
Semua mahasiswa dan mahasiswi telah berkumpul di lapangan. Hanya mahasiswa dan mahasiswi junior saja yang dikumpulkan di lapangan. Dengan kata lain, mahasiswa dan mahasiswi yang baru semester 1 sampai semester 4.
"Kenapa Darel belum datang juga?" tanya Kenzo yang sudah mulai khawatir.
"Tenanglah, Nzo! Dosen sialan itu nggak akan menghukum Darel," sahut Brian.
"Bagaimana bisa aku tenang, kak Brian? Dosen gila itu tidak ingin mahasiswa dan mahasiswi datang terlambat. Ditambah lagi dia tidak ingin mau mendengarkan alasan apapun dari mahasiswa dan mahasiswi," ucap Kenzo.
"Apa kau berpikir Darel akan membiarkan dirinya disakiti oleh Dosen gila itu? Jawabannya tentu saja tidak Kenzo. Ingat! Zamy dan Arman juga belum datang. Hanya kita yang tahu dimana mereka berdua. Dan satu lagi, ini baru pukul berapa? Masih ada sekitar lima belas menit waktu kuliah kita dimulai. Jadi, jika Darel datang terlambat. Dosen gila itu nggak akan bisa menghukum Darel karena ini diluar jam ngajar."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Brian membuat Kenzo seketika paham. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Brian bahwa saat ini bukan jam kuliah. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Kak Brian benar. Sekali pun kita semua dikumpulkan di lapangan. Yang dikumpulkan disini hanya mahasiswa dan mahasiswi junior. Mulai dari semester 1 sampai semester 4 saja. Sementara mahasiswa dan mahasiswi senior tidak," sahut Samuel.
"Jika pun ada tambahan materi kuliah misalkan apel pagi, senam atau sejenisnya. Kegiatan itu akan dimasukkan ke dalam daftar materi kuliah kita. Nah, sementara untuk kegiatan tersebut tidak ada kan? Dosen gila itu mengumpulkan kita semua disini diluar jadwal!" ucap Zelig menambahkan.
Disisi lain di tempat yang sama dimana Raihan dan Atta tengah berbicara berdua. Mereka membicarakan dua temannya yaitu Zamy dan Arman.
"Atta, kenapa Zamy dan Arman belum datang? Kemana mereka?" tanya Raihan.
"Gue juga nggak tahu Atta. Nggak biasanya mereka telat," jawab Raihan.
Ting..
Ponsel milik Samuel berbunyi menandakan pesan masuk. Mendengar bunyi ponselnya, Samuel mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, Samuel melihat satu pesan WhatsApp dari Darel.
"Samuel, siapa?" tanya Azri.
Mereka semua melihat kearah Samuel. Mereka ingin tahu siapa yang mengirim pesan kepada Samuel.
"Ini pesan WhatsApp dari Darel, kak Azri!"
"Apa isinya?" Damian.
Walaupun mereka semua tengah berbicara dan melihat kearah Samuel, tapi mereka tetap bersikap biasa sambil tatapan matanya menatap ke depan. Salah satunya menatap orang yang berdiri paling depan dengan menghadap kearah para mahasiswa dan mahasiswi.
"Darel saat ini dalam perjalanan ke kampus. Bahkan disini Darel meminta aku mengirimkan foto dan data-data dari Dosen gila itu," jawab Samuel.
"Ya, udah kasih!" seru Kenzo, Gavin, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Baiklah. Aku akan minta sama Papa sekarang. Aku akan kirim pesan sama Papa.
Setelah itu, Samuel keluar dari pesan Darel lalu masuk ke nomor pesan ayahnya. Samuel menuliskan beberapa hal tentang dia yang ingin meminta data-data dari Dosen baru itu.
Samuel meminta data-data dari Dosen baru itu kepada ayahnya dengan mengatakan bahwa Darel yang memintanya.
Beberapa detik kemudian, Samuel mendapatkan balasan dari ayahnya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Samuel.
Samuel membuka dan membaca pesan WhatsApp dari ayahnya itu. Setelah membaca isi pesan tersebut, lagi-lagi membuat Samuel tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ya, sudah! Langsung kirim ke Darel. Jangan buat dia nunggu lama," sahut Azri.
__ADS_1
"Hm!" Samuel berdehem sebagai jawabannya.
Setelah itu, Samuel mengirimkan kembali apa yang terima dari ayahnya kepada Darel.
Ting..
Kini ponselnya Brian yang berbunyi menandakan sebuah pesan WhatsApp masuk.
Brian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, matanya melihat pesan masuk dari Darel.
"Darel kirim pesan WhatsApp sama kakak juga!" seru Brian.
"Apa isinya kak?" tanya Juan.
"Darel meminta kita untuk membuat Raihan dan Atta bolos dalam setiap materi yang diberikan oleh Dosen gila itu," jawab Brian.
Mendengar jawaban dari Brian membuat Juan serta yang lainnya saling memberikan tatapan matanya masing-masing, lalu mereka tersenyum di sudut bibirnya.
"Ide yang bagus nih," sahut Devon.
"Gue suka," sahut Charlie.
"Kita juga!" seru Razig, Zelig dan Lucas bersamaan.
"Gua nggak nyangka jika Darel memiliki ide seperti ini," ucap Gavin.
"Apalagi gue," sela Kenzo.
"Sepertinya sudah. Kalau belum, Darel tidak mungkin meminta kita untuk membuat Raihan dan Atta seakan-akan bolos karena ulahnya sendiri."
"Dan bisa juga Darel melakukan hal ini untuk melakukan sesuatu terhadap Dosen gila itu," sela Razig.
"Bisa jadi!" Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Ya, sudah! Kita akan mengikuti permainan Darel saja," ucap Evano.
"Hm."
Setelah itu, mereka semua bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tatapan mata mereka sekarang fokus ke depan.
***
Darel di dalam perjalanan menuju kampus saat ini berhenti sejenak di pinggir jalan. Saat ini Darel tengah membaca kiriman pesan dari Samuel.
Darel membuka satu persatu pesan itu dan membaca secara detil tanpa sedikit pun terlewatkan.
Setelah selesai membaca pesan yang dikirim oleh Samuel. Darel kemudian mengirimkan semua pesan itu kepada Noah dan Zola. Darel meminta kepada kedua tangannya itu untuk menyelidiki latar belakang keluarganya. Bahkan Darel juga meminta kepada Noah dan Zola untuk mencari nama-nama perusahaan dari semua anggota keluarga dari Dosen gila itu.
Darel seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika selesai mengirimkan pesan-pesan itu kepada dua tangannya. Dirinya tidak sabar menunggu hasilnya.
"Sebentar lagi," ucap Darel.
Setelah selesai dengan urusannya, Darel kembali melanjutkan perjalanannya untuk menuju kampus. Rencana pertamanya adalah ketika berada di kampus dan langsung berurusan dengan si Dosen gila itu. Itu menurut Darel dan para sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
***
Di kelas yang berbeda dimana Evan dan Raffa saat ini tengah memikirkan adik kesayangannya yaitu Darel. Begitu juga dengan keempat sepupunya yaitu Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Mereka juga memikirkan Darel.
"Kenapa Dosen baru itu meminta semua mahasiswa dan mahasiswi junior berkumpul di lapangan?"
Itulah yang saat ini tengah dipikirkan oleh Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.
"Aku harus menemui Evan dan yang lainnya," ucap Raffa yang berada di kelasnya.
Tak jauh beda dengan Evan, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Mereka juga pergi meninggalkan kelas untuk menemui saudara-saudaranya.
^^^
Di sinilah mereka sekarang di lapangan basket yang ada di dalam gedung kampus.
Mereka duduk berselonjoran di lantai lapangan basket. Dan ada juga yang tidur-tiduran di lantai tersebut.
"Van."
"Iya, Raf!"
"Gue kepikiran Darel. Bukan hanya Darel. Sahabat-sahabatnya Darel juga," jawab Raffa.
"Gue juga Raf. Bahkan gue curiga sama Dosen baru itu," sahut Evan.
Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Evan. Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan langsung melihat kearah Evan.
"Curiga, maksud lo!"
"Lo curiga dimana nya?" tanya Dylan.
"Nama Dosen itu. Coba kalian cari di internet nama Luan Malachi!" seru Evan.
Tanpa membuang waktu lagi. Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan langsung menjelajah dunia internet. Mereka mencari tahu siapa itu Luan Malachi.
Beberapa menit kemudian..
"Van!" seru Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan bersamaan.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Evan dengan menatap satu persatu wajah saudara-saudaranya.
"Dia orang yang suka membentak mahasiswa atau mahasiswi nya," sahut Rendra.
"Dia suka main tangan jika apa yang diinginkan olehnya tidak terpenuhi," sahut Melvin.
"Dia tidak menerima kata terlambat dan juga izin. Dia ingin semua mahasiswa atau mahasiswi hadir di kelasnya. Jika ada mahasiswa atau mahasiswi datang terlambat atau izin tidak masuk. Besoknya mahasiswa atau mahasiswi tersebut akan mendapatkan hukuman berat. Dia bahkan tidak peduli apapun alasannya," sahut Aldan.
Sementara Raffa dan Dylan hanya diam. Keduanya tampak syok setelah mengetahui riwayat dan sifat asli dari Dosen barunya itu.
"Van, gue nggak mau kalau Dosen baru itu sampai nyakitin Darel. Lo tahu kan Darel gimana? Dia beda sama-sama anak-anak yang lain. Darel nggak bisa dibentak, dipukul dan juga sampai dikasari dengan kata-kata kasar."
Evan yang duduk di samping Raffa langsung memeluk tubuh Raffa. "Lo tenang ya. Nggak akan terjadi apa-apa sama Darel. Banyak yang akan melindungi Darel, salah satunya adalah sahabat-sahabatnya. Kita berdoa saja untuk Darel agar Darel bisa jaga diri selama tidak ada kita di sampingnya."
__ADS_1