
[Kediaman Utama Wilson]
Darel saat ini duduk sendirian di ruang tengah. Dia tengah memikirkan masalah yang menimpa adiknya yaitu Alisha Alexander yang mana nyawanya akan dihabisi oleh kakak kelasnya akibat cemburu.
Setelah menceritakan tentang kakak kelasnya Alisha dan juga tentang keselamatannya kepada Andrean, Rayyan dan Kevin. Serta mendengar penjelasan dari Rayyan mengenai keluarga Fausta membuat Darel berpikir ulang atas kecurigaan dirinya terhadap keluarga Fausta.
"Jika apa yang dikatakan sama kakak Rayyan bahwa keluarga Fausta itu benar. Berarti hanya gadis itu saja yang bermasalah, termasuk orang yang tidak menyukai keluarga Fausta."
"Aku harus menyelidiki masalah ini."
Setelah mengatakan itu, Darel mengambil ponselnya yang kebetulan berada di atas meja. Darel akan menghubungi Lucky dan meminta Lucky untuk membatalkan rencananya yang ingin menghancurkan keluarga Fausta, kecuali Mindy. Darel akan tetap membalas perbuatan gadis itu.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Bos!"
"Hallo, Lucky. Tahan dulu rencana tersebut, kecuali gadis itu. Tetap pantau terus gadis sialan itu."
"Baik, Bos!"
Setelah selesai mengatakan itu kepada Lucky. Darel langsung mematikan panggilannya tersebut.
Pip..
Tanpa Darel ketahui bahwa semua anggota keluarganya mendengar apa yang dia ucapkan. Mereka semua terkejut tentang apa yang mereka dengar dari mulut Darel.
^^^
Awalnya, baik Arvind dan semua anggota keluarga Wilson berencana untuk menghampiri kesayangannya yang sedang duduk sendirian di ruang tengah.
Namun seketika mereka menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel, apalagi ketika Darel berbicara dengan Lucky di telepon.
"Kenapa Andrean tidak menceritakan masalahnya padamu? Bagaimana pun dia adalah sahabatku dan juga sudah menjadi bagian dari kita," ucap dan tanya William.
"Mungkin Andrean tidak ingin merepotkan kamu, makanya dia tidak menceritakan masalahnya itu." Sandy menjawab perkataan adiknya itu.
Mereka masih memperhatikan Darel tanpa ada niat untuk menghampirinya. Mereka semua ingin mengetahui terlebih dahulu apa yang akan direncanakan oleh kesayangannya itu.
"Eh, lihat! Sepertinya Darel menerima panggilan!" seru Melvin.
"Dan coba lihat reaksi dari Darel ketika melihat ke layar ponselnya. Darel tersenyum," ucap Dylan.
^^^
"Ngapain lo nelpon gue? Kangen lo sama gue?"
"...."
"Kalau bukan kangen sama gue, kenapa lo nelpon gue?"
"...."
"Alasan. Ngaku saja kalau lo kangen sama wajah tampan gue, iyakan?"
Mendengar ucapan dari Darel membuat seseorang di seberang telepon melongo tak percaya akan perkataan Darel. Begitu juga dengan semua anggota keluarganya.
^^^
Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya membelalakkan matanya tak percaya ketika mendengar ucapan penuh percaya diri dari Darel. Di dalam hati mereka masing-masing, sejak kapan seorang Darel berbicara seperti itu.
"Kalau yang satu ini, Darel belajarnya dari kakak Daffa!" seru Raffa tanpa mengalihkan pandangannya dari Darel.
"Darel meniru kebiasaan buruk kakak Daffa," sela Evan.
Mendengar ucapan dari Evan dan Raffa membuat Daffa mendengus dengan tatapan matanya menatap tajam kearah kedua adiknya itu.
Tak..
Tak..
"Aakkhhh!" ringis Evan dan Raffa bersamaan dengan tangannya mengusap-usap kepala belakangnya.
Daffa dengan tanpa perasaan memberikan jitakan di kepala kedua adiknya itu.
Mendapatkan jitakan di kepalanya membuat Evan dan Raffa langsung melihat kearah kakaknya itu dan langsung dibalas dengan tatapan mematikan dari sang kakak.
"Hehehe." Evan dan Raffa seketika cengengesan, kemudian kembali menatap kearah adik manisnya.
Sementara Arvind, Adelina, kakak-kakaknya, adik-adiknya dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya.
^^^
"...."
"Gue dari tadi serius. Lo yang nggak serius."
__ADS_1
"...."
"Lo mau gue serius?"
"...."
"Kalau gitu, jawab pertanyaan gue."
"...."
"Lo kangen gue, kan?"
Hening...
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat seseorang di telepon tersebut seketika terdiam.
"Kalau lo nggak jawab, gue matiin nih!"
"Gue hitung sampai tiga dan dimulai dari angka tiga."
"Satu... Dua... Ti...."
"...."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar jawaban dari seseorang di seberang telepon itu.
"Sekarang katakan. Ada apa?"
"...."
"Kapan?"
"...."
"Kalau sekarang tidak bisa. Hari ini aku sudah ada janjian sama sahabat-sahabat aku untuk hangout bareng."
"...."
"Eeemmm... Kalau besok bisa sekitar pukul 2 siang. Bagaimana?"
"...."
Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon, Darel pun langsung mematikan panggilannya.
Darel seketika tersenyum geli akan tingkahnya ketika berbicara dengan seorang gadis di telepon beberapa menit yang lalu. Dia tidak menyangka jika dia akan bertingkah seperti itu kepada seorang gadis.
"Aish! Ini memalukan," ucap Darel.
"Apanya yang memalukan!" seru seseorang.
Deg..
Darel seketika terkejut ketika mendengar seruan seseorang. Seketika Darel langsung melihat keasal suara tersebut. Dan detik kemudian Darel terkejut ketika melihat semua anggota keluarganya sudah berada di hadapannya sembari tersenyum.
Adelina tersenyum bersamaan dengan tangannya mengusap lembut pipi putih putra bungsunya.
"Putra bungsunya Mama pasti sedang jatuh cinta nih," goda Adelina.
"Apaan sih. Nggak," elak Darel.
"Kalau tidak sedang jatuh cinta, kenapa tuh pipinya merah?" Adelina masih menggoda putranya.
"Ih, Mama!" Darel mengerucutkan bibirnya karena kesal akan ulah ibunya.
***
[Kediaman Utama Fausta]
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di kediaman Utama Fausta termasuk Rehan, istrinya Dinda dan ketiga anak-anaknya yaitu Rizky, Recky dan Mindy.
Suasana tampak mencekam. Tidak satu pun yang bersuara. Hanya tatapan tajam dan wajah dingin yang diperlihatkan terutama dari keluarga besar Fausta yang tak lain adalah kakak, adik dan keponakan-keponakan dari Rehan.
Semua tatapan mata tertuju pada satu orang. Orang itu adalah Mindy yang mana saat ini tengah ketakutan.
"Sudah waktunya kau mengambil keputusan, Rehandi Fausta!" seru Rifandi Fausta, kakak tertua keluarga Fausta.
Deg..
Seketika Dinda terkejut. Dia berharap semuanya baik-baik saja sampai waktu yang dia tentukan.
Dinda tahu maksud perkataan dari kakak iparnya itu. Dia ingin kakak iparnya, suaminya dan semua keluarga besar Fausta mau mendengarkan dan menerima keputusannya.
"Kak Rifan, apa maksud ucapan kakak?" tanya Dinda yang berpura-pura tidak tahu.
Rifan melihat kearah Dinda adik iparnya dengan tatapan lembut. "Dinda, kakak tahu kamu adalah ibu yang sangat baik untuk ketiga anak-anakmu. Kakak juga tahu bagaimana cara kamu mendidik mereka. Kakak bangga sama kamu. Tapi...."
__ADS_1
Rifan menghentikan ucapannya dengan tatapan matanya menatap lekat wajah Dinda. Di dalam hatinya sebenarnya Rifan tidak ingin menyakiti Dinda, namun dirinya terpaksa. Semuanya dia lakukan demi keselamatan keluarga Fausta. Dia tidak ingin hanya karena kesalahan dan perbuatan satu orang, semua anggota keluarganya terkena imbasnya.
"Dinda, sudah saat kamu melepaskan Mindy. Kamu tidak perlu lagi menjaga dan melindunginya."
Mendengar ucapan dari Rifan membuat Mindy terkejut. Namun tidak dengan Dinda karena dia sudah mengetahui letak kesalahan Mindy bahkan dia juga tahu maksud perkataan kakak iparnya.
"Pa-paman Rifan, kenapa Paman berbicara seperti itu kepada Mami?" tanya Mindy gugup.
Mendengar pertanyaan dan suara gugup Mindy membuat Rifan sama sekali tidak menggubrisnya. Rifan justru cuek, acuh dan mengabaikan Mindy sejak kedatangannya bersama keluarganya. Begitu juga dengan anggota keluarga Fausta lainnya.
Hening..
Semuanya diam dan tanpa ada yang bersuara. Hanya tatapan tajam dan wajah dingin yang mereka berikan kepada Mindy.
Namun detik kemudian..
"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Paman Rifan, Mam! Sudah waktunya Mindy tahu statusnya di keluarga Fausta. Dan sudah waktunya Mindy tahu siapa dia dan siapa kita!" seru Rizky dengan aura yang tak mengenakan.
Deg..
Mindy kembali terkejut. Dan kali ini dia terkejut akan perkataan kakak sulungnya.
"Kak Rizky, apa maksud kakak?" tanya Mindy.
"Jangan panggil aku kakak. Aku bukan kakak kamu. Dan kamu bukan adik perempuanku. Aku hanya memiliki satu adik yaitu Recky Fausta. Kami hanya berdua bersaudara!" bentak Rizky.
"Kak, kenapa kakak bicara seperti itu? Kenapa kak?!" tanpa sengaja Mindy berbicara dengan suara kerasnya sehingga membuat anggota keluarga Fausta menatap nyalang padanya.
Plak..
"Aakkhh!" ringis Mindy ketika mendapatkan tamparan keras dari Riyan sehingga membuat pipinya merah dan terluka.
"Beraninya kau berbicara seperti itu kepada keponakanku. Dasar anak tidak diri, tidak tahu diuntung dan tidak tahu berterima kasih. Apa ini cara kamu membalas kebaikan keluarga yang sudah merawatmu dari kecil, hah?!" bentak Rihan.
"Kamu benar-benar manusia busuk dan menjijikan, Mindy!" bentak Rifad Fausta, putra sulung dari Rifandi Fausta.
"Gara-gara ulahmu, kami semua terkena imbasnya. Beberapa jam yang lalu ada beberapa orang berpakaian hitam datang ke rumah ini. Mereka marah besar. Dan bahkan mereka sempat melukai salah satu dari kami, tapi tidak parah. Hanya luka kecil!" bentak Devon Fausta, putra sulung dari Renaldi Fausta.
"Mereka menuntut balas atas apa yang telah kau lakukan terhadap putri dari keluarga Alexander!" bentak Felista Fausta, putri kedua dari Reyandi Fausta.
"Kau benar-benar menjijikan!" bentak Risyanti Fausta atau Risyanti Armando, adik perempuan dari Rifandi, Rehandi, Renaldi dan Reyandi.
Deg..
Mendengar ucapan demi ucapan dari Paman dan Bibinya membuat Mindy terkejut. Begitu juga dengan Rehandi, Dinda, Rizky dan Recky.
Untuk Rehandi, dia sudah tahu apa yang telah dilakukan oleh Mindy. Begitu juga dengan Dinda. Namun untuk Rizky dan Recky, keduanya belum mengetahuinya. Itulah yang membuat keduanya tampak terkejut ketika mendengar ucapan dari Paman dan Bibinya.
Rizky melihat kearah ayahnya. Dia ingin bertanya langsung kepada ayahnya itu karena dia sangat yakin jika ayahnya itu juga sudah mengetahuinya. Itulah alasan kenapa ayahnya itu menghubungi dirinya dan adiknya dan meminta untuk pulang.
"Pi! Apa ini alasan Papi menghubungiku dan Recky lalu meminta kami pulang?" tanya Rizky.
"Iya, Sayang!" Rehandi langsung mengiyakan pertanyaan dari putra sulungnya itu.
"Apa yang telah dilakukan oleh anak sialan ini, Pi?" tanya Recky.
"Dia... Dia telah membayar sebuah kelompok yang paling ditakuti dan dikenal kejam di kota ini. Dia meminta kelompok itu untuk menculik adik kelasnya yang bernama Alisha Alexander lalu menyuruh kelompok itu melecehkannya sebelum dibunuh."
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Rehandi membuat Rizky dan Recky seketika terkejut. Kedua matanya membelalak sempurna saat itu juga. Begitu juga dengan Dinda dan semua anggota keluarga Fausta.
Rizky dan Recky menatap nyalang kearah Mindy. Begitu juga dengan yang anggota keluarga Fausta. Sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepalanya karena takut.
"Apalagi yang dia lakukan, Pi? Katakan semuanya padaku." Rizky benar-benar marah saat ini atas apa yang dilakukan oleh Mindy gadis yang sudah dia jaga dan dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Hanya itu yang Papi tahu. Dan itu pun hasil laporan dari tangan Papi."
"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah menggunakan nama keluarga kita lalu orang-orang itu melakukan untuk melakukan kejahatan sehingga nama keluarga kita sudah buruk. Termasuk nama baikmu, Rehan!" ucap dan tanya Rehandi.
"Apa?!" Rizky dan Recky kembali terkejut ketika mendengar ucapan serta pertanyaan dari sang Paman tertua.
Rizky dan Recky langsung melihat kearah ayahnya secara bersamaan.
"Apa yang terjadi, Paman Rifan?" tanya Rizky.
"Ada orang yang menggunakan nama keluarga kita, lalu orang-orang itu hendak menculik Tuan Andrean dan putrinya Alisha Alexander ketika sedang dalam perjalanan pulang. Usaha tersebut digagalkan oleh dua orang pemuda yang berstatus sebagai putra dari Tuan Arvind Wilson sehingga salah satunya terluka." Rifandi menjawab pertanyaan dari keponakannya itu.
Mendengar penjelasan sekaligus jawaban dari sang Paman membuat Rizky menatap penuh amarah kearah Mindy. Begitu juga dengan Recky.
Rizky seketika berdiri lalu mendekati Mindy. Dan detik kemudian...
Sreekk..
"Aakkhh! teriak Mindy merasakan sakit di kepalanya.
Yah! Rizky menarik kuat rambut Mindy sehingga membuat Mindy mendongakkan kepalanya keatas.
__ADS_1