kejadian tersebut. Anggota keluarga Wilson yang lainnya kembali ke rumah setelah selesai dengan tugas dan kegiatan mereka masing-masing di luar rumah.
Sedangkan Agatha yang sebagai tersangka utamanya masih tergeletak tak sadarkan diri di lantai ruang tengah dengan luka di leher dan di punggungnya.
"Astaga. Agatha!" teriak William saat memasuki ruang tengah bersama anggota keluarga lainnya.
Mereka yang melihat Agatha yang tak sadarkan diri di ruang tengah dan juga lemari kaca yang pecah membuat mereka semua terkejut.
PUK!
PUK!
Willian menepuk pelan pipi Agatha. "Sayang, bangunlah. Kau kenapa?"
Berlahan Agatha membuka kedua matanya dan menatap wajah suaminya dan menatap wajah anggota keluarga lainnya. Lalu berakhir menatap wajah Adelina.
"Agatha. Apa yang terjadi padamu?" tanya Adelina tulus. Adelina benar-benar khawatir akan kondisi Agatha saat ini.
"Jangan sok peduli padaku perempuan sialan. Kau senangkan aku seperti ini, hah?!" teriak Agatha.
"Agatha. Jaga bicaramu. Kak Adelina ini kakak iparku. Istri dari Kakakku!" bentak Sandy.
__ADS_1
Agatha ingin bangun, walau tubuh terasa sakit dan dengan sigap William pun langsung membantu istrinya untuk bangun dan berdiri.
Sedangkan para putra-putra Adelina sudah mengepalkan tangan mereka kuat saat mendengar ucapan Agatha untuk ibu mereka.
"Bibi. Jaga ucapanmu. Jangan seenaknya bicara seperti itu pada Mama!" bentak Vano.
"Kenapa? Tidak terima?" ketus Agatha menatap Vano.
"Agatha, sudah. Lebih baik kita ke kamar saja. Kau harus istirahat," ucap William lembut.
"Sayang. Aku seperti ini karena ulahnya Alvaro dan Axel. Kau harus memarahi mereka. Atau kalau perlu kau harus memberikan kedua keponakanmu itu pelajaran atau hukuman agar keduanya itu bisa lebih sopan dan menghormati orang yang lebih tua." Agatha berbicara sembari mempengaruhi William, suaminya.
"Agatha. Kenapa kau membawa-bawa Alvaro dan Axel? Memangnya apa kesalahan kedua putraku itu padamu?" tanya Adelina.
Adelina masih bersikap lemah lembut pada Agatha.
"Kau masih berani bertanya apa kesalahan kedua putra-putramu yang tak tahu diri itu, hah!" bentak Agatha. "Aku sampai seperti ini yang tak sadarkan diri di ruang tengah ini, itu karena perbuatan dari kedua putramu yang brengsek itu!" bentak Agatha sembari menunjuk wajah Adelina.
Davian yang berdiri di samping ibunya, langsung menepis kasar jari Agatha menunjuk kearah wajah ibunya. "Singkirkan tangan kotormu itu dari wajah ibuku." Davian berucap ketus.
"Davian. Bersikaplah yang sopan pada Bibimu!" bentak William.
Saat Davian ingin membalas perkataan William, Adelina sudah terlebih dahulu menggenggam tangan putra sulungnya itu. Davian yang merasakan tangannya digenggam kuat oleh ibunya pun mengerti. Davian membatalkan niatnya untuk melawan perkataan Pamannya.
"Maaf, Agatha. Aku bukannya bermaksud membela Alvaro dan Axel. Kalau memang benar Alvaro dan Axel yang melakukan hal itu padamu. Mungkin kau yang memulainya terlebih dahulu," ucap Salma.
"Kau benar sekali, Kak! Mungkin saja Agatha telah melakukan hal yang buruk pada Alvaro dan Axel sehingga membuat keduanya melakukan hal yang sedikit ekstrem padanya," ujar Evita.
"Kenapa kalian berdua bicara seperti itu? Apa yang aku katakan benar adanya? Kalau Alvaro dan Axel yang sudah membuatku seperti ini. Mereka marah padaku karena tidak terima aku melarang mereka berteriak-teriak dalam rumah," sahut Agatha.
"Karena yang aku tahu selama ini kau dan putra-putramu selalu saja mencari masalah dengan kakakku dan juga keponakan-keponakanku," jawab Salma.
"Kedua kakakku tidak akan sampai melakukan hal serendah itu, Nyonya." Evan berbicara ketus kepada Agatha.
"Aku sangat yakin. Kalau hanya masalah Bibi melarang kedua adik-adikku berteriak-teriak di dalam rumah. Mereka tidak akan mungkin sampai melakukan hal itu. Palingan kedua adik-adikku itu akan pergi meninggalkanmu dan mengabaikan dirimu, Nyonya Agatha." Ghali berbicara sambik menatap nyalang Agatha.
"Sayang, kau lihatkan!" tunjuk Agatha pada seluruh anggota keluarga Wilson. "Mereka menuduhku yang memulai keributan. Aku sudah seperti ini, tapi mereka tetap saja menyalahkanku. Aku akui kalau selama ini aku dan putra-putra kita selalu membuat masalah. Tapi kali ini kau harus percaya, sayang. Aku tidak melakukan apapun."
Agatha berbicara dengan memperlihatkan wajah sedihnya. Serta air matanya yang telah mengalir membasashi wajahnya.
"Dasar menjijikkan," batin Evan.
"Kenapa tidak kau saja yang mati. Kenapa harus Kakek," batin Daffa, Vano dan Raffa.
"Benar-benar wanita tak tahu diri," batin Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga.
"Papa jangan terlalu percaya atau termakan dengan ucapan Mama kali ini!" teriak Dirga dari lantai atas.
__ADS_1
DEG!