
Setelah mengetahui alasan dari kedua orang tuanya. Darel sudah memaafkan kesalahan kedua orang tuanya, kakak-kakaknya dan juga anggota keluarga lainnya.
Namun bukan berarti Darel menerima begitu saja sikap mereka padanya. Darel masih belum bisa menerima kebohongan keluarganya, terutama kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya.
Darel paling tidak suka ada yang membohonginya. Alasan Darel belum bisa menerima kebohongan dari keluarganya, terutama dari kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya adalah kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya meminta padanya untuk selalu terbuka setiap masalah yang dihadapinya. Darel pun menurutinya.
Sementara kedua orang tuanya, kakak-kakaknya dan anggota keluarganya justru menutupi masalah yang ada padanya. Tidak ada satu pun dari mereka membahas masalah apapun kepadanya.
Baik kedua orang tuanya, kakak-kakaknya maupun anggota keluarganya menutupi setiap masalah dalam keluarga apalagi masalah mengenai dirinya dengan alasan memikirkan kesehatannya. Mendengar alasan itu membuat Darel benar-benar muak dengan kehidupannya. Segitu lemahkah dirinya sehingga anggota keluarganya begitu memperhatikannya dan mengkhawatirkannya.
Darel masih dalam keadaan kurang baik saat ini. Memang awalnya Darel sudah dalam keadaan tidak baik-baik saja dimana wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang panas.
Setelah Darel mengatakan bahwa dirinya sudah memaafkan kesalahan kedua orang tuanya, kakak-kakaknya dan anggota keluarganya, tapi tidak dengan kebohongan mereka. Darel belum bisa menerima kebohongan mereka. Darel pun pergi meninggalkan kamar kedua orang tuanya.
Saat Darel melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar kedua orang tuanya, seketika tubuh Darel langsung tumbang dan jatuh di pelukan Davian. Dan dengan gesitnya Davian berhasil menahan tubuh adiknya sehingga tidak terjatuh di lantai.
Davian memang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Darel. Dari mulai Darel masuk ke kamar kedua orang tuanya bersama Salma bibinya sampai dengan Darel yang berbicara sehingga berakhir memeluk ibunya.
Sudah dua hari Darel tidak kuliah. Dan hari ini adalah hari ketiga dan Darel memutuskan untuk kuliah, walau badannya masih lemas dan masih sedikit terasa hangat.
Sementara anggota keluarga lainnya sudah berada di meja makan. Mereka semua akan sarapan pagi bersama.
"Kalian makanlah. Aku akan sarapan pagi bersama Darel di kamarnya. Dengan cara seperti ini Darel pasti mau sarapan," ucap Adelina.
Ketika Adelina mengangkat nampan yang sudah ada dua piring nasi dan dua gelas air putih dan satu gelas susu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang.
"Aku sudah turun Mama. Jadi letakkan kembali nampan itu di atas meja!" seru Darel yang melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Mereka semua menatap kearah Darel. Dan seketika mereka membelalakkan matanya saat melihat Darel yang sudah rapi dengan pakaian Kampusnya.
"Sayang." Adelina menatap khawatir putra bungsunya.
"Mama, jangan tatap aku seperti itu. Aku sudah sembuh," sahut Darel dan langsung menduduki pantat di kursi.
Darel duduk di samping Dirga dan Marcel. Melihat Darel yang duduk diantara Dirga dan Marcel membuat hati Evan dan Raffa sakit terutama Raffa.
"Rel. Kenapa duduk di sana? Biasanya kamu duduk di sini," ucap dan tanya Raffa sedih.
"Kenapa? Memangnya ada masalah jika aku duduk di sini? Lagian aku sudah bosan duduk di sana. Apalagi bersama kamu," sahut Darel.
Darel mengambil satu potong ayam dan kemudian memakannya.
Mendengar perkataan dari adiknya, setetes air matanya jatuh membasahi wajahnya. Sementara Darel hanya bersikap acuh dan tak peduli.
Vano yang duduk di sebelahnya langsung merangkul Raffa dan memberikan ketenangan padanya. "Jangan dimasukkan ke dalam hati ya perkataan Darel barusan. Kakak sangat yakin. Pasti Darel tidak bersungguh-sungguh. Darel hanya kesal saja."
"Anda salah saudara Vano. Apa yang saya katakan barusan adalah sebuah kebenaran? Dan saya bersungguh-sungguh dalam berucap. Bukan kepura-puraan," sahut Darel.
DEG!
__ADS_1
Mereka semua terkejut atas apa yang dikatakan oleh Darel. Mereka semua tidak menyangka jika Darel tega mengatakan hal itu.
"Hiks... Hisk... Darel. Kalau kamu marah sama kakak karena kakak telah ngerusakkin earphone kamu. Kakak minta maaf. Kakak akan ganti earphone nya. Tapi kakak mohon. Jangan benci kakak... Hiks," ucap Raffa dengan isakannya.
Darel tersenyum di sudut bibirnya. Tangannya memegang gelas yang berisi air putih. "Apa kau bilang? Kau akan ganti earphoneku? Apa dengan kau menggantikan earphone milikku semuanya akan baik-baik saja. Aku katakan padamu tuan Raffa Wilson. Seribu kali pun kau menggantikan earphoneku. Itu semua sudah tidak akan ada artinya lagi bagiku." Darel menatap tajam Raffa.
Mendengar perkataan Darel membuat Raffa makin sesak di hatinya. Raffa berdiri dari duduknya dan menatap sendu adiknya. Dan jangan lupakan air matanya yang masih terus mengalir.
"Lalu apa yang harus Kakak lakukan agar kamu mau maafin Kakak. Sudah dua hari kamu mengabaikan Kakak, memusuhi Kakak, tidak menegur Kakak. Bahkan Kakak berulang kali meminta maaf sama kamu, tapi kamu selalu menghindar. Rel... Hiks. Kakak mohon. Maafkan kakak."
"Raffa." Vano menarik tubu Raffa ke dalam pelukannya.
"Darel. Kakak mohon. Jangan seperti ini. Hentikan Rel! Kakak, Raffa dan kak Davian minta maaf. Maafkan kita, oke! Jangan lama-lama marahnya. Tolong maafin kita," ucap Andre sambil memohon kepada adiknya.
"Darel sayang. Kakak mohon. Jangan marah lagi ya? Maafkan kakak, Andre dan Raffa." Davian juga memohon kepada adik bungsunya.
Darel hanya diam dan tidak memberikan komentar apapun. Tatapan matanya hanya fokus ke depan dan tangannya makin kuat memegang gelas.
"Rel. Apa kamu gak kasihan melihat kak Andre, kak Davian dan raffa. Mereka sudah meminta maaf berulang kali padamu. Tapi kamu masih saja menolaknya. Mana Darel yang kakak kenal? Mana Darel yang selalu memberikan maaf kepada orang lain? Mana Darel yang selalu menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin? Mana Darel yang selalu mengalah setiap ada masalah di rumah ini? Mana Darel yang berbicara selalu lemah lembut dan juga sopan? Mana Darel yang selalu menatap iba dan tidak tegaan kepada kakak-kakaknya! Kemana perginya? Kakak merindukan semua sifat-sifat itu." Ghali berbicara sembari menatap wajah adik bungsunya. Ghali menangis melihat sifat adiknya yang sekarang ini.
"Kembalilah, Rel! Kembalilah kepada kami," ucap Arga.
"Kami merindukan sifat manjamu. Sifat itu sudah hilang sejak tiga hari yang lalu," ucap Elvan.
"Adiknya kakak yang paling tampan. Kakak mohon. Jangan marah-marah lagi. Baikan yuk!" Nevan juga ikut membujuk adiknya.
Setetes air mata Darel meluncur membasahi wajahnya. Tangannya semakin kuat memegang gelas sehingga terlihat warna pucat.
PRAAKK!
Gelas yang digenggam kuat oleh Darel pun pecah dan mengakibatkan tangannya mengeluarkan darah.
"Astaga, Darel!"
Mereka semua berteriak ketika melihat apa yang dilakukan Darel. Darel melukai tangannya sendiri dengan cara memegang gelas dengan sedikit kuat.
Dirga dan Marcel yang duduk masing-masing di sampingnya langsung bertindak. Marcel memeluk Darel. Sementara Dirga memegang tangan kanan Darel. Darel masih dalam keadaan diam di tempat.
Davian, Nevan dan Ghali langsung berdiri dan menghampiri adik bungsunya. Mereka benar-benar sangat mengkhawatirkan adik bungsunya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menangis melihat Darel yang nekat melukai tangannya.
Evita berlari mengambil kotak p3k. Davian sudah berdiri di belakang Darel dan langsung mengambil alih tubuh adiknya dan memeluknya dari belakang. Davian menangis. Hati hancur kala melihat tangan adiknya berdarah.
Sementara Darel masih diam di tempat. Darel tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Bahkan rasa sakit di tangannya.
"Kakak... Hiks... bawa Darel ke ruang tengah biar bisa dengan mudah tangannya diobati." Evan berucap disertai isakannya.
Davian dan Nevan membawa adik bungsunya menuju ruang tengah dan di susul oleh saudara-saudaranya yang lain.
"Kalian lebih baik lanjutkan sarapannya. Masalah Darel biar kami yang tangani," ucap Vano sembari menatap wajah kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya dan para sepupunya.
__ADS_1
^^^
Kini Davian dan semua adik-adiknya sudah berada di ruang tengah. Mereka semua menatap khawatir Darel.
Daffa mengobati luka di tangan Darel dengan lembut. Bahkan Daffa menangis melihat luka tersebut. "Hiks... Rel. Kenapa lakukan ini sayang? Kenapa kamu nekat melukai tangan kamu sendiri?"
Davian duduk di samping kanan Darel. Sementara Raffa duduk di samping kiri Darel. Raffa sedari menangis melihat adiknya. Kini posisi Raffa sedang memeluk tubuh adiknya.
"Hiks... Darel. Maafkan kakak. Kakak mohon jangan sakiti diri kamu sendiri. Oke, kakak tidak akan mengganggu kamu. Kakak tidak memperlihatkan wajah kakak di depan kamu. Kakak akan menjuahi kamu... Hiks." Raffa berbicara disertai isakannya.
Darel tidak berkomentar apapun. Tapi air matanya terus mengalir membasahi wajahnya. Air matanya kali ini mengisyaratkan kekecewaan dan kekesalan.
"Silahkan. Aku tidak peduli. Jika kalian ingin pergi dan ingin menjauhiku. Aku sama sekali tidak keberatan. Justru aku bahagia. Dengan begini aku tidak akan menjadi beban kalian lagi. Dan kalian bisa terbebas dari adik lemah dan penyakitan sepertiku." Darel berucap dengan tatapan matanya ke depan.
Raffa langsung melepaskan pelukannya dan menatap sendu wajah dingin adiknya. Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel akan berkata seperti itu.
"Darel," ucap Davian dan adik-adiknya bersamaan.
Mereka menangis ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka benar-benar tidak menyangka jika adik bungsunya akan berbicara seperti itu.
"Darel, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Elvan dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Sementara Darel tidak bergeming. Darel sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya.
"Tapi apa yang aku katakan barusan benar bukan? Aku ini laki-laki lemah dan berpenyakitan. Aku selalu menyusahkan kalian dan juga merepotkan kalian. Bahkan aku selalu membuat kalian semua khawatir. Apa yang bisa kalian harapkan dari adik lemah dan berpenyakitan seperti aku?" Darel berbicara dengan air mata yang sudah jatuh membasahi wajahnya.
GREP!
Davian langsung memeluk tubuh adiknya itu. Dirinya sudah tidak sanggup melihat wajah sedih, wajah tertekan dan mendengar ucapan dari adiknya itu.
"Sudah cukup Darel. Jangan lanjutkan perkataan yang tidak ingin kakak dengar. Sampai kapan pun kamu adalah adiknya kakak. Adik kesayangan kakak. Kamu bukan beban untuk kakak. Sama sekali tidak sayang. Kamu adalah permata keluarga Wilson. Kita semua sangat menyayangimu." Davian tidak bisa membendung kesedihannya. Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya.
"Iya, Rel! Apa yang dikatakan kak Davian benar. Kamu adalah permata keluarga Wilson. Kamu kesayangan kami semua. Kamu kebahagiaan dan kebanggaan kami semua. Kamu bukan beban untuk kami." Alvaro berbicara sambil membelai lembut wajah adiknya dan menghapus air matanya itu.
"Dan kamu bukan adik yang lemah dan berpenyakitan. Kamu sehat, Rel!" ucap Axel.
"Kalau kamu tahu yang sebenarnya kenapa kamu beda dengan kita kakak-kakak kamu. Pasti kamu akan lebih terluka lagi Rel. Bahkan kamu akan menyalahkan diri kamu dan menganggap diri kamu lemah dan tak berguna," batin Vano.
"Kalau kamu tahu kita menyembunyikan satu rahasia besar tentang fisik tubuh kamu dan juga tentang kondisi kesehatan kamu sejak kamu dilahirkan ke dunia ini. Kemungkinan besar kamu akan langsung down. Kamu akan menganggap diri kamu tidak berguna dan selalu menyusahkan kita semua," batin Ghali yang matanya menatap sendu adik bungsunya.
"Kami menyayangimu, Rel! Kami tidak ingin kehilanganmu untuk yang kesekian kalinya. Sudah cukup kami kehilangan kamu ketika kejadian penembakkan itu," batin Nevan.
Darel tiba-tiba melepaskan pelukan Davian. Setelah pelukannya terlepas. Darel langsung berdiri dari duduknya.
"Jika kalian sayang padaku. Kalian tidak akan membohongiku. Jika kalian sayang padaku. Kalian tidak akan menamparku. Jika kalian sayang padaku. Kalian akan berbicara lembut dan bersikap sabar ketika menghadapi sikap keras kepalaku. Tapi kalian gagal. Kalian lebih memiliki emosi dari pada sabar. Tamparan yang aku dapatkan itu adalah tamparan pertama sejak aku dilahirkan ke dunia ini hingga aku berusia 21 tahun. Dan tamparan itu aku dapatkan dari dua kakak dari enam kakak tertua yang begitu aku hormati."
Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan para kakaknya untuk mengambil tasnya yang diletakkan di meja hias yang ada di ruang tengah itu.
Setelah tasnya sudah didapat. Darel langsung pergi meninggalkan para kakaknya yang saat ini masih terus menatapnya dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Darel," lirih mereka semua.