
[KEDIAMAN RAYYAN BERSAUDARA]
[Meja Tengah]
Rayyan saat ini berada di ruang tengah ditemani dengan laptop miliknya. Dirinya tampak sibuk dengan tugas kantornya.
"Kakak" Kevin dan adik-adiknya datang menghampiri Rayyan.
Kevin,Caleb, Dzaky dan Aldan menduduki pantat mereka di sofa. Sedangkan Rayyan yang merasa dipanggil mengalihkan pandangannya melihat kearah keempat adik-adiknya itu.
"Kalian sudah bangun?" tanya Rayyan.
"Kenapa kakak tidak membangunkan kami?" tanya Dzaky.
Rayyan tersenyum kearah Dzaky. "Kakak tidak tega membangunkan kalian. Kalian tidurnya lelap sekali. Apalagi kalian kemarin seharian full dengan tugas-tugas kalian. Jadi kakak membiarkan kalian untuk tidur lebih lama."
"Lalu kakak bagaimana? Bukannya kakak juga sama seperti kami. Kenapa kakak sudah bangun pagi-pagi begini?" tanya Aldan. Sedangkan yang lainnya mengangguk setuju
Rayyan hanya tersenyum menanggapi protes dari adik bungsunya itu.
"Sekarang kakak sedang ngerjain apa?" tanya Kevin
"Kakak hanya menyelesaikan sedikit kerjaan yang belum selesai di kantor, serta kakak sedang mengecek beberapa data keuangan," jawab Rayyan.
Rayyan menghentikan aktivitasnya sejenak. Lalu pandangannya fokus kepada keempat adiknya.
"Aldan. Bagaimana kuliahmu?" tanya Rayyan.
"Baik, kak. Tidak ada masalah," jawab Aldan.
"Oh, iya. Bukankah besok adalah hari pertama Darel kuliah?" tanya Rayyan.
"Benar kak. Besok adalah hari pertama Darel kuliah," sahut Aldan.
"Kakka minta padamu, Aldan. Selama kau di kampus, jaga dan awasi Darel. Pastikan Darel tidak kelelahan," ucap Rayyan pada adik bungsunya.
"Pasti, kak Rayyan. Tanpa kakak minta pun aku pasti akan menjaganya. Bagaimana pun Darel itu masih saudara kita? Paman Arvind kakak sepupunya Papa," jawab Aldan.
"Keadaan Darel tidak sama seperti dulu. Kondisinya tidak bisa dikatakan dengan kata baik. Sedikit saja tersakiti, tubuhnya akan drop. Pertama Darel mengalami geger otak ringan, itu semua karena ulah kita. Dan kedua Darel harus hidup dengan satu ginjal, itu ulah dari Papa kita. Darel tidak boleh sampai kelelahan. Sebagai balasannya kita akan menjaganya dan mengawasinya," ucap Rayyan.
"Pasti kak. Kita akan menggantikan kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan Darel selama ini dengan cara kita menjaganya dan melindunginya," tutur Caleb.
"Ya, sudah. Mumpung kalian sudah bangun. Lebih baik kalian pergilah sarapan," ucap Rayyan.
"Baiklah, kak!" jawab mereka kompak.
Mereka pun pergi menuju meja makan untuk sarapan.
***
[KEDIAMAN ARVIND WILSON]
Suasana pagi hari di kediaman Arvind tampak sunyi dan sepi dari keributan Wilson bersaudara. Yang terdengar hanya keributan di dapur, dimana Adelina selaku Nyonya rumah bersama dengan beberapa pelayan sedang bertempur di dapur. Apalagi kalau bukan sedang memasak menyiapkan sarapan pagi untuk 14 jagoan tampannya.
Adelina menyiapkan makanan dan minuman kesukaan dan sudah menjadi favorit suami dan putra-putranya, terutama putra bungsunya Darel Wilson. Disisi lain Adelina juga mengatur makanan sehat untuk putra bungsunya itu.
Dikarenakan putra bungsunya itu kadang-kadang susah untuk disuruh makan, serta kesehatan putranya itu sedikit menurun sejak kejadian penembakan tiga tahun yang lalu. Baik Adelina, Arvind maupun putra-putranya yang lainnya berusaha untuk terus menjaga dan mengawasi kesayangannya itu. Termasuk pola makannya.
Disaat Adelina tengah sibuk dan fokus dalam memasaknya, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh salah satu putranya.
GREP!!
"Selamat pagi Mamaku yang cantik.. CUP.. CUP!" seru Raffa.
Raffa tiba-tiba datang dan langsung memeluk ibunya. Serta memberikan dua ciuman di pipi ibunya itu.
TAK!!
Adelina memukul kepala Raffa dengan sendok sehingga membuat Raffa merengut.
"Mama, kenapa memukul kepalaku?"
Adelina hanya tersenyum. "Siapa suruh mengagetkan Mama, hum?"
"Hehehe." Raffa terkekeh.
"Tumben sudah bangun? Biasanya kamu yang paling susah dibangunkan," ucap dan tanya Adelina.
"Gak tahu tuh. Tiba-tiba aja kebangun. Mau tidur lagi, tapi gak bisa. Ya, udah! Aku langsung turun ke bawah. Saat tiba di bawah aku dengar keributan di dapur. Akhirnya jadilah begini," jawab Raffa.
Adelina hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar penuturan dari putra bungsu keduanya itu.
"Ya, sudah. Sekarang putra Mama yang tampan ini pergi mandi biar wangi dan makin bertambah tampannya. Setelah itu bangunkan kakak-kakakmu dan adikmu."
"Assiiiaap.. kapten!" seru Raffa semangat sembari memberikan hormat pada ibunya.
Adelina hanya tersenyum gemas melihatnya. Begitu juga pelayan yang ada diantara mereka.
__ADS_1
^^^
[Kamar Raffa]
Raffa berada di dalam kamarnya. Dan dirinya pun sudah selesai dari acara mandinya. Kini tubuhnya sudah wangi dan wajahnya pun juga makin tampan.
"Kau tampan sekali, Raffa Wilson!" Raffa memuji dirinya sendiri sembari berdiri didepan cermin. Dan tak lupa senyuman manisnya.
Setelah selesai dengan dunianya. Raffa pun mulai membangun saudara-saudaranya.
Awal-awalnya Raffa dengan sabarnya membangunkan semua saudara-saudaranya. Dirinya rela menuju ke satu kamar dan ke kamar yang lainnya demi membangunkan saudara-saudaranya itu.
Setelah merasa dirinya lelah dan usahanya tidak membuahkan hasil. Raffa memutuskan untuk istirahat.
Sepuluh menit istirahat, tiba-tiba muncul ide jahil di otaknya. Raffa kemudian tersenyum penuh kelicikan.
"Ahaa. Semoga dengan cara ini mereka semua mau bangun," ucap Raffa.
Raffa berdiri dari duduknya. Kemudian melakukan aksinya. Raffa menghampiri satu persatu kamar para saudara-saudaranya.
DUG.. DUG.. DUG..
DUG.. DUG..
"Kebakaran.. Kebakaran.. Kebakaran. Kakak, Darel bangun!" teriak Raffa dengan menggunakan microphone pengeras.
Mendengar teriakan keras dari Raffa membuat seisi rumah kelabakan dan juga terkejut, termasuk Adelina dan pelayan yang ada di dapur.
GEDEBUUMM..
JEDUUKK..
DUUKK..
BRUUKKK..
SREETT..
Mereka semua terjatuh, terpeleset, kejedot, sehingga membuat pantat, kepala dan badan mereka sakit semua.
CKLEK!!
Pintu kamar dibuka secara bersamaan. Dan keluarlah semua makhluk-makhluk tampan dari kamar masing-masing dengan wajah kusut, kucel, setengah mengantuk dan juga marah.
Saat mereka telah sadar dari rasa kantuk dan rasa terkejutnya. Mereka semua menatap Raffa garang. Mereka melihat Raffa sedang tertawa puas dengan microphone pengeras ditangannya.
"Raffaaaaa!" teriak mereka secara bersamaan.
Raffa menolehkan wajahnya dan melihat kearah para kakaknya dan juga adik bungsunya. Dan jangan lupa sang Ayah juga ada diantara saudara-saudaranya itu.
"Oooo, Mampus. Para singa ngamuk. Habislah aku." monolog Raffa.
"Hehehe. Kalian sudah bangun ya. Aku pikir kalian tidak akan bangun. Maaf ya kakak, Darel, Papa. Aku cuma bercanda. Kalau kalian mau memberikan hukuman. Hukum saja si bantet," ucap Raffa seenaknya.
"Yak, alien tengil sialan! Kenapa kau membawa namaku?!" teriak Evan.
Evan langsung pergi untuk mengejar Raffa. "Awas kau ya."
Melihat Evan yang ingin mengejarnya, Raffa pun berlari kearah dapur untuk meminta perlindungan dari sang ibu.
Sedangkan yang lainnya ikut menyusul Evan. Mereka juga ingin memberikan pelajaran untuk si alien tengil mereka itu.
Dan dua detik kemudian, terjadilah peperangan antara Raffa dengan saudara-saudaranya.
^^^
[Meja Makan]
Kini semuanya sudah berada di meja makan dan bersiap-siap untuk sarapan pagi bersama.
"Sudah. Jangan perlihatkan wajah jelekmu seperti itu," ucap Alvaro sembari mengusap wajah Raffa. Mereka yang melihatnya tersenyum gemas.
"Aish! Apaan sih kak," ucap Raffa kesal dengan bibir dimanyunkan.
Lalu tiba-tiba ponsel milik Darel berbunyi. Darel pun segera mengambilnya di saku celananya. Dan dapat dilihat olehnya nama 'Kenzo' di layar ponsel miliknya.
Darel menaikkan satu alisnya. Lalu seketika Darel tersenyum evil. Adelina, Arvind dan para kakaknya yang melihatnya hanya tersenyum. Dalam pikiran mereka pasti sebentar lagi akan mendengar sesuatu yang menarik dari sibungsu mereka.
Darel pun langsung mengangkat panggilan dari Kenzo.
"Hallo, tiang listrik."
"Akhirnya," Batin para anggota keluarganya.
"Yak, Rel! Bisa tidak saat menjawab panggilan dariku, kau menjawabnya tidak usah menyebut nama itu?"
"Tidak bisa. Karena itu sudah nama yang paling bagus dan indah untukmu. Aku sudah sangat menyukainya."
__ADS_1
"Dasar siluman kelinci sialan."
"Heii. Kau baru saja mengataiku. Belajar dari mana, tuh?"
"Aku belajar dari seseorang yang otaknya isinya cuma suka mengatai orang, egois dan maunya menang sendiri. Orang itu badannya gembul, semok, tengil, jelek, idiot, buntelan kelinci bau comberan."
Darel yang mendengar rentetan umpatan-umpatan dari Kenzo seketika melotot dan mulutnya berbentuk O.
Anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum melihat wajah Darel yang menurut mereka imut dan menggemaskan seperti anak kecil usia 4 tahun.
"Yak, Kenzo! Beraninya kau mengataiku sebanyak itu. Aku hanya mengataimu tiang listrik saja. Tapi kau membalasnya sebanyak itu. Dasar keturunan simpanse sialan!" teriak Darel.
Hal itu sukses membuat Kenzo maupun anggota keluarganya menutup telinga. Mereka tidak mau gendang telinga mereka rusak.
"Yak, Rel! Nggak usah pake teriak juga kali," kesal Kenzo.
"Apa? Mau protes? Tidak terima? Mau berantem denganku? Mau bermusuhan denganku? Ayoooo. Siapa takut!"
"Hah!!" Kenzo hanya bisa menghela nafas pasrahnya mendengar nada mengancam dari Darel. "Dasar si.......!!" ucapan Kenzi terpotong karena Darel sudah terlebih dahulu berbicara.
"Mau mengataiku lagi, hah!" teriak Darel.
"Hehehehe. Oke.. Oke, sorry. Kau lagi ngapain??"
"Lagi bicara denganmu."
Baik Kenzo maupun anggota keluarganya geleng-geleng kepala dan nepuk jidat saat mendengar jawaban dari Darel.
"Yak, siluman kelinci sialan! Kalau itu aku tahu. Maksudnya kau sedang apa saat ini?"
"Hehehe, sorry aku bercanda. Aku sedang sarapan bersama keluargaku. Tadi aku sarapannya semangat 45. Tapi saat kau menelpon, semangatku langsung hilang."
"Sialan kau, Rel!"
"Memangnya ada hal apa kau meneleponku, Kenzo?"
"Besok kan kita sudah mulai kuliah, nih? Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?"
"Sudah. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Bagaimana denganmu, Kenzo?"
"Sama. Aku juga sudah mempersiapkan semuanya. Oh, iya! Rel, aku ingin bertanya padaku. Boleh?"
"Apa? Kau mau nanya apa?"
"Kau kan sudah bukan pelajar lagi. Kau itu sudah berstatus mahasiswa. Apa kau akan tetap diantar jemput oleh para kakak-kakakmu?"
Seketika ekspresi wajah Darel berubah menjadi sedih. Hal itu dapat dilihat oleh anggota keluarganya. Mereka melihat wajah kesayangan mereka itu berubah menjadi sedih.
"Kenapa wajahnya Darel menjadi sedih?" batin Adelina, Arvind dan para kakaknya.
"Aku tidak tahu, Zo. Kita lihat saja besok."
"Sekarang apa yang ada di hatimu?"
"Aku pengen kayak kamu dan yang lainnya. Tapi aku gak berani. Kamu tahu sendirikan alasannya apa."
"Ya, Rel! Kau yang sabar ya. Mereka seperti itu karena sangat menyayangimu. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
"Ya, aku tahu. Aku sangat bersyukur akan hal itu, Zo!"
"Oh, iya. Aku hampir lupa. Aku dan yang lainnya akan main ke rumahmu. Sekitar pukul 11 siang nanti kami akan kesana."
"Benarkah..?"
Seketika senyuman manis itu kembali lagi. Anggota keluarganya yang masih memperhatikannya ikut tersenyum melihat senyumannya itu.
"Iya, Rel! Itu benar. Kami akan berkunjung ke rumahmu."
"Baiklah. Aku tunggu. Awas kalau sampai kalian tidak jadi datang."
"Oooh. Ternyata sahabat-sahabatnya Darel mau datang. Pantesan saja kelihatannya bahagia sekali," batin para anggota keluarganya.
"Kami akan datang. Kau mau dibawakan apa?"
"Tidak usah bawa apa-apa. Kalian datang saja aku sudah sangat bahagia."
"Terima kasih, Rel! Tapi aku serius. Kau mau dibawakan apa?"
"Eeemmm, apa ya?" Darel berpikir sejenak. "Zo. Mau nggak kau belikan aku susu pisang saja.. hehehehe!!"
Anggota keluarganya yang mendengar ucapan dari Darel tersenyum. Mereka semua tahu kalau kesayangan mereka itu tidak akan pernah lepas yang namanya susu pisang. Bagi mereka semua, susu pisang itu sudah menjadi candu dan tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari kesayangan mereka.
"Baiklah. Aku akan belikan. Kalau begitu aku matikan panggilannya. Kau lanjutkan lah sarapanmu. Maaf kalau sudah mengganggu waktu sarapanmu."
"Terima kasih, Kenzo. Iya! Tidak apa-apa. Santai aja."
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
TUTT..
TUTT..