
[KEDIAMAN Arvind]
[Kamar Darel]
Darel saat ini berada di kamarnya. Setengah jam yang lalu dirinya baru saja bersenda gurau dan mengobrol banyak dengan sahabat-sahabatnya. Mereka mengobrol sembari membahas apa yang akan mereka lakukan saat di kampus nanti. Darel sangat bahagia saat ini. Dirinya sudah tidak sabaran untuk menunggu hari esok.
Saat ini Darel sedang duduk bersandar tempat tidur kesayangannya sembari bermain game di laptop miliknya. Lengkap dengan Headphone Gaming Darel bermain game A Chinese Ghost Story.
Darel sedang fokusnya melawan para musuh bersama dengan teman-temannya di dunia game.
"Hei, kenapa kau menyerangku!" kesal Darel saat salah satu teman gamenya tak sengaja menyerangnya
"Sorry.. aku tidak sengaja. Seranganku meleset," kata JN.
"Alah, alasan. Jangan percaya DL. JN itu sengaja," kata ZG yang sengaja memanas-manasi keadaan.
"Yak, sialan ZG!" kesal JN terhadap ZG
Saat ZG sedang asyik tertawa sembari menyerang para musuh di depannya, JN dengan sengaja menembakkan busurnya kearah pedang ZG sehingga pedangnya itu jatuh ke tanah.
"Heii! Kenapa kau menyerangku. Musuhmu ada di depan," kesal ZG.
"Sorry.. aku sengaja." JN mengejek kearah ZG.
Saat ZG ingin membalas JN. DL, LC, SL dan RZ sudah terlebih dahulu berteriak.
"JN, ZG. Hentikan!" teriak SL.
"Musuh di depan kalian. Kenapa kalian malah ribut dan saling menyerang?" teriak LC.
"Apa kalian ingin cari mati?" teriak RZ.
"Kalau sampai aku GAME OVER. Aku akan membuat kalian berdua tidak akan bisa hidup lagi di dunia Game ini!" teriak DL.
Mendengar teriak serta ancaman dari DL membuat JN dan ZG berhenti. Lalu kembali fokus pada musuh-musuhnya. Namun saat keduanya berusaha kembali fokus. Tanpa disadari oleh mereka. Para musuh sudah bersiap untuk menyerang.
Dan detik kemudian.....
Baik DL maupun teman-teman dunia Game nya kalah alias GAME OVER.
"AARRRGGGGHHH!!" Darel berteriak sembari melepaskan headphone gaming
"SIAL.. SIAL.. SIAL." Darel benar-benar kesal saat permainannya gagal.
Satu jam bermain game membuat Darel haus. Akhirnya Darel pun memutuskan untuk turun kebawah untuk mengambil minuman.
^^^
[Ruang Tengah]
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga berada di ruang tengah. Pikiran mereka saat ini tertuju pada adik bungsu mereka dan juga ucapan yang keluar dari bibir sang adik.
"Aku pengen kayak Kenzo dan yang lainnya. Pergi kemana-mana sendiri tanpa harus ditemani. Dan pergi ke Kampus juga sendiri. Tapi apa aku bisa kayak mereka? Apa mereka mau ngasih kebebasan dan kepercayaan padaku? Aku yakin mereka tidak akan mau membiarkan aku pergi kemana-mana sendiri. Apalagi ke Kampus," monolog Darel.
Davian melihat kearah Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga.
"Menurut kalian bagaimana? Apa kita memberikan kesempatan Darel untuk membawa kendaraan sendiri?" tanya Davian.
__ADS_1
"Kalau menurutku sih tidak ada salahnya kita memberikan sedikit kebebasan dan kepercayaan pada Darel, kak! Selama ini Darel sudah menjadi adik yang baik dan selalu menurut dengan kita. Jujur aku tidak tega melihat wajah Darel yang sedih dan berharap gitu," sahut Nevan.
"Darel sekarang ini bukan pelajar lagi. Darel sudah berstatus mahasiswa. Besok adalah hari pertamanya kuliah. Tidak ada salahnya kita memberikan kebebasan, kepercayaan dan ruang privasi untuknya." Ghali ikut menyuarakan isi hatinya.
"Ya, aku setuju dengan kak Ghali. Darel sudah menjadi adik yang baik dan manis untuk kita. Kita sebagai kakak-kakaknya harus memberikannya hadiah. Hadiah yang diinginkan Darel," ujar Elvan.
"Ya. Kita akan memberikan Darel kebebasan dan kepercayaan untuk pergi kemana pun sendiri," seru Andre.
"Sudah waktunya kita sebagai kakak-kakaknya memberikan kepercayaan untuknya. Sebagaimana kita memberikan kepercayaan dan kebebasan pada Evan dan Raffa sehingga keduanya bisa pergi kuliah sendiri atau pergi bersama. Aku yakin Darel pasti bisa seperti Evan dan Raffa!" ucap Arga.
"Jadi?" tanya Davian lagi.
"Kita akan memberikan apa yang Darel inginkan," jawab Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga bersamaan.
"Tapi ada syaratnya," sela Davian.
"Apa?" tanya mereka bersamaan.
"Kita akan tetap mengawasinya. Kita tidak akan membiarkan dan melepaskannya begitu saja. Ingat!! Kondisi kesehatan Darel tidak seperti dulu lagi. Darel gampang sekali jatuh sakit. Fisiknya lemah, bukan berarti lemah dalam melakukan hal apapun. Darel bisa melakukan semuanya dengan baik. Darel tidak boleh kelelahan. Baik lelah tubuhnya maupun pikirannya," tutur Davian.
"Kalau masalah itu sudah pastilah kak Davian. Kita akan terus memantaunya dan mengawasinya," kata Nevan.
"Tapi kalau bisa Darel jangan sampai mengetahuinya kalau kita masih saja mengawasinya. Kalau Darel tahu, Darel pasti akan sedih dan kecewa. Karena kita tidak sepenuhnya memberikan kepercayaan padanya," sela Ghali.
"Kau tidak perlu khawatir, Ghali! Kita melakukan semua ini secara diam-diam tanpa Darel tahu. Kita akan bersikap biasa saja di depan Darel. Karena kebahagiaan Darel adalah yang utama untuk kita semua." Davian berucap dengan menatap wajah adik ketiganya.
"Berarti kita sudah sepakat besok adalah hari pertama Darel pergi kuliah sendiri?" tanya Arga.
"Hm!" Davian, Nevan, Ghali, Elvan dan Andre bersamaan sembari mengangguk mantap.
"Oh, iya. Satu lagi. Jangan beritahu Darel masalah ini. Biarkan ini menjadi kejutan untuknya besok pagi," usul Davian.
Tanpa disadari oleh Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga. Keenam adiknya yang lainnya yaitu Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa mendengar semua pembicaraan mereka. Mereka sangat bahagia saat mendengar apa yang dibicarakan oleh kakak-kakaknya. Dan mereka juga sepakat untuk tidak memberitahu Darel adik bungsu kesayangan mereka itu.
Setelah puas memperhatikan dan mendengar semua pembicaraan para kakaknya. Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa akhirnya memutuskan untuk menghampiri para kakaknya di ruang tengah.
"Kakak!" seru Raffa.
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga pun mengalihkan pandangannya kearah adik-adik mereka. Sedangkan keenam adik-adiknya itu langsung menduduki pantat mereka di sofa.
"Lagi ngomong apa sih? Serius amat," ucap dan tanya Raffa.
"Kepo!" Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga menjawab bersamaan.
"Aish," kesal Raffa.
Saat mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba Adelina dan Arvind datang. Dan langsung duduk di sofa
"Wah, seru nih!" seru Arvind.
"Lagi ngomongin apa?" tanya Adelina.
"Kita hanya sedang membahas masalah Darel, Ma!" Ghali menjawab pertanyaan dari ibunya.
"Masalah apa, hum?" tanya Arvind.
"Aku dan yang lainnya sudah sepakat. Besok kita akan mencoba melepaskan Darel untuk pergi kuliah sendiri tanpa diantar," sahut Davian.
__ADS_1
Arvind dan Adelina saling lirik. Lalu kemudian menatap satu persatu wajah putra-putranya.
"Benarkah itu sayang?" tanya Adelina tersenyum.
"Benar, Ma!" jawab Elvan.
"Iya, Ma. Itu benar," sahut Nevan dan diangguki oleh yang lainnya.
"Terima kasih ya sayang. Papa sangat yakin jika kalian akan mengambil keputusan ini. Kalian mengambil keputusan yang tepat. Darel berhak mendapatkannya," ucap Arvind tersenyum menatap keenam putra sulungnya.
"Sama-sama, Pa! Kami juga sebenarnya tidak tega dengan Darel. Anak-anak pelajar diluar sana pada umumnya bisa pergi dengan bebas tanpa diantar. Tapi Darel selama ini tidak pernah merasakan hal itu," kata Arga.
"Darel selalu diantar jemput. Kalau mau jalan-jalan keluar rumah. Salah satu dari kita harus menemaninya," tutur Andre.
"Sudah saat kami memberikan kesempatan itu untuk Darel. Besok adalah kuliah pertama Darel. Darel akan pergi sendiri tanpa diantar," ujar Ghali.
Adelina dan Arvind tersenyum bahagia mendengar penuturan dari putra-putranya. Mereka sangat bersyukur dan bahagia Tuhan memberikan putra-putra yang baik, sopan santun, rukun, kompak dan saling menyayangi satu sama lain
"Sekarang Darel ada dimana? Kenapa Mama dan Papa tidak melihatnya?" tanya Adelina yang tidak melihat keberadaan putra bungsunya itu.
"Darel masih dikamarnya Ma, Pa! Mungkin kecapean kali. Kan sahabat-sahabatnya baru pulang setengah jam yang lalu," jawab Daffa.
Lalu detik kemudian, mereka semua mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
TAP!!
TAP!!
TAP!!
Mereka semua menolehkan wajah untuk melihat keasal suara. Dapat mereka lihat kesayangan mereka sedang menuruni anak tangga dan menuju kearah dapur. Mereka semua tersenyum gemas melihatnya.
Saat baru beberapa langkah, tiba-tiba Darel berhenti karena ponsel miliknya berbunyi. Darel kemudian merogoh ponselnya di saku celananya.
Dan saat ponsel itu sudah di tangannya, Darel melihat nama 'Paman Fayyadh' di layar ponsel miliknya.
"Paman Fayyadh," gumam Darel.
Sedangkan anggota keluarganya masih setia memperhatikannya.
"Kenapa Darel berhenti. Dan sepertinya ada yang menelponnya?" batin Davian pun Nevan.
Darel yang mendapat telepon dari Ayahnya Kenzo langsung menjawabnya.
"Hallo, Paman Fayyadh."
"Fayyadh! Kenapa Fayyadh menelpon putra bungsuku?" gumam Arvind.
"Hallo, Darel!" Fayyadh berucap dengan suara lirihnya.
"Ada apa, Paman? Kenapa dengan suara Paman?"
"Darel." Fayyadh menangis dan hal itu dapat didengar oleh Darel.
"Paman, ada apa? Katakan padaku."
Pertanyaan Darel tersebut sukses membuat anggota keluarganya menjadi khawatir. Lalu mereka memutuskan menghampiri Darel.
__ADS_1
"Darel! Kenzo dan sahabat-sahabatmu yang lainnya kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi terbalik dan hancur. Brian dan Azri meninggal di tempat. Damian, Evano dan Farrel luka-luka parah. Saat ini mereka semua berada diruang operasi. Sedangkan Kenzo dan Gavin hilang dalam kecelakaan tersebut."