Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Amarah Evan Dan Raffa


__ADS_3

Sementara wanita itu menatap tajam kearah Raffa. Dirinya tidak terima atas apa yang dikatakan oleh Raffa.


"Apa kau marah karena aku sudah menyebabkan kedua mata anakmu terluka akibat siraman kuah sop yang sudah aku campuri banyak cabe?" tanya Darel.


Mendengar perkataan dari Darel membuat semua sahabat-sahabatnya, Evan, Raffa dan keempat kakak sepupunya menatap kearah Darel.


"Rel," panggil Evan.


Darel melihat sekilas kearah kakak bantetnya itu lalu kembali menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya.


"Mahasiswa yang bernama Yagar dan keempat teman-temannya menggangguku ketika aku lagi menikmati sarapan pagi di kantin. Aku sudah berusaha sabar dan menyuruh mereka untuk pergi. Tapi tetap saja mereka masih terus menggangguku."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Mereka marah padaku karena aku berani melawan. Lalu Yagar yang tak lain putra dari perempuan itu langsung menyerangku. Aku menghindar bersamaan tanganku mengambil mangkuk yang berisi kuah sop yang warnanya merah lalu langsung aku siram kearah wajah Yagar sehingga membuat Yagar berteriak."


"Peduli setan kuah sop itu mengenai kedua matanya. Yang jelas aku hanya melindungi diriku," ucap Darel dengan tatapan matanya menatap tajam kearah wanita itu.


Wanita itu menggeram marah ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darel.


"Sekarang kau sudah tahukan siapa yang salah disini? Jika anakmu tidak mengusikku, maka anakmu akan baik-baik saja."


"Aku tidak peduli. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada anakku!"


"Hahahaha! Siapa kau? Berani sekali kau memerintahku. Aku tidak punya urusan dengan anakmu itu! Banyak hal penting yang harus aku urus dari pada mengurusi anakmu tak ada manfaatnya itu," ucap Darel.


Mendengar perkataan kejam dari Darel membuat para sahabat-sahabatnya dan para kakak-kakaknya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka semua sudah tahu bagaimana tajamnya lidah seorang Darel jika berbicara dengan orang yang sudah membuat harinya buruk.


Sementara wanita itu tidak terima atas apa yang dikatakan oleh Darel. Dirinya tak terima Darel yang lepas tangan begitu saja setelah menyakiti anaknya.


"Brengsek! Dasar anak tidak tahu diri! Seenaknya saja kau mau lepas tangan setelah menyakiti anakku! Apa begini cara orang tuamu mendidikmu!"


"Hei, nyonya!" bentak Evan dan Raffa sembari menunjuk kearah wanita itu bersamaan dengan tatapan penuh amarah.


Evan dan Raffa berdiri tepat di hadapan wanita itu dengan memunggungi adiknya. Baik Evan maupun Raffa begitu marah akan perkataan wanita itu yang membawa-bawa kedua orang tuanya


"Jangan bawa-bawa kedua orang tua kami dalam permasalahan yang kami buat. Mereka tidak tahu apa-apa!" bentak Raffa.


"Anda menyebut adik saya tidak tahu diri. Dan anda menuduh kedua orang tua kami yang telah salah mendidik adik kami. Lalu bagaimana dengan putra anda itu, hah?! Apakah anda sudah mendidiknya dengan baik? Apa anda sudah mengajarkan hal yang baik selama berada di kampus?!" bentak Evan.


"Jangan menilai adik saya hanya karena dia sudah menyakiti putra anda. Disini putra anda yang bersalah. Jika putra anda tidak menyerang adik saya terlebih dahulu, maka adik saya tidak akan melawan!" Evan kembali berbicara dengan menatap tajam wanita itu.


Wanita itu masih tetap dengan pendiriannya. Dirinya tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas saat ini wanita itu ingin membalas orang yang sudah menyakiti putranya.


"Aku tidak peduli. Yang aku mau saat ini dan detik ini juga anak sialan itu harus ikut denganku. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!" bentak wanita itu.


"Kalian!" teriak wanita itu dengan melirik ke belakang. "Serang mereka. Dan habisi mereka semua! Sisakan satu dan bawa dia!"


"Baik nyonya!"


Setelah itu, para anak buah dari wanita itu menyerang Darel dan para sahabat-sahabatnya dan para kakak-kakaknya. Dan terjadilah perkelahian tak seimbang di halaman Kampus tersebut.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


Bagh.. Bugh..


Duagh..


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon memberikan pukulan dan tendangan keras kearah orang-orang yang menyerangnya secara brutal sehingga membuat beberapa orang tersungkur di tanah.


Tak jauh beda dengan Darel, Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Mereka juga memberikan pukulan dan tendangan keras kepada orang-orang yang menyerangnya dengan sangat brutal sehingga mengakibatkan teriakan kesakitan dari para musuh-musuhnya.


Melihat bagaimana jagonya Darel, para sahabatnya dan kakak-kakaknya bertarung. Bahkan banyak anak buahnya yang tumbang membuat wanita itu mengepal kuat tangannya.

__ADS_1


Seketika tatapan mata wanita itu tak sengaja melihat salah satu mahasiswa yang melangkah dengan membawa tongkat pemukul di tangannya. Seketika terukir senyuman manis di bibir wanita itu.


Berlahan wanita itu berjalan menghampiri mahasiswa tersebut. Setelah sampai di dekat, wanita seketika merebut tongkat pemukul itu.


"Hei!"


Setelah mendapatkan tongkat pemukul itu, wanita itu langsung pergi dan kembali ke tempat awal. Tatapan matanya menatap kearah dimana Darel sedang bertarung melawan anak buahnya. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya dan para kakak-kakaknya.


Tanpa diketahui oleh Darel, para sahabat-sahabatnya dan para kakak-kakaknya, wanita itu kemudian memukuli Darel dari belakang.


Bugh..


"Aakkhhh!" Darel berteriak seketika merasakan sakit di kepalanya.


Mendengar teriakkan dari Darel membuat para sahabat-sahabatnya dan para kakak-kakaknya melihat kearah Darel. Dan detik kemudian, mereka semuanya berteriak histeris.


"Darel!"


Darel membalikkan badannya untuk menatap wajah wanita itu. Setelah Darel melihat wajah wanita itu, dapat Darel lihat wanita itu tersenyum menyeringai.


Dengan sisa tenaganya, Darel memberikan tendangan kuat tepat mengenai perut wanita itu.


Duagh..


"Uhuukk!"


Bruk..


Tubuh wanita itu seketika terjatuh dengan perut yang menghantam tanah dan disertai muntah darah. Dan beberapa detik kemudian, wanita itu tak sadarkan diri.


Bruk..


Seketika tubuh Darel terjatuh dan kehilangan kesadarannya dengan darah yang keluar dari kepalanya.


"Darel!"


Bagaimana dengan 25 anak buah dari wanita itu? Semuanya kalah telak dengan keadaan yang tak baik-baik saja.


Bruk..


Evan dan Raffa menjatuhkan tubuhnya di hadapan adiknya yang tak sadarkan diri. Tangan Evan kemudian mengangkat kepala adiknya lalu meletakkannya di atas pahanya. Evan menangis melihat adiknya.


"Hiks... Rel. Bangun sayang. Ini kakak Evan. Buka matamu. Jangan tidur... Hiks," ucap Evan terisak.


"Darel sayang... Hiks... Ini kakak Raffa. Bangun sayang... Hiks," isak Raffa.


Tin..


Tin..


Terdengar suara klason mobil.


"Evan, Raffa! Ayo, buruan! Kita harus bawa Darel ke rumah sakit sekarang!" teriak Rendra dari dalam mobil.


Mendengar teriakkan dari Rendra membuat Evan dan Raffa tersadar. Setelah itu, Evan mengangkat tubuh Darel dibantu oleh Raffa, Damian, Evano dan Kenzo. Kemudian mereka membawanya menuju mobil yang dibawa oleh Rendra.


Setelah Evan, Raffa dan Darel di dalam mobil. Rendra pun melajukan mobilnya keluar perkarangan Kampus untuk menuju rumah sakit.


Sementara yang lainnya segera bergegas menuju mobil dan motor sportnya yang di parkir di parkiran. Mereka semua ikut menuju rumah sakit. Mereka saat ini memikirkan Darel. Dan mereka ingin mendengar langsung kondisi Darel setelah diperiksa.


Sementara wanita yang menyerang Darel masih terkapar di tanah. Tidak ada satu pun yang berniat membantu wanita itu.


Beberapa anak buahnya yang berhasil berdiri, walau terdengar ringisan dari mulut masing-masing berjalan menuju wanita itu.


Setelah itu, beberapa dari anak buahnya mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke dalam mobil. Mereka akan membawa wanita itu ke rumah sakit.

__ADS_1


***


Di sisi lain dimana Arvind dan Adelina mereka secara bersamaan merasakan perasaan tidak enak akan putra bungsunya. Berulang kali bayangan wajah putra bungsunya berputar-putar di pikirannya.


Jika Adelina ada di butiknya. Sementara Arvind ada di perusahaan miliknya. Lebih tepatnya di ruang rapat sedang melakukan rapat.


"Kenapa perasaanku tak enak?"


"Kenapa wajah putra bungsunya selalu berputar di kepalaku?"


"Ada apa?"


"Apa yang terjadi?"


"Sayang!"


Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Arvind dan Adelina di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama.


"Nyonya!"


"Tuan!"


***


Di perusahaan SN'Dy Advertising terlihat seorang pria paruh baya sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Pria itu adalah Sandy Wilson.


Sandy sedang mengerjakan sebuah proposal untuk kerjasama perusahaannya dengan tiga perusahaan dari luar negeri. Tiga perusahaan itu ingin sekali join dengan perusahaannya.


Ketika Sandy tengah fokus menatap layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Sandy melihat kearah samping dimana ponselnya berada. Di layar ponselnya itu tertera nama putra bungsunya yaitu Rendra.


Seketika Sandy tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari putra bungsunya itu.


"Hallo, sayang!"


"Papa."


Deg..


Sandy seketika terkejut ketika mendengar suara lirih dari putra bungsunya itu.


"Ada apa sayang? Kenapa dengan suara kamu?"


"Hiks... Papa, Darel!"


"Darel? Kenapa dengan Darel? Apa yang terjadi?"


"Darel masuk rumah sakit. Seseorang memukul Darel dari belakang. Dan pukulannya itu tepat di kepalanya Darel."


Sandy seketika terkejut ketika mendengar ucapan serta penjelasan dari putra bungsunya.


"Kamu sama siapa di rumah sakit?"


"Evan, Raffa, Dylan, Melvin dan para sahabat-sahabatnya Darel."


"Apa kamu sudah hubungi Paman Arvind?"


"Belum."


"Ya, sudah! Biarkan Papa yang menghubungi Paman Arvind. Kamu tenang, oke! Semoga Darel tidak kenapa-kenapa."


"Baik, Pa!"


Setelah mengatakan itu, Rendra langsung mematikan panggilannya. Sedangkan Sandy langsung menghubungi kakak laki-lakinya itu untuk memberitahu tentang Darel.

__ADS_1


__ADS_2