
Mereka kembali terkejut ketika mendengar perkataan dari Evan. Mereka semua saling menatap satu sama lainnya. Mereka saat ini benar-benar takut. Apakah kesayangan mereka benar-benar mengetahui semuanya atau hanya sebagian saja.
"Kakak Arvind," panggil Sandy.
"Iya, Sandy. Ada apa?"
"Apa Darel juga tahu masalah gin..."
"Tahu apa Paman Sandy?" tanya Darel tiba-tiba.
DEG!
Mereka semua melihat ke arah Darel dengan wajah tegang masing-masing.
Darel niat awalnya ingin menemui pelayan untuk minta dibuatkan makan untuknya dan untuk sahabat-sahabatnya.
Namun ketika kakinya ingin melangkah menuju dapur, telinganya tidak sengaja mendengar Sandy sang Paman menyebut namanya dengan bertanya pada ayahnya.
Dengan rasa penasarannya, Darel pun menghampiri anggota keluarganya yang ada di ruang tengah dan tanpa permisi, Darel pun langsung masuk dalam topik pembicaraan anggota keluarganya sehingga membuat semua anggota keluarganya terkejut.
"Kenapa kalian semua pada melihatku seperti itu?" tanya Darel dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
Arvind menatap lembut putra bungsunya. "Darel kemari dulu. Duduk disini di samping Papa," ucap Arvind sembari menepuk sofa di sebelahnya.
Darel pun langsung melangkah mendekati ayahnya. Dan setelah itu, Darel pun langsung menduduki pantatnya di samping ayahnya.
"Apa boleh Papa bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Arvind menatap manik coklat putra bungsunya.
"Papa mau nanya apa?" tanya Darel balik.
"Tapi sebelumnya Papa mohon sama kamu. Tolong jawab jujur apa yang akan Papa tanyakan kepada kamu. Jangan ada..."
"Tergantung." Darel langsung menyela perkataan ayahnya.
Mendengar perkataan dari Darel membuat mereka semua menatap Darel dengan pikiran campur aduk.
"Maksud kamu?" tanya Davian.
"Tergantung dengan apa yang akan ditanyakan sama Papa. Tidak semuanya akan aku jawab. Karena..."
Lagi-lagi mereka semua terkejut kala mendengar perkataan dari Darel. Mereka semua sudah ketakutan. Di pikiran mereka masing-masing mengatakan bahwa Darel belum mengetahui semuanya. Darel hanya mengetahui sebagiannya saja. Salah satunya adalah sikap over mereka terhadap dirinya.
Mereka juga menduga bahwa Darel belum mengetahui tentang Ginjalnya. Dan jika Darel tahu masalah ginjalnya. Bisa mereka yakini, Darel tidak akan seceria sekarang ini. Lebih tepatnya Darel akan berubah menjadi Darel yang pendiam. Mereka tidak ingin hal itu terjadi.
"Sekarang katakan padaku. Apa yang ingin Papa tanyakan?" tanya Darel dengan menatap wajah tampan ayahnya.
"Ach, baiklah! Begini sayang. Apa kamu sudah mengetahui akan sikap overprotektif Papa, Mama, kedua belas kakak-kakak kamu dan juga semua anggota keluarga kamu kepada kamu?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ayahnya membuat Darel seketika diam. Darel mengalihkan perhatiannya menatap lurus ke depan.
Melihat keterdiaman Darel membuat mereka semua meyakini jika Darel memang benar-benar sudah mengetahui semuanya. Darel sudah mengetahui tentang kondisi kesehatannya selama ini.
"Dar..." ucapan Arvind terpotong.
"Ya! Aku sudah mengetahui semuanya. Dan aku harap itu sudah semuanya. Tidak ada rahasia apapun lagi yang kalian sembunyikan dariku," jawab Darel dengan wajah dinginnya.
DEG!
Mereka terkejut ketika mendengar perkataan Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel akan berbicara seperti itu. Mereka semua mendapatkan pukulan keras ketika mendengar perkataan Darel. Perkataan Darel mengandung sebuah makna terselubung.
Darel menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Tatapan mata Darel mengisyaratkan bahwa Darel masih belum sepenuhnya percaya terhadap kedua orang tuanya. Darel meyakini bahwa kedua orang tuanya masih menyembunyikan satu rahasia lagi yang belum diketahuinya.
Beberapa detik kemudian, Darel mengalihkan perhatiannya untuk menatap satu persatu kakak-kakak kandungnya, kakak-kakak sepupunya, paman dan bibinya. Darel menatap intens mereka semua.
Baik Davian, adik-adiknya maupun anggota keluarga lainnya sedikit takut ketika melihat cara Darel menatap mereka. Terlihat dari tatapan mata Darel yang mengisyaratkan kecurigaan mendalam disana.
Setelah lima detik menatap manik semua anggota keluarganya, termasuk kedua belas kakak-kakaknya. Darel kembali menatap wajah kedua orang tuanya.
"Aku sudah mengetahui semuanya. Alasan kalian yang selalu bersikap overprotektif padaku dari aku lahir sampai aku tumbuh dewasa, kalian melakukan semua itu untuk melindungiku dan menjagaku. Kalian melakukan semua itu karena kalian tidak ingin kehilangan aku untuk yang kesekian kalinya. Aku sudah dua kali dinyatakan meninggal dunia. Pertama ketika aku dilahirkan. Kedua ketika kejadian penembakan yang dilakukan oleh Mathew."
Darel menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian. "Dan aku harap tidak ada rahasia lagi yang kalian sembunyikan dariku. Jika misalkan masih ada. Aku harap kalian segera memberitahuku. Dan jangan sampai aku mengetahui dari orang lain lagi. Aku ingin kalian langsung mengatakannya padaku."
Hening..
Semua terdiam ketika mendengar perkataan dari Darel. Di dalam hati mereka masing-masing merutuki kebodohannya karena tidak langsung berkata jujur kepada kesayangannya sehingga membuat kesayangannya mengetahui semua itu dari orang lain.
__ADS_1
Mereka menatap wajah Darel dengan tatapan bersalah dan penyesalan. Jika dari awal mereka jujur, kemungkinan besar kesayangannya tidak akan seperti ini. Jika dari awal mereka jujur, mereka yakin kesayangannya bisa melewati semuanya. Dan mereka juga yakini kesayangannya itu tidak akan terluka sejauh ini.
"Ingat! Dua rahasia yang telah aku ketahui. Pertama, rahasia tentang kelima sahabatku yang masih hidup. Kedua, rahasia sikap overprotektif kalian selama ini padaku. Kedua hal itu aku mengetahuinya dari orang lain. Dan aku harap kali ini aku ingin mendengar langsung dari mulut kalian jika memang masih ada rahasia yang kalian sembunyikan."
"Dan satu hal lagi. Aku juga mengetahui jika kak Davian, kak Nevan dan kak Ghali mengerahkan beberapa orang untuk mengawasiku selama aku berada diluar rumah."
Mendengar perkataan dari Darel membuat mereka kembali terkejut. Apalagi mendengar perkataan Darel yang terakhir.
Yang lebih terkejut lagi adalah Davian, Nevan dan Ghali. Mereka tidak menyangka jika adik bungsunya mengetahui tentang anak buahnya yang bertugas mengawasinya diam-diam. Mereka menatap wajah Darel. Begitu juga dengan yang lainnya.
Adelina menggenggam tangan putra bungsunya dengan erat. Darel yang merasakan tangannya digenggam langsung mengalihkan perhatiannya menatap ke arah ibunya.
"Apa kamu yakin ingin mengetahuinya, Nak?" tanya Adelina.
"Aku yakin. Apapun yang akan Mama dan yang lainnya katakan padaku. Aku akan menerimanya dengan baik. Sekali pun itu mengenai kesehatanku. Aku hanya kejujuran dari kalian," jawab Darel.
Adelina membelai wajah tampan putra bungsunya. "Mama harap kamu tidak kembali drop setelah mengetahui hal ini sayang," ucap lirih Adelina.
"Selama kalian bersamaku. Selama kalian tidak meninggalkanku. Selama itu pula aku akan berusaha kuat dan semangat menjalani hari-hariku. Terutama untuk Papa, Mama dan kakak. Bagiku kalian adalah semangat hidupku, kalian adalah nyawaku, kalian adalah kebahagiaanku. Dan yang paling penting yaitu kalian adalah tiang untuk aku berdiri tegak. Jika salah satu tiang itu pergi atau patah, maka berakhirlah kisah hidupku."
Mendengar penuturan dari Darel membuat hati mereka semua terkejut dan juga tertegung.
"Kamu juga semangat hidup kakak, Darel!"
"Kamu juga kebahagiaan kakak."
"Kamu adalah nyawa kakak."
"Kamu penyemangat hidup kakak."
"Kamu pelengkap kebahagiaan dalam keluarga."
"Kamu kesayangan kakak. Dan Kamu permata keluarga Wilson."
Itulah kata-kata yang diutarakan oleh Davian, adik-adiknya dan anggota keluarga Wilson di dalam hati masing-masing.
"Sekarang katakan padaku," ucap Darel dengan menatap wajah cantik ibunya.
Adelina menggenggam tangan putra bungsunya. Matanya menatap manik coklat putranya itu. "Ini masalah kesehatan kamu. Saat ini kamu..."
Adelina menghentikan ucapannya. Dirinya benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan pada putra bungsunya akan kondisinya yang sebenarnya.
"Luka tembak yang kamu alami saat itu mengakibatkan ginjal sebelah kiri kamu harus diangkat. Peluru itu mengenai dan bersarang di ginjal kamu. Jadi saat ini kamu hanya hidup dengan satu ginjal saja."
Adelina berbicara dengan nada bergetar dan juga lirih. Hatinya hancur saat ini ketika mengatakan sebuah fakta mengenai kesehatan putra bungsunya di hadapannya.
Sementara tubuh Darel seketika menegang kala mendengar pengakuan ibunya mengenai dirinya yang hidup dengan satu ginjal. Darel tidak memberikan respon apapun.
Melihat keterdiaman Darel membuat Adelina, Arvind, para kakak-kakaknya dan anggota keluarganya menatap khawatir dirinya. Inilah yang mereka takutkan jika mereka jujur.
"Darel, sayang. Darel dengar Mama, Nak!" Adelina membelai lembut wajah tampan putra bungsunya.
TES!
Seketika air mata Darel mengalir membasahi wajahnya. Melihat Darel yang menangis membuat hati Adelina, Arvind dan putra-putranya yang lain sakit. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Sayang," lirih Adelina kala melihat tidak ada jawaban dari putra bungsunya selain menangis.
GREP!
Arvind seketika menarik tubuh putra bungsunya itu ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Darel pun pecah.
"Hiks... Hiks... Papa... Hiks...," isak Darel.
Hati Arvind seketika hancur mendengar isak tangis putra bungsunya. Arvind paling tidak suka melihat putra bungsunya menangis. Apalagi sampai terisak. Ini adalah kelemahannya.
"Sekarang kamu sudah tahukan alasan Papa, Mama dan kedua belas kakak-kakak kamu merahasiakan semua ini dari kamu? Papa, Mama dan kedua belas kakak-kakak kamu merahasiakan semua ini dari kamu semata-mata hanya untuk membuat kamu tidak terbebani dengan kondisi kamu. Papa, Mama dan kedua belas kakak-kakak kamu melakukan semua ini hanya untuk membuat kamu tetap tersenyum."
"Hiks... Kenapa nasib aku kayak gini? Kenapa aku dikasih banyak rasa sakit? Dari aku dilahirkan sampai aku tumbuh dewasa. Yang namanya sakit tak pernah lepas dari hidup aku. Rasa sakit itu selalu menyerangku. Kenapa Tuhan jahat sama aku?" tanya Darel disela isakannya.
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat hati Arvind, Adelina dan putra-putranya yang lainnya sesak dan sakit. Mereka semua menangis.
"Karena kamu itu special!" sahut Andre.
"Tuhan tidak jahat sama kamu. Justru sebaliknya. Tuhan itu sayang sama kamu," ucap Arga.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Arga. Darel langsung melepaskan pelukan ayahnya. Darel langsung menatap wajah kakak keenamnya itu.
"Apa buktinya jika Tuhan itu baik padaku? Jika Tuhan itu baik, maka Tuhan itu tidak akan memberikan rasa sakit yang begitu banyak padaku," ucap dan tanya Darel yang masih menangis.
Melihat wajah basah dan mendengar perkataan dari adik bungsunya membuat Arga dan yang lainnya tersenyum.
"Kamu mau tahu kenapa kakak mengatakan bahwa Tuhan itu baik terhadap kamu?" tanya Arga.
"Apa?" tanya Darel.
"Pertama, Tuhan memberikan Papa dan Mama yang begitu menyayangi kamu. Kedua, Tuhan memberikan dua belas kakak dalam hidup kamu. Dan kedua belas kakak kamu semuanya sangat menyayangi kamu. Ketiga, Tuhan memberikan tujuh sahabat untuk kamu. Bahkan bertambah tujuh sahabat baru dalam hidup kamu. Semua sahabat-sahabat kamu itu sangat amat menyayangi kamu. Keempat, Tuhan juga memberikan saudara sepupu, Paman dan Bibi. Mereka juga sangat menyayangi kamu."
Mendengar ucapan demi ucapan dari kakak keenamnya itu. Darel hanya diam. Darel mengalihkan perhatiannya menatap lurus ke depan.
"Tuhan memberikan banyak rasa sakit pada kamu. Tapi Tuhan tidak membiarkan kamu menanggungnya sendiri. Tuhan telah memberikan orang-orang special dalam hidup kamu. Orang-orang special itu adalah anggota keluarga dan sahabat-sahabat kamu."
Darel kembali meneteskan air matanya kala mendengar ucapan dari kakak keenamnya itu.
Detik kemudian, Darel menghapus air matanya. Setelah itu, Darel kembali menatap kedua orang tuanya, kedua belas kakak-kakak dan anggota keluarga lainnya.
Darel berdiri dari duduknya. Dirinya hendak kembali ke kamarnya. Dirinya baru ingat bahwa kesembilan sahabatnya masih di kamarnya. Dan dirinya juga ingat bahwa tujuannya ke bawah adalah untuk menemui pelayan.
Darel melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan anggota keluarganya di ruang tengah. Melihat kepergian Darel membuat mereka semua khawatir. Mereka semua takut jika Darel terbebani dengan kondisinya saat ini.
Davian berdiri dari duduknya, lalu melangkah menghampiri adik bungsunya. Ketika sudah di dekat adiknya, Davian langsung memeluk tubuh adiknya dari belakang sehingga membuat Darel terkejut.
"Ka-kakak Da-davian," gugup Darel. Davian tersenyum.
"Kok tahu jika kakak yang meluk kamu? Kan kakak meluknya diam-diam. Bahkan kakak ngendap-ngendap lagi?" tanya Davian.
"Aku tahu dari aroma tubuh kakak dan juga cara kakka meluk aku," jawab Darel.
Mendengar jawaban dari adiknya membuat Davian tersenyum bahagia. Baik Davian maupun adik-adiknya yang lain sangat tahu tentang adik bungsunya. Adik bungsunya bisa mengenali mereka satu persatu hanya dengan cara kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari dengan sang adik. Seperti berbicara, bersenda gurau, memberikan pelukan, memberikan usapan lembut di kepala, memberikan usapan lembut di punggung, menggenggam tangannya dan memberikan kecupan sayang di keningnya. Dengan cara seperti itulah adik bungsunya bisa mengenali mereka sekali pun adik bungsunya tidak melihatnya.
Mendengar jawaban dari Darel membuat Davian dan anggota keluarga lainnya tersenyum.
"Mau kemana?"
"Mau ke kamar."
"Lah ngapain?"
"Lah kakak lupa?"
Davian membelalakkan matanya ketika mendengar adiknya yang meniru perkataan dirinya.
Davian melepaskan pelukannya, lalu memiringkan kepalanya hanya sekedar untuk melihat wajah tampan adik bungsunya.
Darel yang merasa ditatap menatap balik ke arah kakaknya itu.
"Kenapa kakak melihat aku seperti itu?"
"Kakak baru sadar setelah sekian lama menjadi kakak nya kamu," sahut Davian.
Darel menatap dengan kening berkerut ketika mendengar perkataan kakak tertuanya itu.
"Emangnya selama ini kakak kenapa? Sakit?"
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Davian tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Iya, selama ini kakak sakit. Sakit akan penglihatan kakak sehingga kakak tidak bisa melihat dengan jelas. Selama ini kakak menatap wajah kamu. Dan di dalam hati kakak. Kakak selalu memuji ketampanan kamu. Tapi ternyata kakak salah," ucap Davian yang berusaha menahan tawanya. Davian memperhatikan mimik wajah adiknya yang terlihat sedikit berubah.
Darel menatap penuh curiga ke arah kakak tertuanya itu. Dan jangan lupakan bibirnya yang sudah siap dengan beribu sumpah serapah.
"Ternyata kamu itu jelek. Dan tidak tampan-tampannya sama sekali. Lebih tampan kakak Raffa nya kamu," ucap Davian.
Darel seketika membulatkan matanya ketika mendengar perkataan dari kakak tertuanya itu. Darel menatap horor sang kakak disertai mulutnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapahnya.
Sementara Davian dan anggota keluarganya tersenyum gemas melihat wajah kesal Darel.
"Dasar kakak bermuka monyet," balas Darel.
Setelah itu, Darel langsung lari menuju kamarnya.
Dan detik kemudian...
__ADS_1
"Hahahahaha."
Semua anggota keluarga Wilson tertawa nista ketika mendengar perkataan dari Darel yang ditujukan untuk Davian.