Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Terbongkar


__ADS_3

Saat ini William, Sandy dan Daksa masih bersenda gurau disana, lalu tiba-tiba mereka dikejutkan oleh putra-putra mereka.


BRUUKK!


Darel mendorong kasar tubuh Agatha tepat di kaki William.


"Agatha." William terkejut.


William melihat kearah Darel. "Ada apa ini, Rel? Kenapa kau memperlakukan Bibimu seperti ini?"


"Tanyakan saja pada perempuan murahan itu apa yang sudah dilakukannya terhadap Mamaku dan Bibi Salma!" bentak Darel.


"Ti-dak, saya-ng. Aku tidak melakukan apapun," bohong Agatha.


"Darel, sayang. Apa yang terjadi, Nak? Katakan pada Paman." Sandy bertanya dengan lembut.


"Perempuan murahan itu ingin membunuh Mama. Bibi Salma berusaha untuk melepaskan tangan perempuan murahan itu dari leher Mama, tapi justru perempuan murahan itu mendorong Bibi Salma dan punggung Bibi Salma menghantam lemari kaca sehingga Bibi Salma pingsan." Darel berbicara dengan menatap tajam Agatha.


Mendengar penuturan dari Agatha membuat kelima putranya geram.


"Brengsek! Berani sekali kau menyakiti Mamaku!" teriak Steven.


"Agatha. Aku tidak habis pikir dengan perbuatanmu itu. Kau tega sekali menyakiti istriku dan istri dari kakakku. Maumu apa sebenarnya di rumah ini Agatha. Kelakuanmu makin hari makin menjadi-jadi!" bentak Sandy.


Sandy yang terlihat sabar selama ini. Akhirnya kesabarannya pun habis.


Hening! Tidak ada jawaban apapun dari Agatha. Darel menghampiri ibunya.


"Hiks... Ma."


Adelina membelai wajah putih putra bungsunya itu, lalu mencium keningnya.


"Mama tidak apa-apa, sayang. Jangan khawatir, oke!"


Lalu detik kemudian terdengar lenguhan dari Salma.


"Eeuugghh."


"Mama," Panggil Steven dan adik-adiknya.


"Sayang," ucap Sandy.


"Kak Adelina."


"Kakak disini, Salma."


"Bagaimana keadaanmu, Kak?"


"Kakak baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."


"Mama. Katakan pada kami apa yang terjadi?" tanya Davian.


"Mama melihat Agatha sedang berciuman dengan Mathew di dekat kolam renang, lalu Mama berniat ingin memberitahu Pamanmu. Tapi Agatha mengejar Mama dan mencekik Mama."


"Brengsek!"


Davian dan adik-adik menatap tajam kearah Agatha. Begitu juga dengan Steven dan adik-adiknya.

__ADS_1


"Sayang. Jangan percaya ucapan mereka. Aku tidak melakukan apapun yang mereka tuduhkan kepadaku. Kau harus percaya padaku sayang." Agatha memegang tangan William.


Darel beranjak dari duduknya dan menatap tajam kearah Agatha. "Hentikan semua sandiwaramu perempuan sialan. Aku sudah cukup sabar selama ini terhadapmu. Kau selalu menyakitiku, kau selalu menghina Mamaku. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu berbuat sesuka hatimu di rumah ini. Bahkan kau berulang kali mencoba membunuhku."


DEG!


Para kakak kandungnya, para kakak sepupunya, Adelina, Salma, Sandy, Daksa dan Evita yang baru keluar dari kamarnya terkejut mendengar penuturan dari Darel.


"Kau membayar orang untuk menabrakku saat aku pulang sekolah waktu itu. Kau juga yang sebagai salah satu dalang atas kecelakaan yang menimpaku, Papa dan Kakek. Dan sekarang kau berusaha ingin melenyapkan nyawa Mamaku dikarenakan Mamaku mengetahui kebusukanmu!" bentak Darel.


Mereka semua benar-benar terkejut mendengar penuturan dari Darel. Sedangkan William, dirinya hanya diam membeku. Dirinya benar-benar syok atas apa yang didengar olehnya.


"Kau itu perempuan tidak tahu diri. Perempuan murahan yang menggoda Pamanku agar bisa masuk ke dalam rumah ini!" teriak Darel.


Darek menatap wajah William. "Dan untukmu Paman. Aku akan mengatakan suatu rahasia yang tidak pernah kau ketahui tentang istri kesayanganmu ini. Dan rahasia ini sudah diketahui sangat lama oleh Kakek. Dan juga sudah diketahui oleh Papa sebelum kecelakaan itu terjadi. Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka bukanlah putra-putra kandungmu, Paman!" teriak Darel.


"Apa?" mereka semua terkejut ketika mendengar penuturan dari Darel, termasuk William.


"Perempuan itu telah menukar kelima putra kandungmu dengan kelima putra kandungnya. Dan perempuan itu meletakkan kelima putra kandungmu di depan panti asuhan Kasih Ibu."


"Dan kau Paman. Kau pasti akan lebih terkejut lagi saat mendengar aku mengatakan dua hal ini padamu."


"A-apa?" tanya William dengan suara lirih dan bergetar.


"Perempuan itu adalah istri dari Mathew Wilson."


"A-pa?!" teriak William.


Anggota keluarga lainnya juga tak kalah terkejutnya saat mendengar fakta tersebut.


"Mereka sudah menikah sejak lama dan sudah dikaruniai lima orang putra. Semua ini sudah mereka rencanakan dengan baik selama ini."


"Ini tentang Bibi Kayana, istri pertama Paman William. Perempuan sialan itulah yang sudah membunuh Bibi Kayana saat Bibi Kayana mengunjungi Perusahaan CJ GRUP. Saat itu Bibi Kayana tidak sengaja mendengar semua pembicaraannya di telepon. Bibi Kayana sudah mengetahui kebusukannya."


"Brengsek!" teriak Dirga.


Dirga langsung menghampiri Agatha, lalu dengan kasarnya menarik kuat rambutnya.


"Aakkhhh!" teriak Agatha.


"Dasar perempuan iblis. Perempuan murahan. Penipu. Beraninya kau menipu kami selama ini dan mengaku-ngaku sebagai ibuku dan Marcel. Dan kau! Beraninya kau membunuh Ibu kandung kami." teriak Dirga.


"Dirga. Sudah, lepaskan. Jangan mengotori tanganmu." Davian mendekati Dirga, lalu berusaha melepaskan tangannya dari rambut Agatha.


"Tapi, Kak. Perempuan sialan ini sudah membunuh ibuku. Aku sebagai seorang anak seharusnya membalaskan dendam untuk ibuku," ucap Dirga.


"Kakak tahu. Tapi kematian itu terlalu mudah untuknya, Dirga. Bagaimana kalau kita sedikit bermain-main dengannya?" Davian mengangkat kedua alisnya disertai senyuman jahatnya di sudut bibirnya.


"Sepertinya menarik," jawab Dirga. Dirga pun melepaskan tangannya dari rambut Agatha.


PLAAKK!


William memberikan tamparan keras di wajah Agatha.


"Aakkhhh."


William menarik kasar rambut Agatha. "Kau benar-benar keterlaluan, Agatha. Pantas saja selama ini kelakuan kelima putra-putraku sangat buruk. Beda jauh dengan sifatku. Ternyata mereka bukan putra-putra kandungku. Mulai detik ini aku akan menceraikanmu. Dan aku akan membawa masalah ini kejalur hukum. Aku tidak akan pernah sudi memaafkanmu. Kau telah menipuku. Kau membuang kelima putraku dan kau sudah membunuh Kayana, istriku!" bentak William.

__ADS_1


Setelah itu, William mendorong tubuh Agatha secara kuat sehingga membuat Agatha tersungkur di lantai.


"Mama!" teriak Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka memeluk Agatha.


"Aku tidak akan memberitahu tentang siapa yang telah membunuh Kakek. Aku yakin Papa akan kembali. Saat Papa kembali, baru aku akan mengatakannya. Aku dan Papa yang akan langsung berurusan dengan pria brengsek itu," batin Darel.


Agatha melepaskan pelukannya dari putra-putranya, lalu berdiri dan detik kemudian dirinya pun tertawa.


"Hahahahaha! Memang benar akulah yang melakukan semua ini. Aku dan suamiku, Mathew Wilson sudah merencanakan semua ini. Dasar kau saja yang bodoh. Mau saja dirayu olehku. Siapa juga yang mau menikah denganmu? Aku menikah denganmu hanya hartamu saja. Terutama CJ GRUP. Aku dan suamiku mengincar Perusahaan itu. Dan..."


"Dan apa?!" teriak William.


"Aku sudah berhasil mendapatkannya. Mulai detik ini dan seterusnya CJ GRUP menjadi milikku dan Mathew Wilson," ucap Agatha dengan bangganya.


"Jangan mimpi kau, Agatha!" bentak Agatha.


"Tunggu sebentar. Aku akan ambilkan sesuatu. Kau akan terkejut nantinya, sayang."


"Menjijikkan," umpat Dirga dan Marcel.


Tak butuh lama. Agatha datang membawa sebuah map, lalu Agatha melemparkan map itu kehadapan William.


William membuka map tersebut, lalu membacanya. William benar-benar terkejut. Isi map itu adalah menyatakan bahwa CJ GRUP sudah berpindah tangan menjadi milik Mathew Wilson.


"Bagaimana, sayang? Sudah percayakan? Jadi mulai besok kalian tidak usah lagi datang ke Perusahaan, oke!" Agatha menatap mengejek kearah William. "Dan sebentar lagi rumah ini juga akan menjadi milik kami." Agatha tersenyum kemenangan.


"Jangan bermimpi, Nyonya. Hal itu tidak akan pernah terjadi!" seru Darel. Semuanya menatap Darel, termasuk Agatha.


"Oh, iya! Apa kau yakin bisa mempertahankan rumah ini? Sedangkan CJ GRUP saja sudah berada di tangan kami," ejek Agatha.


Dirga melihat kearah Darel. Darel yang menyadari hal itu pun juga melihat kearah Dirga. Mereka berdua tersenyum, lalu kembali menatap Agatha.


"Kau belum sepenuhnya menguasai CJ GRUP, Nyonya." Dirga berucap dengan nada datarnya.


"CJ GRUP masih menjadi milik kami. Tanda tangan Kak Dirga di berkas itu tak berlaku kalau tidak ada cap jempol dari Kak Dirga." Darel menambahkan.


"A-apa? Itu tidak mungkin," ucap Agatha.


"Untuk membuktikannya. Silahkan kau bawa berkas itu ke notaris dan juga pengacaramu. Atau ke pengadilan. Kau akan tahu, apakah berkas itu sudah sah menjadi milikmu atau justru masih menjadi milik kami," ucap Darel.


Agatha terdiam. Dirinya tidak tahu harus melakukan apalagi. Semuanya sudah hancur. Sedangkan Darel dan Dirga tersenyum puas melihatnya. Lalu kedua bertos ria. Hal itu sukses membuat anggota keluarganya tersenyum hangat, terutama William.


"Mau merencanakan apalagi, Nyonya. Semua kebusukanmu telah terbongkar," sindir Evan.


Lalu tiba-tiba, Agatha kepikiran dengan kelima putra kandung William.


"Aku akui kau sangat pintar, Darel. Tapi jangan kau lupakan satu hal. Kau tidak mengetahui dimana kelima putra-putra kandung dari William saat ini berada. Hanya aku yang mengetahuinya," sahut Agatha.


"Benarkah? Apakah ini rencana barumu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan? Sayangnya aku tidak tertarik ataupun percaya padamu. Justru aku ingin mengatakan padamu, Nyonya. Aku sudah mengetahui dimana keberadaan kelima saudara sepupuku itu. Dan aku juga sudah melihat wajah mereka seperti apa. Wajah-wajah mereka sangat tampan sekali." Darel berbicara dengan senyuman menyeringainya.


Mendengar penuturan dari Darel membuat William, Dirga dan Marcel bahagia. Mereka menatap wajah Darel untuk memastikan kebenaran itu. Darel tersenyum saat William, Dirga dan Marcel menatapnya.


"Aku sudah bertemu dengan mereka, Paman. Dan sebentar lagi Paman akan bertemu dengan mereka juga," ucap Darel.


"Hahahaha.. kau pasti bohongkan, Darel. Kau mengatakan hal itu hanya untuk mengelabuikukan? Mana mungkin kau mengetahui keberadaan mereka. Kau hanya seorang pelajar. Kau setiap hari diantar jemput oleh kakak-kakakmu. Jadi mana ada waktu untukmu untuk bisa keluar rumah. Kau bahkan tidak pernah pergi sendirian." Agatha berucap. Dirinya tidak percaya akan ucapan Darel.


Saat Darel ingin menjawabnya, terdengar suara seseorang yang memasuki ruang tengah.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan oleh Darel itu benar?"


__ADS_2