Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Awal Kehancuran


__ADS_3

Agatha dan Mathew benar-benar terkejut. Mereka berdua ketahuan oleh Adelina.


"Sayang. Kau uruslah pengganggu itu. Aku pulang dulu," bisik Mathew.


Mathew pun pergi meninggalkan kolam renang. Dan menyisakan Agatha dan Adelina.


"Aku harus memberitahu William masalah ini. Dia harus tahu apa yang sudah dilakukan oleh istrinya di belakangnya," ucap Adelina. Adelina pun segera pergi meninggalkan Agatha.


"Brengsek! Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau William sampai mengetahuinya," batin Agatha.


"Adelina!" teriak Agatha.


***


Saat ini Arvind, Farraz dan keempat adiknya sedang berada di luar. Mereka sedang menikmati suasana indah kota Hamburg.


Farraz dan keempat adiknya berjalan kaki, sedangkan Arvind duduk di kursi roda. Mereka mengelilingi beberapa kuliner dan juga toko-toko kecil di sana.


"Paman mau?" Dylan menyodorkan jajanan berupa hot bar dan hamburger pada Arvind.


Arvind mengambil satu dan langsung memakannya.


"Enak." Arvind berucap.


Mereka terus berjalan dan mengelilingi beberapa toko-toko kecil di pinggir jalan. Tristan dan Dylan sangat antusias sekali memilih beberapa pernik dan beberapa barang favorit mereka. Sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton setia.


Setelah merasa puas. Mereka memutuskan untuk pulang. Namun saat ingin menuju mobil. Ada 10 preman yang mencegat mereka.


"Serahkan dompet kalian pada kami!" teriak salah satu preman tersebut lengkap dengan pisau di tangan.


"Hei, Paman. Kalau Paman mau uang, kerja sana. Kenapa meminta dompet kami?" sahut Dylan.


Para preman itu marah saat mendengar penuturan dari Dylan, lalu mereka pun menyerang Dylan dan yang lainnya.


Saat preman-preman itu hendak menyerang, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang dari arah lain.


"Jangan ganggu mereka. Atau kalian akan mati hari ini juga!"


Baik Arvind, Farraz dan keempat adiknya mau pun para preman itu melihat kearah seseorang tersebut. Dapat mereka lihat ada lebih dari satu orang disana. Para preman-preman itu pun menelan ludah mereka kasar.


"Ini cari mati namanya. Kita pergi dari sini!" para preman itu pun pergi meninggalkan Arvind, Farraz dan keempat adiknya.


Seseorang yang berteriak tersebut beserta anak buahnya menghampiri Arvind.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan Arvind?" tanya Zayan.


"Dari mana anda tahu nama saya?" Arvind balik bertanya.


"Saya Zayan. Saya adalah salah satu kaki tangannya Tuan besar Antony Wilson," jawab Zayan.


"Jadi anda anak buahnya Papa saya?" tanya Arvind.


"Itu.. itu dulu. Sekarang saya sudah menjadi anak buahnya dari Tuan muda Darel," jawab Zayan.


"Lalu kenapa kalian ada disini?"


"Mengawasi anda, Tuan. Lebih tepatnya mengawasi keempat pemuda ini."


"Kami?" sela Farraz.


"Ya. Tuan muda Farraz."


"Haaah! Kau tahu nama Kakaku?" tanya Dylan.


"Iya. Saya tahu nama kalian semua."


"Kalau begitu siapa namaku?" tanya Dylan.


"Dylan," jawab Zayan.


"Waah, Kakak! Orang ini benar-benar hebat." Dylan berteriak heboh.


"Tuan. Lebih baik kita kembali ke Apartemen. Disana nanti saya akan ceritakan semuanya."


Mereka semua pun memutuskan kembali ke Apartemen dan diikuti oleh Zayan dan anak buahnya di belakang.

__ADS_1


***


"Adelina, berhenti. Jangan coba-coba kau membocorkan masalah ini pada pria brengsek itu!" teriak Agatha.


Sedangkan Adelina tak menghiraukan teriakan dari Agatha.


Mendengar suara teriakan dari Agatha membuat Salma menjadi terkejut. Salma kemudian menghampiri asal suara tersebut. Saat kakinya ingin melangkah, Salma melihat Adelina kakak perempuannya berjalan tergesa-gesa dan di belakang Kakaknya, Agatha sedang mengejarnya.


"Kak, ada apa?"


"Perempuan gila itu selingkuh dengan Mathew, Salma. Aku melihatnya."


"Apa?" Salma terkejut sehingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kau serius, Kak?"


"Aku berani bersumpah, Salma."


"Lalu apa yang akan Kakak lakukan?"


"Aku akan memberitahu William. Terserah William mau percaya atau tidak."


"Kena kau. Mau kemana, hah?!" bentak Agatha dengan mencekal tangan Adelina kuat.


"Lepaskan aku, Agatha!" bentak Adelina.


"Agatha. Lepaskan kakakku. Kau benar-benar busuk."


PLAAKK!


Agatha langsung menampar wajah Salma dengan keras.


PLAAKK!


Salma balik membalas menampar Agatha. "Kau pikir aku akan diam saja saat kau menamparku, hah!" bentak Salma.


Adelina menginjak kuat kaki Agatha sehingga membuat Agatha menjerit kesakitan.


"Aakkhhh."


"Brengsek!" Agatha mengejar Adelina.


"Aakkhhhh!" Adelina berteriak saat rambutnya ditarik kasar oleh Agatha dari belakang.


"Agatha. Apa yang kau lakukan? Lepaskan kakakku." Salma berusaha melepaskan tangan Agatha di rambut kakaknya.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu membocorkan masalah ini pada pria brengsek itu, hah! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Adelina!" teriak Agatha.


Agatha mencekik leher Adelina. Hal itu sukses membuat Salma terkejut.


"Agatha, lepaskan kakakku. Apa kau sudah gila, hah? Apa kau ingin membunuh kakakku?"


"Iya. Aku memang ingin membunuh perempuan murahan ini."


"CUIH! Apa aku tidak salah dengar, hah? Disini itu kaulah yang perempuan murahan. Kau sudah punya suami. Tapi kau malah berciuman dengan laki-laki lain. Dasar tidak tahu malu!"


Agatha menggeram marah, lalu tangannya makin memperkuat cekikannya di leher Adelina.


"UUHHUUUKK!" wajah Adelina sudah memerah.


"Brengsek! Lepaskan kakakku, Agatha! teriak Salma yang berusaha melepaskan tangan Agatha dari leher Adelina.


"Jangan ikut campur!" teriak Agatha, lalu mendorong kasar tubuh Salma.


BUGH!


PRAANNGG!


BRUUKK!


Tubuh Salma terhempas di lemari kaca dan mengakibatkan kaca tersebut pecah. Salma pun tak sadarkan diri setelahnya.


"Salma," lirih Adelina saat melihat adiknya sudah tak sadarkan diri di lantai.


"Brengsek! Lepaskan aku. Kau benar-benar perempuan tidak tahu diri, Agatha."

__ADS_1


"Kau harus mati, Adelina."


Agatha saat bernafsu ingin membunuh Adelina sehingga dirinya tidak mengetahui seseorang kini tengah menatap tajam kearahnya. Dan bisa dibilang sedang menuju kearahnya.


"Apa yang kau lakukan pada Mamaku perempuan murahan?!" teriak Darel.


Darel menarik kasar rambut Agatha dengan tangan kirinya sehingga membuat kepala Agatha mendongak ke atas.


"AAAKKKHHHH!" Agatha berteriak kesakitan.


Lalu tangan kanannya mencekik leher Agatha dengan sangat kuat sehingga lagi-lagi membuat Agatha berteriak.


"AAAKKKKHHHHH!


Agatha melepaskan tangannya dari leher Adelina, lalu memegang tangan Darel dan berusaha untuk melepaskan tangan itu dari lehernya. Tubuh Adelina seketika jatuh terduduk lemah di lantai.


"UUHUUK.. UUHUUKK." Adelina terbatuk-batuk.


Melihat ibunya yang kini kesakitan dan terbatuk-batuk membuat Darel makin kalap mencekik leher Agatha.


"Berani sekali kau menyakiti Mamaku. Kau pikir kau siapa, hah? Aku sudah berapa kali katakan padamu. Jangan pernah menyakiti Mamaku. Tapi kau tidak pernah mau mendengarkannya!" bentak Darel.


"Le-paskan a-ku," lirih Agatha.


"Apa? Melepaskanmu? Tadi saja saat kau mencekik Mamaku, kau tidak mau mendengarkan keluhan dari Mamaku dan juga Bibiku. Bahkan kau juga berani menyakiti Bibi kesayanganku!" bentak Darel.


^^^


Di lapangan basket para kakak-kakaknya sedang menunggu kedatangan Darel.


"Kenapa Darel lama sekali?" gerutu Alvaro.


"Memang Darel kemana?" tanya Ghali.


"Katanya mau ambil susu pisang kesukaannya," jawab Axel.


"Tunggu saja. Sebenar lagi mungkin Darel kembali," ujar Arga.


"Tenang. Masih ada dua menit lagi kok." Andre berucap.


BRAAKK!


Pintu di buka paksa oleh seorang pelayan, lalu pelayan tersebut berteriak.


"Tuan muda! Tuan muda!"


Mereka semua yang mendengar suara teriakan dari pelayan tersebut sontak kaget, lalu mereka semua menghampiri pelayan tersebut. Dan permainan pun terhenti.


"Ada apa, Bi? Kenapa berteriak-teriak seperti ini?" tanya Davian.


"Itu.. itu.. Nyonya Adelina dan Nyonya Salma."


"Ada apa, Bi? Kenapa dengan orang tua kami?" tanya Steven.


"Ach, kelamaan." Vano langsung berlari meninggalkan lapangan basket dan disusul oleh yang lainnya.


^^^


Darel masih terus mencekik leher Agatha tanpa ada niat untuk melepaskannya. Sedangkan Agatha wajahnya sudah merah dan sedikit membiru karena kesulitan bernafas.


"Kau ingin membunuh Mamaku, bukan? Bagaimana kalau aku saja yang membunuhmu, hum? Paling tidak itu akan mengurangi dosa-dosamu di dunia ini."


"Astaga. Mama!"


Davian dan yang lainnya berteriak saat melihat kondisi masing-masing Ibu mereka yang dalam keadaan tak baik-baik saja.


Davian dan Nevan menghampiri Darel karena hanya mereka berdua yang bisa menenangkan Darel.


"Darel, dengarkan Kakak. Lepaskan Bibi Agatha. Kakak tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Kakak mohon lepaskan Bibi Agatha," ucap Davian lembut.


"Aku ingin membunuhnya, Kak. Perempuan murahan ini harus mati. Kalau tidak kita yang akan mati olehnya," jawab Darel.


"Tidak, sayang. Dengarkan Kakak. Kalau Darel membunuhnya, bagaimana dengan Mama. Mama akan sedih melihat Darel jadi pembunuh." Nevan berusaha membujuk adik bungsunya.


Darel melirik kedua kakaknya itu, lalu kembali menatap wajah Agatha. Dan akhirnya Darel melepaskan cekikannya. Tapi tidak tarikan di rambut Agatha. Darel menarik kuat rambut Agatha untuk menuju ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2