Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Yang Bersalah Yang Akan Dihukum


__ADS_3

Darel dan para sahabat-sahabatnya sudah berada di kediaman Andrean Alexander. Kedatangan mereka disambut sangat baik oleh Andrean bahkan Andrean yang membukakan pintu untuk Darel dan para sahabatnya.


Kini Darel dan para sahabatnya sudah duduk di sofa ruang tengah bersama Andrean, Alisha, Rayyan dan Kevin.


"Rel. Kata Papa Andrean kalau kamu yang menyuruh menjemput Alisha di sekolahnya? Apa itu benar?" tanya Rayyan.


"Ada apa, Rel? Apa ada masalah?" tanya Kevin.


Mendapatkan dua pertanyaan dari dua kakak sepupunya membuat Darel tersenyum. Darel menatap satu persatu wajah kedua kakak sepupunya itu, Alisha dan terakhir Andrean.


"Baiklah. Aku langsung saja. Nyawa Alisha dalam bahaya. Maka dari itu kenapa aku menelepon Paman Andrean untuk menjemput Alisha ke sekolah saat itu juga."


Deg..


Mendengar ucapan serta penjelasan dari Darel yang mengatakan bahwa nyawa Alisha dalam bahaya membuat Andrean seketika terkejut dan juga syok. Begitu juga dengan Rayyan dan Kevin.


"Kak," panggil Alisha dengan suara bergetarnya.


Darel langsung melihat kearah Alisha. Begitu juga dengan para sahabatnya. Dapat mereka lihat wajah ketakutan serta wajah syok Alisha.


"Apa benar yang kakak katakan tadi bahwa nyawaku dalam bahaya?"


"Iya."


"Kakak tahu dari mana? Dan kenapa? Selama ini aku tidak pernah mengusik kehidupan orang lain. Aku tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun." Alisha berucap dengan bersamaan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.


"Sayang," ucap Andrean sembari mengusap lembut kepala putrinya.


"Kamu memang tidak pernah mengganggu apalagi menyakiti orang lain. Justru orang-orang itu yang menganggu dan mengusik kamu. Begitu juga untuk ayah kamu," ucap Darel dengan menatap wajah Alisha yang basah karena air matanya.


"Siapa dia kak? Kenapa dia jahat sama aku?"


Darel menatap wajah semua sahabatnya. Begitu juga dengan semua sahabatnya. Mereka saling memberikan tatapan melalui tatapan matanya dan bahkan memberikan kode dari tatapan mata tersebut.


Melihat Darel dan sahabatnya saling menatap satu sama lain membuat Andrean, Alisha, Rayyan dan Kevin menjadi makin penasaran.


Darel kembali menatap Alisha bahkan tatapan mata Darel lebih fokus menatap wajah Alisha.


"Apa kamu yakin ingin tahu siapa orang yang telah mengusik kamu bahkan sampai nyawa kamu tak aman?" tanya Darel.


Dengan wajah takutnya dan tubuh yang sedikit bergetar, Alisha mengangguk kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Darel.


Darel menatap lekat wajah cantik Alisha. Ada rasa khawatir dalam diri Darel jika dia mengatakan yang sebenarnya.


"Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Alisha? Bagaimana jika Alisha syok dan berakhir tertekan?"


"Ach, tidak! Lebih baik aku tidak beritahu Alisha siapa orang yang hendak mencelakainya. Cukup aku beritahu Paman Andrean, kak Rayyan dan kak Kevin saja," batin Darel.


Darel menatap kearah Andrean. "Paman, bisa tidak Paman meminta pelayan untuk menemani Alisha di kamarnya? Sepertinya aku tidak bisa mengatakan hal itu di depan Alisha. Aku takut, Paman!"


Mendengar ucapan dari Darel bahkan melihat perubahan wajah Darel membuat Andrean langsung paham. Begitu juga dengan Rayyan dan Kevin. Bahkan kedua adik kakak itu menyadari ada ketakutan dari manik coklat Darel ketika menatap wajah Alisha. Keduanya menyimpulkan bahwa Darel tidak ingin membuat Alisha tertekan akan bahaya yang mengancamnya.


"Pelayan!"


Bukan Andrean yang memanggil pelayan tersebut. Justru Rayyan yang berteriak memanggil sang pelayan.


Tak butuh lama, sang pelayan datang menghampiri majikannya di ruang tengah.


"Iya, Tuan!"


"Tolong antar nona Alisha ke kamarnya. Dan pastikan nona Alisha tidak keluar kamar," ucap Rayyan.


"Baik, Tuan muda!"

__ADS_1


"Alisha, pergilah kamu ke kamar!" perintah Rayyan.


"Tapi, kak! Alisha...."


"Jangan membantah Alisha! Sekarang pergilah ke kamar kamu." kini Kevin yang bersuara.


Alisha melihat kearah ayahnya. Dia berharap jika ayahnya mengizinkan dirinya tetap di ruang tengah.


"Pa...."


"Kedua kakak kamu benar, Sayang! Lebih baik kamu pergi ke kamar bersama pelayan. Dan ingat! Jangan keluar kamar," ucap Andrean tegas.


Mendengar ucapan tegas dari ayahnya membuat Alisha langsung mematuhinya. Dia tidak ingin menjadi anak yang membangkang.


"Baiklah, Pa! Alisha akan ke kamar."


Setelah mengatakan itu, Alisha pun berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamarnya dan diikuti oleh pelayan wanita itu di belakang.


Andrean, Rayyan dan Kevin menatap kearah Darel. Begitu juga dengan Darel.


"Sekarang katakan pada Paman, Nak! Siapa orang yang sudah membahayakan nyawa Alisha?"


"Dia teman satu sekolah dengan Alisha. Lebih tepatnya dia adalah kakak kelasnya Alisha." Darel menjawab pertanyaan dari Andrean.


Mendengar ucapan dari Darel membuat Rayyan dan Kevin langsung berpikir. Mereka berpikir tentang kakak kelas yang dimaksud oleh Darel.


Dan detik kemudian..


"Rel."


Darel langsung melihat kearah Rayyan yang saat ini tengah menatap dirinya.


"Jangan bilang jika kakak kelas yang kamu maksud itu adalah gadis yang menyukai teman laki-lakinya, namun teman laki-lakinya itu menyukai Alisha?"


Mendengar pertanyaan dari Rayyan membuat Andrean membelalakkan matanya terkejut. Begitu juga dengan Kevin. Kemudian keduanya menatap wajah Darel.


"Rel."


Darel menatap kearah sahabat-sahabatnya dan langsung dibalas dengan sahabat-sahabatnya itu. Bersamaan mereka menganggukkan kepalanya.


Darel kembali menatap kearah Andrean, Rayyan dan Kevin.


"Iya. Memang dia yang membuat nyawa Alisha dalam bahaya," sahut Darel.


Deg..


Andrean, Rayyan dan Kevin seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari Darel.


"Apa yang dia lakukan terhadap Alisha, Nak?"


"Dia membayar sebuah kelompok dan meminta kelompok itu untuk menculik Alisha ketika pulang sekolah. Bukan itu saja, jika kelompok itu berhasil menculik Alisha.  Dia meminta kepada ketua kelompok itu untuk melecehkan tubuh Alisha. Bahkan yang terparahnya adalah melenyapkan nyawa Alisha."


Deg..


Andrean seketika menggelengkan kepalanya terkejut atas cerita dari Darel. Begitu juga dengan Rayyan dan Kevin. Mereka tidak menyangka jika kakak kelas Alisha sejahat itu terhadap Alisha. Andrean seketika menangis.


"Brengsek!"


"Dasar perempuan murahan!"


Rayyan dan Kevin seketika marah ketika mendengar ucapan serta cerita dari Darel mengenai orang yang hendak mencelai Alisha.


"Jadi itu alasan kamu meminta Paman untuk menjemput Alisha dari sekolahnya?"

__ADS_1


"Iya, Paman!"


"Paman tidak menyangka jika dia sejahat itu terhadap Alisha hanya karena laki-laki yang dia sukai lebih memilih Alisha dari pada dia sehingga membuat dia nekat ingin mencelakai Alisha."


"Paman tidak perlu khawatir. Masalah ini sudah aku atasi. Aku sudah meminta tangan kananku untuk mendatangi kediaman dari kakak kelas Alisha."


"Jadi kamu sudah tahu dari keluarga mana kakak kelasnya Alisha itu, Rel?" tanya Kevin.


"Iya, kak Kevin."


"Kalau kakak boleh tahu, siapa nama dari kakak kelasnya Alisha itu dan berasal dari mana gadis sialan itu?" tanya Rayyan.


"Mindy. Mindy Fausta."


"Oh! Jadi dia berasal dari keluarga Mindy!" seru Kevin.


"Kamu kenal dengan keluarga itu, Kevin?" tanya Rayyan.


"Aku kenal kak. Sangat kenal," jawab Kevin.


"Seperti apa mereka, Nak?" tanya Andrean.


"Mereka berasal dari keluarga baik-baik, Pa! Mereka bersih dan mereka tidak pernah melakukan kejahatan. Mereka sama seperti keluarga kita dan keluarga Wilson."


"Yang buat aku heran adalah kenapa salah satu anggota keluarga Fausta memiliki sifat jahat. Apalagi dia hanya seorang gadis belia," ucap Kevin.


Mendengar ucapan dari Kevin membuat Darel, sahabat-sahabatnya, Andrean dan Rayyan menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Kevin.


"Apa kakak Kevin yakin jika keluarga Fausta itu bersih? Apa kakak Kevin yakin jik keluarga itu tidak pernah melakukan kejahatan terhadap orang-orang lemah yang ada di bawahnya?" tanya Darel memastikan.


"Iya, Rel! Kakak yakin."


"Alasannya?" tanya Darel.


"Alasannya adalah karena kakak memiliki sahabat yang bernama Recky Fausta. Dia sahabat kakak sejak SMP, SMA sampai sekarang. Bahkan sifat kedua orang tua dari sahabat kakak itu sama seperti Paman Arvind dan Bibi Adelina. Sahabat kakak itu memiliki satu kakak laki-laki yang bernama Rizky Fausta. Sifatnya sama dengan kak Davian dan kak Nevan. Jadi kakak percaya jika keluarga Fausta itu keluarga baik-baik."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Kevin membuat Darel memikirkan tentang kecurigaannya terhadap dalang yang sudah menghadang Andrean dan Alisha saat itu.


Melihat keterdiaman Darel membuat Andrean, Rayyan dan Kevin meyakini bahwa Darel mencurigai keluarga Fausta.


"Rel," panggil Rayyan.


"Iya, kak."


"Apa kamu mencurigai keluarga Fausta tentang apa yang dilakukan oleh kakak kelasnya Alisha?" tanya Rayyan.


"Ya."


"Kenapa?"


"Yang membuat aku mencurigai keluarga itu adalah ketika tangan kananku mengatakan bahwa kelompok yang menghadang Paman Andrean dan Alisha serta membuat wajah kakak Raffa lebam adalah keluarga Fausta."


"Apa?!" Andrean, Rayyan dan Kevin terkejut.


"Itu tidak mungkin, Rel! Kakak kenal mereka. Mereka tidak mungkin melakukan hal itu. Kakak bisa menjamin hal itu," ucap Kevin.


"Itu yang membuat aku bingung, kak! Awalnya aku tidak percaya, namun ketika mendapatkan informasi dari tangan kananku yang lain yang mana dia mengatakan bahwa nyawa Alisha dalam bahaya. Dan dalangnya berasal dari keluarga Fausta. Hal itu yang membuat kecurigaanku kembali."


Darel menatap wajah Kevin yang saat ini juga menatap dirinya. Dari tatapan mata Kevin terlihat harapan besar padanya. Dengan kata lain, kakaknya itu berharap padanya untuk tidak menyakiti keluarga Fausta sebelum mengetahui motif dan fakta sebenarnya.


"Kakak Kevin tidak perlu khawatir. Jika keluarga dari sahabat kakak itu baik seperti yang kakak katakan tadi. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan selalu aman, tapi tidak untuk gadis yang bernama Mindy Fausta. Dia harus mendapatkan balasan dari kita sekali pun dia berasal dari keluarga Fausta."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dan penjelasan dari Darel membuat Andrean dan Rayyan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka akan menghukum orang yang sudah mengusik anggota keluarganya. Termasuk Kevin. Dia langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh adiknya itu.

__ADS_1


"Baiklah. Kakak setuju dengan apa yang barusan kamu katakan itu. Dia yang bersalah, maka dia juga yang harus menerima hukumannya."


Darel tersenyum. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya.


__ADS_2