
Mendengar pintu tersebut terbuka. Adelina dan anggota keluarga yang lainnya menghampiri Dokter Fayyadh dengan wajah yang tampak was-was.
"Bagaimana, Paman?" tanya Daffa.
Dokter Fayyadh menatap satu persatu wajah anggota keluarga Wilson, lalu Dokter Fayyadh tersenyum.
"Ini semua berkat doa kalian. Tuhan mengabulkan doa kalian semua. Detak jantungnya kembali. Jantungnya berdetak sangat bagus. Dan juga Darel sudah berhasil melewati masa kritisnya."
Mendengar jawaban dari Dokter Fayyadh, mereka semua tersenyum bahagia. Akhirnya keinginan, harapan dan doa mereka terkabul.
"Ada satu masalah disini," sela Dokter Fayyadh.
"Apa itu, Fayyadh?" tanya Adelina.
"Peluru bersarang dan mengenai ginjalnya sehingga ginjalnya satu harus diangkat. Dikarenakan kondisi Darel saat dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Saat operasi berlangsung, jantung Darel berhenti berdetak."
Mereka semua menangis saat mendengar penuturan dari Dokter Fayyadh. Sibungsu kesayangan mereka semua harus hidup dengan satu ginjal.
"Apakah Darel akan baik-baik saja hanya dengan satu ginjal, Paman?" tanya Raffa yang sudah menangis.
"Selama ada kalian di sampingnya, Darel akan baik-baik saja. Di luar sana juga banyak orang-orang yang hidup dengan satu ginjal. Dan hal itu tidak terlalu buruk. Itu semua tergantung dari fisik masing-masing."
"Ya, sudah. Paman akan pindahkan Darel ke ruang rawatnya."
"VVIP," kata Vano.
Dokter Fayyadh tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu Dokter Fayyadh pergi untuk mengurus kepindahan Darel.
"Aku akan mengabari, Papa!" seru Naufal.
***
Saat ini baik Arvind dan keenam putranya menatap tajam kearah Agatha dan Mathew. Bisa dikatakan kondisi kedua sangatlah memperhatikan, terutama Mathew.
Namun, Arvind dan putra-putranya tidak peduli. Sekalipun mereka harus jadi pembunuh, mereka akan melakukannya. Mereka harus membalaskan dendam atas kepergian tiga orang yang sangat mereka sayangi.
Disisi lain. Sandy, William dan Daksa menatap sedih Arvind dan keenam keponakannya. Mereka sangat tahu kesedihan yang dirasakan oleh Kakak dan keponakan-keponakannya itu. Mereka juga sama sedihnya saat mendengar berita meninggalnya keponakan manis mereka.
"Darel," batin Sandy, William dan Daksa.
Lalu tiba-tiba ponsel milik Daksa bergetar menandakan ada panggilan masuk. Daksa pun mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Matanya melihat nama 'Naufal' putra sulungnya menelponnya. Daksa pun segera menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Naufal."
"Hallo, Pa. Aku ada kabar baik untuk Papa, terutama untuk Paman Arvind. Darel.. Darel kembali hidup lagi, Pa. Darel bernafas lagi. Jantung Darel kembali berdetak."
"Apa? Kau serius, nak?"
"Ya, Pa. Aku serius. Sekarang Papa beritahu Paman Arvind dan yang lainnya. Sekarang Darel sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP lantai dua."
"Baiklah, sayang."
PIP!
Arvind menatap tajam kearah Agatha. Dirinya tersenyum sinis.
"Kau ingin aku membunuhmu, hum? Baiklah. Jika itu keinginanmu. Dengan senang hati aku akan mengabulkannya," ucap Arvind dengan seringai di bibirnya.
Arvind kemudian mengarahkan tangannya pada leher Agatha. Dirinya ingin mencekik leher Agatha. Saat tangan Arvind sedikit lagi menyentuh leher Agatha. Daksa berteriak.
"Kak Arvind. Tunggu!" teriak Daksa.
"Jangan menghalangiku, Daksa. Biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang anak dan juga sebagai seorang Ayah!" bentak Arvind tanpa melihat wajah Daksa.
Saat ini Arvind benar-benar ingin membunuh perempuan yang ada di hadapannya. Saat Arvind mengarahkan tangannya ke leher Agatha. Daksa berteriak kembali.
"Detak jantung Darel kembali lagi, Kak Arvind!"
DEG!
Baik Arvind maupun Davian dan kelima adik-adiknya terkejut saat mendengar ucapan dari Daksa. Mereka mengalihkan pandangannya melihat kearah Daksa, lalu mereka pun mendekati Daksa.
__ADS_1
"Daksa. K-kau barusan bilang apa? Aku tidak salah dengarkan?" tanya Arvind.
"Tidak, Kak. Darel hidup kembali. Darel bernafas lagi. Darel kembali pada kita, Kak. Barusan Naufal menghubungiku. Naufal sendiri yang mengatakan berita bahagia itu padaku."
Arvind, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga menangis. Mereka menangis karena bahagia. Bahagia karena kesayangan mereka kembali lagi.
"Darel sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP di lantai dua," sahut Daksa.
"Lebih baik kalian ke rumah sakit. Biarkan aku dan Daksa yang mengurus dua iblis itu bersama Zayan dan beberapa anak buah Zayan dan Darel!" seru Sandy.
"Baiklah, Sandy. Kakak serahkan kedua iblis itu padamu dan Daksa. Bawa mereka ke kantor polisi. Pastikan mereka berdua mendapatkan hukuman mati karena telah membunuh Kayana, Mama dan Papa, serta telah melukai kedua putraku!" seru Arvind.
"Baik, Kak." Sandy dan Daksa menjawab secara bersamaan.
Arvind melihat kearah Zayan. "Aku percayakan tugas ini padamu dan anggotamu, Zayan."
"Baik, Tuan. Serahkan padaku. Aku pastikan mereka berdua akan mendapatkan hukuman yang sangat berat."
"Terima kasih, Zayan."
Setelah mengatakan hal itu. Arvind dan kelima putranya serta William pergi menuju rumah sakit.
***
Darel sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Dokter Fayyadh selaku Dokter yang menanganinya, sekaligus Dokter pribadinya memang menyatakan bahwa Darel sudah melewati masa kritisnya. Namun, anggota keluarganya masih belum sepenuhnya bisa bernafas lega sebelum mata bulat itu terbuka. Kini ruang rawat tersebut dipenuhi oleh anggota keluarganya yang sangat menyayanginya.
Darel terbaring dengan masker oksigen yang menutupi setengah wajahnya. Infus yang menancap di tangan kirinya. Serta Pulse Oxymetry yang dijepit di jari telunjuknya. Alat ini digunakan memantau terhadap kadar oksigen di dalam darahnya. Pada layar alat ini akan terlihat kadar oksigen darah dalam bentuk prosentase. Di ruang rawat Darel terdapat juga alat yaitu Pasien Monitor. Alat tersebut berfungsi untuk memantau kondisi kesehatannya secara realtime yang bisa diamati dari layar monitor. Parameter yang bisa diamati dari dalam alat ini adalah irama jantung, tekanan darah, suhu tubuh, kadar oksigen dalam darah dan yang lainnya.
Anggota keluarganya yang melihat semua alat-alat tersebut menangis. Mereka tidak tega dan merasakan sakit saat alat-alat itu menyentuh tubuh kesayangan mereka.
"Adelina membelai lembut rambut putra bungsunya itu dan tak lupa mencium keningnya.
"Mama menunggumu bangun, sayang. Kalau Darel bangun. Mama akan memasak makanan enak untukmu setiap hari."
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa juga memberikan kecupan-kecupan sayang mereka di pipi dan kening adik kelinci mereka secara bergantian.
"Darel, terima kasih. Terima kasih Darel sudah mau kembali," bisik Vano.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih Darel mau bertahan untuk kami," ucap Daffa.
"Terima kasih adik Kakak yang paling tampan. Terima kasih," ucap Axel.
"Darel, adik Kakak yang paling Kakak sayangi. Kakak sangat menyayangimu. Terima kasih sudah kembali, sayang." Evan berbicara sambil mengecup telapak tangan adiknya.
Raffa menggenggam tangan Darel yang terbebas dari Infus lalu kemudian mencium telapak tangan adiknya itu berulang kali.
"Terima kasih adik Kakak yang manis. Terima kasih, sayang. Kau adik Kakak yang paling special dalam hidup Kakak."
Setelah puas berbicara dan mencium adik mereka. Kini giliran para kakak-kakak sepupunya. Mereka semua juga melakukan hal yang sama seperti keenam kakak-kakak kandungnya.
Mereka mencium kedua pipi dan kening simanis kesayangan mereka. Mereka juga berbicara dan membisikkan kata-kata indah di telinga Darel.
"Segeralah buka matamu, Rel."
"Kami semua menyayangimu."
"Jangan lama-lama tidurnya."
"Kami rindu teriakanmu."
"Bangunlah. Kita belum berkenalan lebih dekat."
"Kau itu orang yang kuat, Rel. Jadi Kakak yakin kau bisa dengan segera membuka kedua matamu."
"Semua orang berjuang untuk melawan sesuatu. Nah, kau sedang melawan rasa sakitmu dan kau pun berhasil melewatinya. Jadi, bangunlah. Jangan terlalu lama tidurnya."
"Semoga kau bangun dengan cepat ya! Jadi, kita bisa bersenang-senang bersama. Kita baru saja bertemu."
Seperti itulah kata-kata yang diucapkan oleh para kakak-kakak sepupunya. Setelah selesai, mereka semua mundur dan memberi ruang untuk Salma dan Evita.
Kedua Bibinya itu juga ikut memberikan kecupan sayang di pipi dan keningnya.
__ADS_1
"Cepatlah bangun, sayang!" kata-kata itulah yang diucapkan oleh keduanya
Disaat pikiran mereka semua tertuju pada simanis kesayangan mereka, tiba-tiba pintu ruang rawat Darel di buka.
CKLEK!
Semua orang yang ada di dalam menolehkan wajah mereka kearah pintu. Dapat mereka lihat Arvind yang datang bersama keenam putranya dan adiknya William.
"Pa," panggil Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa.
Arvind melihat kearah Raffa yang saat ini tengah duduk di kursi roda. Raffa berada dekat dengan Adelina yang sedang duduk di sofa. Lalu Arvind mendekati putranya.
"Bagaimana keadaan putra Papa ini, hum?"
"Aku baik-baik saja, Pa. Papa tidak perlu khawatir," jawab Raffa.
Arvind tersenyum lalu membelai rambut putranya itu dan tak lupa mencium keningnya. "Apa kata Paman Fayyadh saat mengeluarkan peluru dari pahamu?"
"Tidak ada masalah. Kata Paman Fayyadh aku hanya butuh istirahat selama seminggu."
"Syukurlah."
Lalu pandangan Arvind menatap kearah ranjang dimana putra bungsunya terbaring. Dan tanpa diminta pun air matanya mengalir begitu saja.
Arvind mendekati ranjang putra bungsunya itu yang mana Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga sudah ada disana. Mereka menangis. Mereka menangis karena bahagia sang adik kembali lagi pada mereka.
"Darel, adiknya Kakak. Terima kasih, telah kembali, sayang." Davian berucap, lalu mengecup kening adiknya dan juga mencium telapak tangannya.
Nevan juga memberikan kecupan sayang di pipi dan di kening sang adik.
"Kakak menyayangimu. Terima kasih sudah mau kembali pada kami."
"Darel. Ini Kak Ghali. Kakak menyayangimu. Jangan lama-lama tidurnya, ya. Semoga besok Darel sudah membuka mata bulatnya!" Ghali mengecup kening dan ke dua pipinya.
Elvan, Andre dan Arga tidak berbicara apapun. Tapi di dalam hati mereka. Mereka sangat bersyukur karena kesayangan mereka kembali. Itu adalah hal yang membahagiakan untuk mereka. Elvan, Andre dan Arga secara bergantian memberikan kecupan ke dua pipi dan kening adik bungsu mereka.
"Hei, putra tampan Papa. Terima kasih, sayang. Terima kasih Darel sudah mau kembali. Terima kasih Darel mau mendengarkan suara tangisan dari anggota keluarga Darel dan memilih untuk kembali. Papa menyayangimu. Sangat menyayangimu." Arvind berbicara sambil memberikan beberapa kecupan di wajah dan di kening putra bungsunya.
"Darel, sayang. Terima kasih, nak." William berucap lirih.
William menangis melihat kondisi Darel. Dirinya merasa bersalah atas apa yang terjadi pada keponakannya itu.
"Maafkan Paman, sayang. Maafkan Paman." William tidak bisa lagi menahan air matanya. Air matanya mengalir deras membasahi wajah tampannya.
"Papa," lirih para putra-putranya.
Arvind mendekati William, lalu menepuk pelan bahu sang adik.
"Kakak mengerti perasaanmu. Ini semuanya takdir. Kakak tahu, di dalam hatimu saat ini kau pasti menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada keluarga kita. Termasuk apa yang sudah menimpa Mama, Papa, Raffa dan Darel."
"Hiks.. maafkan aku, Kak. Aku benar-benar bodoh selama ini. Dan aku tidak menyadari sama sekali bahwa perempuan sialan itu telah memanfaatkanku. Gara-gara kebodohanku ini, kita harus kehilangan Papa. Dan kedua keponakanku menjadi korbannya, terutama Darel. Darel menjadi korban keserakahan dan ketamakan Mathew dan Agatha hanya untuk menyelamatkan keluarga kita, Keluarga Wilson. Kalau bukan berkat Darel. Kita semua pasti akan kehilangan semuanya. Kehilangan segalanya. Kehilangan semua yang sudah Papa raih selama ini. Jika hal itu benar-benar terjadi. Aku akan benar-benar menyalahkan diriku sendiri." William berbicara sembari masih menangis.
"Kak William jangan bicara seperti itu. Sekali pun hal itu benar-benar terjadi. Kita tidak akan pernah menyalahkan Kakak karena Kakak tidak salah. Kakak itu korban dari perempuan gila itu. Seandainya Kakak tahu dari awal, mungkin Kakak sudah bertindak untuk membalas perempuan itu." Evita mencoba menghibur Kakaknya itu.
"Iya, Pa. Yang dikatakan Bibi Evita benar. Kalau Papa mengetahuinya dari awal. Papa pasti sudah menceraikan perempuan itu. Sama sepertiku," sahut Dirga.
Semua orang yang berada di ruangan itu pun menatap Dirga.
"Apa maksudmu, nak?" tanya William.
"Aku sudah tahu siapa perempuan itu sebelum Darel membongkar semuanya," jawab Dirga.
"Apa?" mereka semua terkejut.
"Aku juga sudah tahu!" seru Evan tiba-tiba.
"Apa?" Lagi-lagi mereka terkejut massal saat mendengar pengakuan Evan.
Mereka menatap Dirga dan Evan untuk meminta penjelasan.
"Sejak kapan kalian mengetahuinya Dirga, Evan?" tanya Arvind.
__ADS_1
"Tolong jelaskan semuanya pada kami," ucap Arvind tegas.
"Saat itu aku berada di rumah ingin mengambil boneka kelinci milik Darel dan akan membawanya ke rumah sakit. Lalu..."