Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Berusaha Meminta Maaf


__ADS_3

Darel saat ini berada di kamarnya. Dia sedang tidur-tiduran di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap dan seluruh tubuh ditutupi selimut sembari bermain ponsel.


Cklek..


Terdengar suara pintu kamarnya dibuka. Dan masuklah dua belas pemuda-pemuda tampan ke dalam kamarnya Darel.


Kedua belas pemuda-pemuda itu adalah kakak-kakak kandungnya Darel.


Setibanya di dalam kamar Darel. Davian dan adik-adiknya melihat kearah tempat tidur yang mana mereka melihat bahwa adik bungsu kesayangannya tengah tidur-tiduran dengan posisi tengkurap dan seluruh tubuhnya ditutupi selimut. Baik Davian maupun adik-adiknya meyakini bahwa Darel sedang bermain ponsel di dalam selimutnya.


Kemudian mereka semua melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Darel sembari tersenyum menatap kearah Darel yang tubuhnya ditutupi selimut.


Setelah tiba di dekat tempat tidur adiknya, mereka berlahan menaiki tempat tidur tersebut. Mereka secara bergantian mengusap kepala Darel yang tertutup oleh selimut.


Darel yang di dalam selimut merasakan usapan lembut di kepalanya. Dia meyakini bahwa semua kakak-kakaknya saat ini berada di dalam kamarnya.


Namun Darel tidak mempedulikan keberadaan kakak-kakaknya yang sudah beradi di kamarnya. Bahkan kemungkinan sudah berada di atas tempat tidurnya dikarenakan dia masih marah dan kesal kepada semua kakak-kakaknya.


"Rel," panggil Davian.


Namun sang punya nama tidak memberikan jawaban. Bahkan memberikan respon pun tidak.


"Ayolah, Rel! Lihat kita semua," ucap dan mohon Nevan.


"Masa kita diangguri. Ngomong dong sayang," ucap Ghali.


"Darel sayang. Ayolah! Ngomong dong!" seru Elvan dan Andre bersamaan


Tetap sama. Mereka sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Darel.


Tidak mendapatkan reaksi atau pun respon dari adik bungsunya membuat hati mereka sakit dan terluka. Segitu sensitif dan marahnya adiknya terhadap dirinya.


Beberapa detik kemudian...


"Yeeey! Aku menang!" Darel seketika berteriak heboh bersamaan Darel bangkit dari posisi tengkurap dan menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sembari tersenyum kemenangan.


"Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie, Devon. Kalian harus mentraktirku makan selama satu bulan penuh selama di kantin." Darel berucap dengan raut kebahagiaan.


Mendengar ucapan disertai teriakan dari adiknya dan ditambah lagi kebahagiaan yang tersirat di wajah dan tatapan matanya membulat Davian dan lainnya ikut merasakan kebahagiaan.


Tatapan mata Axel tertuju pada telinga adik bungsunya. Dia melihat sepasang earphone terpasang apik disana.


Seketika terukir senyuman di bibirnya Axel ketika mengetahui dibalik ketidakresponan dari adik bungsunya itu.


Melihat Axel yang tersenyum membuat Daffa dan Vano menatap kearah adiknya itu dengan tatapan heran.


"Axel," panggil Daffa.

__ADS_1


"Hm!" Axel berdehem sebagai jawabannya.


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kamu tadi senyam-senyum sendiri sembari menatap kearah Darel."


"Tuh lihat di telinga Darel. Apa yang kak Daffa lihat."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Axel membuat Daffa langsung melihat kearah telinga adik bungsunya. Begitu juga dengan Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Vano, Alvaro, Evan dan Raffa.


Seketika mereka semua tersenyum sembari geleng-geleng kepalanya. Bahkan mereka malu sendiri karena telah berburuk sangka terhadap adik bungsunya disaat adik bungsunya itu tidak memberikan respon sama sekali.


"Pantes saja tidak dengar panggilan dari kita. Ternyata kedua telinganya disumbat sama earphone," sahut Elvan.


"Tuh lihat! Sampai detik ini saja dia belum menyadari kalau earphone tersebut masih menempel di telinganya," ucap Arga.


Mereka semua tersenyum gemas melihat kelakuan adik kesayangannya itu. Apalagi saat ini adiknya itu tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Mereka semua meyakini bahwa adiknya itu sedang berkirim pesan dengan sahabat-sahabatnya.


Mereka masih terus menatap wajah tampan adik kesayangannya itu yang saat ini sibuk dengan ponselnya.


Ting..


Ting..


Ting..


Darel membaca pesan-pesan balasan dari kesembilan sahabatnya itu satu persatu.


"Hahahahahaha."


Darel seketika tertawa ketika membaca balasan pesan dari kesembilan sahabatnya itu.


Setelah puas bermain game dan berakhir berbalas pesan dengan kesembilan sahabatnya. Darel pun menyudahi kegiatannya itu. Kemudian Darel meletakkan ponselnya di atas kasur.


Detik kemudian, tatapan matanya tak sengaja melihat kedua belas sosok kakak-kakaknya yang saat ini tengah menatap dirinya sembari tersenyum.


Seketika ekspresi wajah Darel berubah datar dan dingin ketika berhadapan dengan semua kakak-kakaknya itu.


Melihat perubahan ekspresi wajah Darel membuat Davian dan adik-adiknya yang lain menghela nafas pasrahnya. Mereka harus bisa bersabar akan sikap adiknya saat ini. Mereka sadar bahwa mereka yang telah membuat adiknya menjadi seperti sekarang ini.


"Kenapa kalian semua ada di kamarku?" tanya Darel.


Darel melihat semua kakak-kakaknya mengatakan sesuatu padanya, namun dia sama sekali tidak mendengar apapun yang kakaknya bicarakan.


"Kalian ngomong apa sih?" tanya Darel.

__ADS_1


Seketika Davian dan adik-adiknya dengan kompak menepuk keningnya masing-masing ketika mendengar pertanyaan dari adik bungsunya itu. Mereka melupakan bahwa adik bungsunya itu masih memakai earphone di telinganya.


"Lepaskan dulu yang ada di telinga kamu itu," sahut Daffa sembari menunjuk kearah telinganya lalu menunjuk kearah telinga Darel.


Darel yang mengerti kode dan tunjuk dari Daffa langsung menyentuh telinganya. Seketika Darel membelalakkan kedua matanya menyadari bahwa earphone masih terpasang di telinganya.


Kemudian Darel pun melepaskan kedua earphone tersebut dengan masih memasang wajah datar dan dinginnya.


"Kenapa?" tanya Darel dengan nada ketus.


"Kok gitu sih nanyanya?" tanya Davian.


"Suka-suka aku lah. Kenapa kakak yang marah?"


"Bukan marah sayang. Kakak cuma nanya aja," jawab Davian yang berusaha untuk mengambil hati adiknya itu.


"Bodo."


"Hah!"


"Kamu marah ya sama kakak dan kakak kamu yang lainnya?" tanya Axel.


"Menurut kakak aku bagaimana sekarang?"


Bukan jawaban yang mereka terima. Justru pertanyaan yang diberikan oleh adik bungsunya itu.


"Ayolah, Rel! Jangan marah lagi ya. Tadi itu kakak cuma terkejut aja melihat kamu yang terlalu banyak makan cemilan, sementara kamu bulan makan nasi. Kakak nggak kamu sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi cemilan dan susu pisang." Davian berbicara lembut kepada adiknya bersamaan tangannya mengusap lembut kepala adiknya.


"Iya, sayang! Kakak dan kakak-kakak kamu yang lain tidak melarang kamu makan cemilan dan minum susu pisang atau minum minuman yang lainnya. Selama perut kamu sudah diisi nasi, maka kamu bebas makan apa saja." Nevan juga ikut menjelaskan maksud perkataannya beberapa menit yang lalu ketika di ruang tengah.


"Iya, Rel! Itu benar!" seru kakak-kakaknya yang lain.


Mendengar ucapan demi ucapan dari kakak-kakaknya dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah kedua belas kakak-kakaknya itu membuat Darel merasa bersalah. Seketika ekspresi wajah Darel berubah seperti sedia kala.


Melihat perubahan ekspresi wajah Darel seketika membuat Davian dan adik-adiknya tersenyum. Mereka meyakini bahwa adiknya itu sudah tidak marah lagi.


"Jadi aku masih boleh makan cemilan dan minum susu pisang?" tanya Darel dengan menatap semua kakak-kakaknya.


"Ya, tentu boleh!" seru kedua belas kakak-kakaknya kompak.


"Apa itu benar?" tanya Darel lagi.


"Hm!" mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Asal perut kamu itu sudah terisi sama nasi," ucap Ghali.


"Jangan ketika perut kosong," sela Andre.

__ADS_1


"Baiklah, aku janji."


Mereka semua tersenyum penuh kebahagiaan karena adik kesayangannya sudah tidak marah lagi dan bahkan adik kesayangannya itu mau berjanji untuk mengisi perutnya sama nasi terlebih dahulu sebelum makan cemilan dan minum susu pisang.


__ADS_2