
[Rumah Sakit]
Cklek..
Seseorang membuka pintu ruang rawat. Setelah itu, orang itu melangkah masuk ke dalam.
"Sial. Kenapa kosong? Kemana dia? Apa dia sudah pulang?"
Ruang rawat yang dimasuki oleh seseorang orang itu adalah ruang rawat Darel Wilson. Dan orang yang masuk itu adalah Rolland Ramendra.
Rolland tampak kesal karena korbannya sudah tidak ada di ruang rawatnya.
"Terpaksa aku menyusun rencana B. Bagaimana pun bajingan itu harus mati. Jika tidak malam ini, maka besok dia harus mati."
Setelah beberapa menit di dalam ruang rawat Darel. Rolland memutuskan untuk pergi. Tanpa dia sadari bahwa sesuatu tengah menantinya ketika dia meninggalkan rumah sakit.
***
[Kediaman Utama Wilson]
Arvind, Adelina dan semua anggota keluarga kini berkumpul di ruang tengah. Mereka kini tengah membahas masalah orang yang ingin membunuh Darel dan juga membahas tentang apa yang dibicarakan oleh Darel bersama sahabat-sahabatnya.
Sementara Darel berada di kamarnya. Sejam yang lalu semua sahabat-sahabatnya pamit pulang ke rumah masing-masing.
Yah! Arvind, Adelina, putra-putra dan semua anggota keluarganya sudah mengetahui dibalik alasan Darel yang minta pulang. Mereka tahu dari Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa. Sementara Mereka mengetahui hal itu karena mereka mendengar sendiri.
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa berniat untuk menemui adiknya sekalian mengajak adiknya bersama sahabat-sahabatnya untuk makan malam bersama.
Namun siapa disangka. Ketika Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tiba di depan pintu kamar adiknya dan kebetulan pintu terbuka tidak tertutup rapat, mereka mendengar obrolan adiknya dengan sahabat-sahabatnya.
"Apa yang akan kita lakukan terhadap laki-laki itu, kak Arvind?" tanya William.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak ingin membuat putra bungsuku kecewa padaku. Aku akan mengikuti keinginannya," jawab Arvind.
"Tapi Pa? Bagaimana jika dia tidak mau mendengarkan kita dan tetap pada keputusannya ingin membunuh Darel?" tanya Vano.
"Jika itu terjadi, maka tidak ada pilihan lain. Kematian yang akan menghampirinya," sahut Arvind.
"Yang perlu kita lakukan sekarang ini adalah perketat pengawasan terhadap Darel. Kemana pun dia pergi harus ada yang mengikutinya," ucap Sandy.
"Darel kan habis kecelakaan, koma beberapa hari di rumah sakit bahkan sempat mengalami hilang ingatan. Usahakan selama beberapa minggu ke depan. Kita jangan kasih izin Darel membawa kendaraan sendiri dulu. Kita yang akan antar jemput dia. Atau Darel bisa dijemput atau diantar oleh sahabat-sahabatnya," ucap Daksa.
"Hm!" mereka semua berdehem sembari mengangguk tanda setuju.
Tiba-tiba Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa berdiri dari duduknya secara bersamaan sehingga mengundang tatapan semua anggota keluarganya.
"Kalian mau kemana?" tanya Arga.
__ADS_1
"Mau ke kamar Darel," jawab Axel.
"Sejak pulang dari rumah sakit, kita belum bertemu Darel karena Darel menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya." Alvaro ikut bersuara.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar Darel di lantai dua.
Melihat kepergian Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa menuju kamar Darel membuat Andre dan Arga langsung berdiri. Kemudian, Andre dan Arga pergi menyusul keenam adiknya itu.
Beberapa detik kemudian disusul oleh Dabian, Nevan, Ghali dan Elvan. Mereka juga tidak ingin ketinggalan untuk menemui kesayangannya itu.
Sementara Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Dabian dan adik-adiknya jika sudah berurusan dengan Darel.
Drrrtt..
Drrrtt..
Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara dering ponsel. Ponsel tersebut milik Arvind.
Arvind yang mendengar suara dering ponsel miliknya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponselnya ada di genggamannya, Arvind melihat nama salah satu tangan kanan putra bungsunya yaitu Arzan.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arvind pun langsung menjawab panggilan dari Arzan.
"Hallo, nak Arzan! Ada apa?"
"Hallo, Tuan. Maaf jika saya mengganggu."
"Begini, Tuan! Saya dan Zayan serta beberapa anggota berhasil menangkap laki-laki itu. Sekarang dia berada di Markas Black Shark."
Mendengar ucapan sekaligus informasi dari Arzan membuat Arvind tersenyum.
"Sesuai rencana," batin Arvind.
"Baiklah, nak Arzan! Kurung saja dia dulu. Besok aku dan keenam kakak tertuanya Darel akan kesana."
"Baik, Tuan. Oh iya, Tian! Bagaimana keadaan Bos setelah pulang ke rumah?"
Arvind tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Arzan. Dirinya bersyukur putra bungsunya itu dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangi dan peduli padanya.
"Darel baik-baik saja. Sekarang dia sedang istirahat di kamarnya."
"Saya senang mendengarnya. Nanti tolong sampaikan masalah ini kepada Bos. Bagaimana pun Bos berhak tahu, Tuan!"
"Ya, baiklah. Saya akan sampaikan."
"Terima kasih, Tian! Kalau begitu saya tutup teleponnya."
__ADS_1
"Ya, baiklah."
Setelah itu, Arzan pun mematikan panggilannya.
"Arzan bilang apa, kak Arvind?" tanya Sandy.
"Arzan mengatakan bahwa laki-laki itu sudah berada di Markas Black Shark.
Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Arvind.
"Benarkah, Paman Arvind?" tanya Rendra, Melvin dan Dylan bersamaan.
"Iya, benar!"
"Mampus!"
"Rasain!"
"Emang enak!"
Rendra, Melvin dan Dylan berucap bersamaan. Mereka terlihat senang ketika mendengar ucapan dari Arvind sang Paman.
***
Senin, 06.30
[Kediaman Alexander]
Andrean dan putri satu-satunya yaitu Alisha Alexander saat ini sudah berada di meja makan. Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.
"Apa teman kamu itu masih membully kamu, Sayang?"
"Sejak kejadian di cafe itu dimana kakak Darel membalas perbuatannya itu. Sejak itulah dia tidak membully aku lagi, Pa!"
"Baguslah. Papa senang mendengarnya."
"Tapi aku tetap harus hati-hati dan waspada sama dia dan teman-temannya."
"Kenapa?"
"Karena aku curiga sama dia dan teman-temannya. Nggak mungkin kan dia dan teman-temannya tiba-tiba berhenti membully aku. Secara dia benci banget sama aku karena kak Sarga lebih memilih dekat denganku dari pada dia. Ditambah lagi, dia sudah lama menaruh perasaan suka sama kak Sarga sebelum aku pindah kesana."
"Apa perlu Papa memperkerjakan bodyguard?"
"Tidak perlu, Pa! Aku bisa jaga diri. Papa tidak perlu khawatir."
"Papa percaya. Ya, sudah! Habiskan sarapan kamu. Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah. Bukankah pagi ini kakak Aldan yang akan menjemput kamu?"
__ADS_1
"Baik, Pa! Iya."
Setelah itu, Andrean dan putrinya memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dan kembali menikmati sarapan paginya.