
Darel bersama semua sahabat-sahabatnya di lobi kampus. Mereka saat ini tengah bersantai disana sembari menunggu waktu materi kuliahnya dimulai. Bahkan mereka juga tengah mengerjakan beberapa materi kuliah dan tengah mengatur ulang kegiatan mereka untuk mengunjungi tiga Panti Asuhan.
Baik Darel maupun sahabat-sahabatnya mengerjakan jadwal Organisasi Kampus masing-masing. Dalam waktu dua minggu lagi akan ada perlombaan antar kampus dan hadiahnya akan disumbangkan untuk orang-orang tak mampu dan fakir miskin.
"Bagaimana persiapan untuk acara perlombaan antar Kampus?" tanya Brian dengan menatap wajah sahabat-sahabatnya sekaligus adik-adiknya.
"Sesuai yang kita rencanakan!" jawab kompak Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Lalu bagaimana dengan jadwal ulang kita untuk mengunjungi tiga Panti Asuhan itu?" kini Azri yang bertanya.
"Tuh!"
"Tanyakan sama anak kelinci itu!"
Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menjawab bersamaan sembari menunjuk kearah Darel..
Mendengar jawaban tak mengenakkan dari kedelapan sahabatnya membuat Darel mendengus kesal, lalu tanpa perikemanusiaan tangannya langsung menjitak kepala Kenzo sehingga membuat Kenzo meringis dan mengumpat.
"Kenapa lo jitak kepala gue anak setan?! Gue dari tadi sibuk dengan tugas gue," ucap dan tanya Kenzo sarkas dengan menatap horor kearah Darel.
"Hahahahahaha." Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika tertawa keras.
Darel menatap Kenzo tak kalah horornya. Bahkan Darel membelalakkan matanya sebesar mungkin.
"Pertama, lo duduk di dekat gue. Kedua, lo mewakili kedelapan sahabat lo yang gila itu. Dan yang ketiga, lo kemarin udah ganggu waktu santai gue bersama keluarga gue." Darel menjawab perkataan Kenzo dengan memperjelas kesalahan Kenzo.
Seketika kedua mata Kenzo membelalakkan sempurna ketika mendengar jawaban komplit dari Darel. Sedangkan Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menatap horor kearah Darel ketika mendengar ucapan dari yang mengatakan 'gila' untuknya.
Sementara Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika melihat dan mendengar ucapan serta jawaban dari sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Darel kembali fokus dengan pekerjaannya. Dirinya tidak peduli tatapan mata kesal para sahabat-sahabatnya.
^^^
Evan saat ini sedang berada di lapangan. Dirinya saat ini tengah mengerjakan skripsi akhir semesternya. Begitu juga dengan Raffa.
Evan fokus menatap layar laptop miliknya. Tangan kekarnya menari-nari diatas keyboard miliknya. Dirinya benar-benar fokus dengan tugasnya.
Ketika Evan sibuk dengan tugas skripsinya, tiba-tiba datang beberapa orang mengganggunya. Orang-orang yang datang mengganggu Evan adalah teman-teman kampusnya yang tak menyukai dirinya dan saudara kembarnya Raffa.
"Wah! Orang jenius lagi memamerkan kepintarannya disini," ejek Agha Qamar.
"Hahahahahaha." kelima teman-temannya tertawa dengan menatap tajam kearah Evan.
Evan yang mendengar ucapan dari Agha hanya bersikap biasa dengan tetap fokus dengan tugas-tugasnya.
Detik kemudian...
Sreekk..
Praakk..
Agha tiba-tiba menarik kasar laptop milik Evan, lalu kemudian membantingnya dengan kuat sehingga membuat laptop milik Evan hancur di tanah.
Evan seketika menatap penuh amarah kearah laptop miliknya yang sudah hancur di tanah. Kedua tangannya mengepal kuat tangannya.
Sementara para mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang sempat melihat kejadian tersebut seketika berhenti.
Evan seketika berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Agha bersamaan dengan kedua tangan mengepal kuat.
__ADS_1
Agha tersenyum meremehkan kearah Evan. Kemudian tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Evan.
Namun ketika tangan Agha sedikit lagi hendak menyentuh pipi Evan. Dengan gerakan cepat tangan Evan langsung menahan tangan Agha, lalu memelintirnya ke belakang dengan kuat sehingga membuat Agha berteriak kesakitan.
Mendengar teriakkan kesakitan dari Agha seketika Eldar, Ajnur dan Deniz langsung menyerang Evan secara bersamaan.
Evan yang menyadari bahwa ketiga temannya Agha hendak menyerangnya langsung memberikan tendangan secara bersamaan kearah Eldar, Ajnur dan Deniz.
Duagh.. Duagh..
Duagh..
Bruukkk.. Bruukkk..
Bruukkk..
Tubuh Eldar, Ajnur dan Deniz tersungkur di tanah dengan perut menghantam tanah terlebih dahulu sehingga membuat ketiganya munta darah.
Melihat ketiga temannya terkapar di tanah dalam keadaan muntah darah membuat Isaq dan Okan seketika merinding.
Evan melirik sekilas kearah Eldar, Ajnur dan Deniz. Dirinya tersenyum menyeringai. Setelah itu, Evan kembali menatap kearah Isaq dan Okan yang saat ini menatap syok kearah tiga temannya. Kemudian berbisik di telinga Agha.
"Gue kasih waktu lo selama dua hari untuk mengganti laptop gue. Gue mau laptop yang sama. Bukan laptop merek terbaru. Jika dalam dua hari lo tidak mengganti laptop milik gue sesuai keinginan gue, maka gue akan cari tahu tentang keluarga lo. Setelah itu, gue akan buat perhitungan dengan mereka."
Setelah mengatakan itu, Evan melepaskan pelintiran tangan Agha, lalu mendorong kuat tubuh Agha hingga tersungkur ke depan.
Evan menatap kearah teman-temannya Agha. "Untuk kalian juga. Gue beri waktu dua hari untuk mengganti laptop gue sesuai keinginan, maka gue juga bakal mencari tahu tentang keluarga kalian. Setelah gue mendapatkan informasi tentang keluarga kalian. Gue akan buat perhitungan dengan mereka."
Evan tersenyum menyeringai menatap Agha, Eldar, Ajnur, Deniz, Isaq dan Okan. Setelah itu, Evan pergi meninggalkan lapangan untuk menuju kelasnya.
__ADS_1