Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Membantu Ayahnya Gavin Dan Ayahnya Charlie


__ADS_3

Arvind, Sandy, Daksa, Davian, Steven dan Naufal sudah berada di rumah sakit. Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka langsung menghampiri ranjang putranya/adiknya. Mereka terlihat bahagia ketika melihat mata putranya/adiknya itu sudah terbuka.


"Sayangnya Papa."


"Sayang."


"Papa bahagia melihat kamu bangun, sayang."


Arvind, Sandy dan berucap secara bersamaan di depan putranya.


"Berapa hari aku tidak sadar?"


Daffa, Dario dan Aditya bertanya secara bersamaan dengan tatapan matanya menatap kearah ayahnya, kakaknya dan anggota keluarga yang ada di sekitarnya.


"Empat hari!"


Arvind, Sandy, Daksa dan anggota keluarganya menjawab secara bersamaan.


Daffa menatap sekelilingnya. Dan dia tidak mendapat tiga adiknya.


"Evan, Raffa dan Darel mana?"


"Mereka masih di kampus, sayang!" jawab Adelina sembari mengusap lembut kepala Daffa.


"Apa ada yang sakit?" tanya Davian.


"Nggak kak. Semuanya baik-baik saja," jawab Daffa jujur. "Kak," panggil Daffa kepada Davian.


"Ada apa, hum?"


"Kecelakaan itu," jawab Daffa.


Mendengar ucapan dari Daffa, semuanya langsung melihat kearah Daffa. Begitu juga dengan Dario dan Aditya.


"Kenapa dengan kecelakaan itu?" tanya Davian.


"Kecelakaan itu disengaja, kak! Sebelum aku kehilangan kesadaran. Aku sempat dengar salah satu orang itu menyebut nama Dikson, calon rekan kerja perusahaan kita." Daffa berucap sambil menjelaskan maksud dari perkataannya itu.


Davian seketika tersenyum mendengar ucapan dari Daffa. Begitu juga dengan Arvind dan anggota keluarganya yang lain.


Davian mengusap lembut kepala adiknya itu. "Masalah itu kamu tidak perlu khawatir. Semua sudah selesai."


"Maksud kak Davian?"


Nevan melangkah mendekati ranjang adiknya itu. "Maksud kakak Davian itu adalah orang-orang yang sudah membuat kamu, Dario dan Aditya sudah ditangkap. Sekarang mereka berada di Markas White Eagle."


"Mereka?!" tanya Daffa, Dario dan Aditya bersamaan.


"Iya, mereka! Yang membuat kalian seperti ini adalah mantan calon rekan kerja kalian masing-masing," sahut Naufal.


"Ini semua berkat adik kelincinya kalian, tangan kanannya dan anggotanya sehingga kita berhasil menangkap mereka." Steven berucap dengan tersenyum menatap ketiga adiknya secara bergantian.


Adelina, Salma dan Evita mengelus kepala putranya dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kening putranya itu.


"Sudah. Jangan dipikirkan lagi masalah itu."


"Semua sudah diselesaikan."


"Yang kalian pikirkan adalah kesembuhan kalian."


Adelina, Salma dan Evita berbicara sembari menatap wajah putranya dan kedua keponakannya secara bergantian.

__ADS_1


***


Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang melintas jalan raya. Di dalam mobil itu ada dua orang pria paruh baya yang masih terlihat muda.


Kedua pria itu adalah bersaudara dan mereka hendak menuju perusahaan MR'La Group milik keluarga Mourella.


Ketika mobil yang membawa keduanya melaju menyusuri jalan raya, tiba-tiba ada dua mobil Van menyalib mobil mereka sehingga membuat sang sopir langsung menginjak rem mobilnya.


"Astaga!" kedua pria itu seketika terkejut.


"Rico, ada apa?"


"Itu tuan. Ada dua mobil Van menghalangi jalan kita."


Diego dan Carter melihat kearah depan. Dapat keduanya lihat ada dua Van yang berhenti di depan mobilnya.


Carter hendak keluar, namun langsung dicegah oleh Diego. Dia tidak ingin adiknya kenapa-kenapa.


"Jangan keluar."


***


Darel dan para sahabat-sahabatnya saat ini berada di kantin. Setelah melakukan eksekusi hukuman kepada salah satu anggota Devon yang melakukan pencurian uang kegiatan Organisasi Kampus dan setelah mengikuti tiga mata kuliah. Mereka memutuskan untuk mengisi perutnya.


"Bagaimana? Sudah puas memberikan hukuman sama anggota lo itu?" tanya Darel sembari memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


" Belum," jawab Devon.


"Lalu hukuman apa yang akan Lo berikan berikutnya?" tanya Samuel.


"Antara satu. Dikeluarkan atau di penjara," jawab Devon.


Ponsel milik Gavin dan Charlie bersamaan berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Gavin dan Charlie sama-sama mengambil ponselnya di saku celananya.


Setelah ponselnya ada di tangannya, Gavin dan Charlie melihat nama ayahnya di layar ponselnya. Keduanya saling memberikan tatapan. Terlihat kekhawatiran di tatapan mata masing-masing.


Setelah itu, baik Gavin maupun Charlie langsung menjawab panggilan dari ayahnya itu dengan perasaan tak enak.


"Hallo, Pa!"


"Gavin!"


"Charlie!"


Deg..


Gavin dan Charlie seketika terkejut ketika mendengar suara bergetar ayahnya ketika memanggil namanya.


Sementara Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Devon menatap khawatir Gavin dan Charlie.


"Ada apa, Papa?"


Charlie dan Gavin sama-sama bertanya kepada ayahnya.


"Gavin tolong Papa."


"Charlie! Bisakah kamu datang kesini, sayang?"


"Papa, apa yang terjadi?!" tanya Gavin dan Charlie yang sudah sangat khawatir akan ayahnya.


"Gavin, Charlie! Tanyakan dimana lokasinya," sahut Darel.

__ADS_1


Tutt.. Tutt..


Panggilan dari ayahnya Charlie terputus sehingga membuat Charlie berteriak histeris.


"Papa, hallo! Papa!" teriak Charlie. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.


Devon dan Samuel mengusap-usap lembut punggung dan bahu Charlie.


Diego yang di seberang telepon mendengar teriakkan keponakannya memanggil ayahnya.


"Sekarang Papa ada dimana?"


"Gavin, katakan kepada Charlie bahwa ayahnya baik-baik saja. Papa bersama Pamanmu sekarang."


"Charlie! Charlie," panggil Gavin.


"Vin," lirih Charlie.


"Tenanglah. Paman Carter saat ini bersama Papa. Papa yang menyuruh Paman untuk mematikan panggilannya."


Mendengar ucapan dari Gavin membuat Charlie sedikit merasakan kelegaan. Setidaknya itu yang dirasakan olehnya saat ini.


"Papa, sekarang katakan padaku. Papa dan Paman Carter dimana sekarang? Kirimkan lokasinya padaku,"


"Papa dan Paman kamu berada di lokasi yang jaraknya 3 meter dari tempat pembangunan Mall itu, sayang."


"Baiklah. Aku akan tutup teleponnya. Aku akan segera kesana."


Pip..


"Rel!" Gavin menatap kearah Darel.


Darel saat ini sedang berbicara dengan Zola. Darel meminta Zola untuk mengerahkan beberapa orang untuk pergi ke suatu tempat.


"Dimana lokasinya?"


"Jalan Lehrter Str 3 mete dari lokasi pembangunan Mall."


"Zola, apa kau mendengarnya?"


"Saya mendengarnya, Bos! Saya dan beberapa anggota saya akan segera kesana."


"Terima kasih, Zola!"


Pip..


Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilannya


"Rel, apa tangan kanan kamu bersama anggotanya tepat waktu kesana? Gue... Gue benar-benar mengkhawatirkan Papa," ucap Gavin.


Baik Gavin maupun Charlie sama-sama mengkhawatirkan ayahnya masing-masing. Keduanya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap ayahnya itu.


"Doakan yang dibutuhkan oleh Zola dan anggotanya. Kita berdoa saja semoga Zola dan anggotanya berhasil membawa Paman Diego dan Paman Carter," sahut Darel.


Puk..


Azri dan Damian bersamaan menepuk pelan bahu Gavin dan Charlie. Mereka tahu bahwa kedua sahabatnya itu mengkhawatirkan ayahnya.


"Apa yang dikatakan oleh Darel benar. Yang dibutuhkan oleh tangan kanannya Darel dan anggotanya adalah doa dari kita. Kita berdoa semoga Zola dan anggotanya berhasil menemukan lokasi Paman Diego dan Paman Carter," ucap Azri.


Mendengar ucapan dari sahabat-sahabatnya membuat Gavin dan Charlie berdoa dan meminta kepada Tuhan agar ayahnya dan orang-orang yang datang untuk menyelamatkan ayahnya dalam keadaan baik-baik saja. Begitu juga dengan Darel dan yang lainnya. Mereka juga ikut berdoa.

__ADS_1


__ADS_2