
Darel membanting ponselnya hingga hancur dan disertai dengan teriakannya yang kuat membuat anggota keluarganya yang berada di ruang tengah mendengar teriakannya.
"Aarrgghhh!"
"Brengsek kau Lian! Tunggu saja pembalasanku."
Darel hendak berdiri dari duduknya. Dirinya ingin menuju ke tempat tidurnya untuk membaringkan tubuhnya disana. Namun saat baru dua langkah, tiba-tiba Darel merasakan sakit di kepalanya.
"Aakkhhh!" Darel meremat kuat rambutnya. "Sa-sakit," lirih Darel.
BRUUKK..
Darel jatuh tak sadarkan diri di lantai yang dingin.
^^^
Sementara anggota keluarganya yang sudah berada diluar pintu kamarnya berusaha untuk membuka paksa pintu kamarnya. Mereka semua sudah sangat khawatir akan keadaan Darel, kesayangan mereka.
BRAAKK.. BRAAKK..
Davian dan Nevan mendobrak pintu tersebut, namun usaha mereka gagal. Mereka tidak menyerah. Mereka terus melakukannya sampai pintu kamar adik bungsu mereka terbuka.
BRAAKK.. BRAAKK..
BRAAKK..
Dengan tiga kali dobrakan, akhirnya pintu kamar Darel berhasil terbuka. Setelah pintu kamar itu terbuka, mereka semua langsung melangkah masuk, Arvind yang terlebih dahulu masuk.
"Astaga, Darel!" teriak Arvind saat melihat putra bungsunya tergeletak di lantai.
"Sayang, hei!" Arvind mengangkat kepala putra bungsunya dan meletakkannya di atas pahanya. "Darel, sayang. Ini Papa, nak!" Arvind. mengelus-elus wajah putranya itu
"Darel.. Hiks."
Adelina menangis saat melihat kondisi putra bungsunya yang tak sadarkan diri di lantai. Begitu juga dengan para kakak-kakak kandungnya dan para kakak-kakak sepupunya.
Davian mengambil alih tubuh adik bungsunya dari pangkuan sang Ayah, lalu membawanya ke tempat tidur. Davian membaringkan tubuh adiknya itu di atas tempat tidur secara hati-hati.
Setelah adik berada di atas tempat tidur. Davian menyelimuti tubuh adiknya. Alvaro dan Axel melirik kearah dimana sesuatu yang berserakan di lantai. Alvaro dan Axel melangkah kesana.
Alvaro dan Axel memunguti pecahan-pecahan itu. Dan memperlihatkan pada anggota keluarganya.
"Pa, Ma, kak. Lihat ini!" seru Alvaro dan Axel.
Mereka semua pun melihat apa yang ditunjukkan oleh Alvaro dan Axel. Mereka melihat ponsel milik kesayangan mereka yang telah hancur.
Mereka mengalihkan pandangannya melihat kearah Darel yang terbaring lemah di tempat tidur. Dan jangan lupa wajahnya yang sedikit pucat.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sandy.
"Pasti Darel habis menerima telepon dari seseorang. Kalau tidak, Darel tidak mungkin membanting ponselnya begitu saja!" seru Dylan.
Mereka semua mengangguk dan setuju akan ucapan dari Dylan. Arvind melangkah menghampiri ranjang putra bungsunya. Setelah itu Arvind duduk di sampingnya. Tangannya mengelus lembut rambut putranya dan tidak lupa Arvind mencium kening putra bungsunya itu.
"Darel, sayang. Kenapa jadi seperti ini, nak? Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak mau bercerita kepada Papa atau kakak-kakak kamu? Kenapa kamu harus menanggungnya sendiri?" ucap Arvind.
Arvind menangis melihat kondisi putra bungsunya. Hatinya benar-benar sakit saat melihat putra bungsunya kembali merasakan kesakitan.
"Darel," lirih para kakak kandungnya dan para kakak sepupunya.
"Darel," lirih Paman dan Bibinya.
__ADS_1
"Kakak Darel," lirih Mirza.
"Kita malam ini tidur di kamar Darel. Takutnya Darel akan demam malam ini!" seru Nevan.
"Hm!" mereka mengangguk.
Davian dan adik-adik memutuskan untuk tidur di kamar Darel. Mereka semua takut jika adik bungsunya akan demam malam ini.
"Lebih kita keluar. Biarkan Davian dan yang lainnya menemani Darel," ucap William.
Lalu mereka semua pun keluar meninggalkan kamar Darel. Tapi sebelum mereka keluar, mereka menyempatkan diri untuk memberikan ciuman sayang di kening Darel dan juga kata-kata sayang pada Darel secara bergantian.
Setelah selesai, mereka pun keluar meninggalkan kamar Darel. Kini tinggallah Davian dan adik-adiknya dikamar Darel.
Davian dan adik-adiknya juga memberikan ciuman sayang di kening Darel. Mereka semua menangis melihat kondisi adiknya.
***
KEDIAMAN DAVI RAMERO
Di sebuah kamar yang besar terlihat seorang pemuda yang tengah duduk bersandar di tempat tidur. Pemuda itu adalah Samuel Ramero, putra ketiga dari Davi Ramero. Samuel saat ini tengah memegang sebuah foto.
"Kak Azri, aku merindukanmu. Oh iya, kak! Aku ingin memberitahumu. Aku bertemu dengan seorang pemuda. Pemuda itu wajahnya tampan, cantik, manis dan juga imut. Apalagi kalau dia lagi marah, wajahnya makin tambah imut layaknya seperti anak kecil. Dan tadi sore adalah pertemuanku yang kedua dengannya," ucap Samuel sembari menatap foto kakak sepupunya
"Kakak tahu tidak pertemuan pertama kami dimana dan bagaimana? Pertemuan pertama kami sangat buruk."
Flashback On
Samuel terus berjalan menyusuri koridor kampus dengan terburu-buru tanpa mempedulikan orang-orang yang ditabraknya. Baginya saat ini adalah dirinya ingin segera bertemu dengan Dekan yang tak lain adalah Ayahnya Davi Ramero.
Saat tiba di persimpangan. Samuel berbelok kearah kiri. Namun disisi lain Darel yang melangkah dan ingin berbelok kearah kanan. Lalu terjadi kecelakaan yang tak terduga.
BUGH..
"Aakkhhh!" ringis keduanya. Mereka sama-sama merasakan sakit di bagian pantat mereka.
"Kalau jalan itu pakai mata bukan pakai dengkul!" bentak Samuel.
"Kenapa kau yang marah-marah? Disini kau juga salah. Kau jalan buru-buru kayak dikejar setan. Makanya jalan itu yang benar. Kalau perlu lepaskan kaca mata hitammu itu biar kelihatan jelas jalannya. Nggak main seruduk aja kayak badak," jawab Darel kesal.
Mendengar penuturan dari Darel membuat pemuda itu kesal. Pemuda itu menatap tak suka kearah Darel. Setelah itu, pemuda itu langsung pergi meninggalkan Darel sendirian untuk menuju ruang Dekan.
Flashback Off
Seketika Samuel tersenyum saat mengingat kejadian tabrakan beruntun antara dirinya dengan seorang pemuda saat berada di kampus dua hari yang lalu.
"Kami sama-sama jatuh dan sama-sama kesakitan, kak! Tapi aku malah menyalahkannya. Sebenarnya sih aku yang salah. Karena lagi buru-buru, aku meninggalkannya begitu saja."
"Dan pertemuan keduaku dengannya, saat aku mau pulang ke rumah bersama teman-teman baruku."
Flashback On
"Ayo, pergi!"
Para kelompok itu pun pergi meninggalkan lima pemuda itu, Darel dan Arzan.
Setelah selesai mengatasi para kelompok itu, Darel dan Arzan mengalihkan pandangannya melihat kearah lima pemuda tersebut.
Dan detik kemudian.........
"Kau....." tunjuk Darel dan kedua pemuda itu saat mereka bertemu muka.
__ADS_1
Sementara Arzan dan ketiga pemuda lainnya menatap bingung. Namun satu diantaranya mengenali wajah Darel.
"Hei, bukankah kau si DL yang Nickname dalam Game A CHINESE GHOST STORY. DL itu singkatan dari namamu yaitu Darel. Iya kan?" tanya pemuda itu.
Mendengar penuturan dari temannya, keempat pemuda itu menatap wajah Darel. Sementara Darel hanya menatap pemuda itu tanpa ekspresi sama sekali.
"Kau masih ingat denganku kan? Aku yang saat itu menunjukkan dimana letak perpustakaan saat kau sedang kesusahan mencari letak perpustakaan tersebut. Bahkan kita sempat bermain Game bersama di perpustakaan!" seru pemuda itu lagi.
"Kau salah orang!"
Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung pergi meninggalkan kelima pemuda tersebut dan disusul Arzan di belakang.
Flasback Off
Samuel kembali teringat kejadian tadi sore. Kejadian dimana Samuel yang tak sengaja bertemu dengan keempat pemuda yang keluar dari WARNET.
Baik Samuel maupun keempat pemuda itu sama-sama keluar dan akan pergi meninggalkan WARNET tersebut.
Flashback On
"Ach, tidak seru! Masa main game A CHINESE GHOST STORY hanya berlima doang. Nggak asyik jika hanya bermain dengan LC, SL, RZ, JN. Mereka semua mainnya cupu. Coba kalau ada DL, pasti seru. Lagian kemana sih si DL. Kenapa dua hari ini Off mulu?"
Mendengar penuturan dari pemuda yang tengah duduk di kursi yang ada diluar Warnet membuat keempat pemuda yang berada di lokasi yang sama hanya saja jarak yang memisahkan kompak membelalakkan matanya dan keempat melihat kearah pemuda yang tengah duduk di kursi. Mereka menatap seksama wajah pemuda itu, sementara pemuda tersebut tengah memikirkan tentang off nya DL.
"ZG!." teriak keempat pemuda tersebut dengan kompaknya.
Baik pemuda yang diteriaki maupun keempat pemuda itu sama-sama terkejut. Bahkan mereka saling melempar pandangan. Pemuda yang duduk tersebut langsung berdiri dan berjalan menghampiri keempat pemuda yang meneriakinya.
Kini mereka saling berhadapan dan saling tatap satu sama lain.
"Kalian. LC, SL, RZ, JN!" seru ZG sambil menunjuk satu persatu keempat pemuda yang ada di hadapannya.
"Iya," jawab keempat pemuda itu kompak.
Lagi-lagi mereka terkejut dan saling menatap satu sama lain.
"Wah! Nggak nyangka kita bertemu disini!" seru JN.
"Ya. Aku juga tidak menyangka jika kita bertemu didunia nyata," sela LC.
"Selama ini kita bertemunya di dunia Game," ucap SL.
"Hm!" jawab RZ.
"Tapi tidak lengkap. Kurang satu!" seru ZG.
"DL!" sahut. LC, SL, RZ, JN bersamaan.
"Oh, iya! Kenalkan. Namaku Juan." Juan mengulurkan tangannya.
"Aku Samuel."
"Razig."
"Lucas."
"Zelig."
Setelah saling berkenalan, akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama disebuah Cafe terkenal di Jerman.
Flashback Off
__ADS_1
Samuel menangis menatap wajah kakak sepupunya itu. Tangannya mengelus foto itu.
"Kak. Apakah dia orangnya? Apakah dia orang yang diceritakan oleh Paman dan Bibi? Apakah dia adalah sahabat kakak selama 12 tahun ini? Jika memang dia orangnya. Aku berjanji padamu. Aku akan membuatnya bahagia. Aku akan menggantikan posisimu dan menjadikan dia sahabat terbaikku. Aku akan melakukan apa yang kakak lakukan selama ini padanya," ucap dan janji Samuel.