
Darel saat ini berada di dalam kamarnya. Dirinya duduk di sofa sembari merenung memikirkan perkataan dari orang yang menghubunginya.
Flashback On
Darel berada di toilet saat ini. Dirinya tengah. Dirinya berdiri di depan cermin tengah membasuh mukanya.
Ketika Darel sedang membasuh mukanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darel mengambilnya lalu melihat ke layar ponselnya.
"Nomor tidak dikenal," ucap Darel.
Dengan rasa penasarannya, Darel pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo Darel Wilson!"
Deg..
Darel seketika terkejut ketika mendengar ucapan seorang di seberang telepon dengan mengatakan nama lengkapnya.
"Siapa kau?!"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku menghubungimu karena ingin memberitahu sesuatu rahasia besar padamu. Apa kau ingin tahu, hum?"
"Aku tidak minat sama sekali."
"Oh, ayolah! Aku yakin saat ini kau pasti akan penasaran apa yang akan aku sampaikan padamu. Dan aku juga yakin jika kau akan berterima kasih padaku."
"Aku katakan sekali lagi padamu. Aku tidak minat!"
"Baiklah. Tapi aku akan tetap mengatakan hal ini padamu. Kau bukanlah putra kandung dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson. Mereka bukan kedua orang tua kandungmu. Kau hanya anak adopsi mereka."
Deg..
Seketika Darel terkejut dan juga syok ketika mendengar perkataan dari laki-laki di seberang telepon.
Tes..
Air mata Darel seketika jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar ucapan dari orang tersebut.
"Tidak! Kau pasti bohong! Mereka adalah orang tua kandungku! Aku bukan anak adopsi mereka!" teriak Darel.
PIP..
Darel langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Hatinya saat ini benar-benar hancur ketika mendengar ucapan dari laki-laki yang tidak dia kenal.
"Tidak... Hiks... Papa dan Mama adalah orang tua kandungku. Aku... Aku bukan adopsi mereka... Hiks," ucap Darel disela isakannya.
Flashback Off
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku percaya dengan perkataan orang itu? Atau justru aku percaya bahwa Papa dan Mama adalah benar-benar orang tua kandungku. Tapi bagaimana jika....."
Darel memejamkan kedua matanya dengan air matanya yang terus mengalir membasahi wajahnya.
Cklek..
Pintu kamar Darel dibuka oleh seseorang. Lalu orang itu pun melangkahkan kakinya memasuki kamar Darel.
Deg..
Kedua orang itu seketika terkejut ketika melihat Darel yang menangis. Berlahan dia orang itu memutuskan untuk duduk. Yang satunya duduk di sofa. Sedangkan yang satunya duduk berjongkok dengan lutut menumpu di lantai beralaskan karpet bulu.
Berlahan orang itu mengusap lembut air mata Darel sehingga membuat Darel membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Ma-mam! Pa-papa!"
Yah! Kedua orang yang masuk ke dalam kamar Darel adalah Arvind dan Adelina.
Arvind dan Adelina tersenyum ketika mendengar putra bungsunya memanggilnya.
Darel menatap wajah cantik ibunya yang juga tengah menatap dirinya.
"Apa aku tanyakan saja masalah ucapan orang itu? Tapi bagaimana kalau Papa dan Mama tersinggung dan marah padaku," batin Darel.
"Ada apa, hum? Kenapa kamu nangis? Katakan pada Mama sayang? Jangan buat Mama khawatir."
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari ibunya membuat air mata Darel kembali jatuh. Bibirnya bergetar hebat.
"Ada apa, sayang? Jangan seperti ini. Sudah cukup selama ini Mama melihat kamu menangis. Mama sudah tidak kuat, nak!"
Air mata Adelin jatuh membasahi wajah cantiknya. Dirinya benar-benar tidak sanggup melihat air mata putra bungsunya kembali jatuh. Dan Adelina tidak ingin putranya kembali jatuh sakit.
"Ma," ucap Darel dengan air matanya yang masih setia mengalir.
"Iya, sayang! Katakanlah. Ada apa, hum?" Adelina membalas sapaan putra bungsunya dengan tangannya menghapus air mata putranya.
"Tolong... Tolong jujur padaku. A-apa aku... Apa aku be-benar-benar pu-putra kan-kandung kalian?"
Deg..
Baik Adelina maupun Arvind seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari putra bungsunya itu. Di dalam hati mereka masing-masing, kenapa putranya itu bertanya seperti itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti sayang? Ada apa?" tanya Adelina.
"Jawab pertanyaanku, Ma! Apa aku benar-benar putra kandung Mama dan Papa?"
Adelina mengusap lembut air mata putra bungsunya sembari menangis. Hatinya benar-benar sakit melihat keadaan putranya saat ini. Dirinya harus kembali melihat putranya dalam keadaan tak baik-baik saja. Dan ini adalah yang paling parah dari sudah-sudah.
"Kamu adalah putra kandung Mama. Darah daging Mama. Mama yang mengandung kamu selama sembilan bulan. Dan Mama juga yang melahirkan kamu ke dunia ini."
"Sekarang tatapan mata Mama. Kamu bisa lihat, apakah Mama tengah berbohong atau justru sebaliknya Mama berkata jujur sama kamu."
Darel menatap manik hitam ibunya. Dapat Darel lihat disana banyak tersimpan luka dan kesedihan setiap melihat dirinya menangis. Di manik hitam ibunya itu juga dapat Darel lihat ada kejujuran disana. Ibunya berkata jujur padanya.
"Jadi benaran aku adalah putra kandung Mama dan Papa?"
"Iya, sayang! Kamu putra kandung Papa dan Mama!"
Kini Arvind yang menjawab pertanyaan dari putra bungsunya itu sembari melangkahkan kakinya menghampiri putranya dan istrinya.
Arvind langsung duduk di samping putra bungsunya itu. Sejak tadi Arvind hanya diam sembari menatap lekat manik coklat putra bungsunya itu yang tak henti-hentinya menangis dan terisak.
Arvind meyakini jika ada sesuatu yang terjadi terhadap putra bungsunya itu. Lebih tepatnya ada seseorang yang telah mengusik putra bungsunya itu dengan mengatakan berita palsu.
Arvind berlahan mengusap kepala belakang putranya itu. Hatinya benar-benar sakit setiap melihat putranya bersedih. Arvind tahu seperti apa sifat putranya itu. Putranya itu sangat sensitif dan perasa. Jika mendengar perkataan yang tak mengenakkan, putranya itu langsung menangis.
"Sekarang katakan pada Papa. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu kepada Mama dan Papa, hum?"
Darel seketika menundukkan kepalanya. Hatinya sakit harus mengingat perkataan orang tersebut.
"Darel, ada apa? Katakan pada Papa dan Mama. Jangan diam saja sayang!"
"A-aku... Aku mendapatkan telepon dari se-seorang," ucap Darel dengan suara bergetarnya.
"Sudah aku duga. Putraku tidak akan bertanya hal yang sensitif ini jika tidak ada yang mengusiknya," batin Arvind dengan tangannya mengepal kuat. "Brengsek!"
"Siapa? Katakan pada Papa."
__ADS_1
"Tidak tahu," jawab Darel.
"Orang itu bilang apa padamu?" tanya Adelina.
Darel mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Apa sayang? Katakan!" seru Arvind dan Adelina.
"Orang itu bilang kalau Papa dan Mama bukan orang tua kandung aku. Bahkan orang itu juga bilang bahwa aku... Aku... Hiks," ucap Darel terisak.
"Orang itu bilang apa sama kamu?" tanya Adelina yang hatinya benar-benar hancur saat ini.
Di dalam hati Adelina. Dia mengutuk mati orang itu yang telah mengarang cerita palsu kepada putra bungsunya.
"Di-dia bilang kalau aku hanya anak adopsi Papa dan Mama," ucap Darel dengan berlinang air mata.
Grep..
Arvind menarik tubuh putranya dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Darel kembali pecah.
"Papa... Hiks... Aku benar-benar putra kandung Papa kan? Hiks... Aku... Aku bukan anak adopsi kan?"
Mendengar pertanyaan serta isakan dari putra bungsunya membuat hati Arvind sesak dan sakit. Kedua tangan mengepal kuat.
"Brengsek! Siapa yang sudah berani mengatakan berita bohong ini kepada putra bungsuku? Awas saja. Aku akan cari orang itu dan aku akan buat perhitungan dengannya," batin Arvind.
"Papa... Hiks," isak Darel.
Arvind mengeratkan pelukannya hanya untuk sekedar menenangkan putranya.
"Sekarang Papa yang bertanya sama kamu. Kamu lebih percaya sama Papa dan Mama. Atau lebih percaya dengan orang yang tidak kamu kenal itu, hum?"
"Aku percaya sama Papa dan Mama."
Arvind dan Adelina tersenyum ketika mendengar jawaban dari putra bungsunya itu.
"Jika kamu percaya sama Papa dan Mama. Berarti Papa dan Mama adalah?"
"Orang tua kandung aku."
Lagi-lagi Arvind dan Adelina tersenyum ketika mendengar jawaban dari putranya.
"Papa bersumpah demi Tuhan. Papa bersumpah demi nyawa Papa. Kamu Darel Wilson adalah putra kandung dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson. Kamu bukan anak adopsi di keluarga Wilson."
Darel memeluk erat tubuh ayahnya, walau sesekali masih sesenggukan.
"Maafkan aku."
"Tak apa, sayang! Justru Papa dan Mama berterima kasih padamu karena kamu mau bercerita dan tidak memendamnya sendiri. Itu lebih baik sayang," ucap Adelina dengan tangannya mengusap-usap lembut punggung putranya.
Arvind berlahan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan dan juga basah putranya itu. Kemudian Arvind memberikan ciuman di keningnya.
"Bagaimana? Sudah tenang sekarang?"
Darel langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya.
"Ya, sudah! Sekarang istirahatlah. Papa tidak ingin tubuh kamu lelah. Besok kamu kuliah masuk pagi kan?"
"Hm!" Darel berdehem sebagai jawabannya.
"Kalau begitu Papa dan Mama keluar ya!"
Darel mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
__ADS_1
Setelah itu, Arvind dan Adelina pun pergi meninggalkan kamar Darel untuk menuju ruang tengah. Keduanya akan membahas masalah orang yang sudah menyebarkan berita palsu kepada putra bungsunya.