
Davian, Nevan, Ghali dan Andre sudah kembali dari markas milik Davian. Kini mereka berada di ruang tengah bersama anggota keluarga lainnya.
Davian sudah menceritakan semuanya apa yang terjadi pada Darel kepada anggota keluarganya. Tidak ada satu pun yang tertinggal. Apa yang dikatakan oleh kedua pria itu kepadanya dan ketiga adiknya. Hal itu juga yang disampaikan kepada keluarganya.
Setelah mendengar cerita dari Davian, Nevan, Ghali dan Andre membuat seluruh anggota keluarga Wilson terkejut. Bahkan mereka semua merasakan ketakutan yang begitu besar terhadap Darel terutama Arvind, Adelina dan semua putra-putranya.
Arvind, Adelina dan putra-putranya takut jika Darel tidak akan bisa bertahan akan efek obat yang telah disuntikkan ke tubuhnya. Mereka tidak ingin kehilangan Darel.
"Sayang," lirih Adelina dengan menatap suaminya.
Arvind melihat kearah Adelina, istrinya. Terlihat gurat ketakutan dari wajahnya. Arvind menarik lembut tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Putra bungsu kita akan baik-baik saja sayang. Putra bungsu kita itu laki-laki yang kuat. Buktinya selama ini putra bungsu kita berhasil melewati semuanya." Arvind berucap sembari menenangkan istrinya, walau di hati kecilnya merasakan ketakutan yang sama seperti istrinya.
Ketika mereka semua tengah membahas kondisi Darel. Tanpa mereka sadari Darel sedari mendengar semua pembicaraan tersebut. Darel menangis saat mengetahui semuanya, terutama tentang keadaannya saat ini.
"Mama," panggil Darel.
DEG!
Mereka semua terkejut ketika mendengar suara Darel, tak terkecuali Adelina. Mereka semua dengan kompaknya melihat kearah Darel. Dan dapat mereka lihat Darel telah berdiri di anak tangga paling bawah.
Rasa takut mereka makin besar saat melihat Darel yang dalam keadaan menangis dan juga wajahnya yang pucat.
Adelina berdiri dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri putra bungsunya dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
Kini Adelina telah berdiri di hadapan putra bungsunya. Hatinya benar-benar hancur ketika melihat wajah sedih dan juga wajah pucat putranya itu.
"Mama... Hiks," isak Darel.
GREP!
Adelina langsung memeluk tubuh bergetar putranya. Adelina menangis. Hatinya benar-benar sakit melihat keadaan putranya saat ini.
__ADS_1
"Hiks... Maafkan aku... Hiks... Maafkan aku." Darel makin terisak di pelukan ibunya.
Sedangkan Adelina makin mengeratkan pelukannya. "Tidak sayang. Kamu tidak salah. Kamu tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja."
Darel melepaskan pelukannya. Matanya menatap sayu kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Dan jangan lupa air matanya yang menganak sungai.
"Maafkan aku. Jika saat itu aku tidak egois dan jika saat itu aku tidak marah akan kebohongan kalian padaku. Hal ini tidak akan terjadi. Jika saja saat itu aku langsung pulang ke rumah dan tidak pergi ke hotel. Mungkin orang-orang itu tidak akan menyakitiku. Dan kalian tidak sedih seperti ini."
Mendengar perkataan Darel membuat hati mereka sakit. Darel kembali menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi. Hal inilah yang paling mereka benci.
"Sayang."
Darel ingin kembali memeluk putra bungsunya. Namun Darel tiba-tiba melangkah mundur.
Melihat Darel yang menolak untuk dipeluk membuat mereka makin khawatir. Mereka melihat dari sorot mata kesayangannya itu tidak ada gairah dan semangat hidup lagi.
"Papa," panggil Darel.
"Iya, sayang! Kamu butuh apa, Nak? Apa kamu ingin Papa temanin kamu tidur? Atau kamu ingin melakukan sesuatu, hum?" Darel sudah meneteskan air matanya ketika berbicara dengan putra bungsunya itu.
"Maksud kamu apa, sayang?" tanya Arvind.
"Aku tidak mau Papa kehilangan Perusahaan Hyundai Grup. Aku tidak mau Papa berhenti dari dunia bisnis. Aku tidak mau Papa kehilangan semua itu hanya untuk menyelamatkanku."
Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dari Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel telah mendengar semua pembicaraan mereka.
Arvind dan anggota keluarganya membahas mengenai kondisi Darel dan juga membahas bagaimana menyelamatkan nyawa Darel. Bahkan Arvind akan menyerahkan kepemilikan Perusahaan Hyundai Grup kepada Perusahaan SINOPEC GROUP dan Perusahaan STATE GRID demi mendapatkan penawar itu. Arvind juga bersedia berhenti dari dunia bisnis yang selama ini digelutinya.
"Darel, sayang. Dengar Papa, Nak! Papa rela melakukan semua itu untukmu. Apapun akan Papa lakukan asal kau baik-baik saja. Papa lebih memilih kehilangan harta dari pada Papa harus kehilanganmu. Papa tidak sanggup harus kehilanganmu atau pun kehilangan salah satu dari kalian, putra-putra Papa! Kalian adalah penyemangat hidup Papa. Kalian adalah harta Papa. Sekali pun Papa kehilangan Perusahaan Hyundai dan Papa tidak memiliki Perusahaan lagi. Papa masih bisa bekerja. Apapun akan Papa lakukan. Dan Papa rela jika tidak bekerja lagi setidaknya Papa bisa menikmati masa tua Papa bersamamu dan kakak-kakakmu." Arvind menangis. Hatinya benar-benar hancur sekarang.
Mendengar perkataan dari ayahnya, Darel langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Dirinya tidak mau jika ayahnya harus kehilangan Perusahaan Hyundai. Dirinya tahu jika Perusahaan Hyundai adalah hidup mati ayahnya.
"Cukup, Pa! Aku mohon pada Papa untuk tidak melakukan hal itu. Aku tidak akan mengizinkan Papa untuk melepaskan Perusahaan Hyundai!" teriak Darel.
__ADS_1
"Tapi sayang..." perkataan Arvind terpotong.
"Sudah cukup kalian bersedih karena aku. Sudah cukup kalian berkorban untukku. Sudah cukup kalian melakukan semuanya untukku!"
"Darel," lirih Davian dan adik-adiknya.
Mereka semua menangis mendengar perkataan dari adik kesayangannya itu.
"Aku tidak ingin melihat kalian bersedih lagi. Aku tidak ingin melihat kalian menangis. Aku tidak ingin melihat kalian yang selalu mengkhawatirkan aku. Sudah cukup! Tolong hentikan! Aku tidak mau terus menerus menjadi benalu di keluarga ini. Aku tidak mau terus menerus menjadi beban untuk kalian. Lebih baik kalian lepaskan aku. Biarkan aku pergi. Dengan begitu hidupku akan tenang karena telah membuat kalian terlepas dari rasa khawatir selama ini!" teriak Darel.
"Darel!" teriak Davian dan adik-adik yang lain.
Mereka marah dan mereka tidak terima adiknya berbicara seperti itu.
"Jika Papa tetap nekat melakukan itu hanya untuk mendapatkan penawar tersebut, maka aku tidak pernah sudi penawar itu masuk ke dalam tubuhku. Aku akan menyakiti diriku sendiri jika penawar itu berhasil masuk ke tubuhku. Aku lebih baik mati dari pada melihat Papa kehilangan Perusahaan Hyudai. Ingat! Bagaimana perjuangan Papa selama ini dalam membangun Perusahaan itu?!" teriak Darel.
Setelah mengatakan itu, Darel berlari menuju kamarnya di lantai dua. Hatinya saat ini benar-benar hancur. Dirinya tidak ingin melihat keluarganya kembali berkorban untuknya.
Sudah cukup keluarganya selalu menangis karenanya. Sudah cukup keluarganya selalu mengkhawatirkannya. Sudah cukup keluarganya selalu berkorban untuknya. Sekarang gilirannya yang akan berkorban untuk keluarganya. Sekarang gilirannya untuk membahagiakan keluarganya.
Arvind seketika menjatuhkan dirinya dan terduduk lemah di lantai yang dingin ketika mendengar perkataan dari putra bungsunya. Begitu juga dengan Adelina. Keduanya tampak syok akan perkataan putra bungsu mereka. Putra bungsunya memilih untuk berkorban. Putra bungsunya beranggapan jika selama ini hidupnya hanya menjadi beban untuknya dan istrinya.
"Sayang... Hiks... kau putra Papa. Kau kebahagiaan Papa dan juga kebanggaan Papa. Kau adalah permata keluarga Wilson. Kau bukanlah beban untuk keluarga ini... Hiks," isak Arvind.
Sandy seketika memeluk erat tubuh kakaknya. Dan memberikan ketenangan pada sang Kakak. "Kak Arvind. Aku mohon kakak jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan Darel barusan. Kakak kan tahu sendiri bagaimana kondisinya saat ini."
"Aku tahu Sandy. Tapi yang membuatku tak habis pikir kenapa putra bungsuku bisa punya pikiran seperti itu dan mengatakan bahwa dia hanya menjadi beban untukku, Adelina dan kakak-kakaknya? Itu tidak benar Sandy. Putra bungsuku sama sekali bukanlah beban untuk kami. Kami selama ini tidak merasa terbebani dalam merawat dan menjaganya. Justru putra bungsuku itu adalah kebahagiaan terindah untukku, untuk Adelina dan untuk putra-putraku yang lainnya."
"Aku tahu hal itu kak. Darel adalah anak teristimewa di dalam keluarga Wilson, maka dari itulah kenapa Papa memilih Darel menjadi penerusnya karena Papa tahu Darel adalah anak yang baik, penurut dan penyayang," sahut Sandy.
"Iya, kak Arvind. Apa yang dikatakan kak Sandy benar? Darel adalah anak yang istimewa di dalam keluarga Wilson. Darel yang selama ini banyak berkorban untuk keluarga ini. Jadi aku mohon sama kak Arvind dan kak Adelina. Jangan dengarkan apa yang dikatakan Darel barusan. Darel mengatakan hal itu karena kondisinya tak baik saat ini. Tugas kita adalah memberikan semangat untuknya. Kita dengarkan saja dulu apa kemauan Darel." William ikut menghibur kakaknya.
"Ingat, kak Arvind! Jangan membuat Darel tertekan dan juga emosi. Jika hal itu terus terjadi. Obat itu akan bekerja dengan cepat dan itu akan memperburuk kondisi Darel." Evita mengingatkan.
__ADS_1
Mereka semua terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Evita. Jika Darel terus menerus dalam keadaan marah dan juga emosi itu akan memperburuk keadaan Darel.