
Adelina dan anggota keluarganya sudah berada di rumah. Setengah jam yang lalu mereka baru pulang dari kegiatan mereka masing-masing.
Saat ini tengah bersiap-siap untuk menuju ke rumah sakit. Mereka sudah tidak sabaran untuk melihat kesayangan mereka, terutama para kakak sepupunya. Mereka ingin mengajak simanis berbicara. Siapa tahu saat mereka mengajak kesayangannya berbicara, kesayangannya mau memberikan respon.
"Ayo, buruan. Kenapa kalian lama sekali?!" teriak Dylan.
"Dylan. Jangan teriak-teriak," tegur Farraz.
"Maaf, Kak Farraz. Dylan tidak bermaksud untuk berteriak. Dylan hanya tidak sabaran untuk segera ke rumah sakit," jawab Dylan yang sudah menundukkan kepalanya.
Farraz sebenarnya tidak memarahi adiknya. Hanya saja Dylan itu sifatnya terlalu sensitif. Jadi Dylan berpikir kalau kakaknya itu marah padanya.
Dirga dan Marcel yang melihat adik bungsunya menunduk berlahan mendekatinya.
PUK!
Dirga menepuk pelan bahu Dylan. Dylan yang merasakan tepukan di bahunya pun mengangkat kepalanya. Dilihat kakak pertama dan kakak keduanya sudah berdiri di hadapannya.
Dirga membelai rambut adik bungsunya itu. "Kak Dirga, Kak Marcel. Maafkan Dylan. Jangan marahin Dylan ya." Dylan berbicara dengan suara lirih.
Keduanya hanya memperlihatkan senyumannya. Tak jauh beda dengan anggota keluarganya yang lainnya. Mereka juga tersenyum melihat wajah Dylan yang seperti takut pada ketiga kakaknya Farraz, Dirga dan Marcel.
"Siapa yang marah? Kita berdua tidak marah sama Dylan," sahut Dirga.
"Begitu juga dengan Kak Farraz. Kak Farraz itu tidak marah sama Dylan," ujar Marcel.
"Benarkah?" tanya Dylan sembari melirik kearah Farraz.
Farraz yang dilirik oleh Dylan akhirnya mendekati adiknya itu. "Ya, itu benar. Kakak tidak marah sama Dylan. Kakak hanya menasehati Dylan agar tidak berteriak di dalam rumah."
GREP!
Dylan memeluk tubuh Dirga dan Marcel. Setelah beberapa menit, Dylan melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk tubuh Farraz, Kakak kesayangannya itu. Kakak yang sudah merawatnya selama ini.
"Maafkan Dylan, Kak. Dylan janji gak akan berteriak lagi di dalam rumah," kata Dylan di pelukan Farraz.
"Tidak perlu berjanji juga, sayang!" seru Adelina.
Dylan melepaskan pelukannya dari Farraz. Baik Farraz, Dylan dan yang lainnya melihat kearah Adelina.
"Maksud Bibi apa?" tanya Dylan.
"Maksud Bibi itu. Dylan tidak perlu berjanji untuk tidak berteriak-teriak lagi di dalam rumah ini. Di rumah ini sudah terbiasa mendengar suara teriakan karena bagi kami semua, teriakan itu sudah menjadi candu bagi kami. Dengan adanya teriakan salah satu anggota keluarga, itu menandakan rumah ini tampak hidup dan tidak sepi. Dylan tahukan siapa yang menjadi tersangkanya?" ucap dan tanya Adelina tersenyum.
Dylan tersenyum. Lalu mengangguk. "Darel."
"Iya," jawab mereka semua, kecuali Farraz, Deon, Keenan dan Tristan.
"Darel selalu menghidupkan suasana di rumah ini dengan teriakan-teriakannya. Dan Raffa orang yang selalu berhasil membuat teriakan seorang Darel Wilson melengking di ruangan ini karena Raffa selalu hobi mengganggu adiknya itu." Steven bersuara.
"Ya, sudah. Ayo, kita berangkat sekarang ke rumah sakit. Ini sudah pukul 1 siang. Bukankah perjanjiannya hanya sampai pukul 12 siang. Jangan sampai Kak Davian dan adik-adiknya itu menguasai Darel. Bukan mereka saja yang kakak-kakaknya Darel. Kita juga kakak-kakaknya Darel. Jadi kita juga berhak untuk menguasai Darel!" seru Satya.
"Hahahaha." mereka semua tertawa mendengar ucapan dari Satya.
Setelah itu mereka semua pun memutuskan untuk menuju rumah sakit. Untuk para Ayah masih berada di Perusahaan masing-masing. Para Ayah sudah sepakat dari Perusahaan mereka langsung ke rumah sakit.
__ADS_1
***
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang rawat Darel. Dan mereka juga sudah memberikan kecupan sayang di kedua pipi dan kening Darel.
"Hari ini adalah hari yang ketiga Darel tertidur. Aku sudah tidak sabar melihat mata itu terbuka," sahut Aditya.
"Bahkan sudah dua hari termasuk hari ini Kakak tidak mendengar suara teriakannya. Kakak rindu teriakannya itu," ucap Naufal.
"Iya. Kau benar, Kak Naufal. Aku juga merindukan teriakan sikelinci manis itu. Bahkan aku juga merindukan umpatan-umpatan yang keluar dari mulutnya," pungkas Gilang.
Saat mereka tengah membayangkan bagaimana keseharian mereka dengan sikelinci nakal itu. Terdengar suara pintu di buka.
CKLEK!
Mereka yang ada di dalam melihat kearah pintu tersebut. Dapat mereka lihat sahabat-sahabatnya Darel datang bersama dengan teman sekelas dan juga gurunya.
"Selamat siang Bi, Kak." Kenzo melangkah masuk bersama keenam sahabatnya dan diikuti beberapa orang di belakang.
Adelina dan yang lainnya membungkuk memberikan hormat. Lalu Kenzo dan teman-teman sekelasnya dan guru kelasnya menghampiri ranjang Darel.
"Hei, Rel. Kami datang. Apa kau tidak ingin melihat kedatangan kami, hum?" Kenzo menangis.
"Lihatlah. Teman sekelas kita datang. Mereka ingin melihatmu, Rel!" Gavin juga ikut berbicara.
"Hei, Darel." teman-teman sekelasnya menyapanya secara bersamaan.
Mereka semua sedih ketika melihat Darel yang terbaring lemah dengan beberapa alat di tubuhnya.
Para anggota keluarganya yang melihat momen itu menjadi terharu. Mereka merasa bersyukur karena kesayangan mereka memiliki sahabat-sahabat dan juga teman-teman sekelasnya yang begitu solid dan perhatian padanya.
"Rel. Kau tidak lupakan dengan janjimu saat itu. Kau berjanji akan mengajak kami bermain ke rumahmu. Rumahmu yang hanya ada kau, kedua orang tuamu dan para kakak-kakakmu." Brian berbicara sembari menggenggam tangan Darel.
Wali kelasnya yang sedari sudah berdiri di depan Darel tak kuasa menahan tangis. Guru tersebut menangis melihat kondisi muridnya. Tangannya terangkat untuk menyentuh rambut Darel. Lalu detik kemudian, guru itu mencium kening Darel.
"Ibu harap besok ibu mendengar kabar kalau murid ibu yang tampan dan cerdas ini sudah bangun. Ibu berharap hal itu terjadi," ucap guru tersebut.
"Kami juga berharap kau segera bangun, Darel. Sekolah sepi tanpa mendengar suara teriakanmu," tutur salah satu teman sekelas Darel.
"Sahabat-sahabatmu itu seperti orang gila. Bahkan mereka tidak bergairah sama sekali. Mereka seperti mayat berjalan," ejek teman sekelas lainnya.
"Kau tahu tidak, Rel? Apa alasan mereka menjadi mayat berjalan? Itu dikarenakan mereka kehilangan induknya. Induknya tidak ada bersama mereka. Induknya itu adalah kau, Rel!" temen sekelas lainnya ikut berbicara.
Brian, Azri, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin dan Damian menatap horor pada teman sekelasnya itu. Sedangkan yang menjadi korban tatapan cuek dan acuh.
"Aku tahu aku ini tampan. Jadi jangan perlihatkan wajah kusam kalian itu padaku," sahut teman sekelasnya itu dengan santai.
BUGH!
BAAKK!
DUAGH!
PLETAAK!
Brian dan keenam sahabatnya memberikan pukulan, tendangan, jitakan pada teman sekelasnya yang terlalu pede itu.
__ADS_1
"Ini namanya kekerasan dalam rumah sakit. Aku bisa laporkan kalian kepihak perlindungan anak," kesal teman sekelasnya itu.
Sedangkan penghuni yang ada di dalam ruang rawat Darel hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala, termasuk wali kelasnya.
Setelah satu setengah jam membesuk Darel. Guru kelas dan teman-teman sekelas Darel pun pamit pulang. Tapi tidak dengan ketujuh sahabatnya. Mereka memilih tetap di rumah sakit. Mereka akan pulang pukul lima sore nanti.
"Hei, Rel. Kau tahu tidak. Papaku dan juga Papamu saling kenal loh. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP sampai sekarang. Aku benar-benar terkejut saat Papa menceritakannya padaku. Dan sekarang kita berdua juga bersahabat. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi sahabatmu, Rel!" Kenzo berbicara kepada Darel dengan tangannya menggenggam tangan Darel.
"Seperti yang diinginkan Papaku. Aku berjanji. Selama aku hidup, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu nyaman," ucap Kenzo.
"Kita bertujuh akan selalu ada untukmu, Rel." mereka berbicara bersamaan.
CKLEK!
Pintu di buka oleh seseorang. Mereka yang berada di dalam melihat kearah pintu tersebut.
"Papa, Paman!" seru para anak-anak.
"Waaahh! Ternyata sudah pada mengumpul disini!" seru Sandy.
"Ada sahabat-sahabatnya Darel juga. Sudah lama kalian?" ucap dan tanya Arvind.
"Lumayan, Paman. Sudah satu jam lebih," jawab Gavin.
"Kebetulan kalian semua pada ngumpul. Paman akan delivery makanan dan minuman untuk kita semua!" seru William dan Daksa.
"Yeeeyyy. Makan enak kita!" teriak Raffa, Dylan, Melvin dan Rendra.
"Waw. Para bungsu keluarga Wilson pada kompak," celetuk Marcel.
"Hei, Kak Marcel. Kau salah," ejek Axel.
"Salah? Salahnya dimana, Xel?" bingung Marcel.
"Kakak lupa atau pikun? Dylan, Rendra, Melvin. Mereka memang berstatus putra bungsu. Tapi Raffa...?" ucapan Axel terhenti.
Axel melirik Raffa yang sudah merengut. Lalu Axel kembali melirik Marcek dengan alis yang dinaik turunkan.
Lalu detik kemudian....
"Hahahaha. Iya, iya. Kau benar, Axel. Kenapa Kakak bisa lupa ya."
"Aish. Kalian berdua benar-benar menyebalkan," kesal Raffa. "Apa salahnya sih aku menjadi bungsu untuk sementara waktu. Anggap saja aku menggantikan Darel. Ditambah lagi akukan juga lagi sakit," sahut Raffa dengan bibir yang dimanyunkan.
"Oooohhh.. tidak bisa." itu Davian yang bersuara.
"Yang pantas menjadi putra bungsu dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson hanyalah Darel Wilson," jawab Nevan.
"Sekali pun si bungsunya lagi sakit dan belum bangun sampai sekarang. Dia tetaplah bungsu dari Arvind Wilson," Ghali juga ikut berbicara.
"Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya," tutur Elvan
"Kami tidak mau ada bungsu yang lain, selain Darel Wilson," ucap Andre.
"Darel Wilson adalah kesayangan kami," celetuk Arga.
__ADS_1
Sebenarnya mereka hanya menjahili Raffa. Mereka tidak benar-benar ingin menyakiti kesayangan mereka. Bagaimana pun Evan, Raffa dan Darel adalah kesayangan mereka. Ketiganya itu dalam pengawasan mereka. Mereka bicara seperti itu hanya ingin membuat Raffa kesal saja.
"Kalian benar-benar menyebalkan, Kak. Kalian tega padaku," sahut Raffa dengan wajah sedihnya.